
“Besok, kalau anak kalian perempuan, kasih nama Arunika saja. Arunika kan, artinya matahari terbit. Biar anaknya ceria, semangat dan hadirnya juga selalu menerangi, memberikan kehangatan bagi setiap yang mengenal,” ucap ibu Arum tersenyum ceria kepada anak dan menantunya yang masih berdiri di hadapannya.
“Jangan. Terlalu pasaran. Nama mantan temanku saja Arunika. Di kompleks belakang rumah kita juga sudah ada yang namanya Arunika. Terus, yang kerja di rumah makan utama kita pun, ada yang namanya Arunika,” jelas mas Aidan sembari menyeka sekitar mata sang istri menggunakan tisu kering dan ia ambil dari tas selempang Arimbi.
Balasan jujur Mas Aidan yang disampaikan lirih tapi serius, sudah langsung membuat pak Kalandra tertawa.
“Karena nama Arunika artinya bagus, jadi sana sini pakai berharap arti dari nama itu juga berdampak bagus untuk yang punya,” ucap pak Kalandra.
“Omong-omong nama, apa kabar dengan namaku? Namaku Arimbi, raksasa penghuni hutan Kamyaka yang jadi istrinya Bima salah satu pandawa, mamahnya Gatotkaca,” ucap Arimbi lemas.
“Kata siapa kamu istrinya Bima? Kamu istrinya mas Aidan!” balas mas Aidan yang walau masih berucap lirih, tapi kali ini ia sampai sewot.
Pak Kalandra dan ibu Arum kembali tertawa. Membuat Arimbi yang sempat merasa namanya kurang spesial, juga menjadi ikut tertawa.
“Sebenarnya setiap nama baik. Karena setiap nama selalu menjadi simbolis harapan dari orang tua kepada anak-anaknya. Kalaupun ada yang memberi nama tanpa paham maknanya, itu hanya masalah ketidakpahaman. Memang lebih bagus jika nama juga dibarengi dengan makna nama itu sendiri. Namun aku percaya, nama selalu menjadi doa terbaik orang tua untuk anak-anaknya. Agar anak-anaknya mendapatkan kebahagiaan tiada akhir. Atau setidaknya, Alloh senantiasa memberinya kesehatan sekaligus rezeki yang melimpah, termasuk juga dalam urusan jodoh,” ucap mas Aidan tak mau sang istri berkecil hati.
“Jangan lupa, Mah. Kita punya kenalan namanya Fajar. Kita sama-sama tahu dia seperti apa. Wariyem saja sampai dipacarin. Alhamdullilah sekarang dia jauh lebih mikir. Punya kedai baso di pintu masuk dekat terminal itu!” ucap pak Kalandra. Bagi kalian yang sudah membaca novel Pembalasan Seorang Istri yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga, kalian pasti tahu siapa Fajar, mas Pongah yang hobi mo*rotin duit wanita bahkan wari*a.
“Baksonya enak, enggak, Pah? Malam nanti kalau kami pulang, pengin mampir,” tanya mas Aidan.
“Ya coba saja nanti kalian mampir. Biar enggak penasaran. Ajak pak Fajar ngobrol, bilang kalau kalian anak kami. Pasti dia kenal,” balas pak Kalandra.
__ADS_1
Mas Aidan mengangguk-angguk. “Teru, nama kedainya apa, Pah?”
Pak Kalandra tak langsung menjawab lantaran ia justru melirik sang istri yang ia pergoki menahan senyum. “Nama kedainya, Bakso PONGAH!” balas pak Kalandra yang detik itu juga sudah langsung cekikikan.
“Ketimbang yang lain, Mamah justru pengin makan pecel lontong buatan Mbak Mbi!” ucap ibu Arum sambil tersenyum sedih menatap Arimbi.
“Duh, Mah. Ini masih nuansa bulan madu. Nanti yang ada Mbak Mbi makin enggak fokus. Ini saja sudah mikirin dagang, mau bikin bumbu pecel dikasih macam-macam buat varian rasa,” ucap mas Aidan uring-uringan dan pak Kalandra sudah langsung menertawakannya.
“Nanti malam kan kami pulang, Mah. Besoknya, aku mau langsung bikin pecel!” ucap Arimbi bersemangat.
“Kamu yakin?” tanya mas Aidan. Ia yang masih berdiri di belakang agak samping Arimbi, sudah langsung melongok wajah Arimbi.
Arimbi mengangguk-angguk. “Bikin buat di rumah, secukupnya.”
“Itu bumbu rujak buatan Mbak Mbi kemarin sampai mbak Azzura kasih air, biar lebih awet terus makannya dikit-dikit karena sadar, yang bikin masih bulan madu katanya!” lanjut pak Kalandra yang lagi-lagi tertawa.
Arimbi termasuk ibu Arum juga jadi ikut tertawa. Lain dengan mas Aidan yang hanya mesem.
“Asli sih, ini orang pasar juga sibuk WA. Mereka sampai bolak balik ke warungnya ayah Angga. Dikiranya aku sudah jualan di sana, eh masih belum juga. Ya sudah, mau enggak mau mereka makan ala kadarnya dulu pas di pasar,” cerita Arimbi.
Setelah larut dalam obrolan, pak Kalandra dan ibu Arum pamit pulang. Namun Arimbi dan mas Aidan sengaja mengantar sambil menikmati pemandangan suasana hutan di Pangandaran.
__ADS_1
Suasana di sana terbilang ramai karena kebetulan memang sedang banyak pengunjung. Beberapa mony*et terlihat tengah menikmati makanan khususnya kacang kulit pemberian pengunjung. Mony*et-mony*et di sana memang berkeliaran bebas dan kebetulan sedang tanpa pengawasan. Jadi, wajib berhati-hati dan sebisa mungkin menjaga sikap agar kalian tidak sampai diser*ang monye*t ketika memasuki kawasan sekitar sana.
“Mas, pegangin aku,” ucap Arimbi sembari membagikan kacang kulit yang sebelumnya ia beli.
“Langsung lempar semua saja, Yang. Enggak usah dibagi gitu, toh langsung buat rebutan. Takutnya yang ada kamu dicakar. Sudah, lempar ... lempar!” heboh mas Aidan sengaja membantu Arimbi melempar satu kantong kacang kulitnya.
Bukan hanya Arimbi yang tegang setelah wanita itu sampai dilompati mony*et. Karena mas Aidan yang awalnya hanya mengawal di belakang, juga sudah buru-buru mendorong monye*t yang sempat berdiri di pundak kiri Arimbi.
“Tegaaangggg!” lirih Arimbi ketakutan dan langsung refleks memeluk mas Aidan.
Pak Kalandra dan ibu Arum yang sudah ada di depan, langsung berseru, meminta mas Aidan dan Arimbi untuk segera menyusul.
“Jangankan mereka yang enggak sekolah, manusia yang sekolah tinggi-tinggi dan paham agama saja, masih ada yang enggak tahu aturan,” ucap Kalandra ketika anak dan menantunya susah ada di sebelahnya.
Tangan kanan mas Aidan sampai berdarah karena tercakar akibat gerakan refleks pria itu mendorong monye*t dari pundak kiri Arimbi.
“Nanti aku obati. Maaf, Mas. Maaf!” ucap Arimbi sambil meniup luka mas Aidan. Ia mengelapnya menggunakan tisu kering sambil terus melangkah.
“Sepertinya mereka kelaparan parah, makanya sampai berebut brutal gitu. Kita yang belum terbiasa sudah langsung ketakutan,” komentar ibu Arum.
Siangnya, mas Aidan dan Arimbi yang keluar dari hotel untuk melihat suasana pantai jika di siang hari, tak sengaja bertemu rombongan Chole. Ternyata Chole datang dalam formasi lengkap bersama orang tua dan juga kedua kakaknya.
__ADS_1
“Aku pikir kalian sudah balik ke Jakarta?” ujar mas Aidan, tapi Chole yang diajak ngobrol, hanya tersenyum canggung. Malahan, Chalvin yang membalas meski pemuda itu berada jauh dari mereka.