Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
94 : PERSIAPAN NYOROG


__ADS_3

Pulang dari jualan pecel, Arimbi sudah langsung diajak belanja kebutuhan nyorog oleh mas Aidan. Nyorog sendiri merupakan tradisi membagikan undangan dalam bentuk makanan, maupun bingkisan lainnya sebelum menggelar hajatan.


Sejauh ini, tradisi nyorog di tempat mereka masih identik dengan makanan mentah, atau makanan matang. Namun karena waktu yang tidak memungkinkan, mereka beserta orang tua sepakat nyorog menggunakan makanan mentah. Mereka sengaja memborong mi instan, minuman kemasan rasa teh, dan juga kopi instan, selain roti atau wafer. Nantinya semua itu akan dikemas dalam karton atau besek bambu cantik, dilengkapi undangan singkat mengenai acara hajatan yang akan diselenggarakan.


Jika di tempat lain, istilah nyorog berarti lain dengan tradisi di tempat Arimbi, termasuk itu tradisi sebelum bulan ramadhan, di tempat mas Aidan dan Arimbi tinggal, dan masih masuk kawasan kabupaten Cilacap Jawa Tengah, kebiasaan nyorog masih menjadi simbolis undangan untuk menghadiri hajatan. Dulunya, acara nyorog identik dengan makanan matang berupa nasi komplit dan disusun dalam besek bambu. Namun seiring kemajuan zaman sekaligus teknologi, undangan di acara nyorog menjadi makin bervariasi. Selain makanan mentah, kini bahkan ada yang melakukannya menggunakan perlengkapan mandi.


“Sayang, besek bambunya cantik. Nanti pakai besek saja, enggak usah karton,” ucap mas Aidan.


Per hari ini, sikap mas Aidan makin manis. Memanggil Arimbi saja jadi selalu “Sayang”. Arimbi yang belum terbiasa menjadi kerap deg-degan dan akan makin deg-degan, di setiap panggilan itu terdengar. Yang mana tak jarang, Arimbi yang belum terbiasa juga menganggap asing panggilan sayang dari mas Aidan, hingga ia mengabaikannya dan otomatis, komunikasi mereka juga jadi ikut terganggu.


“Itu, nanti disusun-susun di dalamnya bisa diakalin. Nanti minta adik-adik kumpul buat bantuin. Ronda berjamaah kalau perlu,” ucap mas Aidan.


Arimbi langsung mesem. Demi menjaga kerapihan sekaligus kualitas nyorog mereka, mas Aidan tidak mau mengerjakan asal. Semuanya benar-benar rapi. Terbukti di sore harinya, termasuk mbak Azzura juga ikut serta menyusun isi sorogan mereka.


Didi : Kamu sibuk banget, ya? Dari tadi, lama banget balesnya. Kalau ada waktu, kita jalan ke restoran Jepang yang ada di dekat perumahan kamu, yuk?


Riri : Kalau memang masih banyak, nanti aku bantu, Mas.


Dari semua pesan yang masuk dan kebanyakan dari Didi, Azzam tetap sibuk membalas WA dari kontak Riri yang tak lain putrinya ibu Septi dan dokter Andri.


Azzam : Jangan naik motor sendiri, Dek. Minta antar mas Sepri, nanti pulangnya aku yang antar.


Riri : Oke, Mas. Mumpung masih di kampung, belum ke Yogya lagi.

__ADS_1


“Eh ini anak mau balik ke Yogya,” batin Azzam mendadak melow karena dengan kata lain, pertemuan mereka akan makin jarang. Mereka bahkan otomatis akan LDR.


Namun, sebelum Didi membuat ponselnya makin berisik, Azzam sengaja mengirimi Didi kabar lengkap dengan foto tumpukan sorogan yang harus ia susun.


Azzam : Sudah sana kamu nikah saja biar ada yang urusin kamu. Biar bentar-bentar enggak bikin hp apalagi telinga aku berisik. Tapi kalau kamu mau niat bantu, sini. Biar kamu lihat betapa keibuannya mbak Arimbi yang super penyayang. Anaknya kalem tapi cekatan, istri idaman.


Mengirim pesan tersebut, jauh di lubuk hatinya Azzam sudah langsung tertawa jahat.


Arimbi yang tak sengaja melihat Azzam, sudah langsung menyikut pelan lengan mas Aidan yang duduk di sebelahnya.


Tentu mas Aidan langsung memperhatikan Azzam yang duduk di seberang mereka. Mas Aidan langsung geleng-geleng, dan kembali melakukan hal serupa ketika yang di depan Azzam dan itu Akala, juga mesem-mesem sendiri sambil memandangi layar ponsel.


“Kalian sudah punya pacar, ya? Kenapa enggak diajak main ke sini?” ucap mas Aidan sengaja menegur.


“Assalamualaikum?” sergah Excel yang baru pulang kerja.


“Waalaikum salam!” Azzura menjadi penjawab salam paling kencang.


Azzura langsung menoleh agak balik badan menanti sang suami melangkah menghampiri.


“S-sayang, di depan ada yang mau lahiran loh. Itu tadi baru datang,” ucap Excel yang kemudian membiarkan tangan kanannya disalami Azzura dengan takzim.


“Oalah ... harus siap-siap berarti,” ucap Azzura yang langsung dibantu sang suami untuk berdirinya.

__ADS_1


“Sudah Mbak Azzura fokus urus pasien saja. Bentar lagi Riri sama Sepri datang,” ucap Azzam bersemangat.


“Riri itu siapa?” sergah mas Aidan penasaran.


“Ya anaknya ibu Septi sama dokter Andri lah, Mas. Masa iya enggak kenal,” balas Azzam.


“Oalah! Kirain, Riri itu calonnya Sepri! Hahaha!” Mas Aidan langsung kesulitan menyudahi tawanya, apalagi Arimbi yang duduk di sebelahnya, di lantai ruang keluarga lantai bawah, sudah langsung ikut tertawa.


“Mas, kalian beneran pacaran, hah?” sergah Azzura sambil tersenyum lepas memandangi kembarannya yang masih saja tidak bisa diam walau kini, usia Azzam sudah akan genap tiga puluh satu tahun.


“Usaha lah, usahaaa!” balas Azzam ceria, tapi bagi saudaranya termasuk bagi si polos Akala, balasannya benar-benar tidak jelas, mirip Azzam yang juga terkenal tidak jelas, hobi nyinyir sekaligus pecicilan.


Beberapa saat kemudian, walau Azzura sudah langsung absen karena harus mengurus pasien didampingi sang suami, datangnya Sundari dan Sepri sudah langsung menggantikan.


“Pri, Pri, kamu enggak usah ikut bantu. Kamu pasti capek banget. Sudah, kamu istirahat. Tiduran apa gimana. Dari semua yang ada di sini, kamu paling enggak pernah istirahat. Apalagi kamu sibuk kerja fisik, kasihan raga kamu. Belum urus Ojan,” tegur mas Aidan.


Arimbi yang paham segera berdiri, menawari semuanya minuman dan ia sendiri yang akan membuatkannya.


“S-sayang, kamu juga duduk. Biar Mbak saja yang buat. Ini nanti malam kalian mau makan apa? Kita pesan online saja, ya? Apa mau makanan dari rumah makan?” sergah mas Aidan yang sampai menggenggam mesra tangan kanan Arimbi.


“Mas Aidan kok jadi mesra perhatian banget, ya? Serius, jadi nggak ada jaim-jaimnya,” batin Arimbi berangsur duduk lantaran itulah yang mas Aidan harapkan. Mas Aidan sampai menuntunnya untuk kembali duduk, selain pria itu yang juga terus menggenggam tangan kanannya sambil menunggu pendapat adik-adiknya, mengenai makanan yang akan menjadi jamuan mereka malam nanti. Karena seperti niat mereka, mereka akan lembur agar lima ratus sorogan yang harus disusun, selesai malam ini juga.


“Mas Sepri, itu kasus mbak Suci gimana?” tanya Arimbi memberanikan diri sambil kembali menyusun sorogannya. Tampak Azzam yang sudah langsung mengajari Sundari menyusun sorogan karena gadis itu langsung diajak duduk di sebelah Azzam, tepat ketika Sundari baru datang. Tampaknya, Azzam dan Sundari memang memiliki hubungan khusus, terlepas dari Azzam yang menjadi agak kalem jika ada di dekat Sundari. Benar-benar hanya kalem karena yang namanya Azzam benar-benar tidak bisa diam.

__ADS_1


__ADS_2