
Walau Sepri sudah lari secepat mungkin, di pelataran rumah yang terbilang luas, pak Haji Ojan sudah kabur menggunakan motor warisan dari sang kakek yang dulunya juga seorang musafir cinta pemuja janda. Malahan, di pagi yang sudah terang tak lagi dihiasi kegelapan layaknya kulit pak Haji Ojan, pria yang memakai serba pink itu sengaja menekan-nekan klakson motor untuk menge*j*ek Sepri.
Terengah-engah karena larinya, Sepri memilih berhenti. Sepri sadar, andaipun ia tetap lari sekaligus mengejar pak Haji Ojan, hasilnya sia-sia. “Ya Alloh, cabutlah nyawa si Ojan andai dia hidup tapi kerjaannya hanya nyusahin orang. Hamba ikhlas ya Alloh!” doa Sepri yang juga berkeluh kesah. Ia kembali ke sang mamah yang sudah berdiri khawatir di depan pintu.
“Gimana, Mas?” tanya ibu Septi memastikan kepada sang putra, walau heningnya suasana setelah suara klakson berbunyi telolet-telolet dan itu klakson khusus motor pak Haji Ojan sangat ramai membuatnya curiga. Sepri kelepasan pak Haji Ojan.
“Berdoa saja agar dia kecelakaan, terus langsung wafat biar enggak nyusahin hidup orang lagi, Mah. Soalnya kalau kecelakaan tapi cuman c*a*c*at, yang ada kita juga yang susah. Karena kalau bukan kita, yang lain sudah ogah. Mereka cuman mau harta Pak Gede saja! Bentar-bentar dagelan rebutan warisan. Gitu terus!” balas Sepri emosional dan masih terengah-engah.
Mendengar itu, kepala ibu Septi serasa retak. Kedua tangannya berangsur memijat-mijat kepalanya.
Sepri yang sudah kembali sambil menenggak sebotol air minum, berkata, “Jangan minta aku buat sabar dan menganggap ini ujian, Mah karena ujian enggak sampai buat langganan berhari-hari bahkan tiap saat. Bencana alam saja enggak sesering yang kita alami gara-gara si Ojan, kan?” ucapnya yang kemudian minum lagi. “Dilempar ke kolam dumbo saja, dia tetap santai. Itu karena otaknya memang sudah tinggal setengah ons!”
“Memang enggak ada pilihan lain selain doain dia biar cepat koid karena andaipun dibuang, dia tahu jalan pulang!” Sepri benar-benar sewot. Ia menaruh botol air mineral berembun yang ia ambil dari kulkas, di tangan kiri sang mamah.
Sepri langsung menyalami tangan kanan ibu Septi dengan takzim. Sebab mau tidak mau sekaligus suka tidak, ia harus tetap mengamankan Sepri. “Kasihan janda yang dia kejar, Mah. Bilik kamarnya sampai roboh gara-gara ditabrak Ojan. Padahal yang kemarin itu bukan janda dan malah calonnya mas Aidan.”
“Calonnya mas Aidan? Maksudnya, mbak Arimbi?” Tentu ibu Septi kenal karena mereka sudah bertemu beberapa kali, termasuk ketika ibu Septi dengan sengaja membeli pecel jualan Arimbi.
Sepri yang nyaris pergi, menjadi terbengong-bengong menatap sang mamah. “Oh, ... ternyata Mamah kenal?”
“Ya kenal, ... kan calonnya mas Aidan! Yang jualan pecel itu, kan?” balas ibu Septi sabar demi menyeimbangi sang putra yang bicara ya sudah nyerocos dan bertanda, Sepri sudah nyaris kehilangan sisa kesabaran dan itu gara-gara si pak Haji Ojan.
“Nah itu, Mah ... mbak Arimbi kan bukan janda. Memang sempat menikah, tapi sengaja dibatalkan karena suaminya sempat nikah. Kok bisa, si Ojan yakin kalau mbak Arimbi janda. Sinyal janda si Ojan lagi sumeng apa memang flu, kali, ya?” balas Sepri.
Ibu Septi berangsur menghela napas dalam. “Lah ... mbak Arimbi kan cantik ‘kinyis-kinyis’ gitu. Tentu si Ojan langsung ‘bress’ ke dia. Gitu-gitu kan, Ojan tahu wanita cantik! Terakhir saja sebelum mbak Arimbi, sampai ditungguin pas malam pertamanya gara-gara tuh janda idaman Ojan malah nikah sama laki-laki lain! Nah, yang biasa saja sampai ditungguin pas malam pertama. Apa kabar ya g sekelas mbak Arimbi, cantik bersih, kinyis-kinyis gitu?”
__ADS_1
Sepri mendengkus pasrah dan kali ini benar-benar pamit. “Itu bilang ke Mbah Fatimah, buat buang semua aksesori Ojan yang serba pink, biar Ojan enggak ngelayab terus. Dia kan anti pakai yang bukan pink, harusnya tanpa pakaian ganti, dia enggak ngelayab apalagi minggat!”
“Ealah ... kalau begitu ceritanya ya malah lebih parah. Gimana kalau yang ada, Ojan malah enggak mau ganti pakaian karena semua pakaian pink-nya, kita buang?” balas ibu Septi.
“Innalilahi, emang berbakat bikin ulah sih, si Ojan. Ya sudah Mah, semoga kiamat sugra dalam hidup kita gara-gara Ojan , segera berlalu!” lanjut Ojan bergegas masuk ke mobil pick up-nya. Mobil andalan di setiap ia menjemput paksa pak Haji Ojan karena ada mobil pak Haji Ojan yang harus ia boyong, selain orangnya.
“Amin ...,” ucap ibu Septi yang juga meminta sang putra untuk hati-hati, sambil melepas kepergiannya. “E, Mas ... itu kok ada keranda di mobil Mas?!” tegur ibu Septi sengaja berseru lantaran sang putra sudah mengemudikan mobilnya.
“Itu buat jurus terakhir kalau si Ojan susah dibilangin lagi, Mah!” balas Sepri yang juga sengaja berseru.
“Innalilahi ...,” lirih ibu Sepri mendelik tak percaya melihat keranda di mobil bagian belakang yang Sepri kemudikan.
Tak lama setelah mengemudi, Sepri teringat mas Aidan lantaran ia yakin, Ojan pasti akan langsung menghampiri Arimbi.
Di tempat berbeda, mas Aidan yang baru membonceng ibu Arum menggunakan motor matic warna putih, langsung terusik. Mereka masih ada di depan rumah utama. Pak Kalandra dan Azzam saja, masih di sana. Keduanya malah akan menyusul, dengan Azzam yang pak Kalandra minta untuk mengeluarkan motor satunya lagi.
“Mas ada urusan sama mas Sepri?” tanya ibu Arum lembut sambil mendekap tubuh sang putra dari belakang. Ia sampai meletakan dagunya di pundak kanan mas Aidan. Pemandangan yang sudah menjadi kebiasaannya dengan putra-putranya karena sedekat itu memang hubungan mereka.
“Curiganya ini masih berkaitan dengan Ojan,” ucap mas Aidan yang kemudian menjawab telepon dari Sepri.
“Ojan ...? Ojan masih ganggu mbak Arimbi, padahal gara-gara dia juga, rumah mbak Arimbi ambruk?” tanya ibu Arum.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Arimbi sudah berulang kali menghela napas lantaran pak Haji Ojan sudah sibuk menabuh wajannya menggunakan sendok. Saking berisiknya, ia sampai diprotes pedagang lain.
“Protesnya jangan ke saya. Protesnya ke tuh orang!” kesal Arimbi yang sampai membuat orang di sekitarnya merasakan dampaknya, ditambah lagi, kini ia sedang datang bulan dan itu membuatnya sangat sensitif.
__ADS_1
“Hei tukang pecel. Kau masih janda atau memang janda. Tolong buktikan, ayo dibuka saja!” nyanyi pak Haji Ojan tanpa peduli, Arimbi sudah menerima petasan cabai yang mirip korek api, dari pria penjual petasan dan kembang api.
Tanpa sedikit pun terlihat takut, Arimbi menyalakan korek bensol kemudian menyulut satu, dua, bahkan tiga petasan yang kemudian ia lempar ke sebelah kaki pak Haji Ojan.
Ledakan petasan berentet membuat pak Haji Ojan yang latah, berulang kali menjerit sambil loncat-loncat. Rombongan mas Aidan yang baru tiba sampai sibuk menahan tawa. Namun khusus pak Kalandra, pria itu tak bis menahan tawanya melihat calon menantunya, begitu cekatan menyalakan setiap petasan kemudian melemparnya ke pak Haji Ojan.
“Janda oh, janda ... sudah. Ini saya sudah sampai pipis di celana!” mohon pak Haji Ojan sengaja menghindar sambil tetap membawa wajan Arimbi.
Arimbi terus maju melawan pak Haji Ojan. Tak peduli walau pembelinya sampai antre hingga ibu Arum turun tangan mengikutsertakan mas Aidan dan juga Azzam, untuk mengurus. Lain dengan pak Kalandra yang walau masih sibuk tertawa, berusaha keras untuk menangkap pak Haji Ojan.
“Eh, Mas Sepri, ... masa iya itu orang hidup dimasukkin keranda beneran?” heran pak Kalandra.
Setelah sampai diikat kedua tangannya di depan perut, begitu juga dengan kedua kakinya, pak Haji Ojan sampai dimasukkan ke keranda pesek yang dirancang khusus oleh Sepri untuk memenjarakan pak Haji Ojan.
“Biar dia latihan sebelum ketemu ajal, Om Kala! Sudah kewalahan tingkat planet aku ngurus nih orang!” balas Sepri yang kemudian membopong keranda berisi pak Haji Ojannya.
Sekuat itu memang Sepri, walau kaki kanannya merupakan kaki palsu, dan tubuhnya terbilang cungkring jangkung mirip Supri sang ayah.
“Hati-hati, Mas Sepri!” tegur pak Kalandra akan membantu, tapi Sepri terlihat jelas tak membutuhkan bantuan. Sepri tampak sengaja melampiaskan rasa kesalnya. Keranda yang dibopong saja sampai diban*t*ing, kala meletakkannya di mobil belakang.
“Ya Alloh, anaknya ibu Septi, kelakuannya sebelas dua belas sama ibunya!” batin pak Kalandra sembari menahan senyumnya. Ia membiarkan tangan kanannya disalami dengan takzim oleh Sepri yang memang langsung pamit.
“Tolong doakan agar amal ibadah yang di dalam keranda diterima, ya!” seru Sepri sambil melangkah masuk ke dalam mobil. Padahal yang di dalam keranda sudah kaku kesulitan melarikan diri.
Kalandra sekeluarga termasuk Arimbi hanya terbengong-bengong melepas kepergian Sepri.
__ADS_1