
“Dulu, mbak Azzura sampai nangis gara-gara dipepet terus saja Ojan. Sekarang-sekarang saja si Ojan enggak berani karen dia takut dama mas Excel!” cerita ibu Arum yang menemani Arimbi hingga calon menantunya itu beres jualan.
Karena hari ini mas Aidan hanya mengurus rumah makan, ibu Arum dan mas Aidan sengaja menemani Arimbi hingga beres jualan. Ketiganya sama-sama pulang, meski fakta bahwa Azzura pernah dipepet pak Haji Ojan, membuat Arimbi bertanya-tanya. Bukankah pak Haji Ojan, pemuja janda atau itu wanita yang sempat menikah dengan segala kisahnya? Kenapa pak Haji Ojan sampai mengejar Azzura juga?
***
“Oh itu ... bentar,” ucap mas Aidan ketika Arimbi menanyakan kisah pak Haji Ojan saat menggangu Azzura.
Sekitar pukul sebelasnya, mas Aidan mengajak Arimbi mengunjungi salah satu rumah makan milik keluarganya. Kedua rumah makan milik keluarga mas Aidan memang dikelola khusus oleh mas Aidan, walau orang tua termasuk Azzura, kadang masih membantu khususnya jika rumah makan mereka disewa untuk acara besar.
Mas Aidan langsung mengawasi sekitar, kemudian mengajak Arimbi masuk ke salah satu ruang VIP yang ada di lantai atas. Arimbi langsung deg-degan lantaran di sana hanya ada mereka berdua ditambah lagi, mas Aidan sampai menutup pintunya. Seolah apa yang akan mas Aidan katakan, memang sangat rahasia.
“Mas, aku salah apa gimana?” tanya Arimbi lirih mirip berbisik-bisik, walau kini mereka hanya berdua.
Mas Aidan berangsur menggeleng kemudian menuntun Arimbi untuk duduk. Ia juga langsung duduk di kursi yang sengaja ia dekatkan dengan kursi keberadaan Arimbi.
“Aku jadi deg-degan loh, Mas. Bukan hanya karena kita sampai berdua begini,” ucap Arimbi masih lirih sambil mengawasi sekitar termasuk juga dirinya dan mas Aidan. “Namun juga, sepertinya apa yang akan Mas bahas memang rahasia dan itu, ... menyangkut mbak Azzura?”
Mas Aidan mengangguk-angguk di antara ketenangan yang masih menyelimuti. “Mbi, ... hubunganku dengan keluargaku, sangat baik. Kami enggak hanya seperti kakak adik karena saking dekatnya kadang kami mirip pasangan. Namun, hubungan kami masih wajar. Paling pelukan, semacam ci*u*m pipi apa kening kan masih wujud dari rasa sayang.”
__ADS_1
Arimbi yang menyimak, makin deg-degan. Kedua tangannya refleks mer*em*mas gamis bagian lututnya.
“Setelah ini pun, setelah kamu tahu apalagi setelah nanti kita menikah, aku harap, kamu bisa dekat dengan adik-adikku seperti teman sendiri.” Mas Aidan masih bertutur lembut penuh pengertian. Di hadapannya, Arimbi mengangguk-angguk antara paham sekaligus menurut.
“Jadi, ... sebelum menikah dengan mas Excel, mbak Azzura pernah menikah. Kasusnya hampir mirip dengan kasus kamu. Bedanya, ternyata si suami istrinya sudah hamil dan mereka tinggal bersama. Mereka tinggal bersama di ... rumah yang harusnya jadi rumah mbak Azzura dan si pria yang sempat menikahinya.” Berkaca-kaca mas Aidan menceritakannya sembari menahan rasa sesak yang mengiringi gemuruh di dada. “Pria itu namanya Cikho. Dia orang Jakarta, sudah seperti keluarga. Anak dari pengusaha terpandang ... kaya raya. Dia dan mbak Azzura saling mencintai, tapi karena ... karena kesalahan satu malam dia dengan sekretarisnya, sekretarisnya hamil dan Cikho diam-diam menikahinya tanpa sepengetahuan pihak keluarga, mengajak tinggal si Sekretarisnya ini, di rumah yang awalnya akan menjadi rumah Cikho dan mbak Azzura. Di malam yang harusnya menjadi malam pertama mereka, ... Mbak Azzura akhirnya mengetahuinya. Mbak Azzura lihat Rere. Rere ini sekretarisnya si Cikho, mereka bersahabat baik makanya mbak Azzura pun sudah menganggap Rere seperti kakaknya sendiri. Terus, Rere ini juga ... adiknya ... mas Excel.”
Mas Aidan menghela napas dalam kemudian menggunakan kedua jemarinya untuk menyeka air mata Arimbi walau ia sendiri juga sudah berlinang air mata. “Kamu jangan nangis dong.”
“Nyesek banget Mas ....” Arimbi sampai terisak pilu. Dadanya terasa sesak, hingga ia harus menghela napas dalam beberapa kali, demi meredamnya.
Mas Aidan berangsur meraih kedua tangan Arimbi, menggenggamnya dan menyimpannya di atas lutut mereka yang nyaris menempel. “Aku sengaja cerita begini, biar kamu tahu. Karena sewaktu-waktu, kita pasti bertemu karena hubungan kami sebaik itu. Walau semenjak itu, Cikho dan mbak Azzura nyaris enggak pernah ada di tempat yang sana lagi. Mereka kompak menjaga jarak apalagi sampai sekarang, Cikho masih berat melepas mbak Azzura.”
“Jadi, alasan kami sangat menyayangi mbak Azzura dan kami makin memanjakannya sejak itu juga, ya karena ... karena tadi. Karena walau mbak Azzura sama sekali enggak mengeluh, ... kami tahu apa yang dia alami sangat tidak mudah apalagi dia sama Cikho sudah dari mbak Azzura mau SMA sampai usia mbak Azzura dua puluh sembilan kemarin,” lanjut mas Aidan dan lagi-lagi, Arimbi yang masih menunduk, mengangguk-angguk. “Kalian satu tipe, ya ...,” lanjutnya ketika Arimbi menatapnya.
Arimbi buru-buru menggeleng. “Aku enggak sekuat itu, Mas! Malahan setelah tahu kisah mbak Azzura, aku jadi was-was. Apalagi kalau kita sudah menikah. Aku bakalan ikutin ke mana pun Mas dinas!”
Mas Aidan mengangguk-angguk santai. “Besok pasti aku ajak terus ke manapun aku dinas!” yakinnya dan langsung membuat yang dimaksud tersipu.
“Tapi nyeseknya tetap ketinggalan di dada, Mas. Sampai ke tulang punggung juga,” balas Arimbi.
__ADS_1
Mas Aidan mengangguk paham. Kemudian ia menggunakan tangan kanannya untuk mengelus-elus punggung Arimbi.
“Mas ...,” lirih Arimbi sembari menatap sungkan kedua mata mas Aidan.
Mas Aidan langsung bergumam sembari menatap Arimbi lebih fokus. Walau kemudian, ia juga menggunakan tangan kanannya untuk meraih tisu dari kotak meja sebelah mereka, kemudian menggunakannya untuk menghapus sir mata Arimbi.
“Kayaknya kalau kita sampai kenapa-kenapa, aku bakalan enggak bisa, soalnya ... Mas baik banget!” ucap Arimbi.
Mas Aidan tak langsung mengomentari dan perlahan mengernyit. “Kita akan baik-baik saja. Lima hari lagi kan urus empat bulan kehamilan mbak Azzura, ... setelah itu, pasti!” yakinnya.
“Asli jadi nyesek gini!” ucap Arimbi menjadi galau gara-gara kisah mbak Azzura dan Cikho.
“Hubungan mbak Azzura dan Excel manis banget kok. Walau mas Excel sekaku itu ... ibaratnya, kanebo kering ketemu air. Mas Excel beneran susah cuek apalagi kalau mbak Azzura dilirik laki-laki lain. Ke sekelas Ojan sana, mas Excel sudah mirip cacing kepanasan!” yakin mas Aidan yang menjadi mengurai senyumnya. Ia mengelap air matanya menggunakan tisu yang ia pakai untuk mengelap air mata Arimbi.
“Kalau mas Excel ke mbak Azzura kan begitu. Kalau Mas ke aku, ... bagaimana?” tanya Arimbi yang belum apa-apa sudah sangat tegang.
“Hah ...?” Mas Aidan terdiam sejenak. “Memangnya apa yang aku lakukan, kurang jelas?” Ia menahan senyumnya dan menatap Arimbi penuh kepastian. Namun setelah menahan senyum juga, Arimbi menggunakan kedua tangannya untuk menutupi wajah walau wanita itu juga berangsur menunduk.
“Coba lihat ukuran jari kamu, Mbak. Ukurannya berapa biar belinya pas,” ucap mas Aidan hang kemudian meraih kedua pergelangan tangan Arimbi.
__ADS_1
“Hah ...? Sudah mau dipesenin atau dibelikan cincin? Berarti kami memang sebentar lagi?” batin Arimbi benar-benar tegang. Ia tak hentinya deg-degan selain telapak tangannya yang sampai berkeringat.