Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 54


__ADS_3

Saat Lukas dan Tamara sedang terhanyut dalam mimpi mereka masing-masing. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.


Tok... Tok... Tok...


"Lukas! Ini mamah sayang," terdengar suara Vanesa dari luar kamar Lukas.


Lukas setengah sadar, bangun dari tidurnya. Ia menyeret kakinya berjalan menuju pintu kamar.


"Mamah?" Sapa Lukas dengan wajah bantalnya saat melihat kehadiran mamahnya setelah membukakan pintu.


"Sayang... Kamu baik-baik saja kan? Mamah kangen..." Vanesa memeluk Lukas yang masih setengah sadar dengan erat.


"Aku baik saja, mamah juga baik-baik saja kan?"


"Iya sayang, mana istrimu?"


Lukas menoleh ke arah tempat tidur.


"Tuh, sedang tidur."


"Oh, kalian sedang tidur ya? Aduh maaf mamah mengganggu. Ya sudah, lanjutkan lagi saja tidurnya. Mamah hanya ingin melihat wajahmu, mamah kangen sekali."


"Mmm..." Lukas hanya mengangguk-angguk.


"Ayo tidur lagi sana, nanti kalau istrimu sudah bangun baru kalian temui mamah dan papah ya," ucap Vanesa sambil berlalu pergi meninggalkan Lukas.


"Hhh..." Lukas mendesah, ia kembali menutup pintu dan berjalan menuju tempat tidurnya. Lukas berbaring di samping Tamara, dan kembali menarik tubuh Tamara ke dalam dekapannya.


"Lukas..." Terdengar suara Tamara memanggilnya.


Lukas melihat wajah Tamara yang ia tenggelamkan di dadanya.


"Kau sudah bangun?" Tanya Lukas dengan suara yang berat.


Tamara mengangguk.


"Kenapa sudah bangun? Aku masih mengantuk. Ayo tidur lagi," Lukas mengelus-elus punggung Tamara agar Tamara kembali tertidur.


Tamara diam saja, ia sudah tak lagi mengantuk, tapi ia juga membiarkan Lukas memeluk dirinya.


Selama beberapa saat, Tamara hanya menikmati dirinya yang dijadikan guling oleh Lukas. Setelah dirasa Lukas tertidur dengan lelap, Tamara baru berani melepaskan tangan Lukas yang memeluknya.


Tamara menatap Lukas yang tertidur pulas, entah mengapa rasa sedih yang tadi ia rasakan sebelum tidur, kini sudah tak lagi ia rasakan.


Tamara menyentuh bibir Lukas dan berniat ingin menciumnya, namun belum sempat ia menyatukan bibirnya dengan bibir Lukas, Lukas sudah membuka matanya.


Kini mereka berdua saling bertatapan. Cukup lama, Lukas dan Tamara bertatapan dalam diam.


"Kau mau mencium ku?" Tanya Lukas.


Tamara mengangguk.


"Bukannya tadi pagi sudah? Masih kurang?"

__ADS_1


Tamara kembali mengangguk.


Lukas tak bertanya lagi, ia kembali memejamkan matanya. Seakan pasrah jika memang Tamara ingin mencium bibirnya berapa kali pun.


Tamara yang heran mengira Lukas hanya sedang mengigau. Ia pun memilih untuk bangun dan berjalan ke kamar mandi.


"Sebaiknya aku mandi saja, dari pada berbagai macam pikiran kotor terus bermunculan," batin Tamara.


Setelah Tamara pergi, Lukas membuka matanya. Ia tak menemukan keberadaan Tamara di sisinya. Entah bagaimana, Lukas merasa kecewa.


"Seharusnya aku tak usah bertanya dan langsung saja menciumnya," gumam Lukas.


Lukas kembali teringat dengan malam-malam panasnya bersama Tamara. Ingin rasanya mengulang kembali saat-saat itu, tapi Lukas malu mengatakannya.


"Ternyata benar apa yang orang-orang katakan, jia sudah pernah merasakannya pasti akan ketagihan," gumam Lukas.


Lukas melihat ke arah kamar mandi, ada hasrat yang memintanya untuk masuk saja ke dalam. Namun Lukas menahannya.


"Arghhh... Sampai kapan aku harus menahan semua ini?" Lukas mengacak-acak rambutnya.


"Kenapa juga aku harus menahannya? Aku ini kan suaminya? Aku berhak mendapatkannya kan?"


"Tapi... Aku sudah berjanji padanya tidak akan menyentuhnya," Seolah ada perang batin yang kini tengah Lukas rasakan.


Saat dirinya tengah sibuk memikirkan apa yang harus ia lakukan, Tamara sudah keluar dari kamar mandi. Dan hanya menggunakan handuk yang dililit ke tubuhnya.


"Sial..." Gumam Lukas.


Tamara juga terkejut melihat Lukas yang ternyata sudah bangun dan kini tengah duduk di tepi tempat tidur sambil menatapnya dengan tatapan yang tak bisa ia artikan.


"Lukas, bolehkan aku meminjam bajumu?"


"Kenapa?" Lukas malah balik bertanya.


"Aku kan tidak bawa baju ganti," jawab Tamara sambil menundukkan wajahnya.


"Tidak usah pakai baju saja," Lukas asal bicara. Ia masih menatap Tamara dengan tatapan yang sulit diartikan. Mungkinkah ia memang sedang menahan nafsunya saat ini?


"Apa?" Tamara yang tak percaya dengan ucapan Lukas mencoba menatap Lukas dan memastikan apa yang baru saja ia dengar adalah salah.


"Tamara, maukah kau membantuku?"


"Membantu apa?" Tamara semakin heran.


"Kemarilah," pinta Lukas.


Tamara pun berjalan semakin mendekat.


"Duduklah," Lukas menepuk-nepuk tempat tidur agar Tamara duduk di sampingnya.


Tamara menurut, ia pun duduk di samping Lukas masih dengan ekspresi yang kebingungan.


"Apa kau mau membantuku?"

__ADS_1


"Membantu apa?"


Lukas hanya terdiam sambil menatap Tamara, ia ragu untuk mengatakannya. Lukas menatap ke arah dada dan semakin ke bawah.


"Apa? Kamu mau ya?"


BINGO, Tamara menebak dengan tepat apa yang dimau oleh Lukas saat ini.


"Bolehkah?" Lukas bertanya dengan wajah memelas.


Tamara sebenarnya ingin tertawa melihat ekspresi Lukas saat ini, ia tak menyangka Lukas ternyata juga seorang pria yang pasti akan luluh juga jika sering melihat tubuh Tamara yang terbuka.


"Ehem... Kamu kan sudah janji tak mau menyentuhku, kamu saja belum yakin dengan perasaanmu, mana bisa aku mempercayakan tubuhku yang berharga ini padamu?"


Lukas menggenggam tangan Tamara dengan kedua tangannya.


"Tamara, aku mohon. Aku berjanji tak akan pernah melakukannya dengan wanita lain," Lukas sepertinya sudah kehilangan akal sehatnya hingga ia memohon untuk sesuatu yang saat ini sedang sangat ia inginkan.


Rasanya kepalanya mau pecah jika sampai Tamara tak mengabulkan keinginannya.


"Kalau aku sudah memberikan tubuhku, lalu apa yang akan kamu berikan padaku?"


"Seluruh hartaku, akan menjadi milikmu," jawab Lukas cepat.


Tamara menggeser posisi duduknya hingga ia berjarak semakin dekat dengan Lukas. Tamara tau, itu memang sudah menjadi hak Lukas terlepas dari bagaimana perasaan Lukas padanya.


Tamara berharap, setelah ia menyerahkan tubuhnya, Lukas bisa membuka hatinya lebar-lebar untuknya.


"Tapi... Maukah kau berjanji padaku?"


"Apa?"


"Setelah aku menyerahkan tubuhku, itu artinya aku sudah menjadi istrimu sepenuhnya. Aku mau kita tidak lagi tidur terpisah," pinta Tamara.


"Kalau begitu bisa bahaya," ucap Lukas.


"Bahaya kenapa?" Tamara tak mengerti.


"Bagaimana jika aku menginginkannya lagi karena terus tidur sekamar denganmu?"


Tamara mengernyitkan dahinya.


"Ya kalau kamu mau lagi kan kita tinggal melakukannya lagi," jawab Tamara santai.


"Jadi... Aku boleh melakukannya?" Lukas meraih dagu Tamara.


"Janji dulu, kita tidak akan tidur terpisah lagi!"


Lukas mengangguk dengan cepat. Sepertinya hasratnya memang sudah di ubun-ubun, hingga ia tak bisa berpikir secara jernih saat ini.


"Biarlah, mungkin nanti aku akan menyesali keputusanku. Yang jelas aku harus menyelesaikan urusanku dulu untuk saat ini. Yang terjadi nanti biarlah ku pikirkan nanti," batin Lukas.


Setelah diberi lampu hijau oleh Tamara, Lukas tanpa ragu-ragu lagi mulai menyerang Tamara.

__ADS_1


Tamara pun hanya pasrah, bagaimana pun ini memang sudah kewajibannya menyerahkan tubuhnya yang berharga ini pada suami yang sangat ia cintai ini.


__ADS_2