
“Jangan duduk menyamping, Mbak. Duduk biasa saja soalnya ke kabupaten kan jauh,” yakin mas Aidan segera bersiap dan kemudian baru ingat bahwa yang membonceng memakai gamis. “Aman, kan?” lanjutnya sengaja memastikan.
Arimbi langsung mengangguk-angguk setelah ia juga sampai menunjukkan dirinya memakai celana panjang untuk dal4mannya. Hanya saja untuk urusan membonceng ....
“Ya ampun masih bingung ...?” Mas Aidan menertawakan Arimbi. “Drama lagi?”
Arimbi hanya mampu tersipu kemudian dengan hati-hati duduk di boncengan. Tentunya, ia juga sampai berpegangan pada jaket kulit bagian pinggang yang mas Aidan pakai.
“Siap-siap ketemu wanita suci!” ucap mas Aidan masih sangat bersemangat.
Arimbi hanya tersipu sambil menunduk.
Perjalanan yang menyenangkan dan menjadi pengalaman baru bagi Arimbi maupun mas Aidan. Memiliki pasangan yang bisa mengimbangi keadaannya, tentu menjadi kebahagiaan tersendiri untuk mas Aidan yang menjadi sangat bersemangat. Baru Arimbi sadari, perjalanan dari tempat mereka ke kabupaten sangat jauh sekaligus melelahkan. Ini menjadi perjalanan jauh pertama mereka menggunakan motor.
“Tiap hari begini, mas Aidan pasti capek banget. Ini terbilang perjalanan lancar, andai sampai terjebak macet atau malah kecelakaan. Ya Alloh, pekerjaannya mas Aidan beneran penuh resiko. Ya di jalannya, ya melawan lawan klien. Pasti ada saja yang rese. Enggak semacam fisik, bisa jadi semacam ilmu halus. Untung agama mas Aidan kuat, selain mas Aidan yang juga masih rutin puasa Senin Kamis dari sekarang,” batin Arimbi.
Sampai di kantor kepolisian, Arimbi sampai tidak bisa turun. “Bengkek banget, Mas. Padahal Mas hampir tiap hari gini, bolak-balik.”
“Pelan-pelan, Mbak. Pelan-pelan.” Sebenarnya mas Aidan tidak tega kepada Arimbi, dan hendak memijat kaki Arimbi yang sudah langsung diluruskan, tapi Arimbi yang duduk di trotoar tempat parkir depan kantor kepolisian langsung menolak.
“Enggak apa-apa, Mas. Mas pasti juga capek, kan?” ucap Arimbi masih meluruskan kaki.
“Baru perjalanan dua jam. Lebih capek lagi kalau ke Purwokerto, atau malah bablas ke Bandung.” Mas Aidan berangsur duduk di sebelah Arimbi, tapi ia buru-buru pamit mencari minuman sekaligus makanan untuk mereka.
__ADS_1
“Jangan ke mana-mana, takut hilang! Apa mau ikut saja? Kita ke kafe sebelah?” tawar mas Aidan tapi Arimbi langsung menolak.
Tak sampai lima belas menit dari kepergiannya, mas Aidan sudah kembali membawa dua kantong belanjaan. Satu berisi aneka minuman kemasan. Dari air mineral, kopi, susu, teh, dan juga kopi. Satu kantong lagi berisi aneka camilan. Semua itu mas Aidan letakan di hadapan Arimbi yang masih duduk selonjor di bawah pohon beringin rindang dan membuat suasana sekitar sana jauh lebih teduh, adem.
“Setiap hari di jalan. Juga pekerjaan Mas yang rawan dapat ser4ngan lawan, ... ke depannya, Mas harus lebih hati-hati. Kalau di jalan ya wajib fokus! Enggak usah buru-buru kayak tadi sampai ngebut,” ucap Arimbi sengaja menasihati.
Meski senyum, mas Aidan yang merasa gemas ke Arimbi, sengaja menempelkan sebotol minuman kemasan rasa teh dingin ke pipi kiri Arimbi.
“Ini aku lagi ngomong serius ih, Mas!” tegur Arimbi.
“Iya, aku tahu. Tapi kalau motorku hanya lari dua puluh atau malah kurang, ya sampainya lebaran depan, Mbak!” ucap mas Aidan yang kemudian membuka tutup botol minuman kemasan yang sempat ia tempelkan ke pipi kiri Arimbi.
“Pokoknya wajib lebih hati-hati. Mas enggak perlu, aku akan seperti pasangan Mas yang sudah-sudah. Enggak bisa sekarang ya nanti. Daripada dipaksakan, kan lebih baik kalau dikerjakan nanti kalau memang ada waktu lebih.” Arimbi berangsur meraih minuman rasa kopi dari kantong di hadapannya.
“Enggak mungkin!” balas Arimbi sewot sambil menatap sebal mas Aidan yang detik itu langsung menahan tawa.
Mas Aidan bahkan sampai membenamkan wajah di kepala Arimbi. “Jauh dari Ojan sama Azzam, hidup kita damai yah.”
“Mas bahas Ojan, malah bikin aku kasihan ke si Sepri. Iya, kan, namanya Sepri, yang urus si Ojan?” Arimbi sampai menengadah hanya untuk menatap wajah mas Aidan yang masih ada di atas wajahnya.
Mas Aidan mengangguk-angguk. “Iya, ya ... kok aku malah baru kepikiran, hidup Sepri sama ibu Septi, beneran berat gara-gara Ojan.”
“Itu si Ojan kenapa bisa begitu, sih, Mas? Maaf, ... kayak kurang komplit, ya?” Arimbi menatap penasaran wajah mas Aidan.
__ADS_1
“Itu efek kecelakaan bareng mbak Azzura dan mas Excel. Sebelumnya ya enggak separah itu. Kepala Ojan kena tembak, mbak Azzura juga kena di lengan kiri, sementara mas Excel di bahu kanan,” cerita mas Aidan.
“Hah? Gimana ceritanya?” ucap Arimbi yang tak jadi menenggak minumannya padahal bibirnya sudah menempel di lubang kemasan minumannya. Penjelasan dari mas Aidan yang mengabarkan Ojan, Azzura, dan juga Excel pernah terlihat kecelakaan temb4k-menemb4k, benar-benar mencengangkan untuknya. Apalagi jika melihat lingkungan mereka tinggal dan itu masih di pedesaan yang aman. Tentunya, mereka tidak sedang hidup di zaman sebelum kemerdekaan yang memang masih dikuasai penjajah.
Sekitar setengah jam kemudian, setelah obrolan mereka usai dan mereka juga sampai menghabiskan masing-masing satu botol minuman kemasan lengkap dengan camilan, kebersamaan mereka berpindah ke dalam kantor kepolisian. Seperti di kunjungan sebelumnya saat mengurus kasus dari Aisyah, sebagian besar dari pekerja yang ada di dalam sudah mengenal mas Aidan. Beberapa dari mereka juga sampai menanyakan kabar pak Kalandra sekeluarga, kepada mas Aidan. Juga, status Arimbi yang sampai digandeng mas Aidan, selain mereka yang memang memakai pakaian pasangan. Terakhir, mereka mengunjungi Aisyah yang masih ditahan.
Menurut informasi yang mas Aidan dan Arimbi dapatkan dari pengurus di sana, Aisyah sempat mengalami p3rundungan dari teman satu tahanan. Kini saja, Aisyah masih menjalani perawatan hingga wanita itu ditempatkan di tempat khusus. Lengan kanan dan juga kedua kaki Aisyah sampai patah karena yang melakukan p3rundungan kepadanya memiliki tubuh besar sekaligus tenaga bak perpaduan banteng dan badak.
“Memangnya Mbak Aisyah enggak menghubungi keluarga Mbak?” tanya Arimbi merasa prihatin pada wanita bercadar hitam yang kini terbaring lemah karena harus menjalani perawatan.
“Mereka sudah enggak mau tahu,” ucap Aisyah yang kemudian menunduk.
“Karena sudah terlalu lelah akibat selama ini, Mbak selalu membuat ulah,” balas Arimbi dan langsung mendapat tatapan marah dari yang bersangkutan.
“Bukan urusan kamu!” sinis Aisyah.
“Saya juga enggak berharap terlibat dalam urusan Mbak. Buat apa juga? Enggak penting! Hanya saja, melihat keadaan Mbak sekarang, seberapa pun tega Mbak kepada saya. Saya hanya ingin pesan, ... mencintai pun wajib dipikir. Seperti yang saya alami, sekelas tetangga sudah jadi tunangan, sana sini jadi saksi dan dia sudah saya biayai hidupnya saja tega, apalagi yang hanya modal cinta sama janji sekelas yang Mbak Aisyah alami? Padahal aku yakin, sebelum dengan mas Ilham, bucinnya Mbak juga sudah jadi malapetaka, tapi Mbak tetap enggak mikir apalagi belajar dari situ. Jangan lupa, Mbak sampai ab0rsi beberapa kali. Namun sampai detik ini, Mbak masih merasa paling suci padahal pihak yang selama ini memperjuangkan Mbak saja, sudah sampai menyerah.”
“Semoga Mbak segera diberi hidayah. Semoga, ... hukuman kali ini bisa membuat Mbak menjadi manusia lebih baik lagi. Cepat berubah biar hukuman Mbak lebih ringan. Mbak rela, mas Ilham malah bahagia dengan kehidupan baru tanpa Mbak? Bagaimana kalau mas Ilham menikah lagi tanpa memedulikan sumpahnya kepada Mbak? Jangan lupa, sumpah setia ke saya saja, bisa dengan mudah dia ingkari. Apalagi kepada Mbak yang katakanlah, sudah tidak memiliki apa-apa,” lanjut Arimbi yang kemudian sengaja pamit pulang. Karena selain urusan di sana sudah selesai, kini juga sudah malam.
Di lain sisi, diam-diam Aisyah langsung menaruh iri pada hubungan Arimbi dan mas Aidan. Keduanya terus bergandengan dan mas Aidan juga memperlakukan Arimbi dengan sangat baik.
“Emang 4su si Ilham! Diperjuangkan malah p3kok!” kesalnya yang detik itu juga memikirkan saran dari Arimbi. Aisyah berniat berubah agar secepatnya keluar dari penjara. Aisyah akan membalas Ilham dan juga keluarganya.
__ADS_1