Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 41


__ADS_3

Malam harinya, Tamara masih berdiam diri di dalam kamar. Sementara Lukas sedang mondar-mandir di dalam kamarnya.


Lukas merasa lapar, namun ia ragu-ragu ingin masuk ke kamar Tamara. Ia takut, Tamara masih belum mengenakan pakaiannya karena sejak tadi Lukas tak mendengar suara apapun dari dalam kamar Tamara.


Namun nyatanya, Tamara sudah berpakaian lengkap. Meski begitu, Tamara masih berbaring di atas tempat tidurnya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Entah mengapa rasa malu yang bertubi-tubi menjalar di tubuhnya. Malu bukan hanya karena Lukas telah kembali melihat seluruh tubuh polosnya, tapi juga karena ia mencuri kecupan di bibir Lukas.


Untung saja Lukas tak protes saat itu. Padahal Tamara sudah sangat takut jikalau Lukas memakinya karena buru-buru menciumnya, padahal Lukas belum memberi izin.


Tok... Tok... Tok...


Pintu kamar Tamara di ketuk oleh Lukas dari luar, namun Tamara masih belum mau menjawab. Akhirnya mau tak mau Lukas membuka pintunya perlahan.


"Tamara..." Panggil Lukas.


Tamara hanya memperlihatkan sedikit wajahnya dari balik selimut.


"Ada apa?"


"Apa kau tidak lapar? Aku mau pesan makanan. Kamu mau makan apa?" Tanya Lukas.


Ia masih berdiri di luar kamar, hanya kepalanya saja yang melongok masuk ke dalam kamar Tamara.


"Memangnya ini jam berapa?"


"Ini sudah jam delapan malam."


"Hah?" Tamara yang terkejut segera membuka selimut dan beranjak bangun dari tidurnya.


Secara reflek, Lukas memalingkan wajah. Ia masih berpikir Tamara masih belum memakai apa-apa.


Tamara berjalan mendekat ke pintu, membuat Lukas semakin gugup.


"Ayo kita makan di luar saja," ajak Tamara.


"Apa?" Karena pikirannya kemana-mana, Lukas jadi tak mendengar ucapan Tamara.


"Kamu gak mau makan di luar?"


"Makan di luar?"


"Iya, aku mulai masak buat kamu besok aja ya. Hari ini aku capek banget. Lagi pula kita belum belanja bahan makanan. Sekarang kita makan di luar aja dulu, gimana?"


"Terserah kamu saja," Lukas berlalu pergi. Tamara mengikutinya di belakang.


Keduanya kini sudah berada di dalam mobil.


"Mau makan dimana?" Tanya Lukas setelah mereka keluar dari halaman rumah.


"Di dekat-dekat sini saja," jawab Tamara.


Karena rumah mereka dekat dengan mall, jadi Lukas memilih untuk masuk ke dalam mall. Di sana akan ada banyak pilihan menu makanan, selain itu ia juga berniat untuk membeli beberapa bahan makanan untuk Tamara di rumah.

__ADS_1


"Di sini saja gak masalah kan?" Tanya Lukas lagi.


"Iya, gak masalah."


"Apa kaki kamu masih sakit?"


"Enggak."


"Lalu, kenapa kamu gak keluar kamar dari tadi?"


Tamara terdiam.


"Kenapa?" Lukas menoleh ke arah Tamara.


"Itu karena aku malu padamu," jawab Tamara sambil menundukkan wajahnya.


"Sudah ku bilang kan, anggap saja kejadian tadi tidak pernah terjadi."


"Iya, aku tau. Tapi tetap saja aku malu," Tamara tak berani menatap Lukas. Lukas tak tau, malu yang dimaksud adalah malu karena sudah mengecup bibir Lukas tanpa izin.


"Ya sudah kalau begitu, besok aku akan mulai pergi kerja supaya kamu bisa leluasa berada di rumah."


"Tapi besok aku mau ke rumah kakek," ucap Tamara.


"Sendiri?"


"Iya," jawab Tamara sambil mengangguk.


Kini Lukas sudah memarkirkan kendaraannya dan mereka pun turun dari mobil bersama. Tamara jalan terlebih dahulu sedangkan Lukas berjalan tepat di belakang Tamara.


Saat itu, situasi di dalam mall ternyata sedang sangat ramai. Karena khawatir Tamara akan berpisah dengannya, Lukas menggandeng Tangan Tamara.


Mereka berjalan mencari restoran yang tidak terlalu ramai pengunjung. Lukas dan Tamara menyusuri tiap lantai, namun semua restoran terlihat penuh dimana-mana. Hingga tibalah mereka di lantai paling atas.


Di sana ada terdapat bioskop yang juga ada kafe di dalamnya. Kafe bioskop saat itu tidak terlalu ramai.


"Bagaimana kalau kita makan di sana?" Tanya Lukas.


Tamara mengangguk setuju. Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam kafe.


Namun sayang, syarat untuk makan di kafe itu adalah mereka harus membeli tiket untuk menonton terlebih dahulu.


"Bagaimana ini? Apa ada film yang mau kau tonton?" Tanya Lukas.


"Sudahlah, beli saja tiket apapun yang tersedia," jawab Tamara.


Lukas pun setuju, ia akhirnya membeli dua tiket untuk jadwal tayang yang paling dekat. Lukas dan Tamara tak melihat lagi film apa itu? Mereka hanya peduli dengan perut mereka yang sudah lapar.



Lukas sudah kembali ke meja kafe, tempat Tamara menunggu.


"Kamu pesan makanan apa?" Tanya Tamara.

__ADS_1


"Semua menu yang mereka punya," jawab Lukas.


"Apa? Bukankah itu akan banyak sekali?"


"Tidak, mereka hanya punya empat menu makanan. Jadi tenang saja!"


Lukas memang tak tau selera Tamara, dengan inisiatif ia memilih semua menu paket yang ada di kafe tersebut. Semua menu paket sudah terdapat makanan dan minuman, sehingga Lukas tak perlu repot-repot melihat menu minuman lagi.


Tamara tinggal memilih apa yang mau ia makan dan minum dari semua menu yang sudah ia beli.


"Tapi tetap saja, apa itu terlalu banyak?"


"Tidak, aku sangat lapar saat ini. Jadi aku bisa menghabiskan dua porsi. Lalu sisanya dua porsi lagi untukmu," jawab Lukas dengan santainya.


Tamara hanya bisa menghela nafas. Ia menyesal kenapa tadi tak ikut memesan saja, Tamara bukan tipe yang banyak makan. Ia bahkan sangat jarang sekali makan. Jadi rasanya menghabiskan makanan dua porsi akan terlalu berat baginya.


Selang beberapa menit, makanan yang mereka pesan pun akhirnya datang. Sesuai ucapan Lukas, ia bisa menghabiskan dua porsi sendiri.


Sementara Tamara, kewalahan hanya dengan makan satu porsi saja.


"Bisakah yang satunya kita bungkus saja?" Tanya Tamara.


"Kenapa? Apa kau sudah kenyang?"


Tamara mengangguk.


"Tak perlu dibungkus, sini biar ku habiskan," Lukas mengambil satu porsi lagi milik Tamara, kini ia sudah memakan tiga porsi makanan dan minuman dalam sekejap.


"Ternyata makanmu banyak juga ya?"


"Tentu saja, kau bilang kau akan memasak untukku kan? Kau perlu tau bahwa aku bisa makan dalam porsi yang besar," ucap Lukas.


"Pantas saja badanmu tinggi menjulang seperti ini," Tamara menatap Lukas dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Filmnya sudah mau dimulai, ayo kita masuk," ajak Lukas.


Tamara berjalan mengikuti Lukas di belakangnya. Sebelum masuk ke dalam bioskop, Lukas membeli satu popcorn dan juga minuman terlebih dahulu.


"Masih ditambah camilan juga?" Tamara menggeleng tak percaya. Sepertinya nanti Tamara harus memasak dalam jumlah yang besar, jika ingin memasak untuk Lukas.



"Ayo masuk!" Ajak Lukas, saat ia selesai membeli popcorn dan minuman.


Di dalam bioskop, saat itu penonton tidak terlalu ramai. Lukas dan Tamara duduk di kursi tengah.


"Film apa yang akan kita tonton?" Tanya Tamara.


"Tidak tau," jawab Lukas sambil melihat sobekan tiket yang masih ada di genggaman tangannya.


"Sepertinya ini film horor," Lukas memperlihatkan sobekan kertas itu pada Tamara.


"Apa?"

__ADS_1


__ADS_2