
Keesokan harinya, Lukas sudah menyelesaikan semua jadwalnya. Ia berniat untuk segera pulang di penerbangan pertama, jam lima pagi.
Namun karena pagi itu cuaca sedang buruk, sehingga penerbangannya terpaksa ditunda sampai waktu yang tak bisa ditentukan. Lukas sangat kecewa ia tak bisa segera pulang menemui Tamara, belum lagi kabar yang ia terima tadi malam tentang kedatangan Jake ke rumahnya.
Lukas menjadi semakin gelisah, ia tak tau harus bagaimana.
"Apa aku lewat jalur darat saja?" Tanyanya pada Olivia.
"Tapi akan memakan waktu lebih lama tuan muda, perjalanan melalui darat akan menghabiskan waktu sekitar dua belas jam. Itupun jika tidak ada kendala di perjalanan," jawab Olivia. Ia juga sebenarnya sangat lelah dengan padatnya aktivitas Lukas selama di kota ini, dalam hati Olivia berharap tuannya itu mengurungkan niatnya untuk pulang melalui jalur darat dan menunggu hingga cuaca membaik.
"Tapi kita bahkan kita tidak tahu harus menunggu sampai kapan di sini? Bagaimana jika istriku kenapa-kenapa di sana? Bisa saja tadi malam dia tidak bisa tidur karena cerita dari Jake, atau mungkin saja Tamara saat ini sedang meringkuk ketakutan karena pamannya yang bisa mengancam keselamatannya kapanpun?" Lukas menjadi semakin gelisah.
"Tuan muda, tenanglah. Saya yakin nona akan baik-baik saja saat ini. Di sana kan ada lima pengawal yang menjaganya, tuan muda harus percaya pada para pengawal."
"Kamu benar," raut wajah Lukas mulai terlihat tenang. "Tapi..."
__ADS_1
"Tuan muda, anda juga harus istirahat. Kalau anda sampai jatuh sakit karena terlalu lelah dan stres, bisa-bisa saya yang repot. Dan lagi nona Tamara pasti akan sedih karena mendengar kabar tuan muda yang sakit karena terus memikirkan nona," Olivia sudah sangat lelah meladeni tuannya itu.
"Iya, kamu benar..."
"Jadi tuan muda, sebaiknya kita istirahat dulu saat ini. Tuan juga harus menenangkan pikiran tuan muda, sambil menunggu kabar selanjutnya," saran Olivia.
Lukas menghela nafas panjang, meski di dalam hatinya masih saja merasa khawatir. Namun apa yang Olivia katakan memang benar, jangan sampai ia jatuh sakit dan nantinya hanya akan membuat Tamara khawatir.
Olivia akhirnya memesan dua room box untuk dirinya dan juga Lukas.
Lukas hanya mengangguk dan menuruti permintaan Olivia. Kini mereka sudah berada dalam room box masing-masing.
Olivia memilih untuk memejamkan mata selagi menunggu kabar tentang penerbangan yang tertunda, sedangkan Lukas hanya bisa merebahkan tubuhnya di dalam room box tanpa bisa memejamkan matanya.
"Sayang, aku harap kamu baik-baik saja. Aku sebenarnya sangat ingin menelpon mu, tapi aku takut malah akan semakin khawatir karena melihat raut wajah sedihmu. Jadi biarlah saat ini aku menganggap kamu sedang terlelap dalam mimpi indah mu," batin Lukas.
__ADS_1
Selama satu hari penuh cuaca di kota itu terus saja buruk. Tak hanya hujan yang turun dengan deras, angin pun ikut bertiup dengan kencangnya.
Hingga malam tiba, cuaca sudah semakin membaik. Lukas meminta Olivia untuk langsung saja mengikuti penerbangan malam itu juga.
Olivia yang tau atasannya itu sudah cukup bersabar sejak pagi, mau tak mau harus menuruti permintaan tuan mudanya itu. Ia segera memesan tiket pesawat menuju kota asal mereka.
Di dalam pesawat, Lukas terus saja merasa gelisah. Semakin dekat mereka dengan tempat tujuan semakin berkecamuk hati Lukas dibuatnya.
...****************...
Mohon maaf untuk semua pembaca yang sudah menanti karya ini, penulis kelamaan hiatus ya ðŸ¤.
Niat awal cuma mau istirahat sebentar karena lagi mabok-maboknya efek hamil muda. Eh... Malah keterusan dan akhirnya malah lupa sama apa yang mau ditulis.
Insya Allah, cerita ini masih belum selesai dan akan penulis usahakan untuk bisa selesai sebelum lahiran. (karena ini sudah masuk 9 bulan 😌).
__ADS_1
Terima kasih untuk semua pembaca yang masih setia menunggu kisah Tamara dan Lukas. Semoga kalian suka 🥰🥰🥰