
Di tempat lain, Dominic yang sedang duduk santai sambil menikmati suasana sore di rumahnya bersama dengan Adrian, baru saja mendapat sebuah pesan dari orang suruhannya di vila.
"Adrian, lihatlah..." Dominic memperlihatkan pada Adrian foto yang baru saja dikirim oleh orang suruhannya.
"Kelihatannya mereka sangat bahagia saat ini. Syukurlah," ucap Adrian setelah melihat foto Tamara dan Lukas yang tengah asik bermain di pantai berdua.
"Kau benar, sebentar lagi mungkin kita akan bisa menimang cicit dari mereka berdua," Dominic sudah membayangkan ada seorang bayi mungil di tengah keluarganya.
"Semoga saja, aku juga sudah tidak sabar," Adrian dan Dominic sama-sama mengharapkan hadirnya seorang bayi mungil yang lahir dari rahim Tamara.
Kembali ke vila.
Tamara yang kelelahan bermain air bersama Lukas di tepi pantai, terduduk sambil menatap kejauhan. Ada beberapa kapal yang melintasi pulau tempat mereka berada.
Lukas juga duduk tak jauh dari Tamara, ia juga sama lelahnya dengan Tamara. Tak ada kata yang keluar dari mulut Lukas.
Tak lama Tamara pun beranjak dari tepi pantai, dan hendak masuk kembali ke dalam vila.
"Mau kemana?" Tanya Lukas yang melihat kepergian Tamara.
"Ganti baju!" Jawab Tamara tanpa menoleh ke arah Lukas.
Lukas pun ikut bangkit dan berjalan di belakang Tamara. Ia tak mengira ternyata menyenangkan juga bermain air bersama dengan Tamara.
Kali ini Lukas membiarkan Tamara menggunakan kamar mandi terlebih dahulu, sementara dirinya pergi ke dapur dan minta di buatkan dua cangkir teh hangat kepada pelayan.
Setelah itu Lukas kembali ke kamar, ia sudah membuka seluruh pakaiannya dan kini hanya menggunakan handuk sebagai penutup bagian bawah tubuhnya. Lukas yang merasa tubuhnya sudah sangat lengket, namun Tamara tak kunjung keluar dari dalam kamar mandi.
Lukas mengetuk pintu kamar mandi.
"Hei... Cepatlah, aku juga mau mandi!" Teriak Lukas. Namun tak terdengar jawaban dari dalam kamar mandi, hanya terdengar suara gemericik air dari keran kamar mandi.
"Tamara!" Lukas memanggil dari luar kamar mandi.
Masih tak ada respon dari dalam. Lukas sekali lagi mengetuk pintu dengan lebih keras. Namun sia-sia, Lukas masih tak mendapat respon apa pun dari dalam.
Karena panik, Lukas mencoba membuka pintu kamar mandi dan ternyata tidak di kunci.
"Tamara?" Perlahan Lukas masuk ke dalam kamar mandi, dan melihat Tamara yang berendam di bathub sambil memejamkan mata.
__ADS_1
"Tamara!" Lukas bergegas mendekat dan mencoba mengangkat tubuh Tamara, Lukas mengira Tamara tengah pingsan saat ini. Namun betapa terkejutnya Lukas saat Tamara yang tiba-tiba membuka mata dan berteriak.
"Aaa..."
Lukas segera membekap mulut Tamara, ia tak mau para pelayan di vila mendengar jeritan Tamara dan berpikir yang tidak-tidak.
Namun bukannya diam, Tamara malah memukul Lukas dengan sangat keras.
"Aw..." Lukas tak terima dipukul oleh Tamara, dia melotot pada Tamara. Dan satu hal yang baru Lukas sadari adalah Tamara tak memakai sehelai benang pun di tubuhnya. Tentu saja itu membuat Tamara marah dan berteriak hingga memukulnya.
"Dasar mesum! Mau apa kau masuk-masuk ke sini?"
"Sssttt... Jangan berisik, baik aku akan keluar. Tapi kau diam dulu!"
Tamara tak menyangka ternyata Lukas orang yang seperti itu, ia hanya bisa menutup tubuhnya dengan kedua tangannya. Rasanya sangat malu sekali, ia tak tau mengapa Lukas tiba-tiba ada di dalam kamar mandi.
Lukas sudah keluar kamar mandi, jantungnya berdebar kencang bukan karena teriakan atau pukulan dari Tamara. Tapi karena ini kedua kalinya Lukas melihat Tamara yang tak menggunakan pakaian, dan bahkan lebih polos lagi kali ini.
Lukas memegang dadanya, dan merasakan jantungnya berdetak dengan kencang. Sejatinya, baru kali ini melihat secara langsung wanita yang tak memakai apapun di hadapan matanya.
"Sial, kenapa mataku yang suci ini harus terkontaminasi gara-gara gadis itu?"
Meski begitu, bayangan Tamara dengan tubuh polosnya terus melintas di kepala Lukas.
"Apa yang kau lakukan barusan?" Suara Tamara tiba-tiba terdengar dari balik tubuh Lukas yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
Wajah Tamara memerah karena marah. Lebih tepatnya karena malu, sebab Lukas sudah melihat seluruh tubuh Tamara.
"Maaf Tamara, aku tak bermaksud masuk ke dalam. Aku sudah memanggilmu berkali-kali bahkan aku sudah menggedor-gedor pintu namun kau tak juga merespon. Lalu saat ku buka pintu kamar mandi, itu terbuka begitu saja. Salah kau tidak menguncinya!"
Tamara menahan amarahnya.
"Lalu kenapa kau menyentuhku? Kau berjanji tak akan menyentuhku, tapi kau..."
"Hei, itu karena ku pikir kau pingsan!" Lukas tak mau disalahkan atas kejadian ini.
"Aku tidak pingsan, aku hanya tertidur," ucap Tamara malu-malu.
"Apa? Bisa-bisanya kau tertidur di bathub. Kau seharusnya bersyukur sudah ku bangunkan. Asal kau tau, banyak orang yang meninggal karena tertidur di bathub. Tanpa sadar mereka tenggelam," Lukas mengarang cerita.
__ADS_1
Tamara diam saja, ia memikirkan kata-kata Lukas.
"Tapi kan..."
"Tapi apa? Kau harusnya bersyukur aku mengkhawatirkan dirimu dan membangunkanmu. Jika tidak mungkin saja kau sudah mati karena tenggelam."
"Tapi... Kau kan jadi melihat tubuhku!" Tamara menutup bagian atas tubuhnya yang terbuka karena ia hanya melilitkan handuk dari ketiak hingga bagian paha.
"Hah... Kenapa? Kau tak terima, salah sendiri kau tak dengar panggilanku!"
Tamara melihat tubuh bagian atas milik Lukas yang terbuka lebar, lalu turun ke bagian bawah yang hanya dililit oleh handuk.
"Apa yang kau lihat?"
"Tak adil, kau sudah melihat tubuhku tapi aku belum..."
"Hei, sebenarnya yang mesum itu kau. Jangan harap kau bisa melihat senjataku!" Lukas bergegas masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu.
"Mau apa dia? Apa dia mau menarik handuk ini biar bisa melihat seluruh tubuhku?" Gerutu Lukas di dalam kamar mandi.
Sementara itu Tamara masih merasa malu akan kejadian tadi. Ia memang sangat menikmati berendam di dalam bathub hingga tak terasa ia tertidur pulas bahkan tak mendengar suara apapun.
Ini adalah kelemahan Tamara, dia memang kalau sudah tidur akan sulit dibangunkan.
"Haaaah... Aku sudah tak suci lagi," Tamara merengek di depan pintu kamar mandi.
Lukas yang mendengar itu dari dalam tentu saja merasa tak terima.
"Hei, aku hanya melihat tapi tak menyentuhnya!" Lukas membuka pintu karena kesal mendengar rengekan dari Tamara seolah Lukas sudah memperkosanya.
"Awas ya kau, akan ku adukan pada kakek bahwa kau sudah memperkosaku!" Ancam Tamara.
"Kenapa tak sekalian saja kau katakan pada seluruh dunia? Biar semua orang menertawai mu!"
"Kenapa mereka menertawai ku?"
"Dasar bodoh, aku ini kan suami mu. Tentu saja bukan hal aneh jika aku melihat seluruh tubuhmu itu. Bahkan sekarang aku pun berhak meminta jatah padamu, dan kau tak boleh menolak!" Lukas berjalan mendekati Tamara.
"Apa? Kau mau apa? Kau berjanji tak akan menyentuhku!" Tamara melangkahkan kakinya mundur ke belakang.
__ADS_1
"Lagi pula aku tak tertarik!" Lukas kembali ke dalam kamar mandi. Dan Tamara merasa lega karena ternyata Lukas hanya menggertak saja.