
Segera setelah Rima meletakkan nampan di atas meja, ia segera menghampiri Tamara.
"Ada apa nona?"
"Kak, barusan aku menelpon nomor Jake dan..."
Tamara menceritakan semua yang ia dengar melalui ponselnya, ia juga bercerita banyak mengenai latar belakang kedua orang tuanya dan kecurigaannya setelah mendengar percakapan antara Jake dan Richard di telepon tadi.
Rima pun mendengarkan dengan seksama apa yang sedang Tamara ceritakan padanya. Ia juga terkejut mendengar majikannya mempunyai cerita kelam di masa lalu yang membuat Tamara jatuh miskin sebelum menikah dengan Lukas.
Tamara yang memang sudah menganggap semua pengawalnya yang selama beberapa minggu ini menemaninya seperti keluarga sendiri, tentu saja tidak merasa sungkan menceritakan masa lalunya.
"Bagaimana menurutmu kak?" Tanya Tamara setelah panjang lebar menceritakan kisah hidupnya.
"Nona, sepertinya kita memang harus berhati-hati pada orang yang bernama Richard ini. Bisa jadi kecurigaan nona itu benar," jawab Rima menanggapi cerita Tamara.
"Iya, kamu benar."
"Tapi nona, bagaimana pun kita juga harus menyelidiki orang yang bernama Jake juga. Kita harus tau, kenapa dia ingin menyelamatkan nona? Apa memang benar dia memiliki hati yang baik atau ada maksud lain?"
Meski Tamara tak setuju, tapi ia juga tak bisa menolak saran dari Rima. Ia juga masih kepikiran mengenai Jake yang tiba-tiba datang ke dalam hidupnya, mengaku sebagai sepupu, dan tiba-tiba juga datang menyelamatkan dirinya yang tengah dalam bahaya.
"Apa kakak bisa membantuku menyelidiki semuanya?" Tanya Tamara.
"Tenang saja nona, saya dan yang lainnya pasti akan dengan senang hati membantu nona," jawab Rima dengan yakin.
"Terima kasih kak, kalian memang sudah ku anggap seperti kakak-kakak ku sendiri," Tamara memeluk Rima dengan erat.
Rima menenangkan majikannya dengan membalas pelukan Tamara dengan lembut.
"Kalau begitu, nona sebaiknya makan dulu lalu istirahat. Saya akan diskusikan dengan yang lainnya mengenai rencana penyelidikan ini," ucap Rima.
"Terima kasih kak, terima kasih," Tamara sangat senang karena ia memiliki orang-orang yang sangat peduli padanya.
"Tidak usah sungkan nona, sudah tugas kami menjaga dan melindungi nona dari hal yang membahayakan nona," balas Rima dengan sopan.
"Tunggu..." Langkah kaki Rima terhenti.
"Ada apa nona?"
"Kumohon sekali lagi, tolong jangan beri tau Lukas apa yang terjadi hari ini ya," Tamara memohon dengan sangat pada Rima.
__ADS_1
"Tapi nona..."
Mata Tamara membulat penuh permohonan pada Rima, membuat Rima tak bisa berkata tidak pada nona nya yang sedang bersikap manis saat ini.
"Baiklah nona, tapi saya mohon apapun yang akan nona lakukan, tolong beri tau padaku lebih dulu," pesan Rima.
"Tentu saja, sekali lagi terima kasih," Tamara tersenyum manis pada Rima.
Rima pun hanya membalas dengan anggukan, sebagai tanda ia menerima ucapan terima kasih Tamara dengan rasa hormat.
Tak lama Rima pun pergi meninggalkan Tamara seorang diri di dalam kamarnya.
Segera setelah keluar dari dalam kamar Tamara, Rima berdiskusi dengan para pengawal lainnya.
Di teras depan rumah mereka biasanya berkumpul, kali ini mereka berdiskusi tentang masa lalu Tamara dan juga masalah yang tengah dihadapi oleh Tamara saat ini
Rima yang sudah tau secara keseluruhan pun berbagi cerita kepada yang lainnya, dan semua pengawal sepakat untuk membantu Tamara mencari tau siapa Jake sebenarnya dan apa tujuan Richard mencari Tamara lagi saat ini.
Namun yang menjadi perdebatan adalah haruskah mereka memberi taukan masalah ini pada tuan muda. Di satu sisi mereka memang selalu diminta memberi kabar tentang kegiatan Tamara selama Lukas tak ada, tapi di sisi lain mereka juga mendapat permintaan dari Tamara untuk merahasiakan masalah ini dari Lukas.
"Bagaimana pun, tuan muda harus tau," usul Pras, pengawal yang menyamar menjadi tukang kebun.
"Tapi bagaimana jika nona marah pada kita?" Rima yang diminta secara langsung untuk merahasiakan semua yang terjadi oleh Tamara merasa tak enak hati jika tak menuruti kemauan Tamara.
Sementara Asti dan Brian yang bertugas sebagai satpam lebih memilih diam.
"Apa tidak bisa kita beri tau tuan muda, tapi memintanya untuk berpura-pura seolah tak tau?" Ucap Pras yang tiba-tiba terpikirkan sebuah ide.
"Apa mungkin? Mendengar peristiwa hari ini saja tuan muda pasti sudah sangat khawatir. Dan kita belum ada yang melaporkannya," Asti baru mengeluarkan isi pikirannya.
"Kita beri tau saja, aku rasa lebih baik nona yang marah dari pada tuan muda yang nantinya akan mengamuk karena tak ada satu pun dari kita yang melapor," Brian akhirnya juga ikut bersuara.
"Benar juga sih, tapi aku merasa tak enak dengan nona," ucap Rima.
"Tidak perlu kamu yang melapor, biar aku saja," Erik akhirnya juga memutuskan untuk melaporkan masalah ini pada Lukas.
Akhirnya semua pengawal pun sepakat untuk melaporkan kejadian hari ini pada Lukas.
Dan sesuai dengan dugaan, Lukas langsung panik dan segera membatalkan semua jadwalnya. Ia bergegas untuk kembali ke rumahnya dan melihat langsung kondisi Tamara.
Malam hari, Tamara masih mengutak-atik ponselnya. Ia berniat sekali lagi menghubungi Jake. Bagaimana pun ia sangat penasaran bagaimana kondisi Jake saat ini.
__ADS_1
"Apa dia baik-baik saja ya?" Tanya Tamara dalam hatinya.
Tamara ingin sekali menghubungi Jake, namun ia takut Richard yang mengangkat teleponnya.
Tamara terus berjalan ke sana kemari di dalam kamarnya, di tengah keraguannya yang hendak menghubungi Jake, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.
"Sayang?"
Tamara terkejut dengan kehadiran Lukas.
"Kamu sedang apa?" Tanya Lukas berusaha bersikap tenang. Karena sebelumnya Erik sudah mengatakan jika Tamara tak ingin Lukas tau, karena Tamara takut dirinya hanya akan menghambat pekerjaan Lukas.
"Mmm... Aku... Tidak ada, kamu kenapa sudah pulang?" Tamara segera menghampiri Lukas.
"Semua jadwal dibatalkan, dan akan dijadwalkan ulang nanti," jawab Lukas berusaha santai.
"Kenapa bisa begitu?"
"Kadang memang hal seperti itu bisa saja terjadi, tidak usah khawatir. Oh iya, bagaimana hari ini? Apa kamu sudah jadi berbelanja?"
"Eh, sudah... Sudah..."
"Apa saja yang kamu beli?" Lukas memancing agar Tamara mau bercerita.
"Hanya kebutuhan dapur saja," jawab Tamara dengan ragu-ragu. Karena ia sendiri lupa melihat apa saja yang sudah dibeli.
Melihat keraguan di wajah Tamara, Lukas yakin Tamara pasti ingin menceritakan sesuatu padanya.
"Ada apa? Kamu tidak jadi belanja?"
"Jadi... Tapi... Tadi, yang belanja kak Rima dan kak Asti."
"Kamu gak ikut?"
"Ikut, tapi aku gak ikutan masuk."
"Kenapa?" Lukas masih menahan diri.
"Itu... Karena," Tamara ragu apakah harus jujur atau berbohong pada Lukas.
"Karena?"
__ADS_1
"Sayang, maaf..." Mata Tamara mulai berkaca-kaca.
Lukas tau, saat ini Tamara pasti ingin mengatakan yang sebenarnya. Namun ia tak tau bagaimana mengatakannya.