
Tamara yang ditinggal seorang diri di dalam kamar, seketika mengacak-acak rambutnya.
"Ahhh... Bodohnya, sebenarnya apa yang sedang ku lakukan saat ini?" Gumam Tamara.
Tamara yang malu karena perbuatan nekad nya ternyata ditolak mentah-mentah oleh Lukas, segera menarik selimut ke seluruh tubuhnya. Ia mengutuk dirinya sendiri karena terlalu percaya diri bmenggoda dan merayu Lukas.
"Ahhh... Aku benar-benar bodoh!" Teriak Tamara dalam hatinya.
Sementara itu, di luar kamar. Lukas yang jantungnya masih berdegup dengan kencang berusaha mengatur nafasnya.
"Hah, sial... Hampir saja aku tergoda," Lukas mengusap wajahnya dengan kasar.
"Gawat, si juniorku jadi terbangun gara-gara gadis bodoh itu," gerutu Lukas.
Lukas akhirnya memutuskan untuk joging di sore hari. Tapi sebelum itu, Lukas berniat untuk mengganti pakaiannya. Mau tak mau Lukas masuk kembali ke dalam kamar.
Di dalam kamar, Lukas menemukan Tamara sedang bersembunyi di balik selimut.
"Hei, apa kau masih telanjang? Cepat pakai bajumu, jika tidak kau bisa masuk angin nanti!"
Tamara masih bergeming di dalam selimut, ia sama sekali tak menanggapi ucapan Lukas.
Lukas sebenarnya ingin menghampiri Tamara, cuma mengingat juniornya yang masih menegang, akhirnya Lukas memilih untuk mengabaikan Tamara.
Lukas mengganti pakaiannya selagi Tamara masih bersembunyi dalam selimut.
"Aku mau joging di sekitar sini, pakailah bajumu jika mau ikut," ajak Lukas.
Namun lagi-lagi Tamara tak menanggapi perkataan Lukas.
"Terserah kau sajalah," gumam Lukas.
Lukas yang sudah siap dengan stelan joging nya segera beranjak keluar kamar.
Setelah Lukas keluar kamar, Tamara mengintip dari balik selimut. Dan ia sudah tak melihat kehadiran Lukas di dalam kamar.
"Cih, tadi dia bilang tak mau keluar karena hujan. Lalu sekarang kenapa malah ingin joging? Sepertinya di luar juga masih gerimis," Tamara melihat ke jendela di kamarnya.
Hujan memang sudah mulai reda, namun gerimis kecil masih turun dengan samar-samar.
"Apa aku ikut olah raga saja ya?" Batin Tamara.
Namun seketika ia teringat dengan aksi bodohnya yang mempermalukan dirinya sendiri itu. Tamara pun mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Ah, lebih baik aku berendam air hangat."
Tamara beranjak dari tempat tidurnya, masih dengan kondisi yang polos tanpa busana. Tamara memunguti satu per satu pakaian yang tadi ia lemparkan ke lantai.
Tamara juga merapihkan tempat tidur yang acak-acakan karena ulahnya.
Selesai merapihkan kamarnya, Tamara berjalan masuk ke kamar mandi. Ia lalu menampung air hangat di bathub.
"Aku harus bagaimana menghadapinya nanti?" Tamara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia kembali teringat dengan kejadian memalukan barusan.
"Ah, masa bodoh. Biar saja, aku sudah terlanjur terlihat murahan dimatanya. Biar ku goda terus saja dia sampai dia jengah." Gerutu Tamara.
Setelah air di bathub penuh, Tamara segera menceburkan dirinya ke dalam bathub.
"Ahhh... Nyamannya," gumam Tamara.
Gadis itu bersenandung sambil menikmati air hangat yang meresap ke dalam tubuhnya. Saking nikmatnya Tamara berendam di air hangat, tanpa sadar Tamara kembali tertidur di dalam bathub.
...***...
Menjelang malam, Lukas baru kembali setelah menenangkan pikirannya. Lukas masuk ke dalam kamar dan menemukan kamarnya sudah rapih. Ia bahkan tak menemukan sosok Tamara di sana.
"Kemana gadis itu?" Gumam Lukas.
"Aku harus segera mandi," Lukas yang sudah bertelanjang dada masuk ke dalam kamar mandi yang tidak dikunci.
Namun kejadian kemarin terulang kembali, Lukas melihat Tamara tertidur pulas di bathub.
"Gadis itu benar-benar," Lukas sudah tak terlalu terkejut lagi melihat tubuh polos Tamara.
"Hei... Apa kau gila? Kenapa bisa-bisanya kau tidur si bathub?" Bentak Lukas.
"Mmmhhhmm... Kenapa sih kau berisik sekali?" Protes Tamara sambil meregangkan badannya.
"Sepertinya urat malumu memang sudah putus ya? Apa kau tak malu terus-terusan bugil di depanku?" Tanya Lukas kesal.
"Untuk apa aku malu? Bersiaplah, kedepannya kau akan semakin sering melihatku seperti ini," Tamara memang sudah hilang urat malunya saat berada di hadapan Lukas.
Tamara beranjak begitu saja, bangun dari bathub tanpa menutupi tubuhnya dengan sehelai benang pun.
Lukas hanya bisa memejamkan kedua matanya, melihat Tamara yang tanpa rasa malu keluar begitu saja dari bathub.
"Aish... Menyebalkan!" Gumam Lukas.
__ADS_1
Tamara sudah keluar dari dalam kamar mandi, dan Lukas segera membuka pakaiannya.
"Hah... Benar-benar menyebalkan gadis itu. Kenapa dia jadi tak tau malu begitu padaku? Apa segitu inginnya dia disentuh olehku?" Gerutu Lukas.
"Kenapa juga aku harus melihat tubuh itu lagi? Padahal sudah susah payah aku menidurkan juniorku ini! Sekarang kan dia jadi bangun lagi," Lukas semakin kesal.
Ia mengguyur tubuhnya dengan aliran air dari shower. Menikmati setiap tetes air yang mengalir di tubuhnya.
Dalam matanya yang terpejam, Lukas melihat Tamara yang datang menghampirinya. Masih dengan tubuh polosnya, Tamara datang semakin mendekat dan hendak memeluk tubuh Lukas.
Seketika Lukas segera membuka matanya.
"Hah... Hah... Hah..." Nafas Lukas jadi naik turun tak karuan, jantungnya kembali berdegup dengan kencang.
Lukas melihat ke arah juniornya yang sudah kembali bangun dan sepertinya tak ingin tidur.
Dalam hatinya, ada sesuatu yang membisikkan Lukas.
"Sudahlah, menyerah lah. Toh dia juga sudah menjadi istrimu. Nikmati saja tubuhnya sesukamu, dia juga tampak tidak keberatan," suara hati Lukas.
"Tidak, tidak tidak!" Lukas menggelengkan kepalanya.
"Aku harus menahannya, gadis itu tidak boleh menikmati tubuh berhargaku ini!" Lukas masih bersikukuh dengan pendiriannya.
"Ahhh... Tapi bagaimana nasib juniorku ini?"
Ada gejolak batin yang Lukas rasakan saat ini. Di satu sisi, ia tak rela jika tubuh sempurnanya itu dinikmati oleh gadis lugu seperti Tamara. Tapi di sisi lain, Lukas tak tahan dengan juniornya yang terus meronta-ronta karena melihat tubuh polos Tamara.
"Ayolah, tubuhnya bahkan tidak seindah itu. Kenapa juga kau tertarik padanya?" Lukas memarahi juniornya.
Setelah berusaha meredam juniornya yang terus meronta-ronta. Lukas akhirnya menyerah. Karena lama kelamaan kepalanya jadi terasa pusing.
"Baiklah, aku turuti kemauan mu wahai junior," ucap Lukas.
Lukas menyudahi acara mandinya. Ia melilitkan handuknya di pinggang.
Lukas berjalan keluar kamar mandi, dan melihat Tamara sedang asik menonton televisi.
Dengan canggung, Lukas berjalan mendekati Tamara.
"Kenapa? Kau mau aku pergi karena kau ingin berpakaian dengan leluasa? Oke, baiklah. Aku akan menunggu di ruang makan."
Tamara melengos begitu saja, meninggalkan Lukas yang kecewa karena setelah akhirnya ia bersedia memberikan juniornya pada Tamara. Tamara malah pergi meninggalkannya begitu saja.
__ADS_1
"Hah... Baiklah, ku beri waktu kau untuk makan dulu. Makanlah yang banyak karena aku akan menghabisimu malam ini," ucap Lukas dengan kesal.