
Bab kali ini terdapat adegan panasnya ya. Buat para pembaca yang masih di bawah umur, untuk men skip dulu bab kali ini.
Mohon bijak dalam memilih bacaan ☺️
......................
Aksi panas mereka di teras belakang di saksikan oleh dua orang pelayan yang tanpa sengaja lewat di sekitar sana.
Keduanya terus saja bergosip sambil berlalu menuju kamar mereka.
"Kau lihat? Betapa ganasnya tuan muda," bisik si pelayan 1.
"Iya, nona Tamara sampai kewalahan. Tapi dia sepertinya menikmati saja," balas pelayan 2.
"Ku pikir mereka akan melanjutkan di sana, ternyata mereka malah pindah ke kamar."
"Iya, sayang sekali."
Obrolan dua orang pelayan itu di dengar oleh pelayan mata-mata. Tentu saja sesegera mungkin pelayan mata-mata itu mengirimkan kabar tersebut pada tuan Dominic.
Di dalam kamar, Lukas membaringkan tubuh Tamara di atas tempat tidur dengan perlahan.
"Kau harus tanggung jawab, karena sudah membangunkan juniorku!"
Lukas lalu membuka bajunya dan melempar ke sembarang arah, lalu ia kembali mencium dengan ganas bibir Tamara.
Ciuman Lukas turun ke leher Tamara, membuat Tamara melenguh dan mendesah kenikmatan.
Suara ******* Tamara semakin membuat darah Lukas mendidih.
"Buka pakaianmu!" Perintah Lukas.
"Semuanya?" Tamara bertanya dengan polos.
Lukas mengangguk.
Tanpa pikir panjang, Tamara membuka seluruh pakaiannya. Ia kembali polos saat ini.
Lukas mengukung tubuh Tamara yang sudah polos itu di bawah tubuhnya.
Kini Lukas bisa melihat dengan jelas setiap inci tubuh Tamara. Dua buah yang menggantung di dada Tamara membuat Lukas menelan saliva nya.
"Kenapa ini besar sekali?"
Untuk pertama kalinya Lukas memegang buah yang kenyal dan besar itu. Perlahan Lukas meremasnya, sambil melihat reaksi Tamara.
Tamara tampak sangat menikmatinya, Lukas jadi meremas semakin keras. Dan semakin nampak kenikmatan di raut wajah Tamara.
"Kau suka?" Tanya Lukas.
Tamara mengangguk.
Lukas lalu menghisap pucuk buah berwarna pink kemerahan itu. Sebelah tangannya masih sibuk meremas buah yang satunya.
"Kenapa ini enak sekali?" Batin Lukas.
__ADS_1
Ini pengalaman pertamanya bersetubuh dengan seseorang.
Cukup lama Lukas mengisap secara bergantian, dua pucuk buah yang nampak sangat menegang itu.
Lukas lalu beralih ke bagian inti Tamara. Ia mengamati dengan seksama, isi dibalik bulu-bulu halus itu.
"Apa aku boleh...?" Lukas menatap Tamara penuh harap.
Tamara yang memang sudah di atas angin mengangguk dengan cepat.
Lukas lalu meregangkan kedua kaki Tamara, sehingga daerah inti tubuh Tamara terlihat dengan sangat jelas. Ia lalu memasukan satu jarinya ke dalam sana.
Tamara mendesah saat Lukas memasukkan jarinya itu.
"Ahhh..."
"Apa enak?"
Tamara mengangguk.
Lukas lalu memainkan jarinya di area inti itu, membuat tubuh Tamara semakin tak karuan karena merasakan kenikmatan.
"Ssshhh... Ahhh..." Tamara terus mengeluarkan suara-suara kenikmatan dari mulutnya.
Lukas mengeluarkan jarinya, dan melihat selaput darah di jarinya.
"Jadi kau benar-benar masih perawan?"
Tamara mengangguk.
Tamara lagi-lagi mengangguk.
"Kenapa kau bertanya? Bukankah aku ini milikmu?"
Lukas menyeringai. Ia lalu membuka seluruh pakaiannya dan bersiap untuk membawa juniornya menelusup gua yang belum pernah terjamah sebelumnya.
Secara perlahan namun pasti, Lukas membiarkan juniornya masuk ke dalam gua yang masih sangat sempit itu.
"Ah... Pelan-pelan," pinta Tamara.
"Sakit?"
Tamara mengangguk.
Lukas kembali menarik keluar juniornya, lalu memasukkan kembali perlahan.
Setelah beberapa kali keluar masuk gua sempit itu, akhirnya si junior berhasil masuk ke dalam hingga ujung gua.
Lukas merasakan juniornya terjepit di dalam sana, namun entah mengapa ia sangat menikmatinya.
"Ahhh... Kenapa ini enak sekali?" Gumam Lukas.
Lukas memulai permainan dengan gerakan lebih cepat.
"Ahhh... Ahhh... Lukashhh..." Tamara mendesah semakin keras, membuat Lukas semakin kencang memainkan juniornya.
__ADS_1
Tamara mencengkram sprei yang sudah sangat acak-acakan itu.
"Terus sayang, ahhh... Kau hebat sekali..." Tamara terus meracau di tengah permainan.
"Ahhh... Tamara, punyamu enak sekali," Lukas tak mau kalah.
Permainan semakin memanas, Lukas memejamkan matanya ketika si junior hendak memuntahkan lahar putihnya.
"Ahhh... Tamara, aku sampai..." Lukas menghentikan gerakannya. Si junior di dalam sana sudah mengeluarkan isinya.
Lukas menarik si junior keluar dari gua sempit itu. Bersamaan dengan darah segar yang menempel di kulit junior.
Lukas melihat darah itu segera mencium kening Tamara, ia merasa senang karena juniornya pertama kali melakukan dengan seorang yang juga masih perawan.
"Ayo kita bersih-bersih dulu," ajak Lukas pada Tamara yang sudah terkulai lemah.
"Aku... Lelah," ucap Tamara.
"Ya sudah, kau di sini saja. Biar aku yang bersihkan punyamu itu," entah ada angin apa hingga Lukas bersedia membersihkan sisa-sisa pertempuran mereka tadi.
Lukas mengambil handuk kecil yang sudah ia basahi sebelumnya, Lukas lalu membersihkan area inti milik Tamara itu dengan handuk basah.
"Apa rasanya sakit?" Tanya Lukas.
"Sedikit," jawab Tamara. Saat ini ia masih berada dalam pengaruh alkohol, jadi rasa sakitnya tak begitu terasa.
Setelah membersihkan tubuh Tamara, Lukas memakaikan kembali pakaian Tamara. Lalu Lukas membopongnya ke atas sofa.
"Kau tidur di sini dulu, aku mau merapihkan tempat tidur."
Tamara mengangguk saja, ia memang merasa sudah sangat mengantuk. Dan tak lama ia pun tertidur.
Lukas yang sudah membersihkan dirinya dan memakai kembali pakaiannya, segera keluar mencari pelayan untuk memintanya mengganti sprei. Sprei yang terdapat noda darah Tamara itu, sprei yang menjadi saksi malam pertama Lukas dan Tamara di vila itu.
Pelayan yang diminta untuk mengganti sprei tentu sangat tau apa yang baru saja terjadi di kamar itu. Ia tersenyum sendiri saat melihat Tamara yang kelelahan tertidur di sofa.
"Tuan Dominic pasti sangat senang mendengar kabar ini," batin si pelayan.
Pelayan itu adalah pelayan mata-mata yang dikirim Dominic untuk mengawasi Lukas dan Tamara.
Setelah tempat tidur kembali rapih, si pelayan pamit undur diri. Ia lalu keluar membawa bukti pertempuran di atas ranjang antara Lukas dan Tamara.
Lukas kembali membawa tubuh Tamara ke atas tempat tidur. Ia membelai lembut rambut Tamara, dan mengecup keningnya.
"Terima kasih Tamara, ku harap kau tak mengingat kejadian malam ini."
Lukas meninggalkan Tamara masuk kembali ke dalam kamar mandi. Ia hendak melakukan rutinitas malamnya seperti biasa.
Tadi, ia hanya bersih-bersih sekenanya, karena ingin meminta pelayan untuk segera merapihkan kamarnya.
Dan sekarang adalah waktu yang sesungguhnya bagi Lukas untuk melakukan rutinitas malamnya seperti biasa.

Sudah siap dengan baju tidurnya, Lukas lalu merebahkan dirinya di sofa. Malam itu, Lukas memilih untuk mengalah dan tidur di sofa karena Tamara sudah berhasil menaklukan juniornya.
__ADS_1
Malam ini adalah malam terakhir mereka menginap di vila, karena besok mereka akan segera kembali ke rumah. Meski Lukas masih memiliki waktu cuti, namun ia memilih untuk menghabiskan sisa cutinya di rumah saja.