
Tak butuh waktu lama bagi Lukas untuk sampai di supermarket tempat Tamara berada. Ia sengaja tak memberi tau Tamara, bahwa ia sudah sampai di lokasi.
Lukas ingin memberi kejutan pada Tamara. Namun bukannya Tamara yang terkejut, tapi dirinya sendirilah yang terkejut melihat Tamara tengah berbincang akrab dengan laki-laki yang tidak ia kenal.
Tatapan mata laki-laki itu pada Tamara sangat berbeda, seolah ia memiliki rasa mendalam terhadap Tamara. Ada rasa cemburu bercampur emosi dalam hati Lukas, ia selama ini tak pernah tau jika istrinya itu dekat dengan lelaki manapun.
Meski begitu, Lukas tetap berusaha mengendalikan emosinya. Ia tak mau mempermalukan dirinya sendiri. Siapa tau, laki-laki yang sedang bersama Tamara saat ini adalah saudara jauh atau teman lamanya.
Namun Lukas tetap merasa terganggu dengan tatapan Laki-laki itu pada Tamara. Entah mengapa rasanya ia ingin menarik Tamara keluar dari supermarket dan mengurungnya di dalam rumah.
Lukas terus mengikuti kemana pun mereka berdua pergi, mulai dari tempat parfum, make up, bahkan hingga ke tempat perabotan rumah tangga. Dari kejauhan, terlihat Tamara sangat akrab sekali dengan laki-laki itu.
Di sisi Tamara yang kini tengah dalam pantauan Lukas, ia masih memilih apa yang kira-kira cocok untuk diberikan ke seseorang yang Jake suka.
"Apa kita belikan boneka saja?" Tiba-tiba Tamara baru terpikirkan sesuatu yang dirasa semua wanita akan menyukainya.
"Apa kamu menyukai boneka?" Jake balik bertanya.
"Tentu saja, meski aku tak punya satu pun boneka," jawab Tamara sedih.
Dulu saat kecil, ia memang memiliki banyak boneka. Namun ketika orang tuanya meninggal dunia, Tamara jadi kehilangan semua bonekanya.
Hal itu terjadi karena Adrian saat itu hanya membawa Tamara dan beberapa baju saja, sedangkan semua mainan termasuk boneka-boneka milik Tamara ditinggal di rumah lamanya.
Dan rumah itu lalu dijual beserta dengan isinya. Hingga saat ini, Tamara belum pernah memiliki kembali satu boneka pun.
"Oh ya? Kalau begitu pilih salah satu yang menurutmu paling menarik," ucap Jake dengan semangat.
Tamara memilih satu boneka beruang yang berukuran besar, berwarna coklat susu dengan pita di lehernya.
"Kau suka warna ini?" Tanya Jake.
"Iya," jawab Tamara dengan ceria.
"Baiklah," Jake lalu mengambil boneka pilihan Tamara.
"Lalu, kau jadi mau beli apa?" Tanya Jake.
"Aku? Mmm... Aku nanti saja, sebentar lagi suamiku akan datang ke sini," jawab Tamara.
"Suamimu?"
"Iya."
Jake mengangguk pelan, namun nampak jelas ada perubahan di ekspresi wajahnya.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita bayar ini dulu," Jake berlalu meninggalkan Tamara.
Tamara yang ditinggalkan berjalan cepat menyusul Jake yang langkah kakinya sangat panjang dan cepat.
Tiba di kasir, Jake membayar sejumlah uang sesuai dengan harga boneka besar tersebut.
"Ini," Jake menyerahkan boneka yang sudah ia bayar itu pada Tamara.
"Kau mau kemana?" Tanya Tamara yang bingung saat Jake menyerahkan boneka besar itu padanya.
"Aku mau pergi dulu," jawab Jake sambil berlalu pergi.
"Tunggu, lalu ini?" Tamara berusaha mengejar Jake sambil kesulitan membawa boneka beruang itu.
"Aku titip dulu, kamu simpan baik-baik ya," pesan Jake sebelum ia akhirnya benar-benar menghilang di tengah supermarket yang sudah mulai ramai oleh pengunjung.
Tamara berhenti mengejar Jake yang sudah hilang entah kemana. Tak lama, seseorang menyentuh kedua pundak Tamara.
"Siapa dia?"
"Lukas?" Tamara sangat senang melihat kehadiran suaminya di sana. Ia tadi sempat bingung bagaimana akan mencari keberadaan Lukas dengan bawaan yang cukup berat itu.
"Kamu belum jawab pertanyaanku," wajah Lukas nampak tak bersahabat.
"Itu... Mmm... Apa kamu percaya kalau ku bilang dia sepupuku?" Tamara bingung harus mulai menceritakan tentang Jake dari mana?
"Aku juga baru tau hari ini," ucap Tamara.
"Oh ya? Lalu kamu yakin kalau dia sepupumu?"
"Aku sendiri tak yakin, tapi mau kah kamu mendengarkan ceritaku dulu?" Tamara tak ingin ada kesalahpahaman antara dirinya dan Lukas.
"Baiklah, ceritakan saja!" Lukas melipat tangannya di depan dada, ia menanti bagaimana Tamara akan menjelaskan tentang pria yang baru saja membuat hatinya panas membara.
"Di sini?" Tamara merasa tempatnya kurang pas untuk menceritakan apa yang dia alami hari ini.
Lukas menoleh ke kanan dan ke kiri, ia baru sadar saat ini mereka sedang berada di tengah keramaian.
"Ikut aku!" Lukas lalu berjalan lebih dulu, disusul oleh Tamara di belakangnya.
Lukas yang masih kesal sama sekali tak memperhatikan Tamara yang kesulitan membawa boneka berukuran besar bahkan besarnya hampir sama dengan tubuh Tamara.
Lukas berjalan cepat di depan menuju parkiran mobil.
Sementara itu, Tamara tergopoh-gopoh mengejar Lukas yang berjalan tak kalah cepat dengan Jake. Hingga Tamara kelelahan dan memilih untuk berhenti sejenak.
__ADS_1
Tamara melihat punggung Lukas yang perlahan juga menghilang di tengah keramaian.
"Hahhh... Mengapa para laki-laki itu jalannya cepat sekali?"
Tamara yang tak sanggup mengejar, akhirnya memilih untuk diam di tempat. Tamara meletakkan boneka besar itu di lantai, lalu ia berjongkok di sebelahnya.
"Aku lelah, perutku juga sangat lapar," Tamara memegang perutnya.
Tadi saat di kafe bersama dengan Jake, ia sama sekali belum makan karena merasa tak nyaman. Kini ia menyesal kenapa tadi tak makan saja dulu di sana, padahal sejak pagi ia hanya sarapan ala kadarnya karena terburu-buru ingin segera pergi ke makam Adrian.
Menyadari Tamara yang tak berada di belakangnya, Lukas celingukan ke sana kemari mencari keberadaan Tamara.
"Kemana lagi dia?" Perasaan kesalnya semakin bertambah saat tau Tamara tidak mengikutinya.
Lukas terpaksa kembali masuk ke area supermarket, padahal ia sudah hampir sampai di mobilnya yang terparkir di halaman supermarket.
Dari kejauhan, Lukas bisa melihat Tamara yang berjongkok sambil menyandarkan kepalanya pada boneka beruang besar. Lukas hanya bisa mendesah pelan.
Ada sedikit rasa sesal di hatinya, karena rasa cemburunya itu, Lukas sudah membuat Tamara menderita.
Lukas lalu berlari ke arah Tamara, dan saat sampai di hadapan Tamara, Lukas ikut berjongkok sambil membelai rambut Tamara.
"Kamu kenapa?" Wajah Lukas sudah mulai bersahabat.
"Aku lelah, dan aku sangat lapar," jawab Tamara sambil merengek.
Lukas menghela nafas panjang.
"Baiklah, ayo kita makan dulu. Kamu mau makan apa?"
"Aku mau ayam goreng."
"Ya sudah ayo," Lukas berdiri lebih dulu, lalu ia mengulurkan tangannya pada Tamara.
Tamara menyambut tangan Lukas sambil tersenyum senang.
"Kamu tolong bawakan ini ya," pinta Tamara.
"Kenapa kamu bawa-bawa ini? Apa ini pemberian pria itu?"
"Bukan, dia hanya menitipkannya padaku."
"Lalu kemana pria itu pergi?"
"Aku tak tau, sudahlah ayo cepat kita makan!" Tamara menarik tangan Lukas. Boneka besar itu kini beralih ke tangan Lukas yang satunya.
__ADS_1
Bagi Lukas, bukan hal yang sulit membawa boneka sebesar itu dengan satu tangan.