Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 86


__ADS_3

Keesokan harinya, Lukas dan Tamara berusaha untuk beraktifitas sepertu biasa. Hanya ada yang berbeda kali ini, Lukas menyewa beberapa orang pengawal untuk menjaga Tamara yang akan ia tinggal seorang diri di rumah.


"Kamu yakin tidak apa di rumah sendiri?" Tanya Lukas khawatir.


"Tidak apa, lagi pula hari ini aku tak akan pergi kemana-mana," jawab Tamara.


"Tapi aku tetap saja merasa khawatir. Bagaimana kalau kamu menginap saja di rumah kakek?"


"Tidak, aku tak mau membuat keluargamu merasa khawatir."


"Begitu?"


"Mmm... Tamara mengangguk."


Lukas mau tak mau akhirnya mengizinkan Tamara untuk tinggal di rumah bersama beberapa pengawal yang berjaga di luar rumah.


Saat hendak masuk ke dalam mobil, lagi-lagi Lukas terus menerus menatap Tamara.


"Apa tidak sebaiknya kamu ikut aku saja?"


"Yang benar saja, kamu kan sedang bekerja mana mungkin aku mengganggumu?"


"Tapi aku tidak merasa terganggu sama sekali."


"Sudahlah sayang, aku akan baik-baik saja di rumah ini," Tamara meyakinkan Lukas bahwa ia akan baik-baik saja.


Sejak pertengkaran mereka kemarin, Lukas jadi lebih berhati-hati dalam bersikap dan berucap. Ia bahkan menunjukkan rasa penyesalannya dengan bersikap semakin baik pada Tamara.


"Sayang, apa kau sudah memaafkan aku?"


"Tentu saja, aku tau kemarin kamu hanya emosi sesaat karena cemburu."


"Maafkan aku, tapi ku mohon lain kali jangan buat aku merasa cemburu seperti kemarin lagi," pinta Lukas.


"Iya sayang, sudah sana berangkat. Ini sudah siang," Tamara meminta Lukas untuk segera pergi kerja.


Dengan berat hati, Lukas akhirnya meninggalkan Tamara di rumah. Bersama sekitar lima orang pengawal yang berjaga di rumah mereka. Yang sudah ditempatkan di posisi masing-masing agar tidak terlihat mencolok.


Satu orang yang berperan sebagai satpam, satu orang lagi berperan sebagai tukang kebun, satu orang lainnya berperan sebagai supir pribadi, dan dua orang wanita yang bertugas sebagai asisten rumah tangga.


Mereka semua adalah para pengawal terlatih yang pandai membela diri. Lukas sampai segitunya memilih para pengawal terbaik untuk menjaga Tamara.


Tentu saja hal ini membuat Tamara merasa semakin yakin bahwa Lukas amat sangat mencintainya, Lukas pasti khawatir sesuatu yang tak baik akan menyakiti Tamara.


Seharusnya hal ini saja cukup untuk membuat Tamara merasa tenang, tak mungkin Lukas akan pergi meninggalkannya.


Namun kata-kata dari Richard tadi malam terus saja terngiang dalam pikirannya.

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya sedang om Richard rencanakan? Kenapa juga dia harus mengirim Jake untuk menemuinya? Apa benar Jake tak tau apapun soal rencana om Richard?" Tamara tak bisa berhenti memikirkan semua itu.


Tak hanya Tamara, Lukas pun yang kini baru tiba di kantor terus saja merasa gelisah. Pertanyaan yang sama yang ada dalam benak Lukas, mengapa paman dari istrinya itu ingin membuat ia meninggalkan Tamara.


"Sampai kapan pun aku tak akan pernah meninggalkan Tamara," batin Lukas.


Sepanjang hari, Lukas tak bisa berhenti memikirkan Tamara. Berkali-kali ia selalu menghubungi Tamara, padahal Tamara baik-baik saja di rumah.


Dengan adanya pengawal yang di sewa Lukas, membuat Tamara merasa sedikit tenang. Ia tak hanya merasa dirinya aman bersama para pengawal yang menjaganya. Tetapi juga kini ia memiliki teman untuk di ajak bicara di rumah.


Tamara dengan cepat bisa berbaur dengan para pengawalnya, terutama mereka yang wanita. Meski jaraknya terpaut lumayan jauh, namun mereka tetap bisa nyambung saat diajak bicara dengan Tamara. Mereka juga bukan sosok yang kaku seperti pengawal-pengawal pada umumnya.


...***...


Hari-hari pun berlalu, ancaman yang pernah dilontarkan tak pernah terjadi.


"Sepertinya pamanmu itu hanya menakut-nakuti mu saja," ucap Lukas.


"Semoga saja, sudah beberapa hari ini om Richard juga tak menghubungiku lagi," balas Tamara.


"Oh iya, bagaimana dengan orang yang mengaku-ngaku sebagai sepupumu itu?"


"Jake? Dia juga tak menghubungiku, dia kan tak tau nomor ponselku."


"Tapi pamanmu bisa tau nomor ponselmu dari mana?"


Bahkan para tetangga di kontrakan kakeknya pun tidak ada yang tau.


"Tunggu sebentar," Tamara tiba-tiba teringat sesuatu.


"Ada apa?"


"Ponsel punya kakek ada di siapa ya?"


"Entahlah, aku juga tak tau. Bukankah pak Nuh yang merapihkan semua barang-barang milik kakek Adrian?"


"Benar juga, aku tak pernah mencari keberadaan ponsel kakek. Apa mungkin om Richard yang memegangnya saat ini?"


Tamara dan Lukas saling menatap.


"Tapi bagaimana mungkin om Richard mengambilnya?" Tanya Tamara.


"Sebaiknya kita tanya pak Nuh saja," Lukas langsung mengambil ponsel miliknya.


Ia mencari nomor pak Nuh, dan segera menghubunginya.


"Halo, selamat malam tuan muda," sapa pak Nuh ketika telepon tersambung.

__ADS_1


"Malam pak, pak boleh saya tanya sesuatu?"


"Silahkan tuan muda."


"Begini..." Lukas menjelaskan maksud dan tujuannya menghubungi pak Nuh malam-malam begini.


"Tunggu sebentar tuan muda, biar saya cek dulu. Nanti jika ada saya akan menghubungi tuan muda," ucap pak Nuh.


"Baiklah, terima kasih pak. Saya tunggu kabarnya," Lukas pun mengakhiri panggilannya.


"Bagaimana?" Tamara langsung menyerbu Lukas ketik Lukas sudah mematikan ponselnya.


"Pak Nuh akan melihat dulu barang-barang yang dibawa dari kontrakan kakek Adrian," jawab Lukas.


"Bagaimana kalau ponsel kakek memang tak ada?"


"Pasti seseorang mengambilnya," jawab Lukas santai.


"Apa mungkin?" Tamara meragukan jawaban Lukas. Setau Tamara, pak Nuh adalah orang yang sangat ketat. Meski jabatannya hanya sebagai supir pribadi Dominic, namun ia adalah satu-satunya orang kepercayaan Dominic.


Mendengar jawaban Tamara, Lukas pun baru sadar dengan apa yang dia ucapkan.


"Kamu benar, jika sudah ada di tangan pak Nuh. Tak mungkin ada orang yang bisa mengambilnya," Lukas mengangguk-angguk kepalanya.


"Kalau begitu bisa jadi seseorang mengambilnya sebelum pak Nuh merapihkan kontrakan kakek," tebak Tamara.


Lukas berpikir sejenak.


"Kamu benar, bisa jadi seperti itu. Tapi bagaimana? Apa pamanmu itu sendiri yang mengambilnya?"


Saat keduanya tengah kebingungan, tiba-tiba pak Nuh menghubungi ponsel Lukas. Tanpa pikir panjang Lukas segera menjawabnya.


"Bagaimana pak?"


"Saya tidak menemukan ponsel tuan Adrian. Saya juga sudah bertanya ke beberapa anak buah saya, mereka tak pernah melihat ponsel saat merapihkan barang-barang milik tuan Adrian."


Lukas langsung menatap Tamara penuh arti.


"Oh begitu, baiklah terima kasih pak sebelumnya."


"Tapi tuan muda..."


"Ya, ada apa pak?"


"Saat saya hendak membereskan barang-barang tuan Adrian. Rumah itu dalam kondisi tidak di kunci."


Deg...

__ADS_1


Lukas dan Tamara yang mendengarnya langsung saling menatap.


__ADS_2