
Hari ini menjadi hari pertama Arimbi tidak jualan. Wanita itu merasa ada yang kurang dan memang seolah ada yang hilang. Terbangun sekitar pukul dua pagi hari karena sudah menjadi rutinitas, membuat seorang Arimbi mirip orang hilang. Bangun untuk apa, tidur lagi tidak bisa.
Terpikir oleh Arimbi untuk menunaikan salat tahajud. Ia sampai mengirimi mas Aidan pesan agar pria itu juga menunaikannya.
“Pesan, mana dengar. Apalagi hape Mas Aidan kan kalau ada pesan masuk, hanya getar,” lirih Arimbi sembari menyugar rambutnya yang tergerai ke belakang.
Tanpa pikir panjang, di tengah rasa dingin yang sudah langsung menyapa terlebih ketika akhirnya ia berwudu, Arimbi tetap menunaikan niatnya. Salat tahajud, dan memohon segala kemudahan untuk serangkaian acara pernikahannya dan mas Aidan.
Mas Aidan : Iya, Sayang. Ini baru mau wudu. Bentar, habis hujan begini dingin banget.
Pesan tersebut Arimbi baca setelah ia selesai dengan ibadahnya. Ia sudah langsung tersipu, gemas sendiri pada kelakuan mas Aidan yang sudah mirip orang bucin kepadanya.
Arimbi : Aku sudah beres. Jangan lupa, pukul tujuh teng, kita dipingit.
Mas Aidan : Enggak apa-apa. Kalau kangen, aku bakalan tetap datang.
Arimbi : Ya sudah, enggak usah pingit-pingitan.
Mas Aidan : Merdeka!!!!!
Arimbi : Mas ih ... Mas kok jadi gini. Apa sih namanya? Bucin ....
Mas Aidan : Iya, aku juga menyadarinya.
Tersipu, tersipu, tersipu, dan terus begitu, Arimbi merasakannya bersama pipinya yang makin lama terasa makin hangat. Padahal sebelumnya, Arimbi sempat kedinginan. Namun rasa cintanya yang makin tak terkendali akibat pengakuan cinta dari mas Aidan, membuat tubuhnya seolah diselimuti selimut hangat yang juga sangat lembut.
Arimbi : Mas sudah salat?
__ADS_1
Mas Aidan : Sudah, ... ini baru beres. Oh iya, Sayang. Si Ilham kecelakaan dan rawat inap di kliniknya keluarganya Sepri. Klinik pas ayah Angga rawat inap. Mau jenguk?
Arimbi : Enggak usah, Mas. Cukup doakan saja agar dia cepat sembuh. Biar dia cepat bisa jadi orang yang berguna. Terlebih tanggung jawabnya besar. Di pondok pun, alasannya jadi gus muda, kan karena dia sudah dianggap anak sama Romo Kyai. Ya pokoknya, biar dia secepatnya mengakhiri dunia tipu-tipunya.
Mas Aidan : Iya, bener. Malahan sebenarnya tanpa dia sadari, dia sudah terlalu sering mendapat teguran. Namun yaitu, masih saja belum sadar.
Arimbi : Aku merasa sangat beruntung karena sudah lepas dari dia dan langsung dapat Mas.
Mas Aidan : Aku lebih beruntung karena bisa dapat wanita sebaik kamu yang beneran bisa ngerti keadaanku. Baik untuk urusan pekerjaan, termasuk keluargaku, kamu mau urus mereka, dan mereka langsung nyaman ke kamu. Ini beneran luar biasa. Makanya, dipingit sehari saja rasanya beneran berat.
Arimbi : Aku langsung terharu Mas bilang begitu. Bakalan aku simpen loh WA ini. Dicetak kali, ya? Ih, Mas ... aku jadi pengin surat tulisan tangan dari Mas.
Mas Aidan : Ayo kita buat!
Arimbi : Nanti aku beli amplop khusus.
Mas Aidan : Pas acara mbesan besok, kita tukeran surat?
Arimbi : (Stiker Hati)
Mas Aidan : I love you!
Arimbi : Sepagi ini sudah sarapan i love you
Arimbi : (Emoji hati merah)
Mas Aidan : Sayang, kamu enggak alergi bunga, kan?
__ADS_1
Arimbi : Enggak, Mas. Aman. Aku enggak ada alergi apa pun, selain alergi ke tukang julid sama nyinyir, terus tukang sebar fitnah.
Mas Aidan : Kalau gitu, jaga jarak dari Sepri dan Dek Azzam karena mereka berdua, gudangnya nyinyir sama julid.
Arimbi : Kecuali kedua orang itu, Mas. Mereka vitamin, kalau sudah ketemu, Masya Alloh bikin mood bagus banget
Mas Aidan : Kalau mereka vitamin, aku apa buat kamu, Yang? (Ini wajahku sudah datar karena cemburu berat)
Arimbi : Mas, jodoh dunia akhiratku. Mas yang terbaik di atas hal terbaik yang ada! Pokoknya, ... Mas yang paling spesial. Kalau dekat, pasti aku sudah cubit pipi Mas.
Mas Aidan : Besok, ya. Cubit sampai puas (emoji ciium)
Arimbi yang kembali tersipu, sudah langsung menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan.
Mengenai Ilham dan tanggung jawabnya, apa yang Arimbi khawatirkan memang benar adanya. Karena siangnya, Romo Kyai sampai mendatangi Ilham ke klinik bersama ibunya Aisyah, juga Aisyah yang turut serta. Tentu kenyataan tersebut langsung membuat Ilham dan ibu Siti kocar-kacir. Kedua mata mereka yang awalnya menjadi hanya bisa memelotot, menjadi tidak bisa tenang. Tak ada satu pun dari keduanya yang berani menatap ibunya Aisyah, Aisyah, apalagi kepada Romo Kyai.
“Nak Ilham, Nak Ilham tahu, kan, alasan saya mengangkat Nak Ilham menjadi gus muda karena saya sudah menganggap Nak Ilham seperti anak saya sendiri. Karena itu juga, saya menitipkan Aisyah kepada Nak Ilham sebagai istri,” ucap Romo Kyai. Ia duduk di kursi stainles yang sebelumnya menjadi tempat ibu Siti terjaga untuk Ilham.
Sementara Aisyah dan sang ibu duduk di tikar karakter yang tersedia di sana untuk setiap keluarga pasien yang menginap.
“Dari awal, semuanya memang telanjur dimulai dengan kebohongan dan itu oleh Nak Ilham sendiri. Nak Ilham tidak pernah jujur dengan apa gang sebenarnya terjadi. Mengenai status Nak Ilham, termasuk alasan Nak Ilham bisa kuliah bahkan sampai bisa mondok pun, ... semuanya hanya dipenuhi kebohongan.” Romo Kyai masih berucap sangat sabar.
“Nak Ilham belum lupa, kan, saat pertama saya menitipkan Aisyah kepada Nak Ilham?” lanjut Romo Kyai.
Ilham yang masih terbaring di ranjang rawat, tetap menunduk dalam. Namun walau ia tidak menjawab, di ingatannya kini sudah langsung dihiasi adegan yang Romo Kyai maksud. Adegan saat Romo Kyai menemuinya di masjid setelah ia beres menunaikan salat tahajud. Dalam obrolan panjang lebar mereka yang dipenuhi pujian dari Romo Kyai terhadap perjalanan hidup Ilham walau ternyata itu dusta, Romo Kyai juga mengizinkan Ilham untuk membuka cadar Aisyah, tapi Ilham dengan sangat santun menolak. Saat itu Ilham berdalih, tanpa membuka cadar Aisyah, ia sudah langsung bisa mencintainya.
Termasuk juga mengenai Aisyah yang dikata Romo Kyai memiliki masa lalu, Ilham menjawab tidak akan pernah mempermasalahkannya karena setiap orang memiliki masa lalu karena Ilham sendiri juga memiliki masa lalu. Kenyataan yang saat itu membuat Romo Kyai makin terkagum-kagum kepada Ilham. Ditambah lagi, niat baik Ilham yang akan menikahi Arimbi demi melindungi martabat Arimbi dan Ilham katakan sudah hamil. Alasan Arimbi hamil karena Arimbi bukan wanita baik-baik, korban hubungan tidak benar selain Ilham yang juga mengatakan status Arimbi sebagai ART sekaligus mantan TKW, persis seperti fitnah yang Ilham tudingkan kepada Arimbi di malam yang harusnya menjadi malam pertama mereka.
__ADS_1
Yang membuat Romo Kyai merasa sangat bersyukur bisa mengenal sekaligus menitipkan Aisyah kepada Ilham, tentu selain Ilham langsung menjadikan Aisyah sebagai istri utama, Ilham juga sampai bersumpah tidak akan berpoligami. Karena pada Arimbi, setelah anak Arimbi lahir, Ilham berjanji akan langsung menceraikannya. Ilham berjanji di atas sumpah al'quran miliknya, bahwa sampai mati, Aisyah akan menjadi istri utamanya.
Karenanya kini, Romo Kyai menagih janji itu. Setelah apa yang terjadi dan Romo Kyai tak mau dibohongi lagi. Aisyah yang awalnya sudah jauh dari sempurna, sampai mengalami patah tulang serius hingga wanita itu sampai hanya menjadi tahanan kota. Tentunya, kenyataan Aisyah yang sempat dipenjara tapi dibiarkan begitu saja oleh Ilham sekeluarga, juga Romo Kyai minta pertanggung jawabannya.