
Lukas terdiam di ruang kerja Dominic, matanya terpejam. Ia bukan tertidur, ia hanya memikirkan bagaimana keadaan Tamara saat ini.
Berbagai macam perasaan bercampur aduk menjadi satu. Marah, kesal, benci, sedih, kecewa, semua tercampur menjadi satu. Yang paling ia sesali adalah mengapa dirinya tak tau Tamara keluar rumah pagi itu? Tidak, bukan itu. Mengapa ia sampai tidak tau ada seorang pengkhianat di tim nya?
"Tapi siapa?" Lukas masih menebak-nebak siapakah orang yang menjadi mata-mata di tim keamanannya.
Sejak Lukas tiba di kediaman Dominic, hanya Erik satu-satunya orang yang selalu melaporkan situasi di tempatnya saat ini. Hingga akhirnya Lukas mengetahui bahwa Rima, salah satu pengawal yang mengantar Tamara ke pasar itu kini terluka parah.
"Ku rasa bukan salah satu dari dua wanita, yang satu diam di rumah dan menungguku bangun lalu dia yang memberi kabar tentang penculikan. Yang satu lagi kini terbaring di rumah sakit. Berarti antara Pras dan Brian," Lukas masih menerka-nerka orang yang kira-kira siapa mata-matanya.
Saat Lukas masih sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba Dominic masuk.
"Bagaimana? Ada kabar dari para pengawalmu?" Tanya Dominic seraya menghampiri Lukas.
"Hanya Erik yang sejak tadi memberiku kabar, dia bilang akan membantu Brian dan Pras mencari Tamara," jawab Lukas.
"Kau masih belum menemukan kira-kira siapa orang yang mungkin menjadi mata-mata diantara pengawalmu?"
Lukas menggelengkan kepalanya.
"Kau sudah bertanya pada Erik?"
"Belum Kek," jawab Lukas.
"Tanyakan padanya, mungkin diantara mereka ada seseorang yang mencurigakan," Dominic memberi saran.
"Oh iya, sebaiknya masalah ini kita sembunyikan dulu dari kedua orang tuamu. Mereka sedang mengurus proyek di luar negeri," setelah berkata begitu Dominic kembali ke luar ruangan.
Saat ini Dominic pun sebenarnya tengah panik, ia benar-benar tak menyangka anak kedua Adrian bisa jadi sejahat itu.
"Kalau dia anakku, sudah ku jebloskan ke dalam penjara. Apa kau setuju denganku Adrian?" Gumam Dominic sambil berjalan keluar rumah. Ia berencana melapor ke polisi.
Dominic yakin, Lukas tak akan berani melapor karena ia pasti khawatir Tamara akan berada dalam bahaya. Namun ia tidak bisa diam saja. Dominic ingin meminta bantuan polisi untuk mencari kediaman Richard.
"Aku harus menemukan sesuatu," batin Dominic.
__ADS_1
Tak lama, Dominic sudah berada di dalam mobilnya. Pak Nuh sopirnya pun sudah siap mengantar majikannya menuju kantor polisi. Tak lupa ia sudah menitipkan pesan pada Olivia untuk menghandle pekerjaan Lukas sementara waktu.
Dominic berharap, masalah ini akan cepat selesai. Hingga Lukas bisa kembali bekerja seperti biasa.
Kembali ke Lukas, ia baru saja selesai menghubungi Erik. Erik sendiri tak yakin jika mungkin ada mata-mata di antara para pengawal.
"Tapi tuan, tadi pagi saya ingat Brian berkata bahwa ia tau harus mencari nona kemana," itu berita terakhir yang Erik sampaikan padanya.
"Apa mungkin Brian?" Gumam Lukas. Sampai saat ini pun belum ada kabar dari Brian ataupun Pras.
"Jika benar Brian adalah mata-mata lalu kemana ia membawa Pras pergi?" Batin Lukas.
"Tidak bisa begini, aku harus bertemu dengan Erik." Lukas beranjak bangun dari tempat duduknya. Ia berjalan cepat keluar dari ruang kerja Dominic.
Sejatinya Lukas sendiri belum tau persis kronologi kejadian penculikan Tamara. Ia hanya mendengar dari Asti bahwa Tamara di culik dan bergegas pergi dari rumah. Ia sendiri tak punya petunjuk tentang keberadaan Tamara, dan bagaimana Tamara bisa diculik?
Lukas kini sudah berada di dalam mobilnya, ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Di perjalanan, Lukas menghubungi Erik. Memintanya untuk menunggu di rumah sakit saja, karena ia akan menemuinya di sana.
Erik pun setuju, dan ia mengurungkan niatnya untuk pergi meninggalkan Rima yang sudah selesai ditangani. Kini Rima sudah berada di ruang perawatan, beruntung Lukanya tidak terlalu dalam. Hingga tidak perlu dilakukan operasi pada lukanya. Luka di perut Rima hanya perlu dijahit.
Erik menatap rekan kerjanya yang tengah tertidur lelap.
"Kasian sekali kau sampai kehilangan banyak darah, jika aku telat satu menit saja kamu mungkin akan mati karena kehabisan darah," ucap Erik sambil menatap Rima.
Erik tau, Rima pasti sangat panik tadi. Ia mengabaikan luka di perutnya dan memilih untuk terus mencari Tamara. Jika saja Rima tak bertemu dengan Erik tadi, ia pasti akan terus berjalan mencari keberadaan Tamara. Sementara saat itu, Tamara pasti sudah dibawa pergi oleh orang yang menculiknya.
"Maafkan aku Rima," Erik menggenggam tangan rekan kerjanya itu.
Tak butuh waktu lama untuk Lukas sampai di rumah sakit tempat Rima di rawat. Ia juga sudah berhasil menemukan ruangan dimana Rima berada.
"Tuan muda," Erik segera berdiri dan membungkuk memberi hormat melihat kehadiran Lukas di sana.
"Bagaimana kondisinya?" Tanya Lukas sambil melihat ke arah tempat tidur dimana Rima berbaring saat ini.
"Lukanya sudah ditangani, hanya tinggal melakukan transfusi darah. Ia kehilangan banyak darah tadi," jawab Erik.
__ADS_1
Lukas mengangguk paham.
"Apa tuan muda baik-baik saja?" Kini Erik yang bertanya pada Lukas. "Maafkan saya tuan muda, saya tak becus mengejar mereka tadi pagi. Butuh waktu lama untuk saya untuk menyusul nona dan Rima."
Lukas tak menjawab, ia hanya menundukkan wajahnya.
"Erik, apa menurutmu tidak ada yang aneh?"
"Aneh bagaimana tuan muda?" Erik balik bertanya.
"Bagaimana bisa mereka tau jika Tamara pergi keluar rumah pagi ini?"
"Bukankah tadi tuan bilang, jika mungkin salah satu pengawal adalah mata-mata?"
"Apa ada yang tau kemana mereka pergi pagi tadi?"
"Saya rasa hanya Rima yang tau tuan. Seandainya saya tau kemana tujuan mereka pagi tadi, mungkin saya tidak akan kehilangan jejak. Pagi tadi Asti, Pras dan Brian ada di dalam rumah. Saya tidak tau pasti apa mereka tau kemana nona dan Rima akan pergi."
"Ku rasa, ada yang mengintai di sekitar rumah kita," ucap Lukas memotong ucapan Erik.
Erik terdiam.
"Bagaimana bisa tuan?" Erik bertanya sambil berfikir apa mungkin ada yang mencurigakan di sekitar tempat tinggal mereka?
"Siapa yang bertugas sebagai satpam di rumah?" Tanya Lukas.
"Brian, tuan." Jawab Erik segera.
"Mungkin saja dia mata-matanya. Dia tau bahwa ada yang mengintai di sekitar rumah, namun ia sengaja tak mengatakannya. Kau masih belum bisa menghubungi Brian dan Pras?" Tanya Lukas.
"Belum tuan," jawab Erik.
Sesaat kemudian ponsel Lukas berdering.
"Itu dari Pras," ucap Erik sambil menunjuk layar ponsel Lukas.
__ADS_1