Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
73 : Toko Perhiasan Berjalan


__ADS_3

Hujan mendadak turun dengan deras ketika mas Aidan baru sekitar setengah jam mengarungi perjalanan, setelah mereka membesuk Aisyah. Tak ada pilihan lain selain buru-buru menepi dan berteduh secepatnya agar mereka tidak kuyup. Terlebih hal yang sama juga dilakukan oleh pengendara lain. Sebagian dari mereka langsung membuka ransel maupun bagasi motor, mengeluarkan persediaan mantel layaknya apa yang baru saja mas Aidan lakukan.


“Mas stok mantel hujan juga?” tanya Arimbi. Di sebelahnya, mas Aidan mengangguk-angguk. Pasti pria itu menyetok mantel terlebih mas Aidan tipikal yang segala sesuatunya serba tertata.


Ada dua mantel di bagasi motor mas Aidan, walau ketika mereka menoleh ke sebelah, kedua sejoli itu langsung bengong lantaran itu merupakan toko perhiasan yang sedang siap-siap untuk tutup.


Senyum bahagia langsung terlukis dari bibir mas Aidan. Kedua matanya berbinar-binar menatap kedua mata Arimbi. “Kita mampir, siapa tahu ada yang cocok! Kode keras banget dikasih hujan, biar kita mampir!”


Ajakan barusan pula yang langsung membuat Arimbi tersipu. Mereka langsung melihat-lihat dengan leluasa karena kebetulan, pengunjungnya sudah nyaris tidak ada mereka. Selain itu, dibandingkan dengan toko perhiasan di sebelah pasar yang sempat mereka kunjungi siang hari ini, toko perhiasan yang sekarang jauh lebih terlihat berkelas.


“Semuanya bagus.” Itulah komentar Arimbi yang jadi bingung memilih karena selain perhiasan di sana berkualitas bagus, modelnya juga jauh lebih bagus.


“Sukanya yang mana?” tanya mas Aidan masih lirih. Lebih tepatnya, sedari kebersamaan obrolan mereka benar-benar lirih.


“Coba Mas pilihin,” uca Armbi.


Mas Aidan yang masih menatap kedua mata Arimbi berkata, “Nanti kalau sudah dipilihkan tapi bukan selera Mbak, bagaimana?” Namun ia segera mengawasi etalase berisi pajangan cincin di hadapan mereka. Kemudian ia menunjuk cincin emas dengan batu permata merah delima dan memang bukan pilihan yang disarankan untuk pertunangan apalagi pernikahan. “Itu cantik, kan? Pas di jari manis kiri tangan Mbak. Kelihatan manis, anggun, mewah juga.”


“Itu kan bukan cincin nikah, Mas,” balas Arimbi mengingatkan karena cincin dengan berat empat gram lebih itu bukan cincin yang tengah mereka cari.


“Ya enggak apa-apa. Aku mau beli itu buat Mbak, jadi Mbak wajib pakai, ya?” Kali ini mas Aidan memaksa hingga ia juga berkata, “Ini aku beneran maksa. Aku suka itu soalnya.” Mas Aidan langsung meminta pekerja yang menemani mereka untuk mengambilkan cincin yang ia maksud. Selanjutnya, tentu ia memasangkannya ke jari manis tangan kiri Arimbi. “Kan, pas.”


“Bagus ...,” lanjut mas Aidan meyakinkan. Ia bahkan sampai egois meminta Arimbi tidak melepasnya. “Langsung bayar saja, Mbak. Biar dia enggak nolak.” Ia tersenyum ramah kepada pekerja wanita yang langsung mesem memandangi interaksinya dan Arimbi.


“Pembayarannya pakai apa, Mas?” tanya karyawan tadi.

__ADS_1


“Transfer via mbanking!” balas mas Aidan buru-buru mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.


“Perhiasan di sini bagus-bagus. Kita beli buat acara kita semuanya di sini saja. Kamu pilih, jangan bingung. Soalnya kamu pasti bakalan lebih bingung kalau belinya bareng mamah atau keluargaku.” Mas Aidan berbisik-bisik dengan salah satu tangannya yang sampai agak merangkul sebelah lengan Arimbi.


“Sekarang?” bisik Arimbi memastikan, menatap tak percaya wajah khususnya kedua mata mas Aidan.


Mas Aidan yang masih menatap kedua mata Arimbi segera mengangguk-angguk. “Memangnya uangnya sudah ada?” balas Arimbi kembali memastikan.


“Ada. Dari ayah Angga sudah disediakan. Dari Mamah sama papah juga ada. Dari aku juga sudah ada,” balas mas Aidan.


“Dibawa?” Arimbi kembali memastikan, tapi yang ditanya malah menahan tawa. “Bercanda? Ngledek?” tebaknya mulai gemas kepada mas Aidan.


“Kalau enggak bawa, aku mana berani nawarin Mbak!” yakin mas Aidan yang akhirnya benar-benar tertawa.


“Masya Aaaaaaalllloh, ini beneran? Ini serius?” batin Arimbi yang menjadi terenyuh. Selain itu, kedua matanya juga menjadi panas dan perlahan berembun. “Pas nikah sama mas Ilham, boro-boro dikasih. Pantes Alloh cepat-cepat memisahkan kami dan Alloh sengaja menyatukan mas Ilham dengan wanita suci. Karena memang hanya wanita suci seperti mbak Aisyah yang memang pantas bersanding dengan mas Ilham biar sama-sama seimbang!” batin Arimbi yang jadi bingung bagaimana ia membalas mas Aidan selain bakti yang tentu saja akan ia jalani?


“Benar, Mas. Aku juga mikirnya gitu. Yang seimbang lah!” balas Arimbi.


“Beli masing-masing dua pasang dulu kalau gitu. Gelang, kalung, liontin, anting. Cincinnya tinggal buat yang nikahan sama satu lagi yang buat hiasan,” ucap mas Aidan.


“Cincinnya mau ditaruh di mana lagi? Nanti dikira toko perhiasan jalan aku, Mas!” balas Arimbi dan mas Aidan langsung menertawakannya.


Keesokan paginya, sekitar pukul setengah lima, adanya cincin cantik nan mewah yang menghiasi jari manis tangan kiri sang putri membuat ibu Warisem sampai mendekat dalam memastikannya?


Arimbi yang sedang menyusun sayur rebusan untuk bahan pecel ke kontainer besar langsung menahan napas dan tak lagi membiarkan jemarinya beraktivitas.

__ADS_1


“Kemarin, kamu langsung lamaran apa gimana? Cincin lamaran kok gede bener? Pasti mahal itu!” komentar ibu Warisem.


Arimbi langsung tersenyum tak berdosa menatap sang ibu sambil menggeleng. “Bukan lamaran, Bu. Belum. Lamarannya tiga hari lagi. Di rumah baru kita. Jadi, ini nanti sehabis dagang, aku mau langsung bablas ke rumah baru kita buat cek.”


“Sama mas Aidan?” balas Ibu Warisem memastikan.


Arimbi yang kepalanya masih dibungkus handuk, langsung menggeleng. “Enggak, sendiri dulu soalnya hari ini mas Aidan banyak kerjaan. Siang pun, masih harus balik ke kabupaten.”


“Tapi dia sudah sembuh?” balas ibu Warisem lagi.


Arimbi mengangguk-angguk. “Bilangnya sih sudah. Dia masuk angin kelewat juga, kan. Masuk angin sudah lama dibiarin dan memang enggak dirasa. Orang sibuk ya gitu, kurang istirahat, makan juga telat, pekerjaannya juga sering bikin dia bepergian jarak jauh.”


“Nanti kalau sudah nikah pasti lebih terurus, selain kamu yang wajib jadi alarm biar suamimu selalu sehat. Enggak apa-apa dibilang berisik, yang penting suami terawat. Baik enggaknya kan baliknya ke kamu juga.” Setelah berucap demikian dan membuat Arimbi mengangguk-angguk ceria menatapnya, ibu Warisem yang kembali penasaran dengan cincin emas berhias batu merah delima, kembali bertanya.


“Dari mas Aidan apa beli sendiri?” Ibu Warisem masih penasaran.


“Beli sendiri kalau aku nikahnya sama mas Ilham, Bu!” Arimbi bercanda walau bercandanya masih bagian dari kenyataan yang sempat ia alami.


“Kan kamu sendiri yang bilang, kalian lamarannya tiga hari lagi. Terus kalau itu bukan cincin lamaran atau pun yang buat nikahan, itu cincin apa?” ibu Warisem makin penasaran.


“Ya cincin buat dipakai aku soalnya mas Aidan suka cincinnya, dan beliau ingin lihat aku pakai ini.” Arimbi masih meyakinkan, tapi kali ini, sang ibu yang awalnya terus bertanya karena penasaran, langsung berkaca-kaca menatapnya.


“Itu ... pasti mahal banget, ya?” Air mata ibu Warisem akhirnya tumpah.


Kesedihan ibu Warisem menular kepada Arimbi. Ia meraih kedua tangan sang ibu kemudian menggenggamnya. “Doakan yang terbaik yah, Bu. Namun selebihnya Ibu harus percaya, bersama mas Aidan, aku benar-benar bahagia. Termasuk juga Ibu. Ibu juga akan menjadi salah satu orang paling bahagia karena menjadi bagian dari orang sebaik mas Aidan!”

__ADS_1


Berlinang air mata, ibu Warisem mengangguk-angguk. Namun kebahagiaan yang membuncah membuatnya tersedu-sedu. “Ibu bahagia banget, Mbi. Belum apa-apa, Ibu juga sudah sangat bahagia!”


__ADS_2