
Di perjalanan menuju kantor, Olivia melihat ada perubahan yang terjadi pada bosnya itu. Pagi ini, aura yang terpancar dari seorang Lukas benar-benar berbeda.
Lukas yang biasanya terlihat seperti seorang pria yang arogan, namun kali ini nampak seperti seorang yang dewasa dan berwibawa.
Lukas pun tak malu menampakkan senyum manisnya, meski ia hanya sedang memandangi ponselnya.
"Sepertinya kehidupan pernikahan anda baik-baik saja tuan muda. Sebelumnya saya sempat khawatir jika setelah menikah, saya akan mendengar keluh kesah anda tentang pernikahan," ucap Olivia memecah kesunyian.
"Oh ya? Apa aku terlihat seperti seorang pengantin baru?"
"Iya tuan muda," jawab Olivia sambil melirik Lukas dari spion dalam mobil.
"Bagaimana ya aku mengatakannya. Ternyata menikah tidak seburuk itu."
"Sepertinya anda sudah mulai menyukai nona Tamara."
"Entahlah, tapi yang pasti ku tidak membencinya," Lukas masih belum mau mengakui perasaannya.
Namun begitu, Olivia sepertinya sudah paham dengan isi hati Lukas. Ia hanya tersenyum, dan tak menanggapi lagi. Ia sangat tau, atasannya itu pasti gengsi untuk mengakuinya. Mengingat bagaimana dulu Lukas sangat menolak perjodohannya dengan Tamara.
Tiba di kantor, Lukas sudah disuguhkan dengan banyaknya pekerjaan yang menumpuk. Hingga satu hari ini ia akan bertemu dengan beberapa mitra bisnisnya.
Lukas berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, bertemu dan membicarakan kelanjutan kerja sama bisnis yang akan mereka lakukan.
Selama pertemuan, Lukas tak luput dari ucapan selamat atas pernikahannya. Ada beberapa hadiah pernikahan juga yang baru ia terima saat pertemuan dengan mitra bisnisnya.
Begitulah, satu hari yang panjang ini ia lalui. Hingga waktunya tiba ia pulang ke rumah. Saat itu sudah pukul dua belas malam, karena pertemuan terakhir diadakan di luar kota.
Lukas meminta Olivia untuk tidak mengantarnya pulang. Lukas akan pulang dengan taksi malam ini.
Meski awalnya Olivia menolak karena merasa tak enak hati. Namun Lukas tetap memaksa, ia juga tak tega karena bagaimanapun Olivia adalah seorang wanita. Dia sebagai atasannya harus bertanggung jawab atas keselamatan bawahannya.
"Besok pagi kita ketemu di kantor saja," pinta Lukas sebelum turun dari mobil Olivia.
"Tuan muda, biar saya saja yang pulang naik taksi. Ini kan mobil perusahaan, saya jadi tidak enak hati jika harus memakainya sementara tuan muda pulang begitu saja dengan taksi."
"Tidak apa, lebih bahaya kalau kamu yang naik taksi. Sudah turunkan aku di depan sana."
Olivia akhirnya menurut. Ia menepikan mobilnya di sebuah halte bus.
__ADS_1
"Biar saya tunggu sampai tuan muda dapat taksi ya," ucap Olivia.
"Tidak usah, ini sudah malam. Sudah, pulang sana!" Usir Lukas.
Olivia tak bisa menolak perintah Lukas, ia pun pergi meninggalkan Lukas seorang diri di halte bus. Meski setelah agak jauh, Olivia kembali menghentikan mobilnya.
Dari kaca spion, ia mengamati Lukas yang terduduk di halte bus. Setelah menunggu beberapa saat, Lukas akhirnya mendapatkan mobil taksi. Saat itulah baru Olivia bisa pulang dengan perasaan tenang.
Setengah jam kemudian, Lukas pun tiba di rumahnya. Dan menemukan Tamara yang masih menonton televisi di ruang tengah.
"Kamu belum tidur?" Tanya Lukas mengagetkan Tamara yang sedang serius menonton.
"Kamu sudah pulang? Kok aku gak dengar suara mobil?" Tamara langsung menghampiri Lukas dan mengambil tas Lukas.
"Aku pulang naik taksi," ucap Lukas sambil merebahkan diri di sofa ruang tengah. Ikut menonton acara yang sedang dilihat Tamara.
"Kok naik taksi? Kak Oliv nya kemana?"
"Aku suruh pulang duluan, kasian kalau harus nganter aku pulang dulu. Ini sudah terlalu malam," jawab Lukas.
"Kamu ternyata bos yang baik ya," puji Tamara.
"Entah mengapa aku jadi teringat dirimu."
"Aku? Kenapa?" Tamara bingung dengan ucapan Lukas.
"Iya, aku jadi ingat saat dulu kamu mungkin bekerja dan pulang hingga larut malam. Dan atasanmu bahkan tak peduli."
Tentu saja perhatian Lukas itu membuat Tamara tersipu malu.
"Kamu haus gak? Aku ambil minum dulu ya," Tamara yang masih merasa malu karena Lukas ternyata memikirkan dirinya saat ia tak ada, langsung saja pergi meninggalkan Lukas.
Tamara mengambil segelas air putih, dan kembali ke ruang tengah. Ternyata Lukas sudah terlelap sambil memeluk boneka milik Tamara. Bahkan Lukas tertidur dengan posisi duduk.
"Lukas... Pindah ke kamar yuk," ajak Tamara.
Namun Lukas tetap bergeming, sepertinya ia memang sudah sangat lelah. Hingga tertidur begitu saja di sofa ruang tengah.
Tamara tak tega melihat Lukas tidur masih dengan pakaian kerjanya. Ia pun pergi ke kamar mengambil pakaian ganti dan tak lupa satu baskom air hangat beserta handuk kecil untuk membersikan wajah dan tubuh Lukas.
__ADS_1
Susah payah Tamara membuka baju Lukas, membersihkan seluruh tubuh Lukas. Terutama bagian wajah dan juga termasuk bagian pribadinya. Kini Tamara sudah tak merasa malu lagi, karena mereka memang sudah menjadi suami istri yang sesungguhnya.
Setelah bersusah payah membersihkan tubuh Lukas dan memakaikan piyama untuk Lukas, Tamara akhirnya bisa merebahkan tubuhnya di samping Lukas.
"Hahhh... Akhirnya, selesai juga," Tamara mendesah kasar sambil mengatur nafasnya. Bukan pekerjaan mudah mengganti pakaian untuk Lukas.
Tamara yang memang sudah kelelahan, langsung tidur di samping Lukas. Dengan posisi duduk yang sama, hanya saja Tamara memiringkan sedikit kepalanya hingga berada di atas dada Lukas.
Hampir terlelap, Tamara akhirnya menyadari bahwa tubuhnya sedang dibopong seseorang. Dan ternyata Lukas yang membopongnya masuk ke dalam kamar.
"Lukas..." ucap Tamara dengan suara lemah.
"Jangan tidur di sana, nanti badan kamu sakit," sahut Lukas.
"Bukannya kamu udah tidur?"
"Engga, aku cuma pura-pura aja. Aku gak nyangka kamu sampai bersihin badan aku dan gantiin aku baju," Lukas tersenyum nakal pada Tamara.
"Apa? Jadi tadi kamu sebenernya belum tidur?" Tamara yang tadi mengantuk mendadak kehilangan rasa kantuknya karena ucapan Lukas.
"Hehe, makanya sebagai gantinya aku menggotong mu masuk ke kamar," ucap Lukas tanpa dosa.
"Wah... Aku gak percaya ini. Kamu tau gak, kamu tuh berat banget!"
"Oh ya? Aku gak ngerasa tuh," Lukas menggoda Tamara.
"Ah terserahlah... Turunin aku pokoknya," Tamara meronta minta diturunkan.
"Lagian juga udah sampai kamar, masa mau aku gendong terus," Lukas perlahan membaringkan Tamara di tempat tidur. Ia pun ikut tidur di samping Tamara sambil memeluk Tamara agar tidak berontak lagi.
"Ngapain peluk-peluk? Lepasin gak?" Tamara masih berusaha lepas dari pelukan Lukas.
"Kalau udah lepas mau apa?"
Tamara terdiam, ia sendiri juga tak tau akan melakukan apa? Yang pasti saat ini ia hanya merasa kesal pada Lukas dan tak ingin Lukas memeluknya.
"Udah ya, aku capek banget. Besok masih banyak hal yang aku kerjakan, kita tidur yuk," ajak Lukas.
Tamara menurut saja, ia juga sudah sangat lelah karena selalu mengkhawatirkan Lukas seharian ini.
__ADS_1