Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
78 : Setelah Curhat


__ADS_3

Senyum manis terus menghiasi wajah mas Aidan tak lama setelah Arimbi keluar dari kamar ibu Arum dan pak Kalandra. Sudah malam, dan mas Aidan akan langsung mengantar Arimbi pulang.


Sampai mereka melangkah pulang setelah pamit, Azzura masih saja terbahak-bahak. Wanita itu masih kesulitan menyudahi tawanya. Walau begitu, Excel membiarkan istrinya tertawa bebas, menemaninya sambil sesekali memandangi layar ponsel. Pak Kalandra, ibu Arum, nenek Kalsum, kakek Sana, juga Azzura dan Excel, mengantar hingga depan pintu masuk kediaman keluarga pak Kalandra.


“Kenapa tadi bisa serame itu? Memang apa yang lucu banget, sampai mamah apalagi mbak Azzura tertawa heboh enggak bisa berhenti?” tanya mas Aidan benar-benar manis. Karena selain bertanya dengan suara lirih, mas Aidan juga masih sibuk senyum terlebih di setiap tatapannya berhenti di kedua mata Arimbi.


Arimbi malu-malu tapi nyaris tertawa. “Itu gara-gara kami bahas mas Ilham, Mas. Yang kepincut kedudukan lebih tinggi lewat wanita suci tapi malah zonk!”


Ingat kisah Ilham, mas Aidan juga langsung menahan tawanya. “Rezekinya dia begitu!”


“Sekarang pun masih susah cari kerja, bisa jadi itu efek dia sudah zalim ke kamu sekeluarga!” lanjut mas Aidan.


Arimbi mengangguk-angguk. “Mamah Mas bilang, bakalan undang mas Ilham sebagai tamu kehormatan di pernikahan kita. Biar dia tahu, resepsi pernikahan seperti apa. Kan pas dia sama wanita suci mau gelar resepsi, langsung enggak jadi efek modalnya buat ganti rugi! Tadi aku cerita begini dan mamah sama mbak Azzura malah jadi ketawa terus!” ceritanya tapi kali ini, Mas Aidan juga tertawa.


“Senang banget rasanya lihat kamu langsung akrab sama orang tua sekaligus saudara-saudaraku. Termasuk Akala pun, sampai sekarang masih tertib jalani diet seperti yang kamu ajarkan,” ucap mas Aidan. Mereka masih bertahan di depan motor yang terparkir di depan gerbang rumah.


“Diet tetap makan dikit, tapi sering memang paling aman, Mas. Aku pun masih jalan begitu,” balas Armbi.


Mas Aidan langsung mengernyit heran menatap Arimbi. “Mbak Arimbi diet buat apa?”


“Memang Mas enggak lihat perbedaan aku yang saat awal kita bertemu dengan aku yang sekarang?” tanya Arimbi.


Mas Aidan tak langsung berkomentar, dan malah terlihat berpikir sangat serius. Pria itu mengawasi penampilan Arimbi dari ujung kepala hingga ujung kaki.

__ADS_1


“Nih orang kenapa?” batin Arimbi waswas lantaran mas Aidan tak kunjung berkomentar dan itu membuat dadanya berdebar-debar.


Apalagi ketika akhirnya tatapan mereka bertemu dan mas Aidan berkata, “Masih tetap cantik, kan?”


Arimbi yang langsung tersipu perlahan membelakangi mas Aidan. Ia melangkah pergi sambil terbahak-bahak. Mas Aidan yang ditinggalkan juga menjadi sibuk tertawa.


“Itu mau jalan kaki?” seru mas Aidan menegur.


“Jalan kaki pun dekat,” balas Arimbi menyudahi tawanya. Ia sengaja berhenti melangkah hanya untuk menghadap sekaligus menatap mas Aidan.


“Bentar tunggu. Aku masukin motor ke rumah dulu,” balas mas Aidan masih menatap Arimbi yang berdiri di seberang sana.


“Nanti Mas pulangnya jalan kaki juga loh kalau enggak bawa motor.” Arimbi sengaja berseru dalam mengingatkannya.


“Belum apa-apa rasanya sudah seadem ini. Mas Aidan selalu bisa membuat yang bersamanya tenang. Pantas mantannya jadi ngelunjak karena tiap saat terlalu dimanja hingga dia berpikir, mas Aidan enggak mungkin berpaling walau dia semena-mena ke mas Aidan. Padahal kan, setiap orang tetap memiliki titik jenuh sekaligus titik lelah. Mereka pasti akan sadar sudah saatnya mereka menyudahi hal yang hanya membuat rugi,” batin Arimbi yang masih menunggu kedatangan mas Aidan bersama senyum yang masih bertahta sempurna di wajahnya. Ia menerima uluran tangan mas Aidan yang sudah langsung menggandeng tangan kirinya.


“Besok masih jualan?” tanya mas Aidan.


Besok menjadi acara lamaran mereka yang akan diadakan sore hari di rumah baru Arimbi. Arimbi sudah langsung mengangguk, berdalih dirinya bisa mengatur waktu layaknya mas Aidan yang masih harus ke kabupaten untuk mengurus kasus bac0k-membac0k beberapa hari lalu.


Di tengah suasana terbilang sunyi, juga semilir angin yang berembus basah menyelimuti malam ini, Arimbi dan mas Aidan melangkah santai sambil terus bergandengan.


Dalam diamnya, kedua sejoli itu mengakui, alasan mereka bisa dengan sangat cepat saling mencintai lantaran mereka sama-sama siap menerima kekurangan sekaligus kelebihan satu sama lain. Selain itu, kenyataan mereka yang saling menghargai juga menjadi kunci dari manisnya hubungan.

__ADS_1


“Kalau besok aku sampai telat gara-gara ada urusan mendadak?” tanya mas Aidan waswas. Takut Arimbi marah kemudian memutuskan hubungan mereka padahal harusnya, mereka lamaran.


Rasa takut yang terasa sangat menyiksa karena biar bagaimanapun, mas Aidan telanjur sayang pada Arimbi. Bukan semata karena Arimbi sudah langsung diterima keluarganya selain Arimbi yang juga telanjur membuatnya nyaman. Namun juga kenyataan Arimbi yang memang memiliki sifat sekaligus watak berbeda dari kebanyakan orang.


“Rumahku enggak bakalan pindah walau Mas telat. Ya enggak apa-apa, asal Mas pulang dengan selamat. Terlebih kemarin aku sudah merasakan sendiri, macet, jalanannya juga selalu rame. Enggak rame beneran sepi apalagi pas di sekitar hutan pinus. Serius itu serem!” balas Arimbi sambil sesekali menatap mas Aidan.


“Yang penting Mas sehat, Mas selamat sampai tujuan. Itu jauh lebih penting ketimbang efek buru-buru, Mas malah kenapa-kenapa. Aku bakalan terus menunggu, sambil terus berdoa, semoga segala urusan Mas dimudahkan, dilancarkan. Terlebih niat Mas juga baik yaitu menolong orang.”


“Semacam orang yang baper ke Mas dan sampai genit ke Mas pun, aku bakalan belajar buat lebih pandai bersikap semacam tegas ke mereka. Tadi, mamah Arum bahas ini. Karena mau enggak mau, hal semacam itu pasti ada. Cepat atau lambat, yang namanya tumbuhan pasti ada saja hamanya. Karena jangankan tumbuhan subur bermanfaat, yang enggak bermanfaat saja ada saja hamanya.”


Arimbi yang awalnya berbicara lembut panjang lebar refleks diam ketika mas Aidan memeluknya dari samping selain mereka yang sampai berhenti berjalan.


“Curhat ke mamah Mas termasuk mbak Azzura, bikin aku jauh lebih tenang. Tadi aku bahas mengenai kekhawatiran aku karena pekerjaan Mas sebagai pengacara pasti sangat berisiko. Termasuk juga Mas yang selalu menempuh perjalanan jauh. Namun seperti arahan mereka, jika aku hanya khawatir tanpa melakukan hal bermanfaat, tetap aku juga yang rugi. Fatalnya, aku bisa nyusul pak Haji Ojan!” ucap Arimbi yang kemudian senyum-senyum sendiri.


Mas Aidan yang masih memeluk Arimbi dan sampai berlinang air mata karena merasa sangat terharu, juga ikut tersenyum. Segera ia menyudahi air matanya kemudian menghapusnya. Ia kembali membuat mereka melanjutkan langkah.


“Jari, besok jadwal Mbak apa saja? Jangan lupa ke salon biar makin cantik. Pin ATM kemarin masih hafal, kan?” tanya mas Aidan. Untuk kepentingan Arimbi, ia memang sudah sampai memberi wanita itu ATM berisi tabungan khusus agar ketika Arimbi tidak sedang bersamanya, calon istrinya itu tak kekurangan apa pun.


“Besok mamah bilang, aku enggak perlu ke salon biar enggak bolak-balik capek di perjalanan karena habis jualan pun, aku langsung ke rumah baru. Jadi, mamah utus mas Azzam buat bawa tukang rias sekalian bawa ibu. Dan mamah sengaja utus mas Azzam buat berangkat dulu karena mulut mas Azzam bisa lebih tajam dari omongan netizen. Buat jaga-jaga takut mas Ilham sama mamahnya nyinyir lagi!” balas Arimbi yang detik itu juga langsung tertawa bersama mas Aidan gara-gara Azzam yang diam-diam mereka juluki sebagai rajanya nyinyir.


“Terus mas Akala kok bisa beda banget sama yang lain yah, Mas. Kadang aku kasihan soalnya dia dijaili terus sama mas Azzam.”


“Kandungan gen nyinyir di keluarga kayaknya memang sudah telanjur diborong sama dek Azzam, jadi dek Akala hanya kebagian gen baiknya!” yakin mas Aidan dan lagi-lagi membuat kebersamaan mereka diselimuti tawa. Beberapa warga yang belum tidur dan kebetulan beraktifitas di luar rumah, sampai melongok sekaligus memastikan. Yang mana dari semuanya, mereka langsung menyapa sekaligus bertukar sapa dengan mas Aidan.

__ADS_1


__ADS_2