
Setelah mendapat info dari pak Nuh, Tamara dan Lukas jadi semakin curiga bahwa sebelum pak Nuh dan anak buahnya membereskan barang-barang milik Adrian. Richard sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah itu dan mengambil ponsel milik Adrian.
Dari situlah kemungkinan Richard tau nomor ponsel Tamara.
"Bagaimana ini?" Tamara jadi merasa khawatir.
"Tenanglah, kita tunggu saja apa yang terjadi berikutnya. Untuk sementara ini, para pengawal akan tetap selalu berada di sisimu," ucap Lukas menenangkan Tamara.
Keesokan harinya, hari ini adalah jadwal Tamara berbelanja kebutuhan harian ke supermarket. Namun kali ini, Lukas tak bisa menemaninya karena ada tugas di luar kota.
"Tenang saja, aku bisa berbelanja dengan di temani Rima dan Asti," ucap Tamara saat Lukas merasa tak enak karena tak bisa menemaninya.
"Kamu yakin tidak apa-apa? Apa harus kamu yang berbelanja? Apa tidak bisa Rima dan Asti saja yang berbelanja?"
"Tidak apa, kamu tau kan kalau mereka adalah orang-orang terlatih yang bisa melindungi aku jika sewaktu-waktu om Richard ingin menyakitiku."
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu ya sayang," Lukas mengecup kening Tamara sebelum ia meninggalkan Tamara pergi keluar kota.
Meski agak sedih, Tamara tak ingin memperlihatkan raut wajahnya pada Lukas. Ia ingin Lukas tetap merasa bahwa dirinya akan baik-baik saja dan Lukas tak perlu khawatir.
Menjelang siang, Tamara bersama dua orang pengawal wanitanya yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri, Rima dan Asti. Mereka bertiga berangkat menuju supermarket yang memang tak jauh dari rumah.
Tak lupa Erik, seorang pengawal yang berperan sebagai sopir pribadi juga ikut tentunya.
Tiba di supermarket, Tamara bersama Rima dan Asti langsung masuk ke dalam. Sementara Erik menunggu mereka di parkiran.
Sibuk memilih bahan makanan, Tamara tak menyadari ada seorang pria tengah mengamatinya.
"Kak Rima, tolong kakak ambilkan beberapa potong ayam, daging, dan juga ikan ya untuk stok kita," pinta Tamara.
"Baik nona," Rima dengan sigap mengambil bahan-bahan makanan sesuai dengan instruksi dari Tamara.
Sementara Asti, sibuk mengambil buah-buahan. Itupun atas instruksi Tamara.
Kedua pengawal Tamara sibuk dengan tugas yang ia berikan. Tamara sengaja melakukan itu agar mereka cepat selesai, dan tak perlu berlama-lama berada di supermarket.
Namun sialnya, saat mereka tengah sibuk. Tamara tak menyadari seorang pria berjalan terburu-buru mendekatinya. Pria itu membawa sebuah pisau kecil yang ia simpan di balik saku celananya.
Ketika hampir dekat, pria itu hendak mengeluarkan senjatanya dan seperti hendak menusuk Tamara. Namun dengan sigap, seorang pria muda menarik tangan Tamara dan membawanya menjauhi keramaian.
Tamara terkejut melihat seorang yang memakai pakaian serba hitam, bermasker, dan juga memakai topi hitam tiba-tiba menarik dirinya.
__ADS_1
Hampir memberontak, namun Tamara segera sadar siapa pria yang menarik tangannya barusan.
"Jake?" Mata Tamara melotot melihat Jake yang seolah mau menculiknya.
Tiba di tempat sepi, Jake membuka masker dan topi yang menutupi wajahnya.
"Oke, di sini aman. Kamu tidak kenapa-napa kan?" Tanya Jake dengan khawatir.
"Tentu saja tidak, aku hampir saja kena serangan jantung karena seseorang hendak menculik ku," protes Tamara.
"Maaf, tapi kalau kamu mau tau, aku ini baru saja menyelamatkan nyawamu," ucap Jake. Sesekali Jake melihat ke sekeliling khawatir ada orang yang menemukan mereka.
Mendengar ucapan Jake tentu saja Tamara bingung. Karena ia tak merasa sedang dalam bahaya tadi.
"Dengarkan aku, mungkin kamu tak akan percaya padaku. Tapi ku mohon, aku tak ingin kamu terluka. Ayahku sedang mengincar mu, dia hendak menculik mu dan meminta tebusan kepada suamimu yang kaya itu," Jake berusaha menjelaskan situasinya pada Tamara.
"Apa? Jadi tadi om Richard ada di sana?"
"Benar," Jake mengangguk.
"Lalu kenapa kamu menyelamatkan aku?"
"Aku tak perlu menjelaskan ini padamu, aku mohon dengarkan perkataanku. Suruh para pengawalmu untuk menjemput mu ke tempat ini. Lalu pergilah segera dari sini," pinta Jake.
"Ayolah Tamara, kamu sedang dalam bahaya saat ini."
"Tapi..." Tamara malah menatap Jake dengan curiga.
"Baiklah, kamu hubungi saja pengawalmu dan minta mereka menjemput mu di sini."
Meski masih ragu, tapi Tamara mengikuti instruksi dari Jake. Ia menghubungi Erik dan memintanya datang ke tempat ia berada kini. Sementara Rima dan Asti yang kini tengah kebingungan mencari Tamara, juga mendapat panggilan dari Tamara.
Tamara meminta keduanya melanjutkan kegiatan belanja mereka, setelah selesai barulah mereka akan bertemu di mobil.
Sambil menunggu Erik datang, Jake tetap menunggu di samping Tamara. Sambil sesekali melihat ke arah sekitar khawatir ada seseorang yang melihatnya.
"Sebenarnya ada apa ini? Apa benar om Richard mau melukaiku tadi?" Tanya Tamara penasaran.
"Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa minta cek cctv yang ada di dalam," jawab Jake dengan santai.
"Lalu kenapa kamu menyelamatkan aku?"
__ADS_1
"Karena aku tak mau kamu terluka."
Tamara terdiam, ia tak mengerti sama sekali dengan apa yang ada di dalam pikiran Jake saat ini. Siapa sebenarnya dia? Dan Apa tujuannya mendekati Tamara?
Tak lama, Erik pun datang menghampiri Tamara dan Jake.
"Nona, anda baik-baik saja?" Erik berlari dengan panik ke arah Tamara. Matanya menatap tajam ke arah Jake.
"Tak usah khawatir, dia temanku. Dia baru saja menyelamatkan aku," Tamara mengerti tatapan mata Erik yang menaruh curiga pada Jake.
"Nona, sebenarnya apa yang terjadi?"
Tamara menceritakan apa yang baru saja ia alami, ia juga bercerita bagaimana Jake menyelamatkannya.
"Kalau begitu, sebaiknya kita cek CCTV di dalam nona," usul Erik.
"Apa itu perlu?" Tanya Tamara.
"Tentu saja, kamu kan harus melihat sendiri bagaimana kejadian yang sebenarnya," ucap Jake.
"Benar nona, mari kita ke kantor keamanan supermarket," Erik mengajak Tamara untuk mengikutinya.
Tamara pun menurut, ia berjalan di belakang Erik menuju kantor keamanan supermarket. Namun baru beberapa langkah, Tamara berhenti. Ia menyadari bahwa Jake tak mengikutinya.
"Jake?" Tamara melihat ke sana kemari, namun sosok Jake sudah menghilang entah kemana.
"Ada apa nona?" Erik berbalik karena menyadari Tamara tak mengikutinya.
"Jake hilang," ucap Tamara panik.
"Sudahlah nona, mungkin dia memang sengaja tak ingin ikut karena takut kebohongannya terbongkar," Erik masih merasa curiga pada Jake.
"Tapi..."
"Ayolah nona, kita harus memastikan langsung apa yang sebenarnya terjadi pada nona," Erik memaksa Tamara untuk mengikutinya ke kantor keamanan.
Karena Tamara tak menemukan sosok Jake di sekitarnya, ia pun menurut mengikuti Erik menuju kantor keamanan.
Tiba di kantor keamanan, Erik langsung bertemu dengan kepala keamanan supermarket yang ternyata memang kerabatnya.
Setelah menceritakan maksud kedatangannya, kepala keamanan langsung membawa Erik dan Tamara ke ruang khusus memantau.
__ADS_1
Di sana, mereka diperlihatkan rekaman yang terjadi di dalam supermarket. Dan betapa terkejutnya Tamara, karena apa yang dikatakan oleh Jake memang benar adanya.