Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
119 : Kebenaran yang Baru Terungkap


__ADS_3

“Sudah keramas berapa kali, Mas?” tanya Arimbi bertepatan dengan kedatangan mas Aidan. Pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu langsung berhenti mengeringkan kepala menggunakan handuk warna abu-abunya.


Mas Aidan tersenyum lepas dan terlihat sangat semringah. Bergegas ia menghampiri Arimbi yang sedang duduk di ujung sofa sambil menikmati rujak.


“Ya ampun, Mas, pelan-pelan! Masih sakit!” rengek Arimbi berkeluh kesah ketika suaminya yang melangkah buru-buru, sudah langsung menghampiri kemudian memeluknya gemas. Mas Aidan sampai membuat tubuhnya ke kanan dan ke kiri secara berirama, sebelum akhirnya pria itu malah memangkunya.


“Panas-panas gini paling enak memang makan rujak,” ucap mas Aidan sambil menerima suapan rujak dari Arimbi.


Arimbi yang masih mengunyah mengangguk-angguk. “Iya, jangan keramas terus. Makan rujak, minumnya kelapa muda!” ujarnya sengaja menyindir sang suami yang memang telah membuatnya merasakan kerja rodi yang membuat mereka makin rutin keramas.


“Anggap saja amal, Yang. Biar yang punya usaha sampo, laku kalau kita sering keramas!” ucap mas Aidan masih sangat semringah dan memang tidak bisa menyudahi senyumnya. Ia juga terus menengadah demi menatap wajah Arimbi dan memang masih ia pangku.


Arimbi kembali menyuapi sang suami. Duduk menghadap jendela yang gordennya dibuka sempurna, sementara di luar, matahari sedang terik-teriknya, ditambah ia merasa jauh lebih lelah dari kesibukannya berjualan tanpa kenal waktu, membuatnya sulit merasa kenyang. Ia terus saja lapar dan tidak bisa berhenti lapar.


“Keramas terus juga bikin aku meriang, Mas. Masuk angin kayaknya. Nanti dikira hamil duluan gara-gara mual pusing terlalu dini, padahal semalam saja baru mulai proses,” ucap Arimbi yang kemudian menyeruput kelapa hijaunya.


“Enggak usah mikirin omongan orang lain,” ucap mas Aidan yang kemudian mengeluh sudah kembali lapar.


“Iya. Aku juga jadi lapar terus. Lapar, ngantuk, gitu saja terus. Tanda-tanda sudah langsung masuk angin!” ucap Arimbi lirih dan lagi-lagi berkeluh kesah.


Mas Aidan berangsur menyandarkan dagunya di dada Arimbi, kemudian mengec*up dalam bagian di sana. Arimbi yang walah langsung tersipu, juga jadi geleng-geleng. “Kalau aku mau lagi, boleh, enggak?”


Sempat tak bisa berkata-kata akibat permintaan sang suami, Arimbi merengek pasrah, “Nanti malam ih Mas ....”


Mas Aidan tersenyum jail, merasa puas karena sudah berhasil membuat Arimbi uring-uringan. “Aku senang banget kalau kamu merengek-rengek begitu. Puaaaasss banget rasanya!”


Mendengar itu, Arimbi sudah langsung tertawa. “Mas kalau begitu jadi mirip banget Azzam. Jail!”

__ADS_1


“Ketularan kayaknya, ya?” ucap mas Aidan yang kemudian tersenyum geli terlebih Arimbi juga ikut tersenyum.


“Kita pindah hotel. Mau ke pantai, kan? Lihat matahari terbenam, nyantai sebentar di pantai, terus cari hotel terdekat,” ucap mas Aidan masih menatap lekat Arimbi.


“Barang-barang kita gimana? Apa kita pulang dulu? Rumah orang tua Mas kan dekat dari hotel. Naik mobil enggak ada lima belas menit, kan?” balas Arimbi.


Mas Aidan mengangguk-angguk. “Nanti sekitar pukul empat, aku minta Akala sama Azzam buat bantu angkut barang-barang kita.”


Arimbi langsung tersenyum ceria kemudian menc*ium kening mas Aidan.


“Sudah nikah, jangan hanya cium kening!” ujar mas Aidan sambil memasang wajah melas kepada sang istri.


Arimbi sudah langsung tersipu. Ia bermaksud menaruh piring berisi rujaknya ke meja dan mas Aidan sudah langsung membantunya. Takut kedua tangannya pedas, Arimbi mengalungkan kedua tangannya ke tengkuk mas Aidan. Ia melu mat lembut bibir bawah mas Aidan dan tak membiarkan kedua tangannya menyentuh wajah mas Aidan.


Senyum lembut khas orang kasmaran menjadi ekspresi tunggal yang menghiasi wajah tampan mas Aidan. “Istriku cantik banget!” lirihnya sengaja memuji, sementara jemari tangan kirinya yang tidak melingkar di pinggang Arimbi, menyisir rambut Arimbi yang masih tergerai dan memang masih setengah basah.


Arimbi benar-benar tak karuan. Bahkan meski wanita itu sadar, yang terus memujinya dengan rayuan maut, suaminya sendiri.


“Heran ini telinga, kok jadi sering panas gini? Apa memang ada yang nyinyirin aku, terus jadi nyetrum? Jangan-jangan si ibu Siti ini. Dendam ke aku gara-gara bungkusan muntahannya aku taruh di wadah berkat sekaligus sovenirnya!” pikir Azzam.


Adanya Cinta dan Chole, yang juga dilengkapi Chalvin yang begitu tampan mirip Tuan Maheza, sudah langsung mengusik Azzam. “Eh, kalian di sini, kok enggak kabar-kabar?”


Azzam sudah langsung menghampiri penghuni meja depan dekat pintu masuk dan memang ada di lantai bawah. Penghuni yang dari warna kulit apalagi tampang saja sudah sangat berbeda, khas orang kota sekaligus kaya.


“Mas Azzam, ada tempat makan enak yang lain enggak, selain di sini?” tanya Chole lesu efek sudah sangat lapar.


“Enggak adalah! Di sini paling enak!” sergah Azzam yang sempat langsung sibuk menggeleng. Ia segera duduk di sebelah Chalvin. “Demi menjunjung tinggi kejayaan rumah makan, aku siap promosi habis-habisan!” batinnya bersemangat.

__ADS_1


“Makanan Jepang apa Korea, Mas!” rengek Chole.


“Ngapain makan makanan luar negeri? Itu namanya penjajahan secara pribadi! Cintai produk negeri termasuk makanannya biar masuk surga karena enggak dianggap berkhianat ke negara!” ucap Azzam yakin seyakin-yakinnya mirip orang dakwah yang sengaja menakut-nakuti.


Cinta dan Chalvin yang awalnya fokus dengan ponsel masing-masing, dan duduknya mengapit Chole, kompak tertawa. Tentu keduanya menertawakan ucapan penuh keyakinan dari seorang Azzam.


“Ya enggak segitunya kali Mas. Masa iya, efek mengonsumsi makanan negara orang, bisa masuk neraka?” protes Chole, yang meski ceria sekaligus periang, polosnya beda tipis dengan Akala.


“Nah apalagi itu, mengonsumsi makanan negara orang, lebih dosa! Itu haknya orang lain!” balas Azzam masih meyakinkan.


“Mengonsumsinya beli, Mas. Enggak hutang apalagi nyuri! Ih, ngomong sama Mas Azzam jadi pengin nangis. Enggak kebayang kalau jadi Sundari!” sebal Chole.


“Jadi Sundari ya otomatis jadi wanita paling bahagia. Punya pasangan humoris, mapan, penyayang, tampang juga tampan di atas rata-rata, pokoknya sudah dipatenkan calon pencetus bibit unggul! Huh, Sundari, ... wanita paling beruntung!” ucap Azzam serius sekaligus curhat, tapi ketiga orang di sana termasuk Chole yang awalnya sibuk protes, malah terbahak-bahak.


“Apanya yang lucu sih?” tanya Azzam heran. Namun adanya setumpuk origami di hadapan Chole dan itu origami langka yang memang berbentuk lain dari kebanyakan, sudah langsung mengusiknya.


“Aku pikir hanya Didi yang bisa bikin begituan. Ribet kan kalau origami bentuk gitu. Mirip huruf A,” ucap Azzam terkagum-kagum.


“AIDAN!” tegas Cinta bertepatan dengan Azzam yang meraih satu origaminya.


Azzam sudah langsung menatap Cinta. Tentu, ia yakin ada maksud lain kenapa Cinta berucap tegas seperti tadi. Ditambah lagi, Chole yang awalnya mirip bayi dan dari dulu memang menjadi bayi dalam kebersamaan mereka, tampak panik. Wajah putih mulus Chole sampai berkeringat, pucat.


“Aku tahu ini sangat amat terlambat. Bahkan beneran sudah enggak ada gunanya. Namun karena sudah telanjur dibahas, aku hanya mau bilang, bahwa SEMUA HADIAH ROMANTIS, SURAT ROMANTIS, DAN SEMUA YANG DIDI AKUI ITU DARI DIA BUAT AIDAN, ITU CHOLE!”


Azzam sadar tidak palu yang menghantam dadanya, tapi apa yang Cinta katakan barusan benar-benar membuat dadanya sakit. Kedua matanya pun terasa panas dan perlahan berembun terlebih ketika akhirnya kedua matanya menatap wajah Chole. Chole yang biasanya ceria sudah langsung menunduk sementara kedua tangan ia pergoki sibuk memilin ujung kemejanya.


“Enggak ada yang lebih menyakitkan dari ditusuk oleh ... sahabat yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri!” ucap Cinta yang juga menjadi berkaca-kaca. Tanpa menunggu lama, air matanya juga sampai mengalir.

__ADS_1


“Mau bagaimana lagi? Chole juga sudah ikhlas. Puas malah karena akhirnya, Aidan mendapatkan pasangan tepat!” lanjut Cinta.


“Namun setahuku, alasan mas Aidan bertahan dengan Didi, ya karena semua perhatian romantis itu. Origami, surat, bunga, pernak-pernik manis termasuk kue kering. Dulu pas mas Aidan akhirnya putus dari Didi, aku sama Akala bantu buang, bakar semuanya.” Untuk pertama kalinya Azzam ikut melow meski bukan dirinya yang mengalami. Ia tahu apa yang Chole rasakan. Ia sampai tidak bisa mengungkapkan emosinya saat ini. “Didi benar-benar keterlaluan. Oke, Mas Aidan memang ibarat suami idaman di kebersamaan sekaligus hubungan kami yang sudah seperti keluarga karena hubungan baik orang tua kami. Namun caranya berbohong, menyabotasse, ah!” batin Azzam sangat marah.


__ADS_2