
“Ya Aaallllllah, innnallilahiiiii, anaknya Septi!” jerit Azzam dalam hatinya.
Niat hati hanya iseng ketika Sundari menanyakan keberadaan pak Haji Ojan di rumah Azzam, keputusan Azzam yang mengabarkan bahwa pria yang dicari ada di sana, membuat pria itu kualat sendiri.
“Ini kalau terus begini, sementara Akala juga mendadak keluar dari rumah, weleh ... langsung tambah gembrot tuh nilai kesempurnaan seorang Akala di mata Ndari. Lain ke aku yang pastinya langsung makin minus,” batin Azzam lagi. Baru juga membahasnya di dalam hati, Akala yang juga sudah rapi layaknya dirinya dan jelas adiknya itu siap pergi, benar-benar datang.
Akala langsung menatap bingung kebersamaan di teras rumah lantaran selain Azzam gelisah, Ndari yang masih memakai piyama juga ia pergoki menangis sampai sesenggukan. “Kalian berantem?”
Tersedu-sedu, Ndari berkata, “Tadi Mas Azzam bilang kalau mas Ojan di sini. Eh, aku samperin, malah bohong!”
Akala langsung tidak bisa berkomentar dan masih menyikapi kebersamaan dengan tenang. Ketenangan dan kesabaran yang membuat orang-orang menganggapnya sangat mirip dengan kakek Sana.
“Ya sudah ... ya sudah. Aku bantu cari,” ucap Azzam buru-buru masuk ke rumah. Ia keluar sambil membawa kunci motor, kemudian mengambil motornya dari garasi sebelah teras yang memang sudah dibuka sempurna oleh sopir pribadi keluarganya. Kini saja, sang sopir yang langsung menyapanya tengah membersihkan mobil tanpa benar-benar mencucinya.
Yang menjadi perhatian Sundari termasuk Akala, tak lain kenyataan kedua kaki Azzam. Kaki kanan sudah memakai sepatu pantofel, sementara kaki kiri masih memakai sandal jepit. Namun sepertinya, Azzam memang tidak menyadarinya. Atau karena efek Azzam terlalu panik.
“Kalau begini caranya, harusnya si Ojan dikasih pendeteksi khusus biar pas dia minggat begini, dicarinya gampang!” ujar Azzam terus uring-uringan. Yang membuatnya makin kesal, selain pagi-pagi sudah membuat Sundari berduaan dengan Akala, ponselnya masih saja bunyi dan itu masih karena orang yang sama, Didi. Tidak telepon, pesan. Terus begitu nyaris tak berjeda.
“Allohuma sabar, gara-gara Ojan, sudah kerepotan, makin jauh dari gebetan. Allohuma sabar, pagi-pagi berasa mabar, gara-gara Ojan. Efek mulut asal, jadi agak kapok bregajulan.” Terus fokus mengawasi kanan kini jalanan yang dilalui, Azzam sampai di pasar Arimbi jualan dan jaraknya terbilang jauh dari rumah. “Ini sampai sini, si Ojan juga enggak ada. Yang ada cuma mas Aidan. Coba aku samperin, siapa tahu mereka tahu. Soalnya yang aku tahu, janda incaran Ojan masih mbak Arimbi. Selain, ... iya, aku mendadak jadi suami idaman si Ojan. Emang beneran geser tuh si Ojan. Ini nanti andai beneran ketemu, terus aku din0dai Ojan, gimana? Mana sudah siang begini, terancam dipotong gaji kalau gini caranya!” ucap Azzam masih merapal keluh kesah hingga ia sampai di hadapan mas Aidan dan Arimbi yang siaalnya sedang manis-manisnya. Keduanya yang berdiri di balik meja dagangan Arimbi, masih haha-hehe sambil pegangan tangan bak dunia hanya milik berdua, sementara yang lain wajib bayar semacam ngontrak, termasuk juga dengan Azzam walau Azzam sekadar lewat.
Azzam yang telanjur mumet, sengaja menekan klakson sangat lama hingga mengejutkan pasangan baru lamaran di hadapannya. Ia langsung memasang wajah melas.
“Ada apa? Bukannya kerja malah ke sini?” tanga mas Aidan.
“Mbak Azzura mau pecel, yah, Mas? Apa rujak? Bentar.” Arimbi sudah langsung bergegas.
__ADS_1
“Bener, Mbak Mbi. Mbak Azzura semenjak kenal pecel Mbak Mbi jadi serba pecel sama rujak. Apalagi kalau kelubannya bayam sama kecombrang, wihhh ... jadi curiga, yang di perut mbak Azzura kayaknya jelmaan Popeye sama Olip!” ucap Azzam berkeluh kesah dan langsung membuat Arimbi mesem. Namun, ia sudah langsung mengalihkan perhatiannya ke sang kakak yang sudah langsung mengambil kertas anti minyak yang dalamnya kemudian ditaruh daun pisang.
“Mas, aku kena denda gara-gara boongin Ndari, bilang Ojan ada di rumah kita,” ucap Azzam yang kemudian berdalih akan menyebar foto Ojan di IG atau FBnya. Namun demi keamanan bersama lantaran Azzam takut diserbu pembaca, ia sengaja merahasiakan nama akun IG dan Fbnya.
“Itu pembelajaran buat kamu. Jangan asal mangap kalau ngomong. Nanti kalau kamu begitu terus, giliran kamu serius pasti enggak ada yang percaya, Dek,” ucap mas Aidan.
“Rasanya memang ada yang kurang, Mas kalau aku enggak jailin orang. Berasa masak tanpa micin. Kalau sudah terbiasa, mau diganti masako royco, atau malah kaldu jamur yang katanya lebih sehat, rasanya emang ....” Azzam sibuk longok sana sini, meski ia yang masih duduk di motor tengah berbicara dengan mas Aidan dan Arimbi.
Mas Aidan yang menjadi menatap datar Azzam, berkata, “Kecandu@n nyinyir dan jail itu karena dibiasakan, Dek. Kurangi, pelan-pelan.”
“Ogah ... nanti aku enggak dapat warisan!” balas Azzam.
Mas Aidan yang mendengarnya sudah langsung syok. Lain dengan Arimbi yang langsung cekikikan.
Azzam menghela napas dalam. “Papah sama mamah yang bilang! Tanya saja ke mereka.”
Tak lagi menatap sang adik dan memilih fokus menyiapkan potongan buah rujak untuk Azzura, mas Aidan berkata, “Alaah, paling juga akal-akalan kamu saja.”
“Ini si Ojan ke mana, sih, ya? Mana sudah siang, sudah otomatis potong gaji ini,” keluh Azzam sengaja maju lagi untuk mengawasi sekitar. Ia curiga Ojan di sana hanya untuk bisa dekat dengan Arimbi si wanita incaran yang malah diambil mas Aidan.
“Pergi ke rumah mbak Arimbi yang baru, Ojan tidur di teras sana.”
Mendengar kabar barusan dari mas Aidan, Azzam sudah langsung antusias.
Azzam tertawa. “Namun ini omong-omong, kalau aku yang jemput Ojan, aku tern0da, enggak?” Ia memasang wajah tak berdosa sekaligus sangat melas, hingga Arimbi terbahak-bahak karenanya.
__ADS_1
“Coba dulu. Siapa tahu berkat kamu, Ojan malah jadi normal,” yakin mas Aidan.
“Eh, Mas ... tega banget Mas ke aku. Kalau dipikir-pikir, aku macam adik yang terpaksa diadopsi, padahal jelas-jelas aku keluarnya setelah Mbak Azzura.” Namun setelah berpikir keras, Azzam memiliki ide untuk mengajak Sepri.
“Aku sudah tahu kabar Ojan. Kata mas Aidan, si Ojan ada di teras rumah mbak Arimbi. Ini aku mau ke sana bareng Sepri. Masih nunggu Sepri soalnya aku enggak kuat kalau harus naik motor ke sana. Jalannya kan kamu tahu sendiri, nggilani!” ucap Azzam yang memang sengaja mengabari Sundari. “Sudah kamu jangan nangis lagi. Mulai mikir bikin obat penyembuh otak saja buat Ojan biar dia bisa normal dan enggak berbakat minggat.” Azzam memilih memarkir motornya di sebelah motor mas Aidan. Ia berniat menunggu Sepri di sana selain mereka yang memang sudah sampai janjian.
Sepri : Nanti aku bawa keranda pesek sekalian.
Azzam : Kita itu mau ke Ojan, bukan urus pemakaman orang. Ini aku sudah kesiangan, alamat gajiku kena sunat, Pri!
Sepri : Enggak apa-apa gaji kamu yang disunat, asal jangan punyamu, nanti yang ada habis! Hahaha.
Azzam : Pakyu emang kamu!
Beres berkirim pesan dengan Sepri, Azzam sengaja membuka pesan-pesan dari Didi.
Didi : Zam, kamu kenapa, sih? Jadi susah banget dihubungi?
Saking panjangnya pesan dari Didi, Azzam sampai ngantuk.
Azzam : Oh
Didi : Kok hanya oh? Aku WA kamu dari kemarin pagi sampai ketemu pagi lagi, loh.
Azzam : Jangan marah-marah terus lah Di. Nanti aku makin kurus. Orang tuaku saja enggak pernah marah ke aku, kok kamu malah bikin aku wajib allohuma sabar.
__ADS_1