Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 117


__ADS_3

Di tepi jurang tempat Richard terjatuh.


Salah seorang anak buah pak Nuh turun ke bawah jurang dengan menggunakan tali. Saat tiba di mobil Richard yang tersangkut di dahan pohon besar. Anak buah pak Nuh menempelkan wajahnya di kaca mobil, dan ia melihat seseorang berada di dalam.


"Ada seseorang!" Teriaknya.


"Bagaimana kondisinya?" Sahut orang-orang yang berada di atas.


Orang yang turun ke bawah pun mencoba untuk melihat lebih jelas. Namun ia tak bisa memastikan apakah pria di dalam mobil itu masih hidup atau tidak? Ia mencoba untuk mengetuk pintu, namun tak ada respon dari pria itu.


Sekali lagi, pria penyelamat mengetuk kaca dan kali ini lebih keras. Namun tetap tak ada respon. Si penyelamat mengamati sekali lagi dengan lebih hati-hati.


"Masih bernafas," gumamnya.


"Dia masih hidup!" Teriaknya.


"Baiklah, kalau  begitu kita harus segera keluarkan dia. Kau pecahkan saja kaca mobilnya jika tak memungkinkan untuk membuka pintu mobil!" Seseorang memberi komando dari atas.


Pria penyelamat mengacungkan jempolnya tanda ia telah mengerti dan siap menjalankan perintah. Ia mencoba membuka pintu mobil, namun sudah jelas bahwa itu pasti dikunci. Akirnya ia beralih ke pintu bagian tengah mobil, dan memecahkan kaca jendela dengan alat pemecah kaca yang dibawanya.


Setelah kaca berhasil dipecahkan, ia menyingkirkan sisa-sisa pecahan kaca yang tajam, yang masih menempel di jendela. Lalu dengan tubuh kecilnya, ia masuk ke dalam mobil dari jendela.


Hal pertama yang ia lakukan setelah masuk ke dalam mobil adalah mengecek kondisi Richard. Benar dugaannya, Richard masih hidup.


"Pak, pak..." Si penyelamat menepuk-nepuk pundak Richard dan tiba-tiba...


"Aaaaa..." Richard berteriak dengan kencang. Pria penyelamat pun sampai terkejut.


"Hah.. Hah... Hah..." Richard tersengal-sengal seolah habis bermimpi buruk.


"Tuan, anda baik-baik saja?" Tanya pria penyelamat.


"Waaaa..." Richard kembali berteriak saat menyadari ada seseorang di belakangnya.


"Tenang tuan, saya di sini untuk menyelamatkan anda," ucap pria penyelamat.

__ADS_1


"Memangnya kau siapa?" Richard melihat ke sekeliling dan ia nampak sangat bingung.


"Anda tidak ingat apa yang terjadi?" Tanya pria penyelamat lagi.


"Apa yang terjadi? Bagaimana aku bisa berada di sini?" Richard nampak sangat ketakutan. Belum sempat pertanyaannya di jawab, tiba-tiba terdengar suara seperti dahan pohon yang patah.


Krek...


Pria penyelamat menyadari hal itu dan meminta Richard untuk ikut keluar bersamanya.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, sebaiknya kita keluar dulu. Akan berbahaya jika berlama-lama ada di sini," ucapnya.


Richard yang tak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi pada dirinya, menuruti saja permintaan pria itu. Perlahan-lahan keduanya keluar dari jendela mobil yang tadi dipecahkan. Sebelumnya, Richard sudah di pasang belt terlebih dahulu agar mudah saat mereka akan di tarik nanti.


Saat keduanya sudah berada di luar mobil, bunyi retakan dahan pohon semakin terdengar jelas. Dan benar saja, begitu keduanya mulai ditarik ke atas, dahan pohon yang menjadi pijakan mereka patah dan jatuh ke bawah.


Brak!


Mobil Richard juga ikut terjatuh ke dalam jurang semakin dalam. Semua yang berada di sana sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Beruntung keduanya selamat dan berhasil ditarik naik kembali ke atas.


Mengetahui kondisi Richard, pak Nuh segera melaporkannya kepada Dominic dan juga Lukas yang saat ini masih berada di kantor polisi.


"Lalu bagaimana ini?" Tanya seorang polisi kepada pak Nuh.


"Sebaiknya kita bawa saja langsung ke rumah sakit, biar tenaga ahli langsung yang memeriksa kondisi Richard," jawab pak Nuh.


Polisi pun setuju. Dengan menaiki mobil polisi, salah seorang polisi mengantar Richard dan pak Nuh menuju rumah sakit.


"Bawa saja ke rumah sakit di pusat kota," pinta pak Nuh kepada polisi yang mengendarai mobil.


"Baik pak," jawab polisi tersebut.


Sementara itu, Richard tampak bingung. Ia tak mengerti apa yang sebenarnya yang telah terjadi pada dirinya hingga ia bisa sampai jatuh ke dalam jurang.


Pak Nuh terus mengawasi gerak gerik Richard. Sejauh ini, memang Richard terlihat seperti orang yang hilang ingatan. Tapi saat ditanya siapa namanya dia masih ingat, bahkan ia tau siapa nama istri dan anaknya.

__ADS_1


Ingatannya seperti terpotong dari beberapa bulan terakhir.


"Apa kau tau, tuan Adrian sudah meninggal?" Tanya pak Nuh saat mereka masih berada di perjalanan menuju rumah sakit.


"Tuan Adrian? Ayahku?" Richard menatap pak Nuh tak percaya.


"Ya," jawab pak Nuh sambil mengangguk perlahan.


Seketika wajah linglung Richard berubah. Entah apa yang membuatnya demikian, namun pak Nuh dapat melihatnya dengan sangat jelas.


"Kapan?" Tanya Richard pada pak Nuh dengan nada suara yang datar.


"Beberapa bulan yang lau," jawab pak Nuh juga dengan ekspresi yang datar.


"Kenapa kau tak memberitahuku?"


"Untuk apa? Bukankah kau sudah tak menganggapnya sebagai orang tua?"


Richard menyeringai.


"Setidaknya dia harus minta maaf padaku terlebih dahulu sebelum pergi meninggalkan dunia ini. Bahkan orang tua itu tak meninggalkan sepeserpun warisan untukku. Semua hanya dia berikan pada anak kesayangannya," ucap Richard dingin.


"Tapi ayahmu sudah terlanjur pergi, lalu apa yang akan kau lakukan?"


Richard terdiam sejenak.


"Tentu saja aku harus mencari keponakanku. Karena kedua orang tuanya lah harta ayahku habis terkuras," jawab Richard.


Pak Nuh mengernyitkan dahinya.


"Tapi itu kan bukan salah nona Tamara," ucap pak Nuh.


Mendengar ucapan pak Nuh, Richard langsung terdiam. Ia baru saja menyadari sesuatu.


"Kau mengenal keponakanku?" Tanya Richard.

__ADS_1


__ADS_2