
"Dimana istriku?" Tanya Lukas dengan nada yang tak kalah dingin.
Pria dalam telepon itu tertawa.
"Sepertinya kau sudah tau kalau istrimu itu diculik."
"Jangan banyak bicara, katakan apa mau mu!" Lukas menggertak.
"Aku? Hmmm... Memangnya kalau aku kasih tau, kamu akan menuruti keinginanku?"
Lukas mendengus kesal.
"Sudah, katakan saja!"
"Hahahaha... Tidak sabar sekali sih kamu, tenang bung, santai dulu." Pria itu tertawa seolah mengejek Lukas.
"Aku tidak mau main-main, langsung saja. Katakan, apa maumu?" Lukas benar-benar kesal.
"Jangan sombong anak muda, kamu tak akan bisa menuruti keinginanku!"
"Memangnya apa maumu?"
"Hahaha..." Lagi-lagi pria itu tertawa mengejek Lukas. "Begini saja, aku tak suka jika kita bicara melalui telepon. Bagaimana kalau kita langsung ketemu saja?"
__ADS_1
"Baiklah, dimana?"
"Eits, sabar dulu. Biar aku pikirkan, aku akan menghubungimu lagi nanti, hahahaha..." Panggilan pun terputus.
"Sial...!!!" Lukas membanting ponselnya.
Lukas mencoba menahan amarahnya, ia berusaha bersikap tenang agar bisa berpikir dengan jernih. Sementara ia tak tau harus kemana mencari Tamara, Lukas memilih untuk menepikan mobilnya terlebih dahulu dan menenangkan dirinya.
Di tempat lain, Richard tertawa terbahak-bahak. Sejauh ini ia sudah berhasil menjalankan rencananya. Richard duduk seorang diri di balik kursi kemudi di dalam sebuah mobil.
Sedangkan di kursi belakangnya seseorang tengah meringkuk tak berdaya, ia adalah Jake yang babak belur karena dipukuli oleh Richard. Jake terlihat tak berdaya, tubuhnya lemas, ia belum makan selama beberapa hari.
Kemarin malam, saat Jake melarikan diri dari rumah. Richard mengetahuinya, begitu sampai di rumah Jake langsung dihajar habis-habisan.
Pria pengemudi di mobil belakang turun menghampiri Richard.
"Kerja bagus, idemu untuk menunggu di dekat rumahnya memanglah ide yang cemerlang. Mana kawan kita yang satu lagi? Apa dia belum sampai?" Ucap Richard pada pria itu.
"Dia harus membersihkan satu pengawal yang ikut dengannya tuan," ucap pria itu.
Richard mengangguk-angguk sambil tersenyum.
"Berkat dia, kita jadi tau anak durhaka ini berkhianat pada kita," ucap Richard sambil melirik ke arah Jake di kursi belakang.
__ADS_1
"Benar tuan, lalu akan kita apakan mereka berdua?"
"Aku akan menghukum Jake dan membawanya ke luar negeri, sementara wanita itu. Kalian bawalah dia sejauh mungkin, jangan beri dia apapun termasuk makanan dan minuman. Sekap dia, dan biarkan dia mati perlahan," ucap Richard dengan sinis.
"Baik tuan," pria itu membungkuk lalu kembali ke dalam mobilnya.
"Aku akan menemui suaminya, dan meminta ia mentransfer uang di hadapanku. Setelah itu akan ku hajar dia habis-habisan dan ku biarkan dia bertemu istrinya di alam sana. Hahahaha...." Richard bergumam seorang diri sambil tertawa membayangkan rencana berikutnya. Ia sudah sangat yakin bahwa rencananya akan berjalan dengan mulus.
Tanpa ia sadari, Jake mendengar semua rencananya itu. Jake memejamkan mata agar ia dikira pingsan, namun Jake berusaha untuk tetap tersadar, agar bisa mendengar kelanjutan dari rencana Richard.
Di tempat lainnya, Erik sudah berhasil menemui keberadaan Rima. Beruntung, apa yang ia khawatirkan tidaklah terjadi. Orang yang ia percaya untuk membawa Rima ternyata memang orang baik. Erik sangat berterima kasih padanya.
Kini Rima tengah berbaring di ruang gawat darurat, seorang dokter dan beberapa perawat tengah menangani luka tusuk di perut Rima.
Sambil menunggu Rima, Erik mencoba menghubungi Brian dan Pras. Namun keduanya tak menjawab panggilannya.
"Apa mereka sudah menemukan nona?" Gumam Erik.
Erik sudah mendapat kabar dari Asti bahwa tuan muda Lukas sudah tau bahwa Tamara sedang diculik saat ini, dan Lukas kini pergi sendiri mencari keberadaan Tamara.
"Berarti setelah Rima sadar, aku juga harus membantu Brian dan Pras mencari nona," gumamnya lagi. "Tapi kemana mereka sekarang? Mengapa mereka tak menjawab teleponku?"
Tanpa Erik tau, Pras saat ini sedang berjuang mati-matian melawan Brian yang hendak membunuhnya.
__ADS_1