Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
153 : Bayi Akhir Zaman


__ADS_3

Yang sudah langsung mencuri perhatian mas Aidan, tentu pak Haji Ojan. Dari tampang, warna pakaian yang pak Haji Ojan pilih membuat pria itu terlihat layaknya laki-laki dewasa pada kebanyakan. Namun terlepas dari itu, pak Haji Ojan tampak linglung khas orang yang sedang patah hati.


“Jujur, ya ... aku mencium sinyal janda di kontrakan. Tapi yang ada di situ perawat Suci!” ucap pak Haji Ojan. “Perawat yang namanya Suci. Yang punya anak perempuan namanya Binar itu loh! Bukan perawat tapi suci kayak wanita suci! Ah bahas wanita Suci jadi ingat Aish. Duh, hatiku langsung kena corona gara-gara wujud aslinya!”


Pak Haji Ojan yang awalnya menggebu-gebu mendadak melow hanya karena membahas Aisyah dan segala kisahnya. Ia meletakan wajah berikut separuh tubuhnya di pinggir meja. Tak peduli meski ulahnya itu membuat Azzam cekikikan. Azzam begitu bahagia menertawakannya.


“Dasar bayi akhir zaman!” cibir Azzam yang kemudian berkata, “Kalau Ojan ibarat pengejar janda yang bikin hidup janda makin susah, nah beda sama Sepri. Sepri ini satria pembela sekaligus pejuang janda!” Azzam mengakhiri ucapannya dengan tawa lepas. Tak peduli walau Sepri sudah langsung meni*kam kepalanya sekuat tenaga. Yang penting Azzam merasa bahagia.


“Mas Sepri, sama yang kemarin, ... itu? Beneran, sama yang itu?” tanya mas Aidan. Tentu yang mas Aidan maksud itu Suci.


“Katanya mau sama Lena?” lirih Arimbi sambil menatap sang suami yang juga langsung balas menatapnya.


“Wah, kandidatnya banyak banget kamu Pri! Laris manis tanjung kimpul kamu, ya!” ucap Azzam lagi-lagi tertawa lepas sekaligus puas.


Sepri langsung kebingungan. Lain dengan pak Haju Ojan yang bersemangat minta diberi satu.


“Kasih satu buat aku, Pri! Sudah tak terhitung aku mengalami patah hati. Biarlah aku keluar dari belenggu ini!” mohon pak Haji Ojan mendadak puitis.


Arimbi yang menjadi saksi di sana refleks mendekap pinggang mas Aidan kemudian membenamkan wajahnya di punggung sang suami. Ia membiarkan tawanya pecah di sana.


“Mbak Mbi, asli aku khawatir ke janin kamu. Cari aman, mending Mbak masuk rumah deh! Takut nanti pas keluar tingkah apalagi wujudnya malah mirip!” ucap Azzam yang sampai detik ini belum bisa menyudahi tawanya.


“Ini gosip apa sih enggak jelas banget. Aku enggak sama siapa-siapa kok digosipin gini?!” ujar Sepri antara bingung sekaligus canggung.


Apa yang Sepri katakan barusan sudah langsung membuat kebersamaan menjadi serius. Walau sampai detik ini, Azzam belum bisa menyudahi tawanya. Bahkan walau Sundari sudah menggenggam tangan kiri Azzam, Azzam tetap cekikikan.


“Mas Ojan beneran mau nikah?” tanya mas Aidan sopan.

__ADS_1


“Iya, tapi enggak ada yang mau!” yakin pak Haji Ojan merasa hidupnya terlalu dramatis. Nasib percintaannya selalu apek.


“Ya ampun jujurnya!” lirih Azzam masih saja cekikikan.


Setelah menghela napas pelan, mas Aidan yang masih menatap pak Haji Ojan berkata, “Sabar yah, Mas. Nanti kalau sudah waktunya, pasti!”


“Sudah enggak kurang-kurang sabarnya. Panta*t aku sampai lebar ke mana-mana. Tetangga sampai heran kok panta*tku sampai ke rumah mereka!” balas pak Haji Ojan.


“Ya cari jodoh dong, Jan!” ucap Azzam yang kemudian mengoreksi ucapannya. “Tapi bener seperti saran mas Aidan sih. Sabar, jangan terburu-buru. Jangan tertipu rayuan manis dari orang enggak bertanggung jawab juga. Banyak kan, modal hubungan online, minta transfer uang, ngajak ketemuan, terus harta bahkan nyawa melayang!”


“Itu wajib diawasi ya, Pri. Sejauh ini kan kamu paling dekat dengan Ojan. Kita sama-sama urus, sama-sama bantu. Jangan kasih Ojan ponsel, takutnya seperti kasus penipuan yang marak. Pacaran online, nanti uang sama orangnya melayang. Kadang malah kalau kayak gitu oknum itu pakai foto orang lain karena niatnya memang buat menipu,” ucap mas Aidan.


“Malahan ada wari*a yang akhirnya bunuh teman kencannya, loh Mas. Kasusnya ya pacaran online, modal kirim chat mesra sama foto. Kalau wari*a kan cantik, ya. Fotonya hanya wajah, badan enggak,” ucap Arimbi.


“Yang korbannya dibuang ke sumur, yah, Mbak?” tebak Sundari sambil menatap penasaran Arimbi.


Sundari mengangguk-angguk. “Kebetulan wari*anya kan punya salon lumayan gede, Mbak. Dan dia pesan produk kecantikannya ke aku!” jelas Sundari lembut.


“Kebetulan banget, Yang?” ucap Azzam sambil menatap wajah kekasihnya.


Sundari tersenyum masam sambil mengangguk-angguk. “Hebatnya, setelah membunuh, dia bersikap seolah semuanya baik-baik saja.”


“Mas Ojan ngerti, kan?” tanya mas Aidan yang mengalihkan perhatiannya kembali kepada pak Haji Ojan.


“Aku memang enggak pegang hp soalnya yang Sepri kasih ke aku itu lator-lator. Makanya pas aku tekan nomor janda idamanku, yang keluar cuma nomor!” ucap pak Haji Ojan.


Mendengar itu, Sepri langsung sibuk menahan tawa dan sampai menangis.

__ADS_1


“Lator-lator itu kalkulator apa lato-lato yang sempat viral itu, sih?” tanya Azzam. Saking gelinya, ia yang terlalu banyak tertawa sengaja pamit ke kamar mandi lantaran kebelet pipis.


“Ternyata lator-lator enggak bisa buat telepon. Buat kirim parcel pun enggak bisa!” cerita pak Haji Ojan.


Tidak ada yang tidak tertawa karena semuanya sudah sampai menangis.


“Kamu bohongin dia, yah, Pri?” tanya mas Aidan, dan yang ditanya makin sibuk tertawa.


“Daripada dia telepon apalagi kirim parcel pesan sembarangan, lah Mas! Eh, kok aku ikut-ikutan bilang kirim parcel!” ucap Sepri masih kesulitan menyudahi tawanya. “Aku kan sempat beliin dia hape. Yang bagus karena harganya juga lebih dari punyaku. Aku beliin dua kali, eh dikasih terus ke janda idamannya. Aku enggak mungkin minta balik hape itu kan. Ya sudah pas Ojan minta dibeliin hape lagi, aku kasih kalkulator biasa aku pakai buat hitung-hitung di warung!”


“Bahaya sih kalau kayak gitu. Enggak habis pikir juga ke mereka yang masih tega padahal mereka tahu keadaannya mas Ojan. Semoga Alloh kasih jodoh terbaik buat Mas Ojan. Sabar saja yah Mas Ojan. Sebagai orang yang tahu pun, kita wajib mengawasi sekaligus memberikan arahan. Memang melelahkan, tapi demi kebaikan bersama, enggak ada salahnya kita saling bekerja sama,” ucap Arimbi.


“Aku sudah samperin orangnya dan minta hape Mas Ojan, tapi enggak digubris. Mereka enggak mau balikin!” sebal Sundari.


“Enggak apa-apa, Ri. Yang begitu enggak akan berkah kok buat mereka,” yakin mas Aidan dan Sundari berangsur mengangguk-angguk paham.


“Jadi ini kesimpulannya, alasan mas Ojan linglung enggak semangat hidup, karena yang bersangkutan sedang patah hati ke Aish, padahal Mas Ojan sudah ngebet banget pengin nikah?” ucap mas Aidan menarik kesimpulan. Ia menatap iba pak Haji Ojan yang sampai ia tepuk-tepuk pelan punggungnya.


“Aku pengin hamil, asli biar aku kayak Mbak Mbi!” ucap pak Haji Ojan kepada mas Aidan.


“Yang hamil itu harusnya istri Mas, bukan Mas!” yakin mas Aidan masih sabar. Kemudian, ia memuji gaya berpakaian terbaru pak Haji Ojan.


“Lihat, sandal kelincinya lucu, kan? Warna pink, bunyi cit-cit juga!” ujar pak Haji Ojan sengaja memamerkan sandal yang dimaksud. Ia memberikan sandalnya kepada mas Aidan.


Mas Aidan hanya mesem karena memang tak bisa berkomentar lagi. Di waktu yang sama, Aisyah datang bersama Ilham. Keduanya menggunakan motor dan sudah tidak memakai tongkat bantu jalan.


Berbeda dari biasanya, kali ini pak Haji Ojan buru-buru bersembunyi. Pak Haji Ojan lari, masuk ke dapur warung.

__ADS_1


“Loh, sandalnya kok mirip punya Ojin?” pikir Ilham sampai menyusul pak Haji Ojan masuk ke dalam dapur. “Si Ojan berani gangguin Ojin apa gimana? Berminggu-minggu enggak bertemu malah gini!” batin Ilham kesal andai Ojan terbukti mengganggu Ojin. Apalagi alasannya mengunjungi warung pecel Arimbi karena ia sengaja mencari Ojin. Tentu tanpa sepengetahuan Aisyah.


__ADS_2