Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
96 : Terjebak Berkunjung Ke Rumah Orang Tua Divani


__ADS_3

Tidak ada yang lebih berat melebihi beratnya berurusan dengan mantan pasangan kita yang belum rela diputuskan. Arimbi tengah merasakannya, lantaran acara nyorognya bersama ibu Arum, membuat mereka berakhir di rumah orang tua Didi.


Awalnya, ibu Arum dan Arimbi memang tidak ada niat mampir. Namun, keduanya yang tengah menengok sawah ibu Arum, justru kepergok Divani dan ibu Arnita, mamah Divani. Jadi, acara menengok sawah ibu Arum yang siap panen dan keberadaannya ada di dekat rumah orang tua Didi, juga dilanjutkan dengan agenda nyorog ke Divani sekeluarga menggunakan sisa sorogan yang masih ada di bagasi mobil.


“Lucu. Kayak zamannya aku masih kecil loh, Rum. Namun saat itu isinya nasi, ayam balado, kering tempe sama kecambah ijo, jangan lombok sama tempe, kering kentang yang diiris kotak-kotak, sama ... gorengan kacang tanah yang mirip kacang bawang itu!” ucap ibu Arnita memuji besek bambu wadah sorogannya.


Berbeda dengan sang putri yang tampak tidak rela dan benar-benar manja, ibu Arnita justru sudah bisa bersikap biasa. Ia masih bisa mengobrol dengan lancar sekaligus antusias dengan ibu Arum.


“Ah kamu Di, cengeng mirip Rayyan! Sudah, Mah. Buang ke kandang ayam saja orang kayak Didi. Niat ngeprank, malah keprank! Mamah sih, pas hamil Didi enggak bilang amit-amit ke Rayyan. Jadi ya hasilnya, Didi jadi manja, cengeng, cemen, enggak tahu diri gitu!” ucap Devano, kakak Divani yang memiliki julukan Pak Kompeni. Mulutnya yang selalu menghasilkan kata pedas memang paling tidak bisa berbohong. Bahkan walau Zee sang istri sudah mencubit asal perutnya hingga gosong, Devano tak peduli. Ia masih berusaha membuat sang adik sadar agar lebih dewasa, mikir. “Untung yang jadi mantan kamu si Aidan, kalau yang jadi aku, sudah aku sewain kamu p3mbunuh bayaran, buat jedot*in kepala kamu sampai amnesia!”


“Mas Kompeni, ngapain nyewa p3mbunuh bayaran kalau cuma jedotin sampai amnesia?” lirih Zee menatap tak habis pikir Devano.


“Jedotinnya ke candi Borobudur, jadi tuh p3mbunuh bayarannya bawa Didi jalan-jalan dulu. Terus jalan-jalannya jangan pakai mobil atau transportasi lain, tuh p3mbunuh bayaran suruh gendong Didi, dari sini ke Candi Borobudur kan bisa ada tujuh hari tujuh malam!” balas Devano sengaja menjelaskan kepada sang istri.


Zee sudah sampai menangis gara-gara menanggapi suaminya. “Mas, ... sudah jangan live siraman rohani terus, kasihan Didinya!” ucapnya di sela tawanya.


Gara-gara Devano, Arimbi yang sempat sebal kepada Divani lantaran gadis itu tak segan menangis di pangkuan ibu Arum, menjadi sibuk menahan tawa. Ucapan Devano jauh lebih ajaib dari ucapan Azzam. Sekelas ibu Arum saja sampai menangis karena menertawakannya.


“Gandong Didi tujuh hari tujuh malam, yang ada bukannya ny1ksa Didi, malah p3mbunuh bayarannya yang tersiks4!” batin Arimbi yang langsung terkejut lantaran Devano sampai membandingkannya dengan Didi.

__ADS_1


“Dari tadi adem, enggak bentar-bentar pijat hape buat hubungi Aidan. Nah kamu, ... halah. Enggak kebayang gimana wujud jodoh kamu karena konon kan, jodoh ibarat cerminan diri. Jangan-jangan, jodoh kamu malah anak mamah yang tiap pagi masih ngompol terus giginya diborgol pakai rante kreta api biar rapi enggak main ke rumah tetangga!” ujar Devano yang memang sengaja menyind1r pedas sang adik.


“Kak Vano ih, jahat banget!” protes Divani merengek sebal sambil tetap meringkuk di pangkuan ibu Arum.


“Lah kamu dikasih yang ganteng penyabar kayak Aidan saja, enggak bersyukur!” balas Devano mengomel.


“Terus itu kamu jangan di situ terus. Tuh pangkuan sudah haknya mbak Arimbi!” sambung Devano lagi.


Ibu Arnita sampai menjewer Devano, kemudian meminta Divani untuk duduk di sebelahnya, dengan dalih, kasihan ibu Arum takut sakit.


“Omong-omong, ini kami pamit dulu, ya. Soalnya Mbak Arimbi harus siap-siap jualan.” Setelah ditinggalkan Divani, ibu Arum sengaja berdiri. Namun Efek hampir satu jam lebih memangku Divani, ia jadi kesemutan. Beruntung, Arimbi sigap menuntunnya untuk kembali duduk.


Keluar dari rumah orang tua Divani yang mirip hotel walau keberadaannya ada di pelosok desa Arimbi tinggal, membuat Arimbi merasa sangat lega. Bebas rasanya tanpa harus pura-pura menerima ketika Divani bermanja ria kepada ibu Arum tanpa memikirkan perasaannya. Padahal sedari kebersamaan, Devano yang ceriwis sudah berulang kali menyindir Divani.


Kini, lantaran ibu Arum masih terpincang-pincang, Arimbi sengaja menggendong calon mamah mertuanya itu. Ia memaksa walau ibu Arum terus menolak.


“Serius, Mbak. Mbak kuat.” Ibu Arum mendadak terkagum-kagum.


“Kuat lah Mah, kan sudah biasa gendong ibu!” yakin Arimbi baru saja melewati gerbang rumah orang tua Divani yang tingginya ada sekitar tiga meter. Gerbang yang sangat tidak bersahabat dengan maling karena ujungnya saja sampai dihiasi kawat berduri.

__ADS_1


“Lain kali kamu jangan kayak tadi lagi. Jangan gelendotan manja kayak tadi ke ibu Arum, sementara di sana dan itu di sebelahnya, ada mbak Arimbi. Tolong jaga sikap, jaga hatinya mbak Arimbi, bayangkan kalau kamu yang ada di posisi dia. Gitu-gitu alasannya diam kan demi menjaga perasaan kamu juga!” tegur Devano yang tetap mengantongi kedua tangannya di saku celana panjang sebelah sisi, walau tangan kanannya didekap mesra menggunakan kedua tangan oleh sang istri.


Divani menatap tak berdosa sang kakak.


“Didi, ... kamu harus ikhlas. Kamu harus jadiin kasus kamu dan mas Aidan sebagai pembelajaran. Lagian kok kamu makin ke sini malah makin kayak anak kecil? Ayo, kamu sudah dua puluh enam tahun. Waktunya jadi wanita kuat yang juga menjadi idaman banyak orang. Jika kamu belum bisa melakukannya untuk orang lain, paling tidak kamu melakukan itu ke diri kamu.” Ibu Arnita berusaha memberi sang putri semangat. “Penilaian orang kepada kamu itu beneran tergantung sikap kamu. Sementara setelah apa yang kamu lakukan ke mas Aidan, ini sama saja mencoreng nama baik kamu sendiri!”


Divani mendengkus pasrah. Ia menatap ketiga wajah di hadapannya, silih berganti.


“Jangan kelihatan seperti orang susah begitu lah. Kamu ya, kayak kurang micin saja!” omel Devano makin geregetan.


“Kalian percaya, kalau aku lagi dekat sama Azzam?” ucap Divani, dan langsung mengejutkan ketiga orang di hadapannya.


“Azzam, ... adiknya mas ... Aidan, kan? Yang kembarannya bidan itu, dan pas aku muntaber, berobat ke kliniknya?” tebak Zee penasaran dan sengaja memastikan. Di hadapannya, Divani langsung mengangguk-angguk.


“Ya makanya, aku tetap biasa saja ke Tante Arum karena meski aku enggak jadi sama mas Aidan, Azzam juga masih anaknya Tante Arum, kan?” balas Divani.


Setelah merenung serius, Devano.berangsur menggeleng. “Kok aku ragu, yah, Azzam mau sama kamu?”


Bukan hanya Devano yang ragu karena kedua wanita yang bersamanya pun, iya. Divani dan ibu Arnita meragukan pengakuan Divani, walau keduanya tetap diam.

__ADS_1


__ADS_2