Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
44 : Melarikan Diri


__ADS_3

Tengah malam, Ilham dan Aisyah pamit kepada orang tua Ilham. Keduanya benar-benar akan langsung ke Jawa Timur, ke pondok pesantren keduanya sempat bernaung.


Orang tua Ilham yang awalnya sudah tidur dan sampai dibangunkan paksa, langsung menolak keras. Namun baik Aisyah maupun Ilham kompak meyakinkan. Walau tentu saja, Aisyah yang paling dominan.


“Pondok pesantren butuh orang berbakat sekelas Mas Ilham, Mah, Pah. Daripada di sini Mas Ilham enggak punya pekerjaan tetap. Kalau di pesantren, Mas Iham bisa naik jabatan dan aku pun bisa mulai buka warung. Malahan di sana, kami sudah dijatah rumah. Memang kecil, tapi lumayan buat jualan. Nanti, kalau sudah memungkinkan, niatnya kami juga ingin ajak Papah dan Mamah!” yakin Aisyah benar-benar manis.


Hati orang tua mana yang tak luluh mendengar janji manis seorang Aisyah bahkan itu sekelas ibu Siti dan awalnya sudah telanjur benci Aisyah.


“Namun enggak harus tengah malam begini, kan?” tanya ibu Siti yang kemudian menoleh ke sebelah. Di dinding berupa triplek bercat putih tersebut, waktu sudah menunjukkan tepat pukul sebelas malam.


Aisyah dan Ilham kompak menoleh ke jam dinding juga.


“Jam segini loh,” lanjut ibu Siti.


“Enggak apa-apa, Mah. Biar sampai sana juga ada waktu buat istirahat!” yakin Aisyah lagi.


Lantaran ibu Siti berangsur menatap sang putra dan tampak jelas memastikan, Ilham yang juga telanjur termakan iming-iming sang istri berangsur mengangguk.


Sekitar dua puluh menit kemudian, akhirnya Aisyah mampu memboyong sang suami. Ransel besar ditaruh di motor matic bagian sebelah kaki Ilham. Kedua sejoli itu tak hanya memakai helm, tapi juga jaket kulit dan juga sarung tangan, khas perlindungan lengkap berkendara sepeda roda dua pada umumnya.

__ADS_1


“Terobos-terobos saja, Mas biar lebih cepat! Lewat gang sini biasanya lebih cepat, kan?” cerewet Aisyah. Padahal, niatnya mengajak sang suami lewat gang, agar mereka, baik itu polisi maupun Arimbi dan mas Aidan, tidak berpapasan dengan mereka. Apalagi Aisyah sadar, baik polisi maupun mas Aidan dan Arimbi sama-sama memakai mobil.


Seperti yang Aisyah yakini, kedua rombongan yang ia hindari benar-benar lewat jalan utama. Aisyah yang kerap melongok ke belakang untuk memastikan, memergoki mobil polisi dan mobil lain yang ia yakini mobil mas Aidan. Karena seperti yang ia ketahui dari berita viral, mas Aidan membawa Arimbi ke kabupaten untuk mengurus kasusnya, menggunakan mobil pribadi.


Gang yang Ilham lalui merupakan gang yang sudah dicor dan lebarnya tak lebih dari setengah satu meter. Di sepanjang kanan kiri jalan juga tidak begitu banyak rumah. Andai pun ada, tentu suasana di sana sangat sunyi karena kini sudah larut malam. Ditambah lagi, suasana di sana juga minim penerangan, khas suasana kampung yang jika sudah larut malam banyak yang akan mematikan lampu rumah bagian terasnya.


Sementara itu, di rumah orang tua Ilham, sepasang paruh baya itu jadi tidak bisa tidur dan tengah menenangkan pikiran di dapur. Ibu Siti sengaja membuatkan teh manis untuk sang suami di tengah suasana hatinya yang menjadi gundah gulana.


“Kok rasanya jadi enggak jelas gini, yah, Pak? Kayak semacam firasat, tapi firasatnya enggak enak. Ibu takut, mereka kenapa-kenapa. Jam segini, mendadak banget juga. Walau mereka memang diminta khusus Romo Kyai agar secepatnya ke sana, tetap saja, ....” Ibu Siti tak kuasa melanjutkan ucapannya. Karena walau semanis apa pun janji Aisyah bahkan Ilham, ia yang terlanjur dikecewakan dari awal tetap merasa trauma sekaligus kapok.


“Doa terbaik saja, Bu! Semoga, mereka aman sampai tujuan!” balas sang suami sembari menatap yakin ibu Siti.


Sekitar sepuluh menit kemudian, ibu Siti dan sang suami yang baru akan ke kamar, mendengar suara mobil mendekat bahkan memasuki pelataran depan rumah mereka. Tak hanya satu mobil, tapi ada dua. Membuat keduanya refleks saling longok seiring lirikan mereka yang bertemu. Keduanya kompak mengendap, mendekat ke pintu kemudian melongok dari jendela sebelahnya. Ibu Siti dan sang suami langsung nyaris jantungan ketika mereka memergoki mobil polisi yang ada di depan sana.


“Pak! Polisi!” bisik ibu Siti.


Singkat cerita karena yang di luar terus mengetuk pintu, orang tua Ilham yang awalnya kebingungan sekaligus menahan takut, akhirnya membuka pintu.


“Mbi, ada kamu juga? Sebenarnya, ini ada apa?” Gemetaran ibu Siti menunggu balasan Arimbi yang juga masih ditemani mas Aidan.

__ADS_1


Beberapa rumah tetangga yang awalnya sudah gelap sekaligus sangat sepi, perlahan lampu rumah termasuk yang di teras, menjadi terang. Mereka yang awalnya melongok berangsur keluar ketika memergoki ada dua mobil dan satu di antaranya merupakan mobil polisi. Apalagi ketika mereka juga memergoki polisinya tengah berdiri di depan pintu rumah orang tua Ilham, yang mana mereka juga tampak tengah mengobrol.


Mendengar penjelasan polisi dan itu mengenai kejahatan Aisyah yang mengutus anak punk untuk mencelakai Arimbi, ibu Siti langsung tergolek lemas. Andai sang suami tak sigap menopang punggungnya, pasti tubuhnya sudah terkapar di keramik putih kusam yang ada di sana.


Tetangga yang awalnya melihat dari teras rumah, perlahan mendekat. Apalagi ibu Siti yang nyaris pingsan malah menangis meraung-raung mirip menangisi kematian.


“Mas, mereka sudah melarikan diri!” lirih Arimbi benar-benar khawatir. Ia menatap mas Aidan yang masih ada di sebelahnya, penuh kekhawatiran, terlepas dari ia yang memang langsung panik.


Mas Aidan segera mengeluarkan ponselnya. “Tolong bagi nomor ponsel mereka. Biar aku bisa melacak lokasi mereka,” pintanya.


Arimbi yang sebenarnya sudah merasa sangat lelah, berangsur mengangguk sanggup. Segera ia mengeluarkan ponsel canggihnya dari tas selempang miliknya.


Sementara itu, di tempat berbeda, Ilham sudah ada di jalan aspal yang terbilang sepi. Suasana jauh lebih maju layaknya kota, mulai pria itu arungi. Kendati demikian, kelegaan tetap belum Aisyah rasakan. Aisyah yang membonceng dan sampai mendekap erat punggung sang suami, masih harap-harap cemas sekaligus gelisah.


“Setelah aku berada di pondok pesantren, mereka pasti bisa melindungiku seperti biasa!” batin Aisyah sangat berharap.


“Ternyata, pergi-pergi jam segini jauh lebih lancar. Suasananya sepi minim pengemudi,” batin Ilham. Di hadapannya hanya ad sebuah mobil sport besar yang malah mendadak banting setir memotong jalan mereka.


Ilham yang awalnya ngebut, refleks mengerem mendadak demi menghindari tabrakan tak diinginkan. Hanya saja, ulah tersebut membuat Aisyah yang sedari awal sibuk dengan pemikiran sekaligus ketakutannya sendiri, terkejut bukan main. Aisyah yang awalnya baru akan membenarkan dekapannya menjadi lebih erat, malah berakhir terpental menghantam mobil di hadapan mereka, sebelum akhirnya berakhir di aspal.

__ADS_1


__ADS_2