
Di pagi hari, Tamara bangun kesiangan. Saat itu sudah ada beberapa perawat yang sedang menggantikan sprei di ranjang pasien.
Sementara tempat tidurnya sedang diganti sprei nya, Leonard duduk di kursi roda. Ia memandangi menantunya yang baru saja tersadar dari mimpi panjangnya.
Tamara yang baru bangun di saat hari sudah terang, tentu merasa tidak enak hati. Terlebih sejak tadi Leonard terus menatapnya.
"Kamu pasti sangat lelah, cucilah muka mu dulu," pinta Leonard.
"Iya pah," Tamara menurut. Ia langsung bergegas pergi menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.
"Sepertinya tuan sangat menyayangi menantu anda," ucap kepala perawat yang juga ada di sana.
"Tentu saja, dia menantuku satu-satunya. Wanita yang bisa menaklukan hati putra semata wayangku," balas Leonard.
"Syukurlah, wanita itu pasti sangat beruntung memiliki mertua yang baik dan pengertian seperti anda. Anda bahkan meminta kami untuk melakukan pekerjaan kami dengan perlahan agar tak membangunkan menantu anda," ucap seorang perawat yang mengganti sprei.
"Dia pasti lelah, aku hanya tak ingin mengganggunya."
Setelah sprei tempat tidur sudah diganti, kepala perawat membantu Leonard kembali ke tempat tidurnya. Mereka berdua pun pamit karena sudah selesai melakukan pekerjaannya.
Ketika dua perawat sudah pergi, Tamara keluar dari kamar mandi. Ia melihat Leonard sudah kembali duduk di atas ranjang pasien, dan tak ada siapapun lagi di sana.
"Papah, bagaimana kondisi papah saat ini?" Tanya Tamara sambil mendekat ke arah Leonard.
"Sudah jauh lebih baik," jawab Leonard dengan senyum manisnya.
"Papah sudah sarapan?"
"Sudah, tadi Lukas yang menyuapi papah. Kamu juga sarapan lah dulu, tadi Lukas sudah membeli makanan untukmu," ucap Leonard sambil menunjuk ke arah meja di sampingnya.
"Oh iya pah, ngomong-ngomong Lukas kemana ya?" Tamara celingukan mencari sosok Lukas.
"Dia sudah mulai bekerja, tadi Lukas minta supaya tidak membangunkan kamu. Sepertinya hubungan kalian baik-baik saja ya?"
"Eh, iya... Tentu saja pah, Lukas sangat baik padaku."
"Syukurlah, papah sempat khawatir jika Lukas tak memperlakukan kamu dengan baik. Sebenarnya, pada awalnya tak hanya Lukas yang menolak perjodohan ini, tapi papah juga."
__ADS_1
Tamara terdiam mendengar ucapan Leonard, ia seketika mempersiapkan dirinya jika memang ternyata papah mertuanya juga tak menyukai dirinya.
"Tapi bukan karena papah membenci kamu, menurut papah dan mamah, justru kamu adalah sosok yang cocok untuk menjadi menantu kami. Namun yang kami khawatirkan adalah Lukas. Kadang dia memiliki sifat yang sedikit arogan, dan menganggap dirinya sangat sempurna hingga tak pernah ada seorang gadis pun yang ia kencani," lanjut Leonard.
Tamara mengangguk paham, ada rasa lega yang menjalar di dalam hatinya. Meski ia bukan berasal dari keluarga berada, dan juga tidak memiliki keahlian khusus apapun. Tapi mertuanya bisa menerima Tamara apa adanya.
"Tamara, jika suatu saat Lukas menyakiti hatimu. Tolong jangan ceritakan kepada orang lain ya, katakan saja semua keluh kesahmu selama menjalani rumah tangga bersama Lukas pada kami," pinta Leonard.
"Iya pah," Tamara kembali mengangguk.
"Sekarang kamu sarapan ya, papah mau tidur dulu. Nanti kalau dokter datang, kamu bangunkan papah ya," pesan Leonard sambil berbaring di ranjangnya.
"Iya pah," Tamara pun menurut. Ia membuka bungkusan berisi makanan yang pagi tadi dibeli oleh Lukas.
Ternyata Lukas membelikannya sepotong sandwich dan juga semangkok puding mangga yang memang sangat ia suka.
"Dari mana dia tau kalau aku suka puding mangga?" Gumam Tamara. "Ah, mungkin hanya kebetulan saja."
Tamara dengan lahap memakan sandwich berukuran mini itu. Dan tak lama, sandwich beserta puding mangga sudah habis tak bersisa.
Selesai sarapan, Tamara mengecek ponselnya. Ternyata ada pesan masuk dari Lukas yang mengatakan bahwa mungkin mereka tak bisa bertemu beberapa hari ini karena harus mengurus proyek bersama Vanesa.
Saat sedang melamun, tiba-tiba saja Tamara merasakan perutnya sakit seperti hendak datang bulan.
"Ssshhh... Aduh, kenapa sakit sekali ya? Apa karena aku terlalu lelah jadi sakit begini?" Batin Tamara.
Ia mengecek ponselnya dan baru tersadar jika ia sudah terlambat datang bulan.
"Oh, mungkin karena telat jadi sakit begini." Tamara terus bicara dengan dirinya sendiri.
Karena lupa membawa pembalut, Tamara pun pergi keluar sebentar untuk membeli pembalut. Sebelum pergi keluar, Tamara sudah menitipkan pesan pada perawat yang berjaga jika ia ingin keluar sebentar.
Tamara bergegas membeli pembalut di minimarket yang berada di lantai dasar rumah sakit. Beruntung saat itu minimarket sedang sepi, jadi Tamara bisa cepat kembali ke kamar.
Saat di kamar, Tamara merasa lega karena Leonard masih tertidur lelap. Tamara pun bergegas untuk memakai pembalutnya meski belum ada darah yang keluar.
"Sebaiknya aku pakai dulu saja, dari pada nanti keburu bocor duluan," gumam Tamara.
__ADS_1
Selesai dengan urusannya, Tamara kembali ke sofa. Namun ternyata Leonard sudah terbangun dan sedang menonton televisi.
"Kamu lama sekali di kamar mandi," ucap Leonard.
"Iya pah, maaf. Apa ada sesuatu yang papah butuhkan?"
"Tidak, papah hanya khawatir karena kamu lama sekali di dalam sana."
"Hehe, sepertinya aku akan datang bulan," malu-malu Tamara mengatakannya juga pada Leonard.
"Datang bulan? Yah, berarti aku masih harus lebih sabar lagi," ucap Leonard dengan lesu.
"Sabar? Sabar kenapa pah?"
"Tidak apa-apa, kamu istirahatlah. Yang papah tau kalau wanita sedang datang bulan itu pasti mood nya naik turun."
"Hehe, kalau aku sih gak gitu pah. Cuma memang dari kemarin badanku rasanya cepat sekali lelah. Mungkin karena datang bulannya terlambat."
Sungguh polos Tamara, bahkan hal seperti itu saja ia ceritakan pada Leonard. Tentu saja itu membuat Leonard curiga.
"Kamu yakin kalau kamu sekarang sedang datang bulan?"
"Iya," jawab Tamara yakin. Meski memang belum ada darah yang keluar, tapi rasanya sama seperti mau datang bulan. Jadi Tamara yakin sekali bahwa tak lama lagi ia akan datang bulan.
"Sudah telat berapa lama?" Leonard semakin mengintrogasi.
"Sekitar satu atau dua minggu, aku lupa," jawab Tamara sambil mengingat-ingat.
"Kenapa tidak kamu periksa saja ke dokter," usul Leonard.
"Tidak perlu pah, nanti juga sakitnya akan hilang dengan sendirinya," Tamara menolak usulan Leonard.
"Tidak apa, mumpung kita ada di rumah sakit. Biar sekalian," Leonard memaksa.
"Bener pah, aku gak apa-apa kok."
"Tapi papah yang kenapa-kenapa, begini-begini papah itu sosok suami yang perhatian. Papah gak bisa tinggal diam kalau mamah lagi datang bulan, pasti papah inisiatif buat beliin ini dan itu. Belum lagi kalau mamah merasa perutnya sakit, pasti langsung papah bawa ke dokter."
__ADS_1
Karena Leonard terus memaksa, mau tak mau Tamara pun menuruti keinginan papah mertuanya itu.
Leonard meminta kepala perawat untuk memeriksakan kondisi menantunya, ia curiga kalau saat ini Tamara sudah mulai mengandung buah hati Lukas dan Tamara.