Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 116


__ADS_3

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya bantuan datang juga ke lokasi di mana Richard terjatuh. Anak buah pak Nuh membawa bebeapa perlengkapan yang dibutuhkan serta tak lupa mereka membawa alat berat untuk mengangkat mobil kembali ke atas.


Beberapa orang polisi juga sudah tiba di sana karena sebelumnya saat mencari alamat rumah Richard, Dominic sempat melaporkan tentang penculikan Tamara.


"Jadi pelakunya ada di bawah sana?" Tanya pak polisi.


"Iya pak, tapi kami belum bisa memastikan apa dia masih hidup atau sudah mati," jawab Dominic.


"Kalau begitu, apa tuan bisa menceritakan bagaimana kronologi kejadiannya?" Tanya pak polisi lagi.


"Di sini pak?" Kali ini Lukas balik bertanya.


"Tuan muda bisa datang ke kantor polisi sekarang, dan menceritakan kronologinya di sana," jawab pak polisi.


"Tapi saya masih mau memastikan dengan mata kepala saya sendiri pak, apa pelakunya masih hidup atau sudah mati?" Lukas belum mau memberi keterangan terkait kronologi jatuhnya Richard ke dalam jurang.


"Iya pak, biarkan cucu saya melihat dulu perkembangan di sini," Dominic menambahkan.


"Untuk perkembangan di sini, biar kami saja yang menangani. Atau tuan Dominic bisa menunggu di sini jika mau. Tapi tuan muda harus segera memberi laporan di kantor. Jika ada kabar lebih lanjut mengenai Richard, akan kami beri tau kan pada anda tuan," pak polisi menjelaskan.


"Bagaimana kek? Kakek sendiri juga pasti sudah lelah. Kakek sebaiknya pulang saja," Lukas melihat Dominic nampak sangat lelah.


"Tapi siapa yang berjaga di sini?" Tanya Dominic khawatir.


"Biar saya saja tuan yang berjaga di sini," ucap pak Nuh yang baru saja datang menghampiri mereka.


"Kau sendiri juga lelah Nuh, lalu aku pulang sama siapa jika kau di sini?" Tanya Dominic.


"Kakek pulang bersamaku saja, biar aku yang mengantar kakek lalu aku baru akan ke kantor polisi," Lukas memberi solusi.


"Iya tuan, sebaiknya tuan pulang dulu ke rumah dan beristirahat," pinta pak Nuh.


Karena mendapat sedikit paksaan dari lukas dan pak Nuh, Dominic akhirnya setuju untuk pulang diantar oleh Lukas.


Setelah mengantar Dominic sampai di rumah, Lukas langsung tancap gas menuju kantor polisi. Ia harus secepatnya melaporkan apa yang telah terjadi. Agar ia bisa cepat kembali ke tepi jurang.


Tak lupa, Lukas meminta Tamara untuk makan terlebih dahulu, dan Lukas juga memintanya untuk kembali bersama Erik. Entah mengapa setelah bertemu dengan Sandra tadi, Lukas jadi merasa ada yang aneh dengan Sandra.


Sementara itu, Tamara yang saat ini sedang bersama Erik pun masih terus memikirkan sikap Sandra yang sangat aneh.

__ADS_1


Melihat Tamara yang diam saja, Erik pun bertanya.


"Apa ada sesuatu yang anda pikirkan nona?"


"Kak, aku tak mengerti kenapa ibunya Jake menuduh Lukas yang telah menghabisi Jake? Padahal kondisi Jake sudah seperti itu sejak awal. Kenapa ibunya Jake tak percaya pada kami dan malah lebih percaya pada om RIchard?"


"Nona, mungkin selama ini tuan Richard tidak pernah menunjukkan sisi kasarnya pada istrinya. Jadi itulah mengapa ia tak percaya jika semua itu adalah ulah suaminya sendiri," jawab Erik bijaksana.


"Bisa jadi," Tamara mengangguk seyuju dengan jawaban Erik.


"Nona, sebaiknya nona pulang saja dulu. Nona harus beristirahat," Erik tak tega melihat Tamara yang sejak pagi sudah pergi meninggalkan rumah. Meski tubuh Tamara terlihat baik-baik saja, namun Erik yakin Tamara pasti kelelahan saat ini.


"Aku belum bisa pergi dari sini kak," ucap Tamara.


"Kenapa nona? Pras sebentar lagi akan masuk ke ruang perawatan, jadi nona tak perlu khawatir lagi. Pras akan segera pulih."


"Bukan itu, aku belum bisa pulang karena tante Sandra masih belum percaya bahwa bukan Lukas orang yang menyakiti Jake," ungkap Tamara.


"Tapi nona juga harus beristirahat," Erik sangat khawatir pada majikannya itu.


"Aku akan istirahat di sini saja. Kakak memesan kamar VIP kan untuk kak Pras?" Tanya Tamara.


"Ya sudah, aku akan tidur di sana saja. Tapi sebelum itu aku akan menemui tante Sandra lebih dulu," setelah berkata begitu Tamara hendak pergi meninggalkan Erik.


"Tunggu nona," Erik menghentikan langkah kaki Tamara.


Tamara menoleh, dari raut wajahnya, Erik dapat melihat dengan jelas bahwa Tamara sangat-sangat lelah saat ini.


"Biar saya antar nona ke sana," ucap Erik.


"Aku bisa sendiri kak," Tamara menolak.


"Maaf nona, tapi saya tidak bisa meninggalkan nona seorang diri. Ini perintah dari tuan muda."


Mendengar itu, tentu saja Tamara harus menurut. Ia sudah tak punya tenaga lagi untuk membantah perintah Lukas. Tamara kembali duduk di samping Erik. Namun bukannya duduk dengan tegak, Tamara malah jatuh ke arah Erik. Tubuhnya ambruk seketika.


"Nona!" Erik yang panik segera membopong tubuh Tamara mencari petugas medis siapapun yang ada di sana.


"Tolong, tolong, seseorang tolonglah kami," Erik terus meminta tolong sambil berlari tanpa arah tujuan. Beberapa petugas medis berlarian datang menghampiri mereka, dua diantaranya mengarahkan Erik pergi ke IGD.

__ADS_1


Sampai di IGD, Erik segera membaringkan Tamara di ranjang kosong. Beberapa perwata datang memeriksa kondisi Tamara.


"Ini kenapa pak?" Tanya salah seorang perawat.


"Saya tidak tau suster, tiba-tiba nona pingsan," jawab Erik.


"Baiklah, mohon tunggu sebentar, biar kami periksa lebih dulu," ucap perawat itu.


Erik pun mundur untuk memberi ruang kepada petugas medis untuk memeriksa kondisi Tamara.


"Nona, apa anda baik-baik saja?" Gumam Erik. Matanya terus tertuju pada Tamara yang sedang diperiksa oleh dokter. Di tengah kepanikan itu, seseorang tiba-tiba menepuk bahu Erik.


"Tamara kenapa?" Tanya wanita yang tak Erik kenal.


Erik memperhatikan dengan seksama, ia tak mengenali wanita ini namun bagaimana bisa ia kenal pada Tamara.


"Ah, aku Sandra. Ibunya Jake," Karena tak kunjung mendapat jawaban dari Erik, Sandra pun akhirnya memperkenalkan dirinya.


Erik yang sudah mendengar cerita tentang Sandra dari Tamara, langsung bersikap waspada..


"Nona baik-baik saja, dia hanya lelah," jawab Erik tanpa menatap Sandra.


Sandra menyadari sikap Erik yang terlalu waspada padanya. Sandra pun mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh. Ia lebih memilih untuk diam saja berdiri di samping Erik. Mereka berdua fokus pada Tamara yang sedang diperiksa oleh dokter.


"Bagaimana dok?" Tanya Erik setelah dokter selesai memeriksa Tamara.


"Dia baik-baik saja, hanya kelelahan, jadi anda tak perlu khawatir," jawab dokter. Itu adalah dokter yang sama dengan memeriksa Jake.


"Syukurlah," gumam Erik.


"Sementara biarkan ia istirahat di sini, setelah sadar asien diperbolehkan pulang," ucap dokter pada perawat yang sedang memberikan obat ke dalam cairan infusan yang kini sudah terhubung dengan tubuh Tamara. Perawat itu mengangguk paham.


Ucapan dokter dapat di dengar dengan jelas oleh Sandra. Setelah mengetahui kondisi Tamara, Sandra pun kembali ke tempat Jake.


"Sepupumu juga mengalami hari yang berat sama sepertimu," ucap Sandra sambil membelai rambut Jake.


"Bahkan itu sudah terjadi sejak lama bu," sahut Jake yang masih memejamkan matanya.


"Jake?!" Sandra merasa senang mendengar suara Jake. Tak lama Jake pun membuka  matanya, dan langsung menarap ke arah Sandra.

__ADS_1


__ADS_2