Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
52 : Menyesal & Pecel Rasa Janda


__ADS_3

Ibu-ibu yang kebetulan sedang rujak di depan warung pak Sukir, sengaja menjadikan kabar terbaru Arimbi, bertepatan dengan kedatangan ibu Siti.


“Si Arimbi, yah ... dibuang Ilham malah hoki!”


“Oh, itu ... iya, benar-benar! Dapat orang kaya, mertuanya juga sayang banget ke dia. Kerja saja dikawal, takut diganggu lagi sama suruhan istrinya si mantan!”


“Tadi itu dikawal ayahnya mas Aidan, kan? Bawaannya sekarung, enggak kaleng-kaleng. Yang di sini ya kalah jauh!”


Sepanjang membahas Arimbi, mereka yang jumlahnya ada tujuh orang, kompak melirik sinis ibu Siti yang terlihat jelas risi pada obrolan mereka. Terbukti, ibu Siti buru-buru dalam belanjanya. Ibu Siti membeli dua kopi saset, dan juga sampo.


“Eh, ada ibu Siti ... omong-omong, itu si Aisyah beneran dipenjara?” tanya salah satu dari mereka.


Aisyah dan segala kelakuannya, juga Arimbi yang malah akan menikah dengan orang kaya, kedua kenyataan tersebut nyaris membuat ibu Siti gil*a. Apalagi jika kasusnya seperti sekarang ini, dirinya disindir terang-terangan akibat keduanya.


Ibu Siti yang tak kuasa mengontrol emosi, malah memilih pergi dan tak jadi belanja. Kopi dan sampo yang sempat akan ia bayar, ia tinggalkan di etalase yang ada di sana.


Bertepatan dengan kepulangan ibu Siti ke rumah, Ilham juga pulang. Suara motor matic Ilham yang kadang tersendat, terdengar berhenti di teras depan rumah. Ilham masuk ke dalam rumah dengan lesu. Kenyataan yang membuat ibu Siti yakin, putranya belum berhasil mendapatkan pekerjaan.


Memang sudah bukan rahasia umum, bahwa di era sekarang, mencari pekerjaan merupakan hal yang sangat sulit. Ijazah termasuk lulusan sarjana sekalipun, kadang tidak ada artinya tanpa adanya pengalaman kerja apalagi kekuatan ‘orang dalam’. Dan jika kedua syarat tadi tidak dimiliki, mereka wajib nekat tanpa hanya mengandalkan ijazah, jika mereka benar-benar ingin mendapatkan pekerjaan.


“Kenapa kamu enggak balik ke pesantren saja? Kerja di sana?” tanya ibu Siti tak bersemangat. Ia sudah telanjur merasa tertekan dengan keadaan keluarganya yang sudah sangat berantakan.


“Di sana enggak ada hasilnya, Mah. Masih serba mengabdi. Selama ini saja, sekadar makan aku masih sering dikirimi Arimbi,” balas Ilham yang kemudian duduk di salah satu risban yang ada di ruang tamu kebersamaan mereka.


“Malahan kalau dipikir-pikir, lebih banyak penghasilan tukang pecel, ya? Tiap hari lihat Arimbi mondar-mandir, dagangan sepenuh itu selalu habis pagi sore!” ucap ibu Siti.

__ADS_1


“Bayangkan andai kamu masih sama Arimbi, dan kamu enggak sampai menceraikan dia. Paling tidak setelah ditipu mentah-mentah oleh Aisyah, kita masih punya Arimbi!” lanjut ibu Siti lagi.


“Jujur, itulah yang aku sesalkan. Kenapa dulu, aku malah melepas Arimbi!” ucap Ilham benar-benar menyesal.


“Salahmu, ngapain dulu kamu malah menceraikan Arimbi?” kesal ibu Siti.


“Aku pikir, ... Aisyah wah, wanita suci. Namun ternyata, dia hanya anak sambung dan selama ini tinggal di jalanan. Selama ini, dia menjalani kehidupan lia*r. Sudah biasa dengan banyak laki-laki. Semacam abors*i juga sudah hal biasa buat dia. Anaknya pun sudah SMA dan dirawat oleh ibunya.” Ilham bercerita dengan tampang putus asa.


“Lah, emang dasarnya kamu saja yang gobl*ok, nikah kok enggak tahu orangnya seperti apa, termasuk latar belakangnya!” kesal ibu Siti sambil melirik sinis sang putra yang duduk di hadapannya.


“Aku saja enggak menyangka kalau hal semacam yang kita alami, ada di kehidupan nyata, Mah!” balas Ilham sewot.


“Ada di kehidupan nyata bagaimana? Bukan hanya ada, tapi memang banyak! Banyak tuh, pulang dari pesantren malah bawa bayi. Atau malah, pakai baju syari kedodoran enggak ada yang sangka tiba-tiba lahiran padahal tuh orang belum nikah, santriwati!” kesal ibu Siti. “Yang namanya manusia enggak pernah luput dari dosa termasuk juga orang-orang yang paham agama! Jadi, sudah sewajarnya kita wajib waspada apalagi kita sudah mengalaminya. Ambil yang dibungkus-bungkus dan cara bicaranya mirip orang enggak berdosa, eh yang namanya sifat, watak, dan juga kebiasaan ya tetap saja enggak bisa ditutup-tutupi! Yang kamu alami namanya kecolongan, bahkan siaaal!”


“Sekarang kamu sudah laporan ke pihak Aisyah, belum? Kalau sampai belum, tetap kamu yang disalahin loh, Ham!” kesal ibu Siti yang kemudian berkata, “Sudah, daripada kita terus dibebani dengan tingkah Aisyah, kita balikin saja dia ke keluarganya. Kalau memang kamu enggak bisa menceraikan Aisyah karena disumpah, ya kamu bilang saja, Aisyah enggak bisa diatur!”


“Nanti mamah yang maju dan tetangga jadi saksi kelakuan Aisya,” yakin ibu Siti lagi tapi tetap tidak mendapat balasan berarti dari Ilham.


“Kalau kita diminta balikin uangnya keluarga Aisyah yang buat tebus ke Arimbi, bagaimana, Ma? Jumlahnya enggak sedikit loh!” ucap Ilham sembari menunduk murung. Alasan yang juga membuatnya berat melepaskan Aisyah.


Layaknya Ilham, ibu Siti juga jadi tidak bisa berkomentar. “Bisa habis kalau kita bayar mereka! Semua tanah dan sawah pasti ludses!”


“Ya, ... makanya, Mah!” balas Ilham yang lagi-lagi hanya bisa menghela napas pelan dan memang benar-benar pasrah.


Panas hari ini yang memang terik, terasa makin menyengat akibat beban hidup yang tengah Ilham dan sang mamah bahas. Ibu Siti maupun Ilham, tak hentinya menepuk-nepuk kepala mereka menggunakan kedua tangan. Namun setelah mempertimbangkan, Ilham memutuskan untuk mengabari keluarga Aisyah perihal kabar terbaru Aisyah yang sudah ditetapkan sebagai tersangka.

__ADS_1


Lain dengan Ilham dan ibu Siti, Arimbi malah mendadak bergidik ngeri hanya karena teringat pak Haji Ojan. Arimbi yang awalnya tengah mencuci sayuran di bokor, menjadi terbengong-bengong. Wanita itu takut jika pak Haji Ojan, nekat kembali datang.


“Walau dicuekin, tuh orang tetap ikutin aku ke mana aku pergi,” lirih Arimbi menjadi waswas sendiri. “Coba lihat nanti, kalau sampai masih datang, aku bilang ke mas Aidan.”


Sorenya, baru di perempatan pasar, Arimbi sudah melihat serba-serbi pink duduk di bangku sebelah biasa ia dagang. Iya, itu pak Haji Ojan.


“Halo, Mbak Arimbi Sayang!” sapa pak Haji Ojan dari tempat duduknya. Ia duduk sila sambil menikmati sebatang roko*k-nya.


“Kelakuannya kembali mirip bocah, tapi kok istrinya bisa sampai lima?” pikir Arimbi yang menjadi makin risi karena teriakan pak Haji Ojan.


“Pecel rasa janda, ... pecel rasa janda. Makin banyak belinya, makin besar peluang masuk surganya! Yang belok kiri apalagi enggak beli, saya doakan masuk neraka!” teriak pak Haji Ojan sambil terus memuku*lkan sendok ke wajan Arimbi. Wajan baja yang juga menjadi senjata andalan Arimbi dalam melindungi diri.


Tukang ojek dan tukang parkir yang bisanya membantu Arimbi, berangsur menghampiri. Mereka langsung berusaha mengusir pak Haji Ojan, setelah Arimbi dengan tegas mengaku, bahwa Arimbi terganggu. Sayangnya, pak Haji Ojan tipikal yang lebih dari keras kepala. Sudah keras kepala, ngeyel juga. Malahan yang mengusir sampai ingin menangis. Kedatangan pak Kalandra dan ibu Arum pun tak membuat perubahan berarti. Malahan, pak Kalandra tertawa sampai lemas bahkan menangis.


“Bisa-bisanya generasi musafir cinta malah meleyot begini. Serba pink! Bentar, deh. Ini kepala kamu kenapa dari tadi dilalatin mulu? Hhhmmm, kamu pakai minyak jelantah bekas ikan asin, ya? Makanya selain mengkilap dan lepek, lalatnya enggak mau pergi? Hahahaha! Ini gokil banget sih, Mah! Kok ada yang begini di era yang serba canggih.” Pak Kalandra tak hentinya tertawa.


Arimbi maupun ibu Arum menjadi geleng-geleng di tengah keduanya yang menahan kecemasan tersendiri pada tingkah pak Haji Ojan.


“Sudah, biarin saja. Kalau si Ojan macam-macam, tabo*k saja pakai wajan!” yakin ibu Arum sambil membantu Arimbi membungkus setiap pecel pesanan mengingat calon menantunya itu sedang kedatangan banyak pembeli. Pak Kalandra yang niatnya akan membantu malah tak bisa diandalkan lantaran pria itu malah sibuk menertawakan pak Haji Ojan.


“Pah, bilang amit-amit, ih. Mbak Azzura lagi hamil, takutnya nular!” tegur ibu Arum.


Pak Kalandra langsung susah payah mengontrol tawanya, walau yang ada pria paruh baya itu lebih sering gagalnya.


“Pecel rasa janda ... Pecel rasa janda! Yang beli saya doakan masuk surga! Yang enggak beli, sana ke laut saja!” teriak pak Haji Ojan yang lagi-lagi melakukannya sambil memuku*l-muku*l wajan Arimbi menggunakan sendok.

__ADS_1


__ADS_2