Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Pesta Kelulusan


__ADS_3

Hari ini adalah waktuku melaksanakan ujian akhir, bagiku ujian akhir kampus lebih mudah dari pada melakukan ujian hidupku selama ini. Untuk hari fokus dan fokus mengerjakan ujian mengikuti kata kedua kakakku dan ibuku sebelum aku mati, ya walaupun aku nanti mati dan bertemu keluargaku, aku akan meminta maaf kepada ayah karena aku belum bisa mengabulkan permintaan wasiat ayah untuk mencari pasangan hidup. Ya sedikit bersalah sih tapi ya bagaimana lagi, kalau aku bisa hiduppun itu hanya kemungkinan kecilnya.


"Pak sudah selesai." gumamku menyerahkan ujianku kepada pengawas sebelum yang lain selesai.


"Bagus, kamu sama seperti sebelumnya sangat cepat menjawab ujian." puji pengawas ujian dengan bangga.


"Terimakasih pak. Saya permisi dulu." gumamku pelan.


"Tunggu, ada titipan dari dosen San untukmu." gumam pengawas itu memberikanku surat lagi.


"Kata dosen San, berikan kepada Putri dan dia minta maaf ada suatu hal jadi gak bisa masuk hari ini." gumam pengawasku pelan.


"Baik, terimakasih pak." gumamku berjalan ke atas gedung dan membaca surat dari ketua organisasi mafia itu.


"Putri, sasaran sepertinya bukan hanya ditargetkan untukmu saja tapi untuk beberapa orang. Jadi kamu harus berhati-hati. Pesta itu di adakan malam setelah kamu ujian akhir, jadi kalau bisa sebelum pesta dimulai kamu datang tepat waktu pukul 9 malam. San.." gumamku membaca surat itu.


"Sembilan malam ya?" gumamku pelan, aku menatap matahari di ufuk barat. Tidak aku menyangka aku mengerjakan ujian dengan lama hari ini.


"Hei Putri ngapain kamu disini?" teriak Leni dan Bela berjalan kearahku.


"Tidak ada, hanya ingin saja." gumamku pelan.


"Apa tadi susah Putri?"


"Ya lumayan lah.. Oh ya nanti acarannya jam berapa?"


"Jam 6 malem sih, tapi penghargaannya jam 8 malem." jawab Leni senang.


"Oh begitu ya..." desahku pelan.


"Aku bakal kangen kamu Putri. Baik-baik ya Putri!!" gumam Leni dan Bela memelukku erat.


"Eee... Hmmm, ya kalian juga. Semoga kalian sukses."


"Ya Putri, jangan sampai terluka loh Putri. Baiklah sampai ketemu nanti ya Putri!!" ucap Leni dan Bela memelukku lagi dan berjalan pergi.


"Yaaahh... Semoga saja aku bisa bertemu kalian lagi." gumamku tersenyum sedih dan kembali menatap matahari terbit didepanku.


"Apa yang kamu pikirkan Putri?" gumam Han tiba-tiba disebelahku.


"Tidak ada. Hanya menikmati senja sebelum aku mati."


"Mati? Kamu ngomong apa sih Putri!" gerutu Han mencubit pipiku.


"Ya mana tahu, aku nanti akan mati. Kan kak Han sudah di jelasin kedua kakakku kan..."


"Apa kedua kakakmu memberitahukanmu?"


"Tidak, tapi hanya menebak saja. Kalau aku nanti terluka, kak Han langsung pergi saja ya jangan membantuku."


"Tapi Putri!"


"Ini perintah ketuamu kak!" protesku menatap Han dingin.


"Lakukan sesuai rencana kedua kakakku saja. Aku punya rencanaku sendiri." gumamku pelan.

__ADS_1


"Jangan lakukan hal bodoh Putri!"


"Tidak kok kak, mungkin dengan ini aku bisa mengetahui siapa dalang di balik semuanya." gumamku menggerakkan kakiku.


"Kalau aku tidak berkorban, aku tidak tahu siapa dalangnya. Kalaupun aku mati masih ada adik kembaranku yang bisa jaga kedua kakakku."


"Menjaga ya? Tidak Putri. Yang membunuh ayahmu itu Cahya sendiri." ucap Han menatapku serius.


"Tunggu!Apa!!" teriakku terkejut.


"Bu.. Bukannya ayah sakit ya?"


"Ya tuan Lee sakit, tapi dia sakit karena racun yang sama seperti racun milikmu dari Satria itu. Memang benar racunmu tidak berguna kalau dari luar tapi sangat efektif membunuh kalau terkena bagian organ dalam. Itulah kenapa kedua kakakmu sangat membenci Cahya dan tidak merahasiakan tentang kembaranmu bahkan ibumu tidak menceritakan tentang Cahya kepadamu." jelas Han serius.


"Kenapa dia melakukan itu?"


"Tidak tahu. Saat ini kita belum tahu apa alasannya. Itulah kenapa kedua kakakmu menyuruhmu menjauhi Khan dan mafia asia lainnya." desah Han serius.


"Oh alasannya itu ya... Mmm ya aku mengerti kakak.." gumamku tersenyum.


"Ya udah aku mau ganti pakaian untuk pesta nanti." gumam Han berjalan meninggalkanku.


"Cahya membunuh ayah dengan racun ya? Heeeh kita lihat nanti adik kembaranku, rasakan penderitaan seperti kamu memberikan penderitaan ayah di waktu dulu." gumamku dingin.


Mendengarkan penjelasan kak Han, aku jadi mengerti kenapa kedua kakakku bisa snagat dendam dengan adik kembaranku itu. Kalau Cahya saja membunuh ayahku secara tidak langsung berarti ketua mafia asia itulah yang benar-benar membunuh keluargaku, aku harus menyelidikinya.


"Baiklah pedang. Kita tunjukkan siapa kita..." gumamku mengusap pedangku dengan lembut.


"Aku sepertinya harus siap-siap juga" gumamku memasukkan pedangku dan berjalan menuju lokerku.


Saat aku membuka loker, aku melihat sebuah fotoku bersama dengan Awan dan di atasnya ada sebuah gelang.


"Ini seperti gelangku yang hilang itu?" gumamku menatap gelang itu sungguh-sungguh.


"Ohhh mmm benar, ini gelangku." gumamku kembali memakainya. Aku mengambil foto masa kecilku dengan Awan Viu itu.


"Seingatku aku tidak menyimpannya. Tapi kenapa bisa ada di lokerku?" gumamku melihat sekelilingku yang tidak ada orang sama sekali.


"Ohh ya sudahlah.." desahku merapikan lokerku. Karena aku sudah lulus jadi aku tidak membutuhkan loker sama sekali.


"Samuel!" teriakku kencang dan datanglah bawahanku.


"Iya nona muda."


"Tolong bawa ke rumah ya dan bilang ke kedua kakakku kalau aku tidak bisa pulang." gumamku pelan.


"Baik nona muda." gumam Samuel pergi sambil membawa barang-barangku.


Aku segera berganti pakaianku dan berdandan di toilet universitas. Pestanya ada di dalam kampus jadi karena jarak rumah jauh maka aku malas untuk kembali pulang.


Setelah berganti pakaian dan berdandan, aku berjalan menuju ke pesta, di luar jendela aku melihat banyak orang-orang yang menghadiri pesta yang meriah itu. Aku menyembunyikan pedangku di sela gaun dan kembali berjalan.


"Heei Putri!!!" teriak Leni dan Bela merangkulku dari belakang.


"Eehh kalian? Kalian tidak pulang?" tanyaku terkejut.

__ADS_1


"Tidak, karena waktunya mepet jadi kami berganti di kampus." gumam Bela tersenyum senang.


"Oh begitu ya."


"Ya udah ayo kita ke pesta." ucap Leni menarik tanganku menuruni tangga.


Di pesta kelulusan ini banyak orang-orang dari jurusan lain yang menikmati pesta ini. Walaupun aku tidak suka dengan keramaian, tapi aku berusaha untuk menikmatinya.


Di pesta aku melihat San yang sedang berdiri dengan pakaian rapi di pojok taman. Aku berjalan menghampirinya.


"Kau ngapain disini? Katanya punya urusan?" gumamku dingin.


"Urusanku sudah selesai, cuma tinggal eksekusi saja. Lalukan apa yang ingin kau lakukan Putri, nanti kamh akan memiliki jawaban yang sebenarnya."gumam San memberikanku sebuah topeng wajah warna hitam.


"Pakailah saat pesta nanti, jangan sampai orang lain tahu dirimu ada disana." gumam San pelan dan menghilang dengan cepat.


"Putri... Apa yang kau lakukan disini?" tanya Leni mengagetkanku.


"Eee.... Mmm tidak ada kok." gumamku menyembunyikan topeng ditanganku.


"Ayo udah waktunya pengumuman..."


"Ohh baiklah." desahku berjalan ke kerumunan beberapa orang ditengah pesta."


"Baiklah. Hari ini waktunya pengumuman juara pertama di seluruh jurusan. Juara pertama jatuh kepada..." teriak pembawa acara di depan kami.


"PUTRI CLAUDIA!!" teriak pembawa acara itu keras.


"Heeh? Aku?" gumamku terkejut.


"Udah sana naik ke atas panggung!!" teriak Leni dan Bela mendorongku.


Aku berjalan ke atas panggung dan menerima hadiah beserta piala yang diberikan oleh kepala universitas.


"Selamat ya... Tetap semangat!" ucap kepala universitas tersenyum kepadaku.


"Ee.. Mmm terimakasih pak." gumamku berjalan turun dan banyak mata memandangiku dengan bangga.


"Selamat ya Putri!!" gumam Leni dan Bela senang.


"Mm ya terimakasih... Eehh dimana Caca sama Cici." gumamku menatap sekelilingku.


"Iya nona muda." gumam Caca dan Cici di belakangku.


"Selamat nona muda.." ucap Caca dan Cici membungkukkan badannya.


"Bawakan ini ya... Terimakasih atas pujiannya." gumamku tersenyum.


"Ayo Putri kita makan." ucap Leni dan Bela berjalan mendahuluiku.


Aku menatap angka di jamku yang berada di angka 8 kurang. Aku menatap Caca dan Cici serius.


"Lakukan apa yang diperintahkan kedua kakakku ya.." bisikku pelan.


"Baik nona muda."

__ADS_1


"Baiklah..." desahku menggunakan topengku dan segera pergi dari pesta itu.


Aku tidak tahu akan ada kejadian apa nantinya, tapi yang jelas aku ingin memberikan pelajaran kepada adik kembarku sebelum aku benar-benar mati nantinya. Dan ya itu yang akan aku lakukan sesuai dengan rencana yang sudah aku rencanakan sendiri.


__ADS_2