
Ilham menjadi orang paling menyesal atas keadaan Arimbi sekarang yang begitu diperhatikan oleh mas Aidan sekeluarga. Dada pria itu tak hentinya bergemuruh, menciptakan rasa sesak luar biasa yang juga membuat darahnya seolah mendidih. Tubuhnya seolah terpanggang, padahal jelas-jelas, ia masih duduk di tempat duduk mini bus yang ber-AC.
Di depan mobil yang membawa, Arimbi tengah dibenarkan penampilannya oleh sang ibu mertua dan juga ibu-ibu lainnya yang begitu perhatian. Sementara mas Aidan yang turut serta, tampak begitu siaga dan akan melakukan apa pun yang ditugaskan.
Rombongan mas Aidan tengah menjadikan Arimbi sebagai pusat perhatian layaknya apa yang tengah diam-diam Ilham lakukan. Dan jika ditanya bagaimana rupa Arimbi, wanita itu benar-benar cantik. Ilham tidak bisa mengungkapkannya, lebih parah dari mas Aidan yang memang sudah terbiasa bersama Arimbi. Tak kalah membuat Ilham merasa tertampar, tentu bentuk tubuh Arimbi yang benar-benar ramping akibat kebaya beludru warna hitam yang dikenakan. Malahan, tubuh Arimbi terlihat jenjang mirip model andal.
“Ham, ini mamah mabokk, enggak pakai keresek lagi!” keluh pak Hasyim merasa sangat direpotkan oleh sang istri yang masih saja muntah. Ia menatap berat sosok Ilham yang masih duduk persis di hadapannya. Malahan, di dalam mini bus tersebut hanya tinggal mereka bertiga lantaran yang lain termasuk sang sopir, sudah kompak turun. Termasuk Aisyah yang masih dipepet laki-laki berpakaian serba pink dan sampai membawa satu pot janda bolong. Iya, pak Haji Ojan yang selalu memanggil Aisyah, “Janda”.
“Bawa ke toilet coba Pak. Mamah kan bawa minyak kayu putih,” ucap Ilham yang pada akhirnya peduli kepada orang tua khususnya sang mama. Ia sadar, jika bukan dirinya, siapa lagi yang akan peduli? Selain itu, Ilham juga sadra, alasan tersebut terjadi karena memang ia dan orang tuanya yang keterlaluan atau bahasa di tempatnya tinggal “ora patut. Ora umum.”
Di luar dugaan, orang tua Aisyah kembali datang. Termasuk pak Haji Ojan yang diminta bantuan oleh Aisyah setelah akhirnya, Aisyah menerima pot berisi janda bolongnya.
Pak Haji Ojan membantu Ilham dibantu Romo Kyai yang mengarahkan. Namun, bar-bar khas orang kurang waras, benar-benar membuat Ilham takut. Terlebih, setelah dihan*tam tongkat bantu jalannya, kala menuntun pun, pak Haji Ojan melakukannya dengan mencek*ik Ilham.
“I-ini aku enggak bisa napas, ini jangan begini!” lirih Ilham sudah langsung tidak bisa bernapas gara-gara dituntun turun dari mini bus, tapi yang dituntun erat dan itu menggunakan kedua tangan malah leher.
__ADS_1
“Ini dituntun loh namanya, dipegang erat-erat! Yah, Janda, yah!” ucap pak Haji Ojan dengan santainya kepada Aisyah yang sudah tertawa gara-gara ulahnya. Walau tentu saja, tawa Aisyah merupakan tawa yang sengaja ditahan.
Hal pertama yang mereka lakukan adalah bertukar sapa, salaman dengan Arimbi dan keluarga mas Aidan. Malahan bagi mereka yang perempuan sampai ada agenda cipika-cipiki alias ci*um pipi kanan dan kiri, dengan Arimbi dan keluarga mas Aidan.
Arimbi sudah langsung dirangkul ibu Arum, setelah ia dengan senyum hangat menyambut Aisyah, kemudian merangkulnya. Senyum hangat yang tentu saja bagian dari kemenangan seorang Arimbi. Arimbi sungguh membuktikan, walau dirinya sempat dibuang Ilham, dan tak hentinya diser*ang dengan fitnah kejam, pada akhirnya Arimbi mampu membuktikan. Malahan karena fitnah kejam dari Ilham sekeluarga juga, ibaratnya Arimbi jadi naik level. Dari usaha yang makin sukses, juga akan sampai dinikahi mas Aidan dan jauh lebih memperlakukan Arimbi dengan layak.
Mas Aidan refleks menggandeng Arimbi, bermaksud menuntunnya masuk ke dalam hotel tempat mereka akan menjadi raja dan ratu sehari. Namun, dengan segera ibu Arum memisahkan. Karena ibu Arum yang langsung menuntun keduanya. Mas Aidan dan Arimbi sudah langsung tersipu karena itu. Di tengah sorot matahari pagi yang benar-benar hangat sekaligus kaya manfaat, mereka tak hanya bertukar senyuman, tapi juga tawa.
Tak lupa, mas Aidan menggandeng sang nenek yang sedari dulu ibarat mamah tua untuknya. Karena wanita itu juga yang kerap membantu sang mamah dalam mengurusnya. Lihatlah, ulah mas Aidan sudah langsung membuat air mata nenek Kalsum tumpah ruah. Tentu nenek Kalsum memiliki alasan kuat kenapa kenyataan itu terjadi. Karena sejak awal menjadi bagian dari kehidupan seorang Kalandra, nenek Kalsum yang awalnya takut bayi merah pada akhirnya jadi memiliki jiwa keibuan yang juga mahir merawat anak kecil.
“Mbah kira Mas bakalan lupa sama Mbah Uti!” tersedu-sedu nenek Kalsum memeluk mas Aidan walau mereka terus berjalan.
Bagi kalian yang sudah membaca novel Pembalasan Seorang Istri yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga, kalian pasti tahu, kenapa hubungan mas Aidan dan keluarganya begitu dalam. Karena menjadi korban perceraian orang tua memang tidak pernah mas Aidan inginkan. Namun mas Aidan telah memetik hikmah dari semua itu. Ia bahkan berhasil berdamai dengan kenyataan, bahwa walau orang tuanya tak lagi utuh dalam ikatan rumah tangga, ada yang lebih diutamakan dari keutuhan itu sendiri dan itu kebahagiaan sekaligus kedamaian satu sama lain.
Terlebih semenjak menjadi pengacara mengikuti jejak papah sambungnya, mas Aidan benar-benar paham. Ada yang lebih utama daripada bersama tapi terus menanam luka. Karena pada kenyataannya, kebahagiaan apalagi kedamaian, tak mungkin hadir di dalam sebuah hubungan yang telanjur ru*sak. Yang rusa*k itu sungguh harus diperbaiki, dan kalau bisa harus dipisahkan agar tidak saling menyakiti.
__ADS_1
“Mas juga enggak lupa sama Kakung, kan?” tanya kakek Sana sengaja menyebutkan nama kesayangan mas Aidan sejak kecil kepadanya.
Mas Aidan yang langsung menatap kakek sambungnya, segera menggeleng. Ia memang tersenyum, tapi air mata haru karena ia merasa terlalu bahagia, tak kuasa ia bendung.
“Meski mas Aidan korban perceraian, mas Aidan tumbuh di lingkungan yang baik. Dia bersama dengan orang-orang yang tepat, hingga membuat mas Aidan tumbuh menjadi orang hebat,” batin Arimbi.
“Saya terima nikah dan kawinnya ....”
Angin berembus lirih membuat setiap yang menjadi bagian ijab kabul merasa sangat rileks. Semua mata, telinga, dan benar-benar fokus perhatian, sudah langsung tertuju kepada mas Aidan. Termasuk juga Arimbi yang ada di sebelahnya. Calon ratu dan raja sehari mereka, tampak begitu hanyut. Arimbi bahkan beberapa kali menitikkan air mata dan membuat kakak iparnya rutin mengangsurkan kotak tisu.
Kata Sah! menjadi akhir dari ijab kabul yang mas Aidan lafalkan. Lafal ijab kabul yang membuat tetangga Arimbi termasuk Ilham sekeluarga, geleng-geleng akibat emas kawin yang mas Aidan berikan kepada Arimbi. Selain ada tiga set perhiasan, seperangkat alat salat, juga masih ada tanah bahkan rumah.
Melongo, itulah yang kompak terjadi yang mana tetangga Arimbi sudah langsung menjadikan Ilham sekeluarga fokus perhatian.
“Wah ... harusnya sih mas Aidan enggak kaya banget. Kaya orang kampung kan masih wajar ya. Namun ya itu, balik ke niat. Kalau niatnya kasih ya kasih. Soalnya masalah tanah dan sawah, orang tua mas Ilham juga punya banyak,” batin Aisyah lagi-lagi terusik oleh panggilan lembut nan menggoda dari pak Haji Ojan yang memanggilnya, “Janda!”
__ADS_1
“Ham, istrimu semangatku, Ham!” seru pak Haji Ojan tak lama setelah doa setelah ijab kabul selesai digelar, juga usai. Mas Aidan yang baru membingkai wajah Arimbi menggunakan kedua tangannya dengan sangat lembut, dan niatnya akan mengabsen wajah istrinya dengan kecu*pan, menjadi urung karena yang ada, ia sibuk tertawa layaknya penghuni di ruang ijab kabul.
Demi mendapat view indah, dan juga suasana yang sejuk tapi bukan karena efek AC, mas Aidan memang sengaja menggelar ijab kabul di luar gedung, di taman yang dirancang sedemikian rupa hingga benar-benar indah.