
Sore hari, Lukas yang sudah bangun dari tidur panjangnya. Kini tengah asik menyiram tubuhnya dengan air dingin di kamar mandi.
"Ah, segarnya," gumam Lukas seraya menikmati kucuran air shower yang jatuh membasahi tubuhnya.
"Ngomong-ngomong, kemana perginya Tamara ya? Kenapa dia jam segini belum pulang? Mana ponselnya tidak ia bawa," Lukas jadi merasa khawatir karena Tamara tak kunjung pulang.
"Tunggu... Bagaimana jika dia cerita yang tidak-tidak pada kakek Adrian?"
Pikiran negatif tentang Tamara mulai bermunculan di pikiran Lukas.
"Tak bisa begini, aku harus segera menyusulnya," Lukas mempercepat mandinya.
Selesai mandi Lukas bergegas memakai baju. Lukas berniat untuk mengajak Tamara berkencan setelah pulang dari rumah Adrian.
Setelah rapih, ia pun meluncur dengan mobilnya menuju rumah Adrian.
Tiba di ujung jalan menuju rumah kontrakan Adrian, Lukas pun turun dari mobilnya. Tak lupa ia membeli buah tangan berupa sekeranjang buah-buahan.
Saat tiba di rumah Adrian, Lukas melihat Adrian sedang berbincang asik dengan tetangganya.
"Selamat sore kek..." Sapa Lukas.
Adrian yang melihat kedatangan Lukas pun segera menghampiri Lukas.
"Apa kau baru bangun?"
"Iya kek, maaf aku tadi tidak mengantar Tamara."
"Bukan karena kamu tidak mau mengantarnya kan?"
"Ah, tidak kek... Aku hanya merasa sangat lelah tadi," Lukas sebenarnya bingung harus memberi alasan apa? Ia hanya mencoba menjawab sebisanya.
"Begitu..." Adrian mengangguk-angguk.
"Kalau begitu masuklah, Tamara ada di dalam. Aku sedang mengobrol sebentar dengan tetanggaku," ucap Adrian.
Lukas pun menurut, ia kemudian masuk ke dalam rumah. Di sana ia tak menemukan sosok Tamara ada di ruang tamu sempit itu.
"Kemana dia?" Lukas berjalan masuk semakin dalam, dan menemukan Tamara sedang berbaring di dalam kamarnya. Kebetulan pintu kamar Tamara tidak tertutup.
"Sedang apa?" Tanya Lukas tiba-tiba, membuat Tamara terkejut melihat kedatangan Lukas.
"Lukas, sejak kapan kamu di sini?" Tamara pun segera duduk di tepi ranjang. Ranjang yang sangat kecil bagi Lukas, namun pas untuk ukuran tubuhnya.
"Baru saja, apa ini kamarmu?" Tanya Lukas sambil berjalan masuk.
"Iya, kamu kenapa masuk?"
"Kenapa? Tidak boleh? Aku ini kan suamimu," gerutu Lukas.
__ADS_1
"Tapi aku kan juga belum pernah masuk ke kamarmu yang dulu," Tamara tak kalah menggerutu.
"Kamu mau lihat?"
Tamara mengangguk dengan cepat.
"Baiklah, nanti akan ku ajak kau datang melihat kamarku."
"Bagaimana kalau besok? Aku punya oleh-oleh untuk kakek Dominic, mamah, dan juga papah mu."
"Ya terserah kami saja," Lukas pun ikut duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur Tamara.
"Kamu tidak bicara yang aneh-aneh kan pada kakekmu?" Selidik Lukas.
"Tidak, kenapa memangnya?"
"Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Tapi tadi kakek Adrian terlihat tidak seperti biasanya. Ia terlihat sedikit kesal padaku."
"Mungkin karena kau tidak mengantarku pagi tadi," tebak Tamara.
"Siapa suruh kau pergi sendirian?"
"Tidak ada, aku hanya tak mau mengganggu waktu tidurmu."
"Sungguh?"
Tamara mengangguk, meyakinkan Lukas.
"Kemarilah..." Lukas melebarkan tangannya agar Tamara datang padanya.
"Hmm???" Tamara yang bingung hanya mengernyitkan dahinya.
Tak mau menunggu persetujuan, Lukas pun menarik tangan Tamara agar mendekat dan duduk di sampingnya. Setelah Tamara duduk di samping Lukas, ia pun merangkul tubuh Tamara.
"Ada apa?" Tanya Tamara yang aneh dengan perubahan sikap Lukas.
"Aku merindukanmu, lain kali jangan pergi sendiri lama-lama seperti ini ya," Lukas memeluk dari belakang tubuh Tamara.
Tamara yang bingung hanya diam saja.
"Mmm?"
"Iya..." Jawab Tamara canggung.
"Hari ini aku mau mengajakmu kencan, apa ada tempat yang mau kau datangi?" Tanya Lukas dengan lembut.
"Hmmm... Mulai lagi, dia ada di dalam mode suami terbaiknya. Baiklah, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini," batin Tamara. Tanpa ia tau, sikap baik Lukas itu karena ia melihat Adrian sedang menguping pembicaraan mereka berdua.
"Apa kamu benar mau mengajakku ke sana jika aku mengatakannya?" Tanya Tamara ragu.
__ADS_1
"Tentu saja, memangnya kamu mau kemana?"
"Aku ingin ke pasar malam," ucap Tamara.
"Pasar malam? Apa itu?"
"Kamu tidak tau? Itu adalah taman hiburan untuk rakyat kecil sepertiku. Bagiku dulu, bisa datang ke tempat seperti itu saja sudah mewah sekali," Tamara mengingat kembali saat-saat ia mengumpulkan uang untuk bisa naik komidi putar di pasar malam itu.
"Apa ada tempat seperti itu? Baiklah, ayo kita ke sana," Lukas menyetujui.
"Benarkah?" Tamara tak percaya Lukas mau datang ke tempat seperti itu.
Lukas mengangguk meyakinkan.
"Kalau begitu ayo kita pergi sekarang," Tamara sudah berdiri terlebih dahulu. Namun Lukas menahan tangan Tamara.
Tamara terdiam, ia melihat tangannya yang kini sedang di pegang oleh Lukas.
"Ayo, keluar dengan bergandengan tangan," bisik Lukas sambil memberi kode keberadaan Adrian di samping pintu kamar.
Akhirnya Tamara mengerti, mengapa Lukas tiba-tiba bersikap baik padanya. Tak mau banyak berdebat, Tamara pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan langka itu. Menggandeng tangan Lukas sambil berjalan keluar kamar.
"Eh, kakek..." Tamara pura-pura terkejut melihat keberadaan kakeknya di samping pintu masuk kamar Tamara.
"Kalian mau kemana?"
"Kami mau ke pasar malam kek, apa kakek mau ikut?" Tanya Tamara basa basi
"Bolehkah?" Adrian nampak sangat senang.
Tamara menoleh ke arah Lukas, namun Lukas tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa mengangguk menyetujui keikutsertaan Adrian.
Awalnya Lukas berencana tak ingin menuruti keinginan Tamara, ia hanya ingin punya alasan agar ia bisa membawa Tamara segera keluar dari rumah kakeknya.
Namun mau bagaimana lagi? Adrian malah ingin ikut ke pasar malam.
Adrian yang senang karena di ajak ke pasar malam pun segera mengganti pakaiannya dengan uang lebih baik.
"Kau serius mengajak kakekmu?" Bisik Lukas saat Adrian sedang berganti baju.
"Tadinya aku cuma basa-basi. Aku tak menyangka kakek juga mau ikut sungguhan."
Tamara jadi merasa tak enak pada Lukas.
"Tidak apa, kita hanya perlu berakting lebih mesra lagi," tambah Lukas.
Tentu saja hal itu membuat Tamara merasa sangat senang, meski bagi Lukas ini hanya akting, tapi bagi Tamara ia akan melakukannya dengan senang hati.
"Sudah siap, ayo!" Adrian yang sudah berpakaian rapih pun segera mengajak Tamara dan Lukas untuk berjalan menuju pasar malam.
"Di sekitar sini juga ada pasar malam, kita datangi yang disekitar sini saja ya," usul Adrian.
__ADS_1
"Terserah kakek saja," Lukas hanya bisa menurut tanpa protes saat ini.
Adrian pun jalan terlebih dahulu, di susul oleh Tamara dan Lukas yang berjalan sambil bergandengan tangan. Mereka berjalan melalui gang-gang sempit menuju pasar malam yang letaknya tak jauh dari kontrakan Adrian.