Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 67


__ADS_3

Kepala perawat meminta Tamara untuk buang air kecil terlebih dahulu di kamar mandi. Namun, kepala perawat meminta Tamara untuk menampung air seninya di sebuah wadah yang sudah ia siapkan.


Tamara yang memang tidak mengerti, hanya menurut saja. Ia pun masuk ke kamar mandi dan buang air kecil, tak lupa Tamara juga menampung air seni sesuai dengan instruksi dari kepala perawat.


Setelah selesai melakukan apa yang diperintahkan, Tamara memberikan wadah yang sudah berisi air seninya itu kepada kepala perawat.


Kepala perawat mengambilnya sambil tersenyum mencurigakan.


"Baiklah nona, sekarang nona tinggal tunggu saja di kamar. Nanti kita lihat hasil tes urinenya dulu ya, agar bisa menentukan langkah selanjutnya," ucap kepala perawat.


"Baik suster," Tamara menurut. Ia pun berjalan kembali ke kamar.


Tak disangka, ternyata Leonard sangat antusias ingin mengetahui hasil dari tes urine Tamara.


"Nanti dikasih tau pah, untuk sekarang aku diminta untuk menunggu di kamar," ucap Tamara menjawab pertanyaan yang ada di benak Leonard.


"Oh gitu, ya sudah... Kamu sebaiknya istirahat saja, jangan terlalu capek. Tugas kamu kan di sini cuma menemani papah, untuk segala kebutuhan papah sudah ada perawat yang mengurusnya," ucap Leonard.


Lagi-lagi Tamara hanya bisa menuruti perintah mertuanya, memang saat ini yang ia rasakan bukan hanya nyeri di bagian perut, tapi juga badan terasa sangat lemas dan mudah lelah.


Sebenarnya Tamara ingin bertanya, pemeriksaan apa yang membutuhkan air seni sebagai bahannya? Namun Tamara merasa malu kepada Leonard jika menanyakan hal seperti itu.


Tak butuh waktu lama, kepala perawat datang dengan wajah sumringah. Ia langsung datang menghampiri Tamara.


"Maaf nona, sebelumnya saya mau tanya. Sudah berapa lama nona telat datang bulan ya?" Tanya kepala perawat.


"Sudah sekitar dua minggu, kenapa suster? Apa ada masalah dengan perut saya?"


Kepala perawat menanggapi dengan senyum yang ramah.


Leonard bertanya melalui bahasa isyarat, yang artinya kurang lebih "bagaimana hasilnya?"


Dan kepala perawat hanya menjawab dengan anggukan. Tapi Leonard seolah paham maksud dari anggukan itu.


"Nona, untuk memastikan kondisi nona. Bagaimana kalau nona memeriksa kan langsung pada dokter Obgyn? Kebetulan, siang ini ada dokter yang praktek. Bagaimana? Apa nona bersedia? Kalau nona bersedia, akan langsung saya daftarkan dari sini," ucap kepala perawat dengan ramah.


Tamara yang tak mengerti, menoleh ke arah Leonard. Dan ternyata Leonard tampak sangat bahagia mendengar ucapan kepala perawat tadi.


"Langsung daftar kan saja ya sus," perintah Leonard. Ia lalu menatap menantunya dengan penuh kehangatan.

__ADS_1


Tamara yang masih kebingungan dengan situasi ini, hanya bisa diam saja. Ia tak tau apa-apa, dan hanya menurut saja apa yang diperintahkan padanya.


Setelah kepala perawat pergi, Tamara menghampiri Leonard yang masih berbaring di ranjang pasien.


"Apa aku sakit parah pah? Kok aku sampe disuruh periksa ke dokter segala?" Akhirnya Tamara memberanikan diri bertanya.


"Papah yakin kamu pasti baik-baik saja."


"Tapi hasil dari dari pemeriksaan tadi apa?"


"Sepertinya kamu hamil, itulah kenapa papah memintamu untuk istirahat saja di sofa. Kalau kamu merasa tidak nyaman tidur di sana, biar papah meminta pihak rumah sakit menggantinya dengan kasur yang empuk."


"Hamil? Aku hamil?" Tamara terdiam, seakan tak percaya bahwa dirinya tengah mengandung saat ini.


"Iya Tamara, dan untuk memastikannya kamu harus diperiksa oleh dokter kandungan."


Tamara masih terdiam, ia bingung bagaimana harus merespon kabar kehamilannya ini. Pasalnya, ia saja belum tau bagaimana perasaan Lukas padanya. Bagaimana jika Lukas tau bahwa kini dirinya tengah mengandung benih dari Lukas.


Akankah Lukas akan bahagia mendengar berita kehamilannya? Atau justru malah sebaliknya?


"Apa yang harus aku lakukan?" Gumam Tamara.


Tamara menatap mertuanya dengan tatapan yang tak dapat diartikan.


"Pah, apa kepala papah baik-baik saja?" Tamara malah mengalihkan pembicaraan.


"Kepala papah? Ah, kadang memang terasa sangat sakit dan juga pusing. Tapi kamu jangan khawatir, papah bisa menahannya dengan baik."


"Pah, bolehkan aku meminta tolong sesuatu pada papah?"


"Tentu saja, katakanlah."


"Apa papah bisa merahasiakan kehamilan ku ini untuk sementara?"


"Loh kenapa? Ini kan kabar gembira yang ditunggu-tunggu semua orang?"


"Aku tau pah, tapi kan saat ini semua sedang sibuk dengan pekerjaan mereka. Jadi kita beri tau mereka saat semuanya sudah menyelesaikan pekerjaan mereka saja ya," Tamara memohon pada Leonard.


"Baiklah, kalau tujuanmu memang tak ingin membuat mereka khawatir. Biar saat ini kabar kehamilan kamu menjadi rahasia kita berdua saja ya," Leonard menuruti keinginan menantunya untuk merahasiakan kabar kehamilannya.

__ADS_1


"Terima kasih pah," Tamara sangat senang karena Leonard mau membantunya. Untuk saat ini, ia ingin memastikan dulu perasaan Lukas padanya.


Jika memang Lukas memiliki hati padanya, maka ia tak perlu ragu untuk mengatakan berita kehamilannya ini.


Namun jika ternyata Lukas masih belum bisa menyukainya, sepertinya Tamara harus mempersiapkan diri. Entah apa yang nantinya akan Lukas lakukan padanya, kemungkinan terburuknya adalah meminta Tamara untuk menggugurkan kandungannya. Karena mungkin Lukas tak sudi menjadikan Tamara ibu bagi anak-anaknya.


"Tapi, papah punya syarat untukmu," ucap Leonard tiba-tiba.


"Syarat apa pah?"


"Kamu harus nurut sama papah, jangan terlalu lelah dan jangan banyak pikiran. Ini semua akan berpengaruh pada kesehatan janin di dalam kandunganmu," ucap Leonard.


"Baik pah," Tamara mengiyakan syarat dari mertuanya itu. Meski ia tak tau apa bisa benar-benar menurutinya.


"Oh iya, ngomong-ngomong kakek kemana ya?" Tamara baru ingat kalau semalam kakeknya berjanji akan menemaninya menjaga Leonard di rumah sakit.


"Kakekmu?"


"Iya."


"Oh, tadi pagi kakek Adrian pulang bersama kakek Dom."


"Loh kok pulang?"


"Iya, kakek Dom yang memaksanya untuk ikut pulang bersama. Katanya besok mereka ada janji dengan teman lama."


"Jadi, aku sendirian aja di sini?"


"Enggak dong, kan sama papah juga."


Tamara tertawa mendengar jawaban Leonard. Tapi ucapan papah mertuanya memang benar, saat ini ia tidak boleh stres demi kebaikan buah hati yang kini sedang berada dalam kandungannya.


Tamara tak pernah tau, bisa saja Lukas mau menerima kehadiran bayi ini meski belum ada rasa dalam hatinya.


Kalaupun Lukas tak mau, biarlah Tamara seorang diri yang akan menjaga dan merawatnya. Karena bagaimana pun, janin yang ada dalam kandungannya saat ini adalah benih dari Lukas. Orang yang sangat ia cintai.


Tak lama, seorang perawat datang dan meminta Tamara untuk ikut ke poliklinik.


"Pergilah, jangan khawatirkan papah. Di sini ada banyak perawat yang akan menjaga papah," ucap Leonard menjawab kekhawatiran Tamara yang nampak jelas dari wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2