
Sore hari, Lukas dan Tamara sudah dalam perjalanan pulang. Setelah makan siang dan minum obat, ditambah tidur siang. Kini kondisi tubuh Lukas sudah jauh membaik.
"Kamu yakin, masih kuat menyetir?"
"Yakin... Tenang saja," jawab Lukas. Ia yakin dirinya sudah jauh lebih baik kini.
Tamara mengangguk, ia pun memandang ke arah luar jendela. Pemandangan yang terlihat masih sejuk dan asri. Ditambah lagi aroma tanah yang menguap karena habis diguyur hujan tadi.
Sekarang pun masih terlihat di kaca mobil gerimis yang turun membasahi bumi.
"Pelan-pelan saja ya, jalanan pasti licin," pinta Tamara pada Lukas.
"Kamu takut?" Lukas menoleh sekilas.
"Iya, rasanya melebihi saat wisata ekstrim kemarin."
"Oh ya? Bahkan melebihi permainan ekstrim di taman hiburan?"
"Iya, makanya pelan-pelan ya," pinta Tamara sekali lagi.
Lukas tersenyum, ia meraih tangan Tamara, dan merasakan tangan Tamara yang dingin.
"Kamu kedinginan?", Tanya Lukas khawatir.
Tamara mengangguk.
Lukas pun menepikan mobilnya. Ia melepas sabuk pengaman dan memeriksa kondisi Tamara.
"Kamu sakit?"
"Engga, aku cuma kedinginan," jawab Tamara.
Lukas pun menyalakan penghangat di mobilnya. Lukas juga melepas jaket yang ia pakai untuk menyelimuti Tamara.
"Kok dilepas? Kamu kan belum sembuh total," Tamara menolak jaket pemberian Lukas.
"Aku udah sehat kok, kamu pakai ya. Aku gak mau kamu sakit, bisa-bisa aku dimarahin sama keluargaku kalau sampai kamu kenapa-kenapa."
Tamara pun menurut. Meski memang alasan Lukas khawatir padanya karena takut pada keluarganya, namun Tamara hanya bisa menerimanya.
Ia mencium aroma tubuh Lukas dari jaket Lukas yang ia pakai untuk menyelimuti tubuhnya.
"Kalau kamu ngantuk, kamu tidur saja ya. Nanti kalau sudah sampai aku bangunkan," ucap Lukas.
Lagi-lagi Lukas memintanya untuk tidur saat dalam perjalanan. Tamara hanya diam saja, ia terus memperhatikan Lukas yang sedang fokus menyetir.
Baginya, Lukas semakin tampan jika sedang fokus begini. Hingga tak terasa, Tamara mengantuk dan akhirnya tertidur lelap.
Lukas yang sesekali melihat ke arah Tamara, tersenyum melihat Tamara yang akhirnya tertidur lelap.
Lukas semakin memperlambat laju kendaraannya. Sayup-sayup terdengar suara musik klasik yang sengaja di putar Lukas.
Pukul sebelas malam, mereka berdua akhirnya tiba di rumah. Perlahan Lukas membangunkan Tamara.
"Kita sudah sampai?" Tanya Tamara sambil mengucek-ngucek matanya.
"Iya, ayo turun," ajak Lukas.
Setelah membersihkan diri, mereka berdua pun tidur di kamar Lukas. Kali ini mereka tidur bersama sesuai janji Lukas.
Tapi karena sejak tadi Tamara sudah tidur, sekarang malah ia tak merasa ngantuk sama sekali.
__ADS_1
Sedangkan Lukas sudah tertidur pulas di sampingnya.
Tamara memandangi wajah Lukas yang tertidur lelap. Mereka tidur saling berhadapan.
"Kalau begini, bagaimana aku tidak semakin jatuh cinta padamu? Kamu menepati janjimu, dan kamu juga memperlakukan aku dengan sangat baik. Apa benar di hatimu itu belum tumbuh rasa cinta sedikit pun padaku?" Gumam Tamara.
Tamara membelai wajah Lukas, membuat Lukas tersadar dan membuka matanya.
"Ada apa?"
Tamara yang terkejut menarik kembali tangannya.
"Tidak apa-apa, maaf aku mengganggu tidurmu."
"Apa kau sedang ingin?"
Tamara segera menggelengkan kepalanya.
"Tidak... Aku... Aku hanya sedang mengagumi wajahmu," ucap Tamara terbata-bata.
"Mmm..." Lukas mengangguk paham. "Lanjutkan lah kalau begitu," Lukas kembali memejamkan matanya.
Tamara menghela nafas panjang, ia sungguh tak menyangka Lukas bisa sangat sensitif dan langsung terbangun hanya karena ia membelai wajahnya.
Belum selesai keterkejutan Tamara karena Lukas yang tiba-tiba bangun. Kini tubuh Tamara ditarik oleh Lukas ke dalam pelukannya.
"Ayo tidur, besok aku harus bekerja dan sekarang aku lelah sekali," ucap Lukas.
"Iya," Tamara menurut. Di dalam pelukan Lukas, ia mencoba memejamkan matanya. Meski sulit, namun lama-kelamaan akhirnya Tamara pun tertidur lelap.
...***...
Pagi hari, Tamara sudah bangun dan sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk Lukas. Kali ini ia membuat empat porsi sarapan pagi. Dua untuk Lukas, satu untuk dirinya, dan satu lagi untuk Olivia.
"Kenapa bikin banyak sekali?" Tanya Lukas begitu masuk ke ruang makan dan melihat ada banyak hidangan yang tersedia.
"Ini dua porsi untukmu, satu untukku, dan satu lagi untuk kak Oliv," jawab Tamara.
"Olivia?"
"Iya, kamu bilang kak Oliv akan datang menjemput, jadi sekalian saja ku siapkan sarapan pagi untuknya."
Lukas mengangguk-anggukan kepalanya, sambil mengambil satu porsi sarapan miliknya. Perlahan ia menyantap dan menghabisi tiga porsi sekaligus.
Tamara yang terkejut melihat Lukas makan porsi ke tiga, segera menghentikan Lukas.
"Itu kan buat kak Oliv," ucap Tamara.
"Dia pasti sudah sarapan, percayalah dia tak mau makan satu meja dengan atasannya. Jadi dari pada ini terbuang sia-sia, biar aku habiskan saja."
"Memangnya kak Oliv gak suka makan sama kamu?"
"Engga, dia lebih suka makan sendiri."
Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi.
"Biar aku yang buka, itu pasti kak Oliv," Tamara beranjak dari ruang makan, meninggalkan sarapannya yang baru habis setengah.
"Lambat sekali dia makannya," gumam Lukas.
__ADS_1
Tak lama muncul Tamara bersama dengan Olivia di belakangnya.
"Selamat pagi tuan muda, bagaimana kondisi anda pagi ini," sapa Olivia seperti biasa.
"Baik, apa jadwalku hari ini?"
"Akan ada banyak pertemuan dengan rekan bisnis anda tuan muda."
"Berapa banyak?"
"Ada lima orang yang akan anda temui hari ini, lalu besok juga akan ada rapat bulanan, dan rapat bersama klien."
"Apa hari ini aku akan pulang malam?"
"Sepertinya begitu tuan muda."
"Kamu dengar? Hari ini jadwalku padat sekali, mungkin aku akan pulang larut malam, jadi sebaiknya kamu tak usah menungguku. Tidurlah jika sudah mengantuk," ucap Lukas pada Tamara.
"Iya," jawab Tamara singkat.
Lukas pun melanjutkan sarapannya, begitu juga dengan Tamara. Sedangkan Olivia hanya berdiri di samping Lukas.
"Kak Oliv kenapa tidak duduk?" Tanya Tamara.
"Terima kasih nona," Olivia hanya menundukkan kepalanya sambil tersenyum manis. Seakan mengatakan bahwa ia memang terbiasa seperti itu dan ia baik-baik saja.
"Kak Oliv, aku tadi membuatkan sarapan untukmu. Tapi Lukas malah memakannya," ucap Tamara. Ia merasa tak enak karena Lukas memakan jatah makan Olivia.
"Tidak apa nona, anda tidak perlu repot-repot membuatkan untuk saya. Lagi pula saya sudah sarapan tadi di rumah," jawab Olivia dengan sopan.
"Oh iya, kamu sudah ambil oleh-oleh untukmu di rumah kakek Dominic?" Tanya Tamara lagi.
"Sudah nona, terima kasih atas kebaikan anda."
"Apa kak Oliv menyukainya?"
"Tentu saja nona, selera anda memang sangat bagus," puji Olivia.
"Aku sudah selesai, ayo kita berangkat," Lukas tiba-tiba memotong obrolan Tamara dan Olivia.
"Baik tuan muda."
Lukas dan Olivia sudah hampir berjalan keluar dari ruang makan. Namun tiba-tiba langkah kaki Lukas terhenti, saat menyadari Tamara hendak mengikutinya.
"Oliv, kamu tunggu dulu di luar ya," pinta Lukas.
"Baik tuan muda," Olivia segera meninggalkan ruang makan setelah sebelumnya ia berpamitan pada Tamara.
Setelah Olivia pergi, Lukas berjalan menghampiri Tamara.
"Tidak usah mengantarku, kamu habiskan saja sarapanmu," pinta Lukas.
"Oh iya, apa nanti siang kamu mau aku buatkan sesuatu untuk makan siang?"
"Tidak perlu, karena hari ini aku tidak ada di kantor. Jadi sebaiknya kamu tidak usah membuatnya."
Tamara mengangguk.
Lukas melihat raut sedih di wajah Tamara, langsung mengecup kening Tamara.
__ADS_1
"Aku pergi ya," satu kecupan sudah mendarat di kening Tamara. Lalu setelah itu, Lukas pun pergi meninggalkan Tamara seorang diri di ruang makan dengan wajah yang merah merona.