
Ini menjadi pengalaman baru bagi Arimbi yang terus diser*ang, tapi selama itu juga dirinya melawan. Lebih luar biasanya lagi, Arimbi ditemani oleh laki-laki yang pada akhirnya mengajaknya meresmikan hubungan mereka di pelaminan.
“Jika jodoh ibarat cerminan diri, apakah aku semulia dan sesempurna itu, hingga jodohku justru kamu, Mas?” batin Arimbi yang diam-diam mengawasi kepergian mas Aidan.
Di tengah kegelapan yang menyelimuti malam berhias lantunan orkestra alam perpaduan dari suara jangkrik dan kodok, Arimbi melepas kepergian punggung mas Aidan. Pria itu benar-benar pulang setelah mengantarnya pulang, memastikannya aman dan tentu saja setelah mas Aidan bertemu dengan ibu Warisem. Tadi, mas Aidan menenangkan ibu Warisem yang lagi-lagi menangis dan sampai mas Aidan peluk.
Dering ponsel dan itu tanda pesan masuk dari ponsel yang Arimbi genggam menggunakan tangan kanan, mengusik Arimbi. Ketika Arimbi melihat layar ponselnya, ternyata itu dari mas Aidan. Alasan yang juga membuat Arimbi segera memastikannya.
Mas Aidan : Aku tahu, kamu diam-diam ngintip aku. Sudah masuk, aku baik-baik saja.
Beres membaca pesan dari mas Aidan, Arimbi dikejutkan oleh kenyataan mas Aidan yang kini melangkah mundur karena pria itu tak lagi memunggunginya, melainkan menghadap kepadanya. Baru saja, mas Aidan melambaikan kedua tangannya sembari membagi senyum menawannya.
“Aku janji, Mas. Sesibuk apa pun nanti Mas demi memperjuangkan rakyat kecil, aku akan selalu mendampingi Mas. Kalaupun kita harus berpisah dan mengorbankan quality time kita karena Mas harus menolong sesama, juga enggak apa-apa karena kita pasti akan memiliki banyak cara untuk melakukannya dengan cara yang mungkin akan beda dengan pasangan pada kebanyakan. Aku benar-benar tidak akan meninggalkan Mas seperti yang dilakukan oleh pasangan Mas yang sebelumnya,” batin Arimbi sembari melambaikan sebelah tangannya. Tak mau kalah, ia juga memberikan senyum terbaiknya, walau ia masih malu-malu melakukannya.
“Masuk!” seru mas Aidan dari depan dan tentu saja masih dengan suara lembut.
“Nanti. Aku mau lihat Mas sampai Mas masuk mobil di depan!” balas Arimbi menawar apalagi mas Aidan juga memarkir mobilnya tak jauh dari pintu masuk menuju gang.
Mas Aidan tidak melarang karena yakin, andai ia melakukannya, itu hanya akan melukai Arimbi. Jadi, malam ini mereka tutup dengan keyakinan semuanya baik-baik saya. Kata terima kasih dan juga syukur lainnya juga menjadi bagian dari akhir kebersamaan mereka. Walau sekitar tiga puluh menit kemudian, Arimbi kembali mendapat pesan WA dari mas Aidan berupa sebagian tempat tidur pria itu dan juga meja di sebelahnya. Mas Aidan mengabarkan bahwa dirinya sudah sampai kamar dengan selamat.
***
__ADS_1
“Kalau dipikir-pikir, yang sebenarnya istrinya Mas Excel itu aku apa Mas Aidan sih? Masa iya, ditelepon Mas Aidan, suamiku langsung sewa jet, turun di kabupaten, terus ... ah pokoknya kalau dipikir beneran bikin otak oleng!” keluh Azzura ketika sang kakak akhirnya bergabung menjadi bagian dari kebersamaan mereka.
Keluh kesah Azzura barusan sukses membuat semuanya malah kompak menertawakannya.
Pagi ini mereka sarapan dalam formasi lengkap layaknya yang dikatakan oleh kakek Sana.
“Lebih lengkap lagi kalau nanti mbak Arimbi juga ikut gabung, yah, Mas!” ucap nenek Kalsum sengaja menggoda mas Aidan yang malah dengan semringah mengangguk-angguk sekaligus membenarkan.
“Ya ampun Kalandra, Mas Aidan berani begini bilang terang-terangan!” ucap nenek Kalsum yang langsung tak bisa berkata-kata.
“Ya berani, ... kan mereka mau nikah!” balas pak Kalandra yang juga langsung tertawa layaknya yang lain ketika mas Aidan dengan bangga membenarkan kebersamaan mereka akan terasa makin lengkap jika Arimbi juga menjadi bagiannya.
Kalandra langsung menatap sang putri. “Beres acara empat bulan kehamilan Mbak Azzura, pasti langsung diurus!”
Mendengar itu, Azzura langsung menyikut sang suami yang masih makan dengan elegan sisa nasi gorengnya. Excel yang bagi Azzura merupakan manusia super tidak peka, langsung menatapnya dengan tampang tak berdosa. Seolah pria itu tak tahu apa-apa, padahal Azzura bahkan semuanya tahu, Excel tak sebayi itu.
“Ihhh ... Mas tadi Mas dengar, kan? Awas loh, jangan sampai pas ada acara penting begitu, lagi-lagi aku dititipin enggak ditemani dan digandengnya bukan sama Mas, tapi malah sama saudara atau malah papah atau sama mbah!” kesal Azzura.
Menghela napas pelan, Excel berkata, “Calon pengantinnya kan bukan kita. Yang penting mereka tetap sama-sama kan?”
Balasan tak berdosa dari sang suami membuat Azzura merengek manja kepada orang tuanya. “Kalau begini terus, lama-lama aku beneran rante nih orang!” kesalnya.
__ADS_1
“Masalahnya sekarang kan Mbak Azzura sedang hamil. Pamali kalau ke sana sini, bolak-balik Jakarta kampung atau keluar kota lainnya. Yang sabar, suamimu kan memang sibuk,” ucap ibu Arum berusaha menenangkan putrinya.
Setelah pak Kalandra juga ikut menenangkan Azzura, fokus mereka kembali kepada mas Aidan. Mereka meminta mas Aidan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Arimbi, berikut video viral peringkusan anak-anak punk dan di beberapa video yang beredar ada adegan Arimbi melempar wajah ke salah satu anak punk yang terus kabur.
Mas Aidan pun menceritakan semuanya. Mengenai Aisyah yang menjadi dalang dari tragedi tersebut. Juga rencana keji Aisyah yang mengutus ketujuhnya untuk menggi*lir Arimbi andai ketujuh anak punk tersebut tak sampai diringkus.
“Orang kayak gitu harusnya enggak dipenjara sih, masukkin ke RSJ khusus saja,” komentar ibu Arum.
“Nanti enggak merasakan hukuman yang semestinya dong, Mah!” timpal Azzura.
“Itu jatuhnya kejahatan yang sudah direncanakan, kan?” komentar Azzam. “Harusnya hukumannya lebih berat.”
“Tentu. Paling hari ini aku ke sana lagi buat urus. Paling ya kayak pas sidang kemarin, aku harus menghadapi saudaranya si Aisyah yang kalau ceramah mengenai agama dan kebaikan lancarnya melebihi kereta ekspres, tapi giliran disuruh didik Aisyah, langsung mlempem!” ucap mas Aidan.
“Semua agama yang sudah diakui dunia, itu baik karena semua agama selalu mengajarkan kebaikan. Yang enggak baik itu manusianya. Pemuka agama juga manusia biasa, kan? Jadi, kalau ada pemuka agama yang sudah sampai ngarahin pengikutnya untuk melakukan hal-hal menyeleweng, tapi mengatas namakan agama, kita tetap berkewajiban menolak. Karena seperti yang sebelumnya dibahas, pemuka agama juga manusia biasa. Mereka bukan nabi apalagi manusia suci!” ucap Excel.
“Kasus semacam itu memang sedang marak. Masalahnya karena power pemuka agama yang telanjur dianggap suci apalagi bagi pengikutnya, kasus semacam itu hanya bisa diusut oleh kekuatan viral! Apalagi kalau yang mengalami orang kecil, mereka beneran dukungan biar cepat viral dan kasusnya pun cepat diusut!” ucap mas Aidan.
“Semoga kasus mbak Arimbi cepat beres, dan semoga orang seperti Aisyah yang berlindung di balik agama untuk segala kekeji*an sekaligus kejahatannya, juga segera mendapatkan balasan setimpal!” ucap ibu Arum.
“Amin!” Azzam menjadi orang pertama yang mengaminkan kemudian diikuti juga oleh yang lainnya.
__ADS_1