
Kabar ditetapkannya Aisyah sebagai tersangka, sudah sampai di telinga Arimbi. Mas Aidan yang mengabarkannya melalui pesan WA, di malam sepulang pertemuannya dengan orang tua pria itu. Selain itu, pagi ini ibu Siti juga sampai melakukan kunjungan khusus kepada Arimbi. Wanita itu memohon agar Arimbi tak sampai menyeret-nyeret Ilham. Tak tanggung-tanggung, kedatangan ibu Siti kali ini tidak dengan tangan kosong. Karena untuk pertama kali dalam hidup wanita itu, ibu Siti sampai membawa satu sangku berisi telur bebek.
Arimbi tak bisa berkomentar. Ia hanya mampu menghela napas dalam, sembari siap-siap pergi untuk jualan karena kedatangan ibu Siti saja sudah membuatnya telat.
“Mengenai mas Ilham bakalan dipenjara tidaknya, bukan tergantung saya, Bu. Semuanya murni tergantung kepada mas Ilham. Karena andai mas Ilham sampai terbukti, ... ya mau bagaimana lagi?” ucap Arimbi lantaran ibu Siti terus memohon, menghalangi langkahnya.
“Namun andai Ilham sudah dibolehkan pulang seperti sekarang, harusnya enggak, kan, Mbi?” tanya ibu Siti memastikan.
Arimbi yang sudah duduk di motor dan baru saja menyalakan mesin motornya, berangsur menggeleng. “Saya beneran enggak paham, Bu. Namun intinya ya seperti tadi, bahwa andai sampai terbukti, pasti langsung berurusan dengan polisi lagi!” yakin Arimbi yang kemudian pamit permisi.
“Bu, aku berangkat dulu, ya!” pamit Arimbi untuk ke sekian kalinya, dan untuk ke sekian kalinya, ibu Warisem juga meminta sang putri untuk hati-hati.
Jawaban mengambang dari Arimbi yang juga sangat tidak pasti, membuat ibu Siti makin khawatir. Ibu Siti makin tidak bisa tenang.
“Harusnya kalau mau khawatir itu saya, loh. Anak saya perempuan dan terus saja kalian sakiti!” kesal ibu Warisem dan hanya ditanggapi sinis oleh ibu Siti.
“Andai situ ada di posisiku, pasti situ tahu gimana rasanya!” kesal ibu Siti sembari terus melangkah pergi.
Sembari menggeleng melepas kepergian punggung ibu Siti, ibu Warisem sengaja menutup pintu rumahnya.
“Subuh-subuh, sudah bertamu hanya buat nyogok biar Ilham enggak terseret kasus istrinya? Ya salah sasaran!” batin ibu Warisem kembali terusik oleh gedoran dari pintu yang baru saja ia kunci. Ibu Warisem sampai tak jadi melangkah.
“Sem, balikin itu telur bebeknya kalau Arimbi enggak bisa jamin Ilham bebas!” teriak ibu Siti di luar sana.
Ibu Warisem langsung geleng-geleng kemudian menghela napas dalam. Tak mau masalahnya makin panjang, ia sengaja meraih satu sangku telur bebeknya dari meja di hadapannya.
“Nih!” tegas ibu Warisem sembari memberikan telurnya kepada ibu Siti.
“Kalau memang mau makan telur bebek, beli sendiri!” hard*ik ibu Siti.
__ADS_1
Ibu Warisem mendelik tak percaya menatapnya. “Biasa saja kali Ibu Siti. Jangankan telur bebek, ke daging sapi, kambing, apa bebek saja saya bosan karena tiap hari dikirimi sama calon mantu atau malah besan! Enggak percaya? Tuh masuk ke dapur, sisanya masih ada. Mana tahu Ibu Siti mau!” balas ibu Warisem tak kalah sewot dari ibu Siti.
Setelah sempat kebingungan, ibu Siti berkata, “Sombong! Dikasih saja bangga! Kelihatan banget susahnya!”
Ibu Warisem nyaris membalas, tapi kenyataan ibu Siti yang terpeleset hingga telur bebek yang dibawa berjatuhan remuk semua. Meraung-raung wanita itu menangisi pinggang yang ibu Siti keluhkan sakit, selain semua telur yang memang remuk.
“Nah, kan ... makanya jangan sombong! Kena batunya sendiri, kan?” ucap ibu Warisem yang kemudian meminta ibu Siti untuk membersihkan bekas telurnya juga yang bau amis luar biasa.
Setelah di rumah sudah dihampiri ibu Siti, di tengah jalan depan gang, Arimbi malah bertemu Ilham. Arimbi yang tak mau berurusan dengan Ilham, sengaja ngebut walau pria itu menghadang di tengah-tengah jalan. Ilham langsung kocar-kacir lari menghindar ke samping lantaran tak menyangka, Arimbi nekat bahkan tega menabr*aknya.
“Mbi, aku mau ngobrol, Mbi! Ada hal penting yang harus kita bicarakan!” yakin Ilham sampai berteriak. Ia buru-buru membenarkan sarungnya yang nyaris lepas dari gulungan sebagai kancing di pinggangnya.
“Anak sama ibu sama saja. Aku pikir selain masih tetangga dan sebelumnya pernah ada kasus, mereka akan lebih belajar untuk menghargai. Namun nyatanya, semuanya beneran sama saja. Heran aku ke diriku sendiri. Selama ini, kok aku bisa tahan? Aku kesuru*pan atau memang saking gobl*oknya?!” batin Arimbi yang kesal pada dirinya sendiri.
***
Suasana masih sangat asri ketika akhirnya Arimbi sampai pasar. Baru datang, ia langsung mendapat banyak pesanan dari orang pasar yang sudah datang dari pukul tiga tadi untuk menyiapkan setiap dagangan.
Seperti yang Arimbi yakini, dirinya mendapat pesan dari mas Aidan. Mas Aidan menanyakan kabarnya, selain pria itu yang pamitan dan hari ini tidak bisa menemani karena ada urusan hingga malam.
Arimbi : Aku sudah jualan dan alhamdullilah sudah mau habis setengah walau baru satu jam di sini, Mas.
Arimbi : Ya enggak apa-apa kalau memang Mas sibuk, tapi jangan lupa makan, ya.
Mas Aidan : Semuanya, aman, kan?
Membaca pesan dari mas Aidan, Arimbi refleks mengawasi sekitar. Semuanya aman, tidak ada tanda-tanda anak kehadiran punk maupun orang membahayakan lainnya kecuali, pria kurus berambut lepek mengkilap yang kepalanya kerap dihinggapi lalat hijau.
“Ojan! Nama saya, Pak Haji Ojan! Saya dengar, Mbak Arimbi ini janda, ya? Janda kembang dan siap jadi kesayangan Mas Ojan, kan?” ucap pria itu masih bertahan duduk di motor tuanya.
__ADS_1
Belum apa-apa, Arimbi sudah merinding dan refleks menelan ludahnya. “Mungkin dia memang enggak waras. Namun andai memang enggak waras, kok bisa naik motor, ya?” batin Arimbi merasa seram pada cara Ojan memperhatikannya. Pria itu terus tersenyum, menatapnya dengan lirikan genit. Selain itu, kedua tangan pak Haji Ojan juga silih berganti menyisir rambut lepeknya menggunakan sisir kecil warna pink. Tak kalah mencolok, semua aksesori yang pak Haji Ojan pakai bernuansa pink. Dari kemeja lengan panjang, sarung, kacamata, dan juga ransel gendong karakter kucing yang masih pink.
Namun, kenyataan Ojan yang terus mengikuti ke mana pun Arimbi pergi, dari Arimbi yang mengantar pesanan, hingga Arimbi masuk ke toilet umum, membuat Arimbi risi. Arimbi sampai mampir ke rumah pak Angga yang memang dekat pasar, sesuai arahan mas Aidan yang langsung menitipkannya kepada sang ayah.
“Gimana, Mbak? Sudah, Mbak masuk dulu ke rumah biar Ayah yang urus!” ucap pak Angga yang sudah menunggu di depan gerbang. Ia bahkan sampai langsung mengambil alih motor Arimbi.
“Itu, Yah! Mau aku tabo*k pakai wajan, takut pingsan nanti aku yang dikasus!” ucap Arimbi.
“Loh, si Ojan musafir cinta?!” ucap pak Angga terheran-heran.
“Pak Angga, Pak Angga kenal sama tuh janda muda nan cantik dan bakalan jadi istri ke lima saya?!” Pak Haji Ojan buru-buru turun dari mobil. Karena buru-buru, ia refleks menjatuhkan motornya begitu saja. Motor tua berwarna merah warisan dari sang kakek, ia biarkan masuk ke selokan berisi kebun kangkung.
“Innalilahi, kelakuannya absurd banget!” batin Arimbi memilih meraih wajannya dari motor. Karena andai pria yang mengaku sebagai pak Haji Ojan itu nekat macam-macam, ia juga tak segan melakukan seranga*n wajan.
“Istri ke lima apaan? Ini mbak Arimbi. Calon istri mas Aidan!” yakin pak Angga pada pria yang kiranya hanya terpaut delapan tahun lebih tua dari mas Aidan.
“Hah? Jangan suka fitnah lah Pak Angga! Lagian, sejak kapan mas Aidan jadi musafir cinta pemuja janda juga seperti saya?!” protes pak Haji Ojan yang walau penampilannya sudah dewasa, tapi kelakuannya mirip bocah.
Pak Angga menghela napas dalam. “Sudah ... sudah. Kamu pulang saja. Mbak Arimbi capek, mau istirahat!”
“Pokoknya saya mau nikahin dia, Pak Angga!” mohon pak Haji Ojan.
Pak Angga menggeleng tegas kemudian menggiring pak Haji Ojan untuk pergi dari sana.
“Saya cinta dia, Pak Angga. Dan dia pun mau nikah sama saya! Enggak percaya, lihat dia hanya diam yang artinya pasti memang iya!” ucap pak Haji Ojan benar-benar cerewet.
Melihat pak Haji Ojan yang terus ngotot, Arimbi makin yakin, memang ada yang tidak beres dengan pria itu. Ditabah lagi, pak Angga sampai mengguyur pak Haji Ojan dengan selang air keran di taman sebelah. Pak Angga membuat pak Haji Ojan kuyup sekaligus terbatuk-batuk. Pria beraksesori pink itu lari terbirit-birit sambil menuntun motor tuanya.
“Kalau dia enggak dibikin basah gitu, dia enggak bakalan pergi!” yakin pak Angga sembari menggulung selangnya.
__ADS_1
Mendengarnya, Arimbi makin yakin dengan keyakinannya mengenai sosok pak Haji Ojan. “Ayah, dia rada gangguan, apa gimana, sih? Kok kelakuannya mirip orang kurang begitu?” tanya Arimbi yang memang penasaran.
“Iya ... sejak kecelakaan motor satu tahun lalu, kelakuannya jadi mirip bocah lagi. Ya sudah, Ayah antar Mbak pulang, biar mas Aidan juga tenang kerjanya, ya. Sekarang, Mbak kabari mas Aidan dulu, biar Masnya tenang!” balas pak Angga dan langsung disanggupi oleh Arimbi.