Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 49


__ADS_3

Lukas masih terdiam di dalam mobilnya. Pikirannya masih menerawang kemana-mana.


Pada Adrian yang memintanya untuk berbuat baik pada Tamara. Juga pada Tamara yang memintanya untuk mencoba mencintainya.


Lukas tau, dirinya juga tidak sebenci itu pada Tamara. Jika dipikir-pikir, Tamara juga tidak buruk.


"Apa aku ikuti saja permintaannya? Lagi pula, bagaimana pun aku harus bertanggung jawab karena sudah pernah menikmati tubuhnya," gumam Lukas.


Lukas menghela nafas panjang.


"Entahlah, lihat bagaiman nanti saja. Saat ini aku hanya akan mengikuti kata hatiku," tekad Lukas.


Lukas pun turun dari mobilnya, ia berjalan masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah, Lukas mendengar suara gemericik air di dapur.


Lukas yang penasaran pun berjalan menghampiri, dan ternyata ada Tamara di sana sedang mencuci piring bekas makan Lukas siang tadi.


Lukas pun berjalan mendekat, ia duduk di kursi di ruang makan, sambil matanya terus menatap ke arah Tamara.


Selesai mencuci piring, Tamara berbalik dan melihat Lukas yang sedang duduk di kursi makan sambil menatap dirinya.


"Ada apa? Kamu mau makan?" Tanya Tamara.


Lukas mengangguk.


"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan memasakkan sesuatu untukmu," Tamara lalu bersiap untuk membuat sesuatu untuk Lukas.


Tak butuh waktu lama, Tamara sudah selesai dengan membuat dua hidangan. Tumis capcay dan juga telur dadar gulung.


Tamara meletakkan dua menu yang ia buat di meja makan. Tak lupa sepiring nasi untuk Lukas.


"Kamu gak mau makan?"


"Aku masih kenyang, tadi kan di pasar malam aku makan banyak sekali."


Lukas mengangguk, ia pun mulai menyuap makanannya ke dalam mulut. Sedangkan Tamara masih setia menemaninya menyantap makan malam.


Satu suap, dua suap, tiga suap, hingga tak terasa satu piring habis sudah. Lukas melihat lauk dan sayur yang masih banyak.


"Aku mau tambah," pinta Lukas.


Dengan senang hati Tamara mengambilkannya untuk Lukas. Tamara merasa senang, karena Lukas suka dengan masakannya yang sederhana.


"Kenapa kau tersenyum?"


"Karena kamu senang dengan masakan ku," jawab Tamara sambil tersipu malu.


"Siapa bilang?"


"Ini buktinya kamu sampai nambah."

__ADS_1


"Aku hanya sedang sangat lapar, ga usah GR," Lukas berusaha menepis jika dirinya memang mengakui bahwa masakan Tamara memang cocok di lidahnya.


Tamara tak menjawabnya, meski Lukas tidak mau mengatakan masakannya enak. Tapi setidaknya Lukas sudah menghabiskan semua masakan Tamara malam itu.


"Aku sedang kenyang," Lukas berlalu begitu saja meninggalkan Tamara seorang di ruang makan.


"Dasar munafik, apa susahnya sih bilang kalau masakan aku itu enak?" Gumam Tamara.


Meski begitu Tamara tetap merasa senang, karena masakannya habis seketika. Tamara pun kembali mencuci piring bekas memasak dan juga makan Lukas.


Selesai dengan pekerjaan dapur, Tamara segera menuju kamar mandi. Ia merasa gerah sekali setelah memasak, ingin rasanya mengguyur tubuhnya dengan air hangat.


Begitu juga dengan Lukas, ia melakukan rutinitas malamnya seperti biasa.


...***...


Tengah malam, sekita pukul dua dini hari. Tamara tiba-tiba terbangun. Sekujur tubuhnya dibasahi keringat yang bercucuran.


Tamara bermimpi buruk, nafasnya tersengal-sengal.


Tamara pun berjalan keluar kamarnya. Ia hendak mengetuk pintu kamar Lukas, namun kembali ia urungkan.


Tamara masih ingat kejadian kemarin saat dirinya mengetuk pintu kamar Lukas. Tatapan tajam mata Lukas membuat Tamara lebih merasa takut dibanding dengan mimpinya saat ini.


Akhirnya Tamara berusaha menghilangkan rasa takutnya dengan menyalakan televisi di ruang tengah. Tamara mencari film yang bisa membuatnya melupakan rasa takutnya.


Satu jam berlalu, Tamara sudah mulai merasa mengantuk. Tapi ia belum berani untuk kembali ke kamarnya.


Hingga pagi hari tiba, Lukas sudah bangun lebih dulu. Ia merasa tenggorokannya sangat kering, dan berniat untuk mengambil minum ke dapur.


Lukas berjalan keluar kamarnya dan betapa terkejutnya ia, ketika menemukan Tamara yang terbaring di sofa ruang tengah.


"Kenapa dia tidur di sana?" Gumam Lukas.


Lukas pun berjalan menghampiri Tamara.


"Hei, kenapa kau tidur di sini?" Lukas mengguncang-guncang tubuh Tamara.


Perlahan Tamara membuka matanya. Dan meregangkan tubuhnya.


"Mmm... Ada apa?" Tanya Tamara dengan suara berat.


"Kamu kenapa tidur di sini?"


"Aku?" Tamara celingukan, ia baru sadar pagi ini ia terbangun dan sudah berada di ruang tengah.


"Iya, apa kamu berjalan sambil tertidur?"


"Tidak, aku memang sengaja pindah ke sini. Semalam aku bermimpi buruk. Dan aku takut sekali berada di kamar, jadi aku pindah saja ke sini."

__ADS_1


Lukas mengangguk. Lalu ia pun pergi meninggalkan Tamara.


"Lukas," panggil Tamara.


Lukas berhenti dan kembali menoleh ke arah Tamara.


"Apa kamu lapar? Mau ku buatkan sarapan?" Tanya Tamara.


Lukas melirik jam yang menempel di dinding, dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi.


"Nanti saja, aku mau olah raga dulu," jawab Lukas.


"Okelah, kalau begitu aku mau lanjut tidur lagi," Tamara kembali merebahkan tubuhnya di sofa.


"Jangan tidur di sini, tidurlah di kamar," pinta Lukas sambil berlalu pergi meninggalkan Tamara.


Lukas berjalan menuju dapur, dan mengambil segelas air minum.


"Ahhh... Segarnya," setelah cukup terisi tenggorokannya, Lukas kembali berjalan menuju kamarnya. Ia hendak mengganti bajunya dengan pakaian olah raga.


Namun Lukas melihat Tamara masih saja tidur di sofa, dan belum beranjak pindah ke dalam kamar.


"Hahhh... Kenapa dia masih tidur di situ?"


Lukas mau tak mau akhirnya kembali menghampiri Tamara. Tanpa basa basi, Lukas membopong tubuh Tamara dan membawanya ke kamar.


"Lukas! Apa yang kau lakukan?" Tentu saja hal itu membuat Tamara terkejut, karena Lukas secara tiba-tiba membopong dirinya.


"Tidur di kamar saja, jangan tidur di sini. Merusak pemandangan," ucap Lukas tanpa menoleh ke arah Tamara.


Niat hati ingin membawa Tamara ke kamar Tamara, namun sayang pintu kamar Tamara masih tertutup rapat. Akhirnya Lukas membawa Tamara ke kamarnya saja.


"Kita mau kemana?" Tamara berontak di atas gendongan Lukas.


"Sudah ku bilang, tidur di kamar saja. Kenapa kamu gak mau nurut sih?"


Tamara kini sudah berada di dalam kamar Lukas. Lukas perlahan menurunkan Tamara dan membaringkannya di atas tempat tidur.


"Tidurlah di sini hingga aku selesai berolah raga," ucap Lukas.


Setelah berkata demikian, Lukas pun meninggalkan Tamara. Ia mengambil pakaian olah raganya di dalam lemari.


Namun kali ini, Lukas tak mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi. Lukas mengganti seluruh pakaiannya di depan Tamara.


Tamara yang terkejut tentu saja secara reflek menutup kedua matanya.


"Tak usah munafik, bukannya kamu selalu menginginkan melihat ini?" Tanya Lukas.


Tamara tak menggubris, ia tetap saja menutup kedua matanya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Lukas hanya menyeringai melihat tingkah Tamara, ia pun berlalu pergi meninggalkan Tamara seorang diri di dalam kamarnya setelah selesai berganti pakaian olah raga.


__ADS_2