
Lukas kembali fokus pada pekerjaannya, sementara Tamara terus menatap Lukas yang kini sedang berwajah serius.
Bagi Tamara, wajah serius Lukas itu bisa membuatnya lebih tampan berkali-kali lipat.
"Kamu tidak membacanya dulu sebelum tanda tangan?"
"Tidak perlu, membaca itu tugasnya Olivia. Aku hanya tinggal menandatangani bagian yang sudah diberi tanda."
"Oh iya, apa kak Oliv akan datang ke sini?"
"Kenapa? Kau mau bertemu dengannya?"
"Iya, aku juga membawa oleh-oleh untuk kak Oliv."
Lukas menatap Tamara tak percaya.
"Kenapa Olivia dibelikan juga? Padahal tak ada satu pun barang yang kau belu untukku," keluh Lukas.
"Kau mau juga? Kenapa tidak bilang? Aku masih ada beberapa di rumah. Nanti biar ku pilihkan yang bagus untukmu."
"Sudahlah, jika memang tidak ada," Lukas pura-pura ngambek.
"Ada kok, beneran," Tamara jadi merasa tak enak karena ia sama sekali tak terpikirkan untuk membelikan Lukas oleh-oleh.
"Lagi pula kau kan ikut jalan-jalan juga, kenapa harus minta oleh-oleh padaku juga?" Gerutu Tamara dalan hati.
"Sudah selesai," akhirnya Lukas menyelesaikan pekerjaannya.
"Benarkah?"
"Iya, kehadiranmu di sini benar-benar sangat membantu."
"Sungguh?" Tamara tak percaya, padahal kalau dilihat dari posisi duduknya saja sudah bisa dibilang bahwa kehadiran Tamara malah sebenarnya mengganggu pekerjaan Lukas.
"Iya sayang," Lukas membelai lembut rambut Tamara.
Meski tau itu hanya akting belaka, namun Tamara tetap saja tersipu malu.
"Ya sudah, kalau sudah selesai kita ke ruang makan sekarang. Kakek Dom pasti sudah menunggu kita," ajak Tamara.
"Baiklah, ayo!"
Mereka berdua berjalan keluar ruang kerja milik Dominic itu sambil bergandengan tangan.
"Sudah selesai?" Tanya Dominic saat melihat kehadiran Lukas dan Tamara di ruang makan.
"Sudah kek, semua berkat Tamara," Lukas menatap Tamara dengan mesra.
"Apa sih, aku kan gak ngapa-ngapain. Cuma duduk di pangkuan..." Tamara langsung menutup mulutnya.
Lukas tersenyum melihat tingkah Tamara. Tentu saja ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk semakin meyakinkan kakeknya.
__ADS_1
"Kamu jangan terlalu jujur gitu dong sayang," ucap Lukas setengah berbisik. Namun tetap saja Dominic bisa mendengarnya.
Tamara jadi salah tingkah, wajahnya memerah seketika.
"Kalian gak ngapa-ngapain kan di ruang kerja kakek," Dominic pura-pura menyelidik, padahal ia senang melihat kemesraan Lukas dan Tamara.
"Enggak kok kek, kami gak ngapa-ngapain," Tamara langsung panik.
"Memangnya kenapa sih kek? Kita kan sudah sah jadi suami istri," Lukas memotong.
"Ya tetap saja, jangan di ruang kerja kakek juga," protes Dominic.
"Iya kek," jawan Lukas dan Tamara bersamaan.
Mereka pun menyantap menu yang sudah terhidang di meja makan.
Setelah selesai makan, Lukas pamit pada Dominic untuk beristirahat di kamarnya.
"Ya sudah sana, kalian pasti sudah tidak tahan," usir Dominic.
Lukas pun segera menarik tangan Tamara.
"Ayo sayang, biar ku tunjukkan kamarku padamu," ucap Lukas.
Tamara pun mengikuti Lukas menuju kamarnya di lantai dua.
Setelah berada di dalam kamar, Lukas melihat tas besar berisi oleh-oleh yang tadi dibawanya.
"Aku meminta pelayan membawanya ke sini," jawab Tamara.
"Kenapa?"
"Kan masih ada oleh-oleh buat papah, mamah, dan juga kak Oliv," ucap Tamara polos.
Lukas hanya bisa menghela nafas, ia pun berjalan menuju tempat tidurnya.
"Ahhh... Sudah lama sekali aku tak berbaring di kasur ini," Lukas membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Tamara melihat-lihat isi kamar Lukas yang sangat luas itu. Bahkan ukurannya lebih luas dari kontrakan tempat ia tinggal dulu.
Tamara melihat ada banyak penghargaan yang terpajang di dinding kamar Lukas. Selain itu, ia juga melihat beberapa foto masa kecil Lukas.
"Kau itu lucu sekali ya waktu kecil," ucap Tamara.
"Tentu saja, bahkan sudah sebesar ini pun aku masih tetap lucu," Lukas menimpali.
Tamara hanya tersenyum, ia merasa Lukas yang sekarang bukanlah pria yang lucu. Tapi Lukas yang sekarang adalah pria yang sangat tampan.
"Tamara... Kemarilah," Lukas menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.
Tamara pun berjalan mendekat, ia duduk di tepi ranjang sesuai dengan permintaan Lukas.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Tadi kakek bertanya apa padamu?"
"Tidak banyak..." Tamara berusaha mengingat apa yang ditanyakan Dominic padanya.
"Apa dia bertanya yang aneh-aneh?"
"Tidak," Tamara menggeleng. Baginya memang semua pertanyaan Dominic tidak ada yang aneh.
"Lalu apa yang dia katakan padamu?"
"Mmm... Kakek menyangka kalau kita sudah pernah melakukannya, padahal ku pikir saat itu kakek Dom ingin bertanya apa kita pernah berciuman? Tentu saja kalau berciuman kita pernah, tapi kalau itu kan kita belum pernah. Makanya kakek sangat berharap kalau kita secepatnya memberikan cicit untuk kakek."
"Itu apa?"
"Itu... Berhubungan badan," jawab Tamara polos.
Seketika wajah Lukas memerah, ia langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Tamara.
"Tidak usah dihiraukan ucapan kakek yang satu itu," ucap Lukas.
"Tapi kalau kakek terus-terusan meminta cicit bagaimana?"
Lukas terdiam.
"Kau tak mau memberikannya?"
"Tidak tau, aku ngantuk mau tidur dulu. Kamu jangan sampai keluar kamar ya, oh iya... Tolong kunci pintunya ya, aku tak mau ada orang yang tiba-tiba masuk," pinta Lukas.
Tamara hanya bisa melihat punggung Lukas yang kini tengah berbaring membelakanginya.
Andai saja Tamara bisa melihat wajah Lukas yang memerah, pasti hatinya tak akan sedih saat ini. Tamara saat ini menyangka bahwa Lukas memang tak mau tidur dengannya.
Tamara berjalan menuju pintu kamar, lalu ia menguncinya dan kembali lagi menuju tempat tidur. Kali ini Tamara ikut berbaring di samping Lukas. Tamara berbaring sambil menatap punggung Lukas yang membelakanginya.
Rasa kantuk pun perlahan tiba, Tamara sudah terlelap dalam tidurnya.
Lukas yang sebenarnya tidak tertidur, merasakan suara nafas di belakang tubuhnya.
Lukas membalikkan badannya, dilihatnya Tamara sudah tertidur pulas. Lukas menatap wajah Tamara yang sedang tertidur, ia melihat ada setitik air mata yang menganak di sudut mata Tamara yang terpejam.
"Ini pasti berat untukmu, maafkan aku membuatmu berada di situasi yang sulit ini. Aku berjanji akan bertanggung jawab sepenuhnya karena sudah merasakan tubuhmu."
Lukas menghapus air mata di sudut mata Tamara, ia pun menarik Tamara ke dalam pelukannya.
Sejenak ada rasa bersalah dalam diri Lukas, ia tau bahwa Tamara adalah orang yang dicintai kakeknya. Maka Lukas pun berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga Tamara di sepanjang hidupnya.
Meski mungkin hatinya tak bisa ia berikan sepenuhnya. Tapi setidaknya, Lukas akan berusaha menjaga dan melindungi Tamara. Terlebih karena Lukas sudah pernah diam-diam menikmati tubuh Tamara.
"Aku tak akan meninggalkanmu," janji Lukas dalam hatinya.
__ADS_1
Tak lama, Lukas pun ikut terlelap sambil memeluk Tamara dengan erat.