
Beberapa saat setelah Tamara pergi, Lukas pun terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam yang menempel di dinding kamar.
"Sudah jam sebelas siang? Hoaaahhhmmm..." Lukas meregangkan tubuhnya dan ingin kembali tidur.
Namun seketika Lukas merasakan ada yang aneh.
"Kenapa rumah ini terasa sepi sekali ya? Apa gadis itu sedang tidur?" Gumam Lukas.
Ia pun beranjak bangun dari tidurnya. Lukas berjalan keluar kamar dan melihat suasana rumah yang sepi.
"Tamara?" Lukas mencoba memanggil Tamara, namun tak ada sahutan dari Tamara.
Lukas pun melihat pintu kamar Tamara yang terbuka lebar, Lukas melihat ke dalam dan Tamara tak ada di sana.
Lukas berjalan ke ruang makan dan juga dapur, bahkan ke kamar mandi hingga halaman belakang. Lukas masih tak menemukan sosok Tamara.
"Kemana dia?" Lukas kembali berjalan ke ruang makan. Ia menemukan menu sarapan dan makan siangnya sudah siap tertutup oleh tudung saji.
Lukas lalu membukanya dan melihat catatan dari Tamara di sana.
Ini sarapan dan makan siang mu, aku pergi ke rumah kakek dulu.
"Ternyata dia tidak ada di rumah, kenapa dia tak membangunkan aku? Aku kan bisa mengantarnya..." Belum selesai Lukas bicara., tiba-tiba dirinya teringat oleh sesuatu.
Perlakuan kasarnya pada Tamara tadi pagi.
"Apa dia marah padaku?"
Lukas ingin memastikannya dengan menghubungi ponsel Tamara. Baru saja nada sambung terdengar, tiba-tiba Lukas mendengar bunyi ponsel yang familiar.
Lukas menoleh ke arah dapur, dan Melihat ponsel Tamara ada di sana.
"Ya ampun, ceroboh sekali dia sampai melupakan ponselnya," gerutu Lukas.
"Ah sudahlah, apa peduliku?"
Lukas yang merasa perutnya sudah lapar segera menyantap menu sarapan sekaligus makan siangnya.
"Mmm... Enak juga masakan buatan Tamara," puji Lukas sambil sesekali mengangguk, menandakan ia menyukai makanan itu.
Hingga tak terasa, Lukas sudah menghabiskan seluruh makanannya.
"Wah, sudah habis... Ahhh... Kenyang sekali aku sekarang," Lukas mengusap perutnya yang sudah buncit karena banyak makan.
__ADS_1
Ia melihat piring-piring kotor bekas makannya, tapi karena terlalu kekenyangan Lukas jadi tak sanggup lagi untuk bergerak.
Ingin hati mencuci piring dan membereskan piring dari meja makan. Namun apa daya, tubuhnya tak lagi bergerak.
"Gawat, ini bahaya. Jika aku terus makan masakannya bisa-bisa aku akan gemuk nanti."
"Baiklah, ini adalah kali pertama dan terakhirnya aku akan makan masakan Tamara." Lukas bertekad untuk tak lagi memakan masakan buatan Tamara.
Karena sekali mencoba, rasanya tak mau berhenti. Di tambah lagi akhir-akhir ini ia malas berolah raga. Lukas takut ia menjadi gemuk karena terlalu banyak makan.
Setelah perutnya sudah mulai membaik, Lukas kembali ke dalam kamarnya. Tak tau mengapa rasa kantuk yang teramat sangat kembali datang menyerang.
"Sebaiknya aku kembali tidur," akhirnya Lukas pun kembali terlelap dan melanjutkan mimpinya yang entah apa.
Mumpung ia masih masa cuti, Lukas akan mengambil kesempatan untuk beristirahat di rumah saja.
Sementara itu, di lain tempat. Tamara yang sudah tiba di rumah kakeknya. Ia datang dengan menggunakan ojek online, sengaja ia memilih memakai ojek dari pada taksi, agar bisa langsung sampai di depan rumah kontrakan kakeknya.
"Kakek...." Panggil Tamara saat sudah tiba di rumah Adrian.
"Tamara?" Kakek yang sedang asik menonton televisi pun segera bangun dan keluar dari rumahnya.
"Kakek... Aku merindukanmu," Tamara berhambur memeluk Adrian.
Adrian celingukan mencari sosok Lukas di belakang Tamara.
"Aku datang sendiri kek," jawab Tamara.
"Sendiri? Lalu kemana Lukas? Kakek dengar dia masih libur beberapa hari ke depan."
"Suamiku sedang tidur kek, kasihan tadi malam dia bergadang menemaniku yang tidak bisa tidur karena takut," Tamara berusaha menenangkan kakeknya.
"Kamu takut kenapa? Apa rumah kalian berhantu?"
"Tidak kek, tadi malam Lukas mengajakku menonton film di bioskop. Hanya saja dia tak melihat lagi film apa yang sedang tayang saat itu. Ternyata film horor, kakek tau kan kalau aku itu penakut. Jadi semalaman aku tidak bisa tidur karena ketakutan, dan Lukas menemaniku terjaga hingga pagi."
"Kalian kan bergadang berdua, kenapa sekarang hanya Lukas yang tidur? Apa kamu tidak mengantuk?"
"Tidak kek, sebenarnya meski aku takut tadi malam. Tapi pada akhirnya aku tidur lebih dulu. Hehe, dan Lukas baru bisa tidur saat pagi hari."
Adrian akhirnya mengerti dan tidak bertanya lagi. Ia hanya khawatir Lukas tidak memperlakukan Tamara dengan baik. Adrian tau bahwa Lukas menikahi Tamara karena dijanjikan untuk tetap berada di posisinya saat ini.
Dan itu semua Dominic sendiri yang mengatakannya. Oleh karena itu, Adrian jadi merasa khawatir jika Lukas tak memperlakukan Tamara dengan baik.
__ADS_1
"Sudahlah kek, aku memang ingin datang ke sini sendirian. Agar lebih leluasa bicara dengan kakek. Bagaimana pun aku dan Lukas belum lama kenal, masih ada hal yang terasa canggung bagiku. Makanya aku memilih datang sendiri."
"Tapi Lukas tau kan kalau kamu ada di sini?"
"Tau kek, aku sudah bilang padanya sejak tadi malam."
"Ya sudah, lalu sekarang kita lihat apa yang kamu bawa untuk kakek?" Adrian melirik tas besar yang dibawa Tamara.
"Ini kek, aku bawa beberapa lauk dan juga nasi. Aku ingin makan siang di sini bersama kakek. Aku juga membawakan beberapa oleh-oleh dari tempatku berbulan madu kemarin, ini Lukas yang membelikannya loh kek."
"Oh ya? Apa yang kamu belikan untuk kakek?"
"Aku membeli beberapa kemeja, tas pinggang, kaca mata, gantungan kunci, dan juga ada banyak camilan untuk kakek."
Tamara mengeluarkan satu persatu oleh-oleh yang ia siapkan untuk Adrian.
"Wah, banyak sekali. Terima kasih sayang," Adrian memeluk Tamara dengan erat.
"Lalu, bagaimana bulan madu kalian?"
"Kek, ternyata kakek Dominic punya pulau pribadi ya? Pulaunya lumayan besar. Aku dan Lukas sempat berkeliling pulau, kami juga mandi di pinggiran pantai..."
Tamara menceritakan bulan madu mereka, walaupun baginya itu hanya seperti liburan biasa. Namun Tamara harus menceritakan semuanya dengan wajah tersenyum ceria, karena ia mau kakeknya menganggap mereka seperti benar-benar pergi bulan madu.
Adrian melihat cucunya yang bercerita dengan riang, merasa sedikit lega. Karena ia merasa mereka sudah benar-benar seutuhnya menjadi pasangan suami istri.
"Lalu, sudah berapa kali kalian melakukan itu?" Tiba-tiba Adrian menanyakan hal yang tidak Tamara kira.
"Apa kek?" Tamara bertanya untuk memastikan pendengarannya tidak salah.
"Kalian sudah melakukannya berapa kali?"
"Melakukan apa?" Tamara berlagak polos, ia pura-pura tak tau padahal ia sendiri bingung harus menjawab apa?
Tamara dan Lukas memang tidur sekamar, tapi bagi Tamara mereka hanya tidur di kamar yang sama. Tidak lebih.
.
.
.
☺️ Padahal kan mereka udah... 🤭
__ADS_1