
Setelah lamaran, mas Aidan merasa, satu tahap terpenting dalam hidupnya baru saja ia lewati. Ia sudah setengah resmi mengikat Arimbi. Ibarat rumah, ia baru saja menciptakan pondasinya dan nantinya akan menjadi tempat di mana ia dan Arimbi tinggal sekaligus tumbuh bersama. Hanya saja, mungkin efek terlalu lelah, malam ini mas Aidan justru tidak bisa tidur. Padahal esoknya, ia tetap sibuk layaknya biasa tanpa ada yang bisa ditunda.
“Mau WA apa telepon Arimbi, takut dia juga jadi ikut nggak tidur apalagi pukul tiga nanti, dia sudah harus bangun buat siap-siap jualan,” lirih mas Aidan. Ia keluar dari kamar dan mendapati Azzam baru saja masuk kamar. Mas Aidan memastikan waktu di layar ponsel miliknya dan layarnya sengaja ia nyalakan. Sudah pukul setengah satu pagi, tapi Azzam masih gentayangan.
Mas Aidan sudah nyaris mengetuk pintu kamar sang adik yang ada di sebelah kamarnya. Tangan kanannya yang agak mengepal sudah nyaris menyentuh pintu, tapi ia urung melakukannya.
“Biar dia istirahat karena seharian ini, dia pasti lelah.” mas Aidan tak jadi mengetuk pintu kamar Azzam dan memutuskan pergi ke dapur.
“Mas, kok Mas kelihatan linglung?” tanya Arimbi ketika akhirnya mereka bertemu di subuhnya.
“Ini dari tadi enggak ngantuk-ngantuk, eh sekarang malah ...,” cerita mas Aidan yang sebenarnya baru pulang shalat subuh berjamaah di masjid. Ia sengaja mampir ke kontrakan Arimbi, bermaksud menemani tunangannya itu jualan.
“Ya ampun ... sudah sekarang Mas tidur.” Arimbi langsung mengambil keputusan.
“Kalau aku tidur, yang temenin Mbak siapa?” balas mas Aidan yang memang linglung efek terlalu ngantuk.
“Sendiri. Aku bisa. Di pasar pun banyak orang. Nanti kalau Mas sudah tidur, Mas mau kerja, baru Mas mampir ke tempatku!” ucap Arimbi yang langsung menggandeng mas Aidan masuk kontrakan. Ia menitipkan calon suaminya itu kepada sang ibu yang sedang merapikan gerabah yang beres cuci Arimbi, untuk disisihkan.
“Sudah langsung tidur saja, Mas. Kalau ada apa-apa, Ibu di dapur, ya! Mbak, pintunya langsung kunci saja.” Ibu Warisem meyakinkan. Ia membiarkan tangan kanannya disalami Arimbi dengan takzim. Kemudian, ia mendapati interaksi lucu ketika Arimbi akan melakukannya kepada mas Aidan. Keduanya tampak canggung, selain mas Aidan yang nyaris menci*um kening Arimbi dan seolah terbawa suasana.
Bukan hanya ibu Warisem yang menjadi mesem. Karena ulah mas Aidan juga langsung membuat mas Aidan tersipu.
__ADS_1
“Aku berangkat dulu. Assalamualaikum,” pamit Arimbi dan kedua orang yang ia tinggalkan kompak menjawab salamnya. Mas Aidan sampai mengantarnya hingga depan kontrakan.
Kepergian Arimbi untuk jualan dan itu sekitar pukul lima pagi kurang lima menit, sudah langsung membuat mas Aidan tidur sangat nyenyak. Mas Aidan menc*ium aroma tubuh Arimbi di bantal yang pria itu kenakan, dan kenyataan tersebut menjadi salah satu alasan kuat dirinya langsung lelap.
“Enggak sampai satu minggu lagi, tapi ini setelah menikah, kami mau tinggal di mana? Di sini dulu? Ke sana sini gantian biar adil? Nanti kalau terus giliran malah capek di jalan.” Jauh di bawah alam sadarnya, mas Aidan sampai kepikiran mereka akan tinggal di mana setelah mereka resmi menikah?
***
Suasana sudah sangat cerah berhias matahari pagi yang sudah langsung panas ketika mas Aidan yang sudah rapi, datang menemui Arimbi. Arimbi yang masih sibuk, langsung mesem menyapa mas Aidan.
“Pacaran terus!” orang pasar khususnya tukang ojek dan tukang parkir, mulai berani menggoda mas Aidan maupun Arimbi. Arimbi dan mas Aidan kompak tersipu meresponsnya.
“Masnya sini sarapan pecel dulu, saya yang traktir!” ucap mas Aidan bersemangat dan memang belum sempat duduk.
“Tapi belum ngopi, kan?” sergah mas Aidan yang sudah langsung turun tangan untuk membuatkan delapan kopi untuk tukang parkir dan juga tukang ojek di sana.
Mas Aidan menyiapkan semuanya sendiri termasuk itu untuk merebus airnya. Kebetulan, Arimbi juga sampai punya kompor satu tungku dan juga panci kecil untuk merebus air. Karena selain jualan pecel, lontong, gorengan dan juga rujak, Arimbi juga sedia kopi panas.
Arimbi tersenyum bahagia melihat kedekatan mas Aidan dengan orang pasar yang juga sudah seperti keluarga Arimbi. Andai kemarin diundang ke acara lamaran, semuanya pasti hadir. Namun karena tempat tidak memadai, Arimbi yang sampai jujur ke mereka, hanya mengundang mereka saat ijab kabul dan resepsi besok.
“Mbak, ini total berapa?” bisik mas Aidan kepada Arimbi yang baru saja selesai memberi kembalian kepada pembeli.
__ADS_1
“Totalnya berapa, gimana, Mas? Sudah dibikin ya sudah, tinggal kasihkan saja. Enggak usah pikir bayar, enggak akan rugi juga!” yakin Arimbi tapi mas Aidan yang sudah sampai menghela napas malah buru-buru menaruh uang seratus ribu ke dompetnya.
“Ih, Masse!” rengek Arimbi sambil menarik-narik pelan kemeja lengan panjang bagian pinggang mas Aidan.
“Aku niatnya bayar, Mbak. Pamali!” yakin mas Aidan berbisik-bisik juga.
“Ya ampun, ini beneran?” Arimbi masih merengek.
“Itu bukan uang palsu, Mbak. Itu uang asli!” yakin mas Aidan.
“Ih Mas Aidan memang paling bisa. Ya sudah, aku kasih kembalian!” balas Arimbi yang sudah langsung mengambil kembalian.
“Oh masih kembali? Memangnya harga kopinya, satuannya berapa?” tanya mas Aidan pura-pura terkejut menatap Arimbi yang awalnya ia punggungi.
Bukannya menjawab, Arimbi malah tertawa. “Sombong banget harga kopi pinggiran saja enggak tahu!” ucapnya sambil mencubit gemas perut mas Aidan. Pria itu langsung sibuk menahan tawa tapi pada akhirnya tertawa juga.
Awalanya Arimbi mengawasi kepergian mas Aidan yang mengantar delapan kopinya menggunakan nampan. Namun karena ada yang beli, Arimbi segera menyudahi pandangannya dari mas Aidan.
“Wah, mbak Suci? Tumben siangan?” sapa Arimbi kepada wanita berseragam batik lengan panjang di hadapannya. Yang Arimbi tahu, wanita yang ia panggil Suci dan sudah menjadi langga*nan pecelnya, seorang perawat. Malahan Suci bekerja di klinik pak Angga sempat dirawat.
“Iya, Mbak. Ini tadi anak demam lagi. Jadi agak keteteran. Mau enggak berangkat sudah kebanyakan izin,” balas Suci dengan ekspresi yang benar-benar lelah. Lingkar hitam di sekitar matanya menegaskan kelelahannya yang juga efek kurang tidur.
__ADS_1
“Oalah ... nggak ada yang jagain juga sih ya di rumah.” Arimbi menatap Suci prihatin sambil menyiapkan pecel untuk wanita itu.
“Biasanya sama budenya, tapi akhir-akhir ini, anaknya jadi enggak mau, Mbak. Ini sekalian mau izin mau saya ajak ke klinik saja sambil kerja,” balas Suci yang sudah beres memilih gorengan dan lontongnya. Ia memang terbiasa membelikan titipan teman kerjanya sebelum berangkat ke klinik. Mau pagi atau sore, jika tidak sedang izin, ia pasti selalu dititipi pecel lontong lengkap Arimbi oleh teman kerjanya. Bahkan mungkin karena kebiasaannya itu, ia jadi sering dapat bonus khusus dari Arimbi.