Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 128


__ADS_3

Menjelang sore. Sebuah mobil melaju dengan kecepatan penuh di sebuah jalan tol menuju bandara. Saat itu jalanan sedang sangat sepi karena hujan sedang turun dengan derasnya.


"Sayang, pelan-pelan." Pinta Tamara, ia khawatir karena Lukas sama sekali tak mengurangi kecepatannya.


"Kita ketinggalan pesawat sayang," Lukas tak menggubris permintaan Tamara.


"Ku rasa jadwal penerbangan akan di tunda sayang, Lihatlah hujan sangat deras dan langit juga sangat gelap."


Lukas sama sekali tak memperdulikan ucapan Tamara, ia semakin mempercepat laju kendaraannya.


"Maaf sayang, berpegangan tangan dan percakayan lah saja padaku. Ah satu lagi, berdoa saja agar kita selamat sampai ke bandara," raut wajah Lukas nampak datar. Tamara tak bisa menebak apa yang kini tengah Lukas rasakan.


Sejak mereka keluar dari kantor polisi, raut wajah Lukas terlihat begitu cemas. Semula mereka pergi ke kantor polisi dengan menggunakan mobil Lukas, namun entah bagaimana mobil itu tidak ada saat mereka berdua keluar dari kantor polisi.


Tamara terus menanyakan keberadaan mobil Lukas, namun Lukas memilih diam dan tak ingin menjawab pertanyaan Tamara. Dari raut wajah yang terlihat cemas itu, Tamara tak lagi bertanya. Ia takut hanya akan membuat Lukas marah.


Setengah jam berlalu dan tiba-tiba Olivia datang membawa sebuah mobil dan juga barang-barang untuk mereka berdua.


"Kenapa lama sekali sih?" Ucap Lukas kesal begitu melihat Olivia.


"Maaf tuan muda," ucap Olivia sambil membungkukkan badannya. Ia sama sekali tak memberi alasan apapun pada Lukas. Olivia lalu menyerahkan kunci mobil dan mempersilahkan Lukas dan Tamara masuk ke dalam mobil.


Setelah Lukas dan Tamara masuk ke dalam mobil, Olivia kembali membungkukkan badan.


"Selamat berrlibur tuan muda dan nona. Semoga perjalanan kalian menyenangkan dan selamat sampai tujuan," ucap Olivia.


"Ya, ya, ya..." Lukas tak mau berbasa basi, ia langsung tancap gas meninggalkan Olivia di kantor polisi. Sementara itu Tamara tak bisa berkata apapun, Tamara hanya bisa melambaikan tangannya pada Olivia. Olivia pun hanya membalasnya dengan senyuman.

__ADS_1


Sepanjang jalan mereka berdua tak saling bicara, meski sebenarnya ada banyak sekali hal yang ingin Tamara bicarakan pada Lukas. Namun melihat ekspresi Lukas yang masih cemas, Tamara jadi mengurungkan niatnya.


Setelah perjalanan yang menegangkan, mereka berdua akhirnya tiba di bandara tepat pukul lima sore. Hujan deras masih mengguyur area bandara dan sekitarnya.


Dan benar seperti dugaan Tamara sebelumnya, pesawat yang akan mereka tumpangi akan delay dalam kurun waktu yang tidak bisa ditentukan.


"Benar kan apa ku bilang," ucap Tamara. Namun Lukas tak mendengar apa yang Tamara katakan.


"Syukurlah jika pesawatnya harus delay, jika tidak kita pasti sudah ketinggalan pesawat," ucap Lukas sambil menggandeng tangan Tamara menuju ke sebuah restoran. "Aku lapar, ayo kita makan dulu."


Mereka berdua lalu masuk ke dalam restoran dan memesan beberapa menu.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, Lukas berkali-kali mengecek ponselnya. Tamara terus memperhatikan dan menunggu saat yang tepat untuk mulai berbicara pada Lukas.


Setelah pesanan mereka datang, Lukas langsung menyantap makanan yang disajikan. Sepertinya ia merasa sangat lapar karena hanya mereka melewatkan jam makan siang mereka.


Tamara menurut, ia mulai menyuap makanannya ke dalam mulutnya. Perlahan-lahan sambil terus mengamati Lukas yang makan dengan lahap seperti biasanya.


Selesai makan, barulah Tamara bisa memulai percakapan dengan Lukas.


"Memangnya jadwal penerbangan yang kamu pesan seharusnya berangkat jam berapa?" Tanya Tamara.


"Jam empat tiga puluh menit," jawab Lukas.


Tamara mengangguk. "Jadi karena itukah kamu terlihat cemas sejak tadi?"


"Mmm..." Lukas mengangguk.

__ADS_1


"Ku pikir karena mobilmu tak ada di kantor polisi," ucap Tamara.


"Ah, mobil itu sudah dibawa oleh Erik. Tadi ku kira kamu tak akan lama menemui om Richard, makanya aku memilih untuk membawa mobil sendiri dan kembali ke rumah sebelum sore hari. Tapi ternyata apa yang terjadi di luar prediksi. Aku jadi meminta tolong Olivia untuk mengemasi barang-barang kita dan aku meminjam mobilnya untuk di bawa ke bandara ini."


"Lalu, nanti kak Oliv pakai mobil siapa?"


"Kamu pikir mobil Olivia cuma satu?"


Tamara mengangguk.


"Kamu salah, meskipun dia hanya sekertaris tapi uangnya banyak. Dia memang sudah kaya sejak lahir, hanya saja dia tak bisa mewarisi perusahaan orang tuanya karena punya banyak kakak laki-laki," jelas Lukas.


"Ah..." Tamara lagi-lagi hanya bisa mengangguk paham.


"Tapi tadi kenapa tidak kak Oliv saja yang mengantar kita ke bandara?"


"Ah, kalau dia yang bawa pasti kita akan terlambat sangat jauh. Dia itu kalau bawa mobil terlalu santai." Lukas beralasan, padahal ia tadi tak kepikiran hal itu sama sekali.


"Bagaimana perasaanmu saat ini? Kamu pastii senang kan bisa kembali berhubungan dengan om Richard?" Tanya Lukas mengalihkan pembicaraan.


"Tentu saja, terima kasih ya sayang karena telah mengizinkan aku untuk menemui om Richard. Jika saja kamu tak mengizinkan aku, mungkin hubunganku dan om Richard masih tidak baik-baik saja," jawab Tamara sambil tersenyum.


Melihat senyuman manis di wajah istrinya tentu Lukas ikut merasa bahagia.


"Syukurlah  Tapi ingat, proses hukum akan tetap berjalan meski kamu sudah memaafkannya," Lukas mengingatkan.


"Iya," jawab Tamara dengan berat hati. Meski Tamara sudah memaafkan Richard, namun hukum tetaplah hukum yang harus ditegakkan. Sandra dan Jake pun tak keberatan, mereka malah berterima kasih karena hukuman Richard akan menjadi ringan.

__ADS_1


Dominic bahkan merasa sangat salut dengan kemurahan hati Tamara, tapi Dominic juga senang dengan sikap tegas Lukas yang tetap ingin semuanya diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.


__ADS_2