Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
59 : Mas Aidan Nikung Saya?!


__ADS_3

Dua tampah berisi sayuran untuk pecel dan itu benar-benar penuh, menghiasi meja di ruang tengah yang ada di kontrakan Arimbi. Dua kotak besar berisi bumbu juga ada di sana. Termasuk dua kotak besar berisi aneka gorengan yang disusun rapi di dalamnya, dua kotak berisi lontong bungkus daun, juga dua kotak berisi potongan aneka buah lengkap dengan bumbu rujaknya.


Azzura yang melihat semua itu terperangah. Begitu juga dengan Akala yang ia ajak. Terdengar bunyi keroncongan yang langsung berasal dari perut Akala hingga Azzura mesem nyaris menertawakannya.


“Mbak Arimbi, ... aku boleh makan semuanya, enggak?” rengek Azzura yang baru akan Arimbi tinggalkan.


Arimbi langsung mesem, kemudian mengajak kedua adik dari calon suaminya itu untuk masuk ke dapur. Karena di dalam dapur, jatah untuk keduanya sudah Arimbi siapkan.


Akala yang memang pendiam hanya menyimak setiap obrolan Azzura dan Arimbi yang kadang disertai juga oleh ibu Warisem. Akala juga membiarkan Azzura maupun Arimbi menyiapkan pecel maupun rujak untuknya.


“Gagal diet kamu, Mas!” ucap Azzura menertawakan Akala.


Akala hanya kebingungan dalam diamnya sambil tetap duduk di sebelah Azzura.


“Mas Akala lagi diet? Berarti makannya harus dibagi-bagi, ya. Jangan sekaligus gitu maksudnya.” Arimbi turun tangan membagi porsi makan Akala menjadi tiga bagian. “Jangan terlalu menyiksa diri, Mas. Pelan-pelan saja dietnya, ya.”


Akala mesem dan benar-benar kikuk. Lain dengan Azzura yang langsung tersipu melihat perhatian manis Arimbi kepada sang adik.


“Mbak, sebanyak ini beneran hanya Mbak dan ibu yang urus?” tanya Azzura sambil mulai menyantap semua makanan yang Arimbi siapkan untuknya.


“Iya, Mbak,” jawab Arimbi yang bergegas memboyong satu kotak berisi rujak potong dan juga pecel. Ia menaruhnya di meja Azzura dan Akala.


“Sebanyak ini hanya dikerjakan dua orang, dengan waktu yang benar-benar singkat?” Azzura terheran-heran.

__ADS_1


“Karena kami sudah terbiasa, Mbak. Nantinya kalau Mas Akala terbiasa dengan dietnya, juga bakalan bisa. Tapi ya itu, dietnya jangan yang ekstrem-ekstrem,” balas Arimbi yang berdalih, kedua kotak yang ia bawa itu untuk dibawa Azzura maupun Akala pulang. Buat yang di rumah.


“Sebanyak ini, tadi sayurannya sebanyak apa, Mbak?” Azzura masih penasaran.


Arimbi yang sudah mulai mencuci gerabah membantu sang ibu, langsung tertawa. “Tadi mobil pick up-nya hampir penuh, Mbak. Mas Aidan sampai kelihatan keder mondar-mandir ikut bantuin bawa belanjaan!” ceritanya, dan langsung membuat Azzura ikut tertawa.


“Ini, nanti yang bawa pesanan jadi mas Aidan, apa siapa?” lanjut Arimbi.


“Kami, Mbak. Nanti kami yang antar langsung ke rumah Ibu Darmi,” ucap Azzura.


“Oh, oke ... oke,” balas Arimbi.


“Ini nanti yang di kotak kami bayar, yah, Mbak. Ini saja yang kami bayar sudah sebanyak ini. Nanti Mbak tekor alias rugi, loh!” lanjut Azzura.


“Besok sudah mulai siap-siap. Urusan makanan, sudah disiapkan dari rumah makan. Paling yang buat semacam adatnya, nanti mamah sama yang lain yang siapin. Semacam rewang-rewang kecil dari beberapa saudara sama tetangga, Mbak. Mbak tahu rewang, kan?” balas Azzura.


Kebersamaan Arimbi dengan kedua adik mas Aidan mengalir bagaikan air lantaran keduanya sangat santun sekaligus ramah mirip mas Aidan maupun orang tua mereka. Sangat mudah menjadi bagian mereka karena mereka memang semerakyat itu. Termasuk kepada Akala yang pemalu, pria yang kiranya memiliki berat badan hampir seratus kilo itu juga masih sangat santun kepada Arimbi.


Akala sampai ikut menyapu lantai kemudian mengepelnya. Lain dengan Azzura yang diminta khusus oleh mas Aidan untuk mengecek kesehatan ibu Warisem. Azzura mengecek tensi darah, kadar gula darah, dan juga asam urat ibu Warisem. Sebagai seorang bidan, Azzura sudah terbiasa melakukannya khususnya ketika ia menjadi bagian dari rutinitas posyandu. Namun tanpa sepengetahuan wanita bercadar lilac itu, diam-diam Arimbi sibuk mengawasi. Arimbi teringat kisah Azzura dan Cikho yang Arimbi ketahu dari mas Aidan dan itu sangat menyesakkan.


“Azzura yang malang. Alhamdullilah sekarang kamu sudah bahagia dengan pasangan barumu,” batin Arimbi menjadi murung, meski ketika melihat Akala yang sampai mandi keringat gara-gara membantunya mengepel dari dapur hingga teras depan kontrakan, ia menjadi tersipu.


“Capek, yah, Mas?” tanya Arimbi yang menghampiri Akala kemudian mengambil alih ember berikut pel-pelannya.

__ADS_1


“Lebih capek Mbak. Sebanyak ini diurus hanya sama ibu. Kalau dipikir-pikir, Mbak mirip banget sama mamah. Ya wajah, ya rajinnya,” ucap Akala dan Arimbi makin tersipu.


“Ingat, ya. Dietnya jangan ekstrem-ekstrem.” Arimbi sengaja mengingatkan Akala lagi. Ia tak mau Akala menyiksa diri hanya untuk mendapatkan bentuk tubuh sekaligus bobot ideal. “Dibiasakan saja kayak tadi. Dibagi-bagi. Biar lambung Mas juga enggak jadi korban. Buktinya Mas lihat sendiri, kan? Mbak bisa beresin semua ini karena Mbak sudah terbiasa. Jangan lupa olahraga juga, biar lebih sehat!” lanjutnya.


***


Sekitar setengah jam kemudian, mas Aidan masih ada di rumah makan. Mas Aidan menempelkan ponsel yang ia genggam menggunakan tangan kanan, ke telinga kanannya. Ia tengah menjawab telepon masuk dari Azzura sambil memantau suasana rumah makan di lantai bawah yang terbilang sedang ramai.


“Meski lebih muda dariku, mbak Arimbi oke banget, Mas. Bisa jadi kakak yang baik, saudara, juga teman baik. Orangnya sabar banget, beda sama aku yang kesabarannya lebih tipis dari tisu kering dibagi tiga! Ke ibunya pun dia sabar banget!”


Mendapat laporan dari sang adik, mas Aidan langsung tersipu.


“Langsung nikah saja, Mas, enggak usah lama-lama. Sore lamaran, paginya ijab kabul sekalian resepsi. Kalau sudah bareng kan, ayem alias tenang!” yakin Azzura lagi dan kini terdengar makin bersemangat. “Daripada mbak Arimbi dipepet si Ojan terus, atau malah mantannya yang enggak tahu diri itu! Belum lagi kalau pihak dari istri mantan mbak Arimbi juga rungkad!” Setelah sempat diam, Azzura berkata, “Akala, ... kamu juga oke, kan?”


“Iya, Mbak!” jawab Akala.


Mas Aidan yang menyimak, mengangguk-angguk. “Iya. Mas maunya juga begitu. Makasih banyak, yah, sudah mau terima mbak Arimbi dan kalian juga dukung hubungan kami.” Senyum di wajah mas Aidan menepi hanya karena kedatangan mas Rio. Pria itu menatapnya dengan tatapan khas orang jengkel dan membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Karenanya, ia sengaja mengakhiri sambungan teleponnya dari sang adik.


Melangkah berat karena malas harus berurusan dengan orang yang tidak memberikan sikap santun, mas Aidan tetap berusaha sesopan mungkin. “Selamat sore, Mas Mario. Ada yang bisa saya bantu?”


“Mas Aidan nikung, saya?” tuding mas Mario.


Mas Aidan langsung diam. Sudah paham arah pembicaraan mas Rio yang juga sudah langsung menyikapinya dengan emosional.

__ADS_1


__ADS_2