
Di luar sana, hujan masih mengguyur menemani malam. Sesekali, kilat petir juga hadir. Arimbi memutuskan untuk mematikan televisi yang sempat menemaninya menunggu kepulangan sang suami.
“Sepi, Mbak? Enggak nonton tivi?” tanya pak Angga yang baru saja keluar dari kamar. Ia memergoki sang menantu masih setia duduk di sofa ruang keluarga seorang diri.
“Takut, Yah. Ada petir, tuh.”
“Kalau pasang anti petir, itu beneran ngaruh enggak sih, Mbak?” tanya pak Angga yang sampai detik ini ingin memberikan yang terbaik untuk anak maupun menantunya. Karena hanya merekalah harta paling berharga dalam hidupnya.
Arimbi yang kurang paham dengan pertanyaan ayah mertuanya langsung menggeleng sambil tersenyum. “Kurang tahu, Yah. Paling nanti tanya mas Aidan.”
Pak Angga juga jadi mesem. Sama-sama tak tahu, tapi melihat layar ponsel sang menantu dalam keadaan gelap, juga lagi-lagi membuatnya khawatir. Pak Angga takut, Arimbi bosan bahkan tidak betah tinggal bersamanya. Karena jika itu sampai terjadi, otomatis pak Angga juga akan kembali tinggal sendiri.
“Wifi mati apa gimana, Mbak?” tanya pak Angga sengaja menghampiri kemudian memastikan wifinya.
“Ayah Angga selalu ingin memberikan yang terbaik. Ayah Angga takut ditinggal, takut beliau enggak bisa kasih yang terbaik melebihi mamah Arum dan papah Kalandra. Mau enggak mau, keadaan sekaligus perasaan seperti ini memang akan selalu ada,” pikir Arimbi.
Ini menjadi malam kedua Arimbi dan mas Aidan tinggal di rumah pak Angga. Sebenarnya mereka tak hanya bertiga dengan pak Angga. Karena ibu Warisem dan pengurusnya juga ada di sana. Hanya saja, ibu Warisem sudah tidur di kamar sekitar satu jam lalu. Karena kini memang sudah malam, sudah nyaris pukul dua belas. Namun karena mas Aidan belum pulang dan keadaan juga sedang hujan, Arimbi sengaja menunggu di ruang keluarga. Tak sangka, pak Angga sampai menemaninya. Pria itu sampai mengukus dimsum untuk Arimbi.
“Mas Aidan bilang, jangan kasih Mbak yang goreng-goreng, takut Mbak radang tenggorokan,” ucap ayah Angga sambil menyuguhkan satu piring dimsum lengkap dengan saus di mangkuk terpisah.
“Ya ampun Ayah. Ini aku malah bikin Ayah repot!” panik Arimbi.
__ADS_1
“Repot apa si, Mbak? Enggak lah. Bentar, kita makan asinan buah yang Mbak buat kemarin. Kayaknya seger!” ucap pak Angga.
“Biar aku yang ambil, Ayah ...,” ucap Arimbi agak berseru sambil menatap kepergian punggung pak Angga yang kembali masuk ke dapur.
“Sudah enggak apa-apa. Mbak istirahat saja,” balas pak Angga santai sambil terus melangkah tanpa sedikit pun melirik Arimbi.
Arimbi yang sempat berdiri, refleks menghela napas dalam. Ia berangsur duduk kemudian membingkai perutnya yang masih rata, menggunakan kedua tangan. Dalam hatinya Arimbi yakin, anak-anaknya akan menjadi anak-anak paling bahagia. Anak-anaknya akan dikelilingi orang yang sangat mencintai mereka. Tentunya, fasilitas yang sudah mas Aidan termasuk pak Angga siapkan juga akan menjadi penunjang utama dari kebahagiaan mereka.
“Alhamdullilah ya Allah, sejak dari di dalam perut, anak-anak sudah enggak kekurangan kasih sayang. Mereka juga selalu makan makanan enak sekaligus bergizi. Enggak kurang-kurang, ada saja makanan, minuman baru setiap harinya,” batin Arimbi. Ia berpikir, kekurangan yang pernah ia apalagi mas Aidan rasa, kini terbalas dengan kebahagiaan melimpah. Anak-anak mereka akan merasakan kebahagiaan melimpah itu tanpa jeda.
“Alhamdullilah ...,” lirih Arimbi tak hentinya bersyukur sambil terus mengelus perutnya menggunakan tangan kiri. Ia mulai menyantap dimsum yang disiapkan ayah Angga, agar pria itu merasa berharga.
Terbukti, pak Angga sudah langsung tersenyum hangat hanya karena menyaksikan sang menantu tengah melahap dimsum dengan lahap.
“Ini enak banget, Ayah. Serius, enak, enggak kalah enak dari produk yang di mal!” ucap Arimbi yang kemudian bertanya, awal mula ayah Angga bisa sampai memiliki usaha makanan cepat saja sekaligus makanan beku layaknya kini.
“Awal mulanya ya karena Ayah ingin cari usaha yang layak, eh Ayah dihina. Namun Ayah lihat, peluang usaha ini beneran ada. Awalnya kan Ayah jualan keliling. Dulu Ayah jualan gorengan pakai sepeda loh, Mbak!” cerita pak Angga.
“Ayah pakai sepeda? Waktu itu harusnya sudah banyak motor, kan?” Arimbi terkagum-kagum. Terlebih ia baru tahu, awal mula adanya usaha pak Angga karena dihina.
Pak Angga tersenyum pasrah. “Ya sudah, mamah Arum saja sudah sampai dibelikan mobil sama papah Kala! Masalahnya dulu ayah memang modalnya pas-pasan. Jadi orang prihatin, pakai sepeda, daripada dipikul. Lagian kalau jualan pakai sepeda, jadi kedengeran kalau ada yang manggil.”
__ADS_1
“Sejak itu mulai mikir buat bisa jadi lebih. Mikir coba-coba bikin produk, lama-lama banyak yang kenal dan suka juga.”
“Assalamualaikum ...,” sapaan lembut dari mas Aidan, berhasil mengusik kebersamaan di sana. Pak Angga dan Arimbi sudah langsung membalas salamnya.
“Wah, rame ...!” Mas Aidan sudah langsung heboh.
“Sini, Mas. Aku dibikinin dimsum sama Ayah!” Arimbi tak kalah heboh. Sembari duduk, ia juga memberi kode keras kepada sang suami agar segera duduk di sebelahnya.
Mas Aidan sengaja menghampiri sang ayah yang juga langsung disalami dengan takzim. Barulah, setelah itu mas Aidan duduk di sebelah sang istri layaknya kode keras yang ia terima. Ia yang baru duduk sudah langsung diberi minum. Teh hangat dan kata Arimbi masih buatan pak Angga.
“Ini memang enak. Dari kemarin lupa mau pesan buat mbak Azzura sekalian orang rumah,” ucap mas Aidan setelah menerima suapan dari sang istri.
Sejak tahu hamil, aktivitas Arimbi memang dibatasi. Urusan pergi-pergi walau mas Aidan memboyongnya menggunakan mobil, benar-benar dibatasi. Demi keamanan sang janin karena kejadian keguguran pernah dialami ibu Arum maupun Azzura, hingga mereka trauma. Karena mereka percaya, mitos tersebut memang ada. Semacam pengalaman yang dialami keluarga terdahulu, tak menutup kemungkinan juga akan dialami yang muda.
“Kami beneran pesan loh, Yah. Jangan dikasih!” ucap Arimbi sengaja wanti-wanti, tapi yang diwanti-wanti justru tertawa.
“Iya, kami beli. Jangan dikasih terus. Nanti sekalian kami promosikan secara online biar makin laris. Karena aku yakin, sekali makan, mereka pasti langsung suka. Nanti aku kirim ke paman Lim juga. Biar mereka ikut bantu promosi. Biasanya kan gitu!” ucap mas Aidan bersemangat.
Pak Angga mengangguk-angguk setuju. Ia berangsur menuang asinan buatan sang menantu ke mangkuk yang juga sudah ia sediakan di nampan. “Oh iya, Mas. Terus gimana keputusannya?”
Arimbi juga baru ingat, alasannya menunggu sang suami hingga nyaris dini hari karena ia tak mau terlewat kabar terbaru dari hubungan Aisyah dan Ilham.
__ADS_1
Aisyah yang tinggal di kontrakan Sepri, memilih bercerai dari Ilham. Di luar dugaan, Ilham tidak mau dicerai. Sementara sore hari ini, rombongan Romo Kyai dan ibunya Aisyah, tiba di warung pecel mereka. Yang mana setelah itu, mas Aidan mengantar rombongan sekaligus menyelesaikan kasus Aisyah dan Ilham.