
Lukas mempercepat laju kendaraannya menuju rumah sakit. Ia sudah selesai memberikan laporan di kantor polisi tadi, ada banyak hal yang polisi tanyakan mengenai jatuhnya Richard ke dalam jurang. Untuk saat ini, ia hanya bisa berkata bahwa itu semua karena ketidak sengajaan saja.
Lukas sudah mendengar kabar tentang Richard dari Erik, Erik pun juga sudah mengutaran rencananya bersama Jake pada Lukas. Itulah sebabnya ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Meski sebenarnya bukan hanya karena itu. Lukas lebih khawatir pada kondisi Tamara saat ini, dun juga Richard yang berada di tempat yang sama. Bukan kah tidak menutup kemungkinan jika Richard akan melukai Tamara.
Beruntung lalu lintas saat tengah malam sangatlah sepi, sehingga Lukas bisa dengan cepat tiba di rumah sakit.
Sampai di parkiran rumah sakit, Lukas segera keluar dari mobilnya dan berlari menuju IGD.
Lukas melihat Erik dan langsung menghampirinya.
"Dimana Tamara?" Tanya Lukas.
"Nona hanya kelelahan tuan muda, anda tidak perlu khawatir," jawab Erik sambil menoleh ke arah Tamara.
Lukas langsung menghampiri Tamara dan mengusap lembut rambut Tamara.
"Kamu yakin dia tidak apa-apa?"
"Iya tuan muda, dokter sudah melakukan pengecekan secara menyeluruh."
Meski Erik sudah mengatakan bahwa Tamara baik-baik saja, namun Lukas tetap merasa khawatir.
Lukas menggenggam erat tangan Tamara dan menciumnya.
"Sayang, bangunlah. Aku ada di sini," bisik Lukas sambil menatap lembut Tamara yang masih tertidur.
Bagai sebuah keajaiban, Tamara perlahan membuka matanya dan melihat Lukas yang duduk di sampingnya.
"Lukas?" Ucap Tamara dengan suara yang berat.
"Iya sayang, ini aku. Kamu baik-baik saja?" Tanya Lukas dengan penuh kekhawatiran.
Tamara mencoba untuk duduk dan di bantu oleh Lukas.
"Aku kok ada di sini?" Tanya Tamara sambil matanya mengamati sekitar.
"Kamu tadi pingsan sayang, untung Erik ada bersamamu," jawab Lukas.
Tamara berusaha mengingat apa yang telah terjadi. Seingat dirinya, tadi ia hendak berjalan ke IGD untuk bertemu dengan Sandra. Namun setelah itu ia tak dapat mengingat lagi apa yang terjadi.
"Syukurlah nona sudah sadar," Erik yang sejak tadi berdiri di belakang Lukas merasa bersyukur karena Tamara sudah kembali sadar.
__ADS_1
"Kak Erik, Terima kasih ya. Maaf aku sudah merepotkan kakak," ucap Tamara pada Erik.
"Tak perlu merasa sungkan nona, memang sudah tugas saya menjaga anda selagi tuan muda tidak ada."
"Oh iya, apa Jake sudah sadar?" Tanya Tamara.
"Aku sudah sadar," jawab Jake dari bilik sebelah.
"Jake! Kau kah itu?" Tamara melihat ke arah bilik sebelah yang tertutup hordeng.
"Mmm," Jake menjawab singkat.
"Jake sudah sadar nona, dan dia baik-baik saja," ucap Erik. Erik sengaja berbohong pada Tamara mengenai kondisi Jake saat ini. Karena Erik melihat raut wajah Lukas yang sangat tidak bersahabat ketika Tamara bertanya tentang Jake.
"Kau yakin dia baik-baik saja?" Tanya Tamara meyakinkan.
"Iya nona," jawab Erik yakin.
"Cih, sekhawatir itukah kau padanya?" Lukas mulai berucap sinis.
"Tentu saja, seseorang sengaja meninggalkannya di tengah hutan padahal hari sudah mau gelap ditambah kondisi tubuh yang sedang babak belur begitu. Aku tak mengerti kenapa bisa ada orang setega itu?" Jawaban Tamara tak kalah ketus.
"Siapa yang menyuruhmu buru-buru datang ke tempat ini? Tak datang pun tak masalah bagiku," ucapan Tamara membuat Lukas tertawa garing.
"Ha.. ha.. ha... Jadi beginikah kau membalas kekhawatiranku?"
"Aku tak percaya kau khawatir padaku."
"Gawat, kenapa mereka malah bertengkar?" Ucap Erik dalam hati.
"Apa?" Nada suara Lukas sudah mulai meninggi. Ia tak menyangka Tamara masih memendam amarah padanya. Tadi saat Sandra menuduh dirinya lah yang menghabisi Jake, Tamara membela dirinya. Hingga Lukas mengira jika Tamara sudah tak lagi marah padanya.
"Maaf, tuan muda, nona," Erik memotong pertengkaran mereka.
"Ada apa?" Ucap Lukas dan Tamara dengan kompaknya. Bahkan nada bicara dan mimik wajahnya pun sangat mirip. Membuat Erik seketika salah tingkah.
"Maaf, bukan saya mau mengganggu. Hanya saja, kita sekarang sedang berada di dalam IGD dan ada banyak orang sakit di sini. Di tambah ini sudah sangat larut, jadi..." Erik mengingatkan kedua majikannya itu bahwa saat ini mereka sedang berada di rumah sakit.
Lukas dan Tamara seketika terdiam. Mereka baru menyadari sedang berada dimana mereka saat ini. Keduanya langsung memalingkan wajah mereka ke arah yang berbeda.
Tak lama, Lukas memilih untuk keluar dari ruang IGD. Lukas mengusap kasar wajahnya. Tubuhnya yang sebenarnya sudah sangat lelah, ditambah pikirannya yang terus tertuju pada Richard yang saat ini berada di rumah sakit yang sama dengan Tamara, membuat Lukas tak bisa mengendalikan emosinya.
__ADS_1
Lukas menghembuskan nafas kasar. Tubuhnya ia sandarkan pada dinding, matanya menatap jauh ke arah langit malam yang sangat gelap.
"Kenapa aku melakukan itu?" Gumam Lukas.
Ia mengingat kembali saat ia tiba di lokasi penculikan Tamara tadi. Lukas tak mengerti mengapa dirinya merasa sangat marah melihat Tamara membantu Jake tadi, padahal jelas-jelas Jake terluka sangat parah.
Dan ketika Richard mengejarnya tadi, Lukas seperti sudah kehilangan akal sehatnya. Ia malah menyerang balik Richard dengan mendorongnya ke jurang.
"Dasar bodoh!" Lukas membenturkan kepalanya ke tembok berkali-kali sambil mengutuk kebodohannya.
"Bisa-bisanya aku mengambil keputusan tanpa dipikir terlebih dahulu." Lukas benar-benar merasa menyesal.
Di dalam IGD, sepeninggalan Lukas. Tamara tertunduk lesu menatap selimut yang menutupi kakinya. Ada rasa penyesalan dalam diri Tamara, seharusnya ia tak perlu semarah itu pada Lukas. Seharusnya Tamara mengerti, Lukas melakukan semua itu karena Lukas khawatir padanya.
Ditambah tengah malam begini Lukas masih belum juga tertidur. Ia pasti sedari tadi sibuk ke sana ke sini, membereskan masalah yang kini tengah mereka hadapi.
"Hei," seseorang membuyarkan lamunan Tamara.
Tamara menoleh ke sumber suara.
"Jake?"
Jake tersenyum manis ke arah Tamara. Tamara tak menyadari sejak kapan hordeng pembatas antara ia dan Jake tersingkap.
"Sudahlah, jangan bertengkar dengan suamimu. Aku baik-baik saja," ucap Jake.
"Maafkan aku Jake, aku meninggalkanmu di sana."
"Sudah ku bilang tidak apa-apa. Wajar saja suamimu meninggalkan aku. Mungkin ia mengira aku juga ingin melukaimu."
"Tapi tetap saja..."
"Sudahlah, aku tak apa."
"Kamu benar tidak apa-apa?" Tamara memperhatikan tubuh Jake dengan lebih seksama.
"Iya, aku tak kenapa-kenapa."
"Kau yakin?" Tamara melihat tubuh Jake yang terlihat sangat parah. Bahkan bagian tangannya di lilit oleh perban.
"Yakin," jawab Jake dengan penuh percaya diri.
__ADS_1