
Tiba di rumah sakit, di depan IGD dengan sigap Vanesa langsung turun dari mobil dan berlari ke dalam IGD memanggil dokter dan juga perawat untuk membantunya menurunkan Tamara.
Dua orang perawat datang keluar, ia segera menuju mobil Vanesa. Setelah mengecek secara singkat kondisi Tamara yang masih berada di dalam mobil, salah satu perawat kembali ke dalam untuk mengambil brankar. Dengan bantuan beberapa perawat, mereka akhirnya berhasil memindahkan Tamara ke atas brankar.
Setelah Tamara dipindahkan ke atas brankar, mereka membawanya ke dalam IGD. Di dalam IGD, seorang dokter jaga sudah siap memeriksa untuk memeriksa kondisi Tamara.
Sementara Tamara diperiksa, hanya ada satu orang yang boleh mendampingi. Tentu saja Lukas yang menemani Tamara, ia tak ingin meninggalkan Tamara seorang diri.
Sedangkan Vanesa, sambil menunggu ia juga memindahkan mobilnya ke tempat parkir rumah sakit.
Kondisi Tamara semakin parah, ditambah dengan adanya darah yang keluar dari **** ***** Tamara. Dokter jaga dengan sigap menghubungi salah satu dokter kandungan. Kebetulan dokter kandungan itu sedang berada di rumah sakit karena habis membantu pasien melahirkan.
Tak lama, dokter kandungan yang dimaksud pun datang dan langsung memeriksa kondisi Tamara. Setelah mengecek, dokter itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Lukas tak mengerti apa maksud si dokter, sementara itu dokter kandungan meminta perawat untuk menyuntikkan pereda nyeri agar Tamara bisa lebih tenang.
Setelah Tamara sudah tak lagi meringis kesakitan, dokter kandungan pun memanggil Lukas ke tempat konsultasi yang ada di IGD.
"Mohon maaf tuan, sepertinya tuan harus merelakan janin yang ada dalam rahim istri anda," ucap dokter kandungan.
"Maksud dokter apa?" Lukas langsung panik tak mengerti.
"Nona mengalami kontraksi hebat hingga keguguran. Yang saya lihat tadi ada banyak darah yang keluar, jadi sebaiknya kita segera melakukan tindakan kuret."
Lukas terdiam, ia tak paham dengan situasinya saat ini.
Melihat Lukas yang diam saja seolah tak mengerti, dokter kandungan pun langsung menjelaskan secara lebih rinci agar Lukas paham dengan situasi saat ini.
"Jika kami tidak cepat melakukan tindakan kuret, maka nona akan terus menerus mengalami pendarahan."
"Begitu dokter? Jadi saya harus bagaimana?"
"Tuan hanya perlu ke bagian administrasi untuk memesan kamar, dan nanti tuan hanya perlu menandatangani surat pernyataan untuk melakukan tindakan kuret."
"Baiklah dokter, saya mohon, selamatkan istri saya."
"Iya tuan, kami akan melakukan yang terbaik untuk nona," setelah memberi penjelasan, dokter kandungan pun segera meninggalkan IGD. Sebelumnya dokter juga meminta disiapkan ruangan dan juga peralatan untuk tindakan kuret.
__ADS_1
Lukas menghubungi Vanesa, ia menceritakan apa yang sudah dokter katakan padanya tadi.
"Ya sudah, biar mamah urus masalah administrasi. Kamu jaga saja Tamara di sana," ucap Vanesa sebelum mematikan sambungan teleponnya.
Lukas kembali ke tempat Tamara, saat ini Tamara sudah tak meringis kesakitan seperti tadi. Namun Tamara merasakan darah yang keluar semakin banyak.
"Bagaimana? Apa kata dokter?" Tanya Tamara.
"Kita harus merelakannya," jawab Lukas dengan lesu.
Tentu saja berita itu membuat Tamara semakin terpukul, ia menangis dan merasa sangat bersalah dengan janin yang tengah dikandungnya.
"Aku bukan ibu yang baik, aku bahkan tak bisa menjaganya selagi dalam kandunganku," Tamara menangis terisak.
Lukas langsung memeluk Tamara dan menenangkan istrinya itu.
"Tak apa sayang, bagiku yang terpenting adalah keselamatanmu."
"Tapi..."
Lukas dan Tamara sama-sama menangis dalam keheningan. Mereka tak hanya kehilangan sosok kakek yang selama ini ada untuk Tamara, tapi mereka juga kehilangan bayi yang usianya masih sangat muda itu.
Setelah semua persiapan untuk tindakan kuret siap, Tamara dibawa ke ruangan tindakan.
Sedangkan Lukas dan Vanesa menunggu di ruang tunggu keluarga pasien. Sebelum Tamara benar-benar dibawa masuk ke ruang kuret, Lukas menyempatkan diri untuk memberi Tamara semangat dan tak lupa mengecup kening Tamara.
"Jangan takut, aku menunggu di ruang sebelah," ucap Lukas sebelum Tamara dibawa masuk ke ruang kuret oleh perawat.
Setelahnya, Tamara benar-benar menghilang dari balik pintu kaca yang tertutup.
Untuk prosedur kuret sendiri tidak membutuhkan waktu yang lama, namun menunggu hingga kesadaran pasien benar-benar pulih itu yang cukup lama.
Tamara yang saat itu baru tersadar dari obat biusnya, ia terus saja memanggil-manggil nama Lukas. Seorang perawat yang mengerti bahwa Tamara sedang memanggil-manggil nama suaminya pun berinisiatif untuk memanggil Lukas untuk masuk ke dalam ruang observasi.
Tak lama, perawat itu pun datang bersama dengan Lukas di belakangnya.
"Bagaimana kondisi istri saya sus?"
__ADS_1
"Istri tuan baik-baik saja, namun hanya saja kesadarannya masih belum kembali total. Jadi mungkin akan ada efek samping berupa pusing atau mual," jelas si perawat.
"Syukurlah," Lukas bisa sedikit merasa lega saat ini.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya tuan, saya akan menyiapkan ruangan rawat inap agar nona bisa beristirahat lebih nyaman."
"Iya suster baik, terima kasih," Lukas sangat berterima kasih pada para petugas medis yang sudah menolong istrinya tadi.
"Lukas..." Panggil Tamara.
"Iya sayang, ada apa?"
"Lukas..." Tamara memberi kode agar Lukas lebih mendekat padanya.
"Iya sayang?" Lukas sudah berada tepat di samping tempat tidur Tamara.
Tamara memberi kode lagi agar Lukas mendekatkan telinganya ke arah dirinya.
Lukas pun menurut, ia mendekatkan telinganya ke mulut Tamara, seolah tau bahwa Tamara akan membisikkan sesuatu di telinga Lukas.
"Aku mencintaimu," bisik Tamara.
Meski Lukas sudah tau hal itu, namun mendengarnya sendiri secara langsung membuat jantung Lukas berdebar sangat cepat. Ia tak menyangka Tamara akan berkata seperti itu padanya, oleh karena itu, Lukas sama sekali tak menyiapkan jawaban untuk Tamara.
Namun memang sepertinya Tamara tak membutuhkan jawaban, Tamara yang masih dalam pengaruh obat biusnya terus saja meracau ini dan itu. Dan Lukas dengan setianya menemani di samping Tamara, meski ia tak tau apa yang Tamara bicarakan.
Beberapa menit kemudian, perawat tadi sudah kembali dan membawa kursi roda untuk memindahkan Tamara ke ruang perawatan.
"Ini dia tidak apa sus terus bicara kacau begini?"
"Tidak apa tuan, memang ini juga salah satu efek samping dari obat biusnya."
"Oh begitu," Lukas mengangguk paham. Tapi Lukas malah senang melihat Tamara yang bicara meracau tak jelas, baginya itu terlihat sangat imut.
Tamara pun dibawa ke ruang perawatan kelas VVIP. Lukas yang mengikuti perawat dari belakang meninta Vanesa juga mengikuti mereka.
Kini mereka tiba di sebuah ruangan super mewah, dengan fasilitas terbaik di rumah sakit itu. Tamara yang memang belum hilang total pengaruh obat biusnya, kini kembali tertidur. Lukas dengan setia menemani hingga Tamara benar-benar sadar sepenuhnya.
__ADS_1