
Sembari menunggu laporannya diproses, mas Aidan berniat menengok si wanita suci. “Kasihan bener si Aish. Di saat dia benar-benar butuh uluran malah enggak ada satu pun yang mendekat. Memang gara-gara dia kebangetan, sih. Makanya pas beneran butuh gini, dia harus menanggung sendiri. Kalau si anak punk-nya bilangnya malah betah di sini. Soalnya selain jadi punya tempat tinggal, mereka juga jadi lebih gampang dapat makan. Entah si Aish yang cinta hidup ke mas Ilham.”
Aisyah tak lagi ditempatkan di ruangan khusus. Wanita yang kembali bercadar sempurna itu menempati ruang tahanan bersama tahanan wanita lainnya. Hanya tempat tahanan dan rekan tahanannya saja yang berbeda. Selan itu, Aisyah juga dama sekali tidak mendapat perlakuan istimewa walau tulang tangan dan kakinya masih patah. Yang mana, sekadar melangkah saja, wanita itu harus agak ngesot, atau geser sedikit demi sedikit menuju tempat yang diinginkan. Layaknya kini, menemui mas Aidan pun, setelah sampai dibantu oleh petugas wanita yang jaga, mas Aidan menyaksikan betapa Aisyah sudah sangat tersiksa oleh keadaannya sekarang.
“Kamu enggak kasihan ke aku, Mas? Ini hukumannya beneran enggak bisa didiskon?” ucap Aisyah langsung cerewet. “Saran sekaligus permintaan khususku, yah Mas. Kalau memang aku enggak bisa bikin mas Ilham ikut dipenjara dengan dalih penelantaran terhadap istri, biarkan aku bebas dan menjadi tahanan kota saja. Aku janji, aku enggak akan macam-macam lagi apalagi ke Arimbi dan mas sekeluarga. Paling aku ingin balas mas Ilham yang sudah jahat banget ke aku. Syukur-syukur, mas Ilham juga kecelakaan apa gimana yang bisa bikin dia bur1k, biar dia enggak semena-mena gara-gara wujudku yang memang sudah jauh dari cantik.”
“Mau operasi plastik memang enggak punya duit. Ya mau bagaimana lagi, adanya burik ya cukup bersikap cantik. Soalnya aku merasa cantik kalau pakai cadar gini soalnya cuma kelihatan matanya loh, Mas. Banyak yang bilang mataku ini indah. Benar, kan, Mas?”
Mendengar Aisyah mengoceh panjang lebar layaknya sekarang, seolah mereka memang akrab, membuat mas Aidan bingung. Ia sampai merinding. Bulu lembut di kedua tangannya yang memakai kemeja lengan panjang dan disingsing hingga siku, menjadi terus berdiri.
“Enak bener mas Ilham dan keluarganya malah jadi damai. Sudah dibayarin uang tebusan ke Arimbi, eh mereka malah semena-mena. Asli ini enggak adil loh, Mas. Enak di mereka, rugi di aku walau aku memang salah. Namun kan aku janji, aku bakalan berubah. Sekali saja, Mas. Dan andai aku sampai melanggar, aku rela dibuang ke lautan belakang Nusakambang!” mohon Aisyah lagi dan lagi-lagi cerewet, seolah mereka memang dekat.
Tak ada lagi emosi termasuk itu tanggapan sinis dari seorang Aisyah. Malahan, Aisyah menjadi kerap menundukkan pandangan, tak berani menatap mas Aidan.
“Tapi Mas,” ucap Aisyah tiba-tiba sambil agak menatap mas Aidan.
Kali ini kedua mata tajam Aisyah yang memang indah, menjadi agak menyipit dengan kerut tipis di kelopak matanya yang menjadi agak menumpuk. Bertanda jika wanita itu sedang tersenyum. “Pas aku ditangkap, aku lihat cowok ganteng, Mas. Orangnya tingg, putih, mirip orang chinese, tapi kayaknya bukan chinese. Dia masih lokal, cuman terlalu ganteng gitu. Dia pakai serba hitam apa putih ya, aku lupa. Dia punya mobil, Mas. Ya enggak tahu itu mobilnya atau dia cuma nyewa. Pokoknya dia ganteng banget!” Yang Aisyah maksud Excel.
“Masa iya Mbak Aish enggak bisa membedakan warna putih atau hitam? Lagian, memang kalau pun saya kenal tuh orang, masalahnya atau urusannya dengan Mbak Aish, apa?” tanggap mas Aidan santai.
__ADS_1
Aisyah sudah langsung tersipu, menunduk kemudian berkata, “Hati saya sudah tercuri sama dia, Mas!”
Jujur, mas Aidan sudah ingin tertawa, tapi ia sengaja bersikap cuek. “Memangnya kemarin dia sampai belek dada Mbak?” ucapnya sewot. “Mbak Aish ini ... lagi genting saja masih bisa kepincut cowok ganteng!”
“Lah, siapa tahu jodoh, Mas!” balas Aisyah dengan santainya.
“Jodoh bagaimana? Mbak kan masih punya suami? Katanya Mbak cinta hidup ke si Ilham?” balas mas Aidan.
“Lah mas Ilham taaii, itu! As*u kelas kampung, sudah kere enggak bisa apa-apa, tapi gayanya kayak gatotkaca!” kesal Aisyah berkeluh kesah.
“Tapi pernah cinta, kan?” tegas mas Adan.
Apa yang Aisyah ucapkan barusan sudah langsung membuat mas Aidan bengong. “Hah? Duet? Lomba nyanyi atau karoke bareng gitu, maksudnya?” tiba-tiba saja, mas Aidan merasa sangat bodoh lantaran ia mendadak tidak bisa mencerna maksud Aisyah yang sebelumnya jelas-jelas mengaku sangat kesal, tapi berniat mengajak duet.
Alasan yang juga menjadi sumber tawa kebersamaan mas Aidan dan Arimbi ketika pria itu sampai rumah. Di rumah orang tuanya, Arimbi yang ia minta membuat mi yamin, sampai terduduk lemas menahan tawa, selain calon istrinya itu yang sampai menangis.
“Aku ya bingung, Yang. Ini orang maksudnya ngomong apa. Kok banyak bahasa yang salah. Aku pikir kan dia wah, suhu. Eh ternyata dia enggak sepintar itu. Dia hanya bersembunyi di balik sikap bar-barnya. Ya kayak, preman pada kebanyakan,” jelas mas Aidan masih belum bisa mengakhiri tawanya. Ia sampai ikut jongkok di sebelah Arimbi yang masih terduduk lemas. Malahan, Arimbi jauh lebih parah darinya gara-gara kabar terbaru mengenai Aisyah yang baru saja ia ceritakan.
Berangsur duduk santai di lantai, mas Aidan berkata, “Sepertinya, nasihat kamu kemarin itu langsung masuk ke hati dan otaknya, Yang. Makanya, dia seperti dapat hidayah dadakan. Dendam banget ke Ilham sekeluarga.”
__ADS_1
Tanpa mas Aidan maupun Arimbi sadari, ada dua pasang mata yang diam-diam tengah mengawasi mereka. Ibu Arum dan pak Kalandra, pasangan itu sampai berkaca-kaca tersipu memandangi kebersamaan di dalam sana, dari depan pintu dapur yang sedikit mereka buka.
“Ingat, Pah? Kita pernah gitu. Mirip banget, ya? Dulu Papah sampai diomeli mamah Kalsum gara-gara mamah Kalsum lihat aku nangis guling-guling di lantai. Dikiranya aku kenapa-kenapa, diapa-apain sama Papah. Padahal saat itu kita lagi bercanda, sementara sejauh ini kita paling susah berhenti ketawa kalau sudah bercanda!” cerita ibu Arum lirih. Ia memang tidak bisa mengentikan senyumnya, tapi ia juga tak kuasa membendung air matanya agar tidak sibuk berlinang. “Bahagia banget rasanya yah, Pah!”
“Kemarin mbak Azzura. Mbak Azzura bahagia banget sama mas Excel. Lah sekarang, ... mas Aidan. Mas Aidan bahagia banget dengan mbak Arimbi. Malahan mereka mirip kita saat awal baru kenal. Jadi berasa punya kloningan!” lanjut ibu Arum masih berbisik-bisik sambil menyeka cepat sekitar matanya.
Pak Kalandra yang juga sampai menitikkan air mata, berangsur mengangguk-angguk kemudian merangkul sang istri, mendekapnya erat, meski mereka bukan pasangan muda lagi.
“Papah sama Mamah kebiasaan, pacaran mulu!” tegur Azzam, tak lama kemudian. Ia langsung mengambil celah untuk lewat dari belakang punggung sang mamah karena kebersamaan orang tuanya di sana, membuat pintu nyaris tidak bisa dilewati.
“Ya Alloh, untung aku bukan Akala. Kalau aku Akala, sudah roboh pintu ini gara-gara disenggol dia!” keluh Azzam lirih dan langsung membuat ibu Arum sibuk menahan tawa.
“Kamu mau ngapain ke situ-situ? Itu mas sama mbakmu lagi quality time. Mbak Arimbi bela-belain langsung masak sehabis pulang jualan. Sementara mas Aidan baru pulang kerja dan memang baru bisa bertemu Mbak Arimbi setelah seharian enggak ketemu,” tegur pak Kalandra penuh perhatian.
“Masalahnya hidungku bisa jadi hidung bab1 kalau ada aroma makanan enak, tapi aku enggak sampai icip-icip, Pah!” yakin Azzam yang tetap rusuh pada kebersamaan mas Aidan dan Arimbi.
Ibu Arum dan pak Kalandra juga ikut bergabung, menyaksikan betapa resenya si Azzan yang langsung mengambil mangkuk, siap menjadi tukang icip-icip dalam jumlah banyak.
“Dek Azzam rese, ih. Enggak ingat kemarin pas kamu makan mi Yamin, Mas hanya dikasih dikit beneran dikit banget, enggak ada satu senti!” keluh mas Aidan benar-benar pasrah. Namun di depan Arimbi, ia tak mungkin membalas Azzam yang pernah sangat pelit kepadanya. Malahan gara-gara sikap pelit Azzam, ia yang jadi ngidam yamin, meminta Arimbi membuatkannya secara khusus.
__ADS_1