
Setelah selesai makan, keduanya hanya terdiam karena merasa kekenyangan.
"Lukas, apa si bapak penjaga vila tidak ikut makan?" Tanya Tamara sambil memegang perutnya yang sudah terisi penuh itu.
"Biar saja, dia bisa memilih makanannya sendiri," jawab Lukas cuek.
"Habis ini kita mau kemana lagi?
Lukas menatap Tamara dengan tatapan tak percaya.
"Kamu masih sanggup buat jalan-jalan?"
"Masih," Tamara mengangguk.
"Aku sih enggak, udah capek. Kalau kamu mau kamu sendiri aja sana, aku tunggu di sini."
"Benarkah? Aku boleh jalan-jalan di sekitar sini sendirian?"
"Mmm... Tapi ingat, kamu boleh pergi selama satu jam saja. Jika dalam satu jam kamu tidak kembali, maka aku akan meninggalkanmu di sini seorang diri," ancam Lukas.
"Siap bos!" Tamara lalu beranjak pergi keluar rumah makan dan berjalan menelusuri jalan trotoar di sepanjang jalan utama di sekitar rumah makan itu.
Sementara itu Lukas memilih untuk kembali ke dalam mobil dan beristirahat di sana.
Saat Lukas hendak berdiri, ia melihat ponsel Tamara tertinggal di atas meja.
"Kenapa ponselnya ditinggal? Apa dia sengaja?" Gumam Lukas.
Lukas mengamati dengan seksama ponsel keluaran lama itu.
"Aku tak tau kalau masih ada yang seperti ini di jaman secanggih ini."
Lukas yang penasaran dengan isi ponsel Tamara, lalu menyalakan ponsel yang ternyata tidak dikunci itu.
"Wow, polos sekali dia. Kenapa tidak dikunci? Aku jadi penasaran apa isi ponsel orang polos macam dia."
Lukas lalu membuka menu ponsel, dan melihat isi galerinya. Ternyata ada banyak foto selfi Tamara di sana.
"Cih, narsis juga dia ternyata."
Lukas lalu membuka aplikasi chat, dia mengintip ruang obrolan.
"Aku ini suaminya, jadi aku berhak melihat dengan siapa saja dia berkomunikasi," Lukas berdalih sambil membuka setiap isi percakapan.
Namun dari banyaknya percakapan yang ia buka semua hanya seputar obrolan biasa saja. Tidak ada sesuatu yang menarik.
__ADS_1
Hingga Lukas jenuh karena tak menemukan sesuatu yang menarik di sana. Lukas meletakkan kembali ponsel Tamara itu.
"Oh iya, apa dia sudah punya nomerku?"
Lukas mengetik nomor ponselnya ke dalam ponsel Tamara.
"Hah, bisa-bisanya dia tidak menyimpan nomor telepon suaminya sendiri," gerutu Lukas. Padahal Lukas sendiri tak memiliki nomor Tamara.
Lukas lalu menyimpan nomor teleponnya sendiri di ponsel milik Tamara.
"Hmmm... Ku beri nama apa ya?"
Lukas memikirkan sebuah panggilan yang akan membuatnya senang.
"Ah..." Sedetik kemudian, Lukas seperti mendapat ilham. Ia mengetik sendiri namanya di ponsel Tamara.
SI TAMPAN YANG SEMPURNA
Lukas terkekeh setelah mengetikkan nama itu.
"Dia pasti suka dengan nama itu."
Lukas lalu memanggil nomor nya sendiri dari ponsel Tamara. Setelah nomor Tamara masuk, Lukas segera menyimpannya.
Namun ia kesulitan untuk memberi nama Tamara di kontak ponselnya.
Lukas berkali-kali mengetik dan menghapus nama yang sesuai untuk Tamara.
"Ah, apa pentingnya itu? Yang penting aku tau siapa yang menelepon," Lukas sudah memutuskan akan menyimpan Tamara dengan nama T.
Hanya satu huruf itu akhirnya yang ia pakai, setelah berkali-kali mengganti nama yang sesuai.
Setelah puas, mengobrak abrik ponsel Tamara. Lukas pun pergi meninggalkan rumah makan, dengan membayar tagihan makannya dulu sebelum pergi.
Lukas membawa serta ponsel Tamara dan memasukkannya ke dalam saku celana.
Satu jam berlalu, namun sosok Tamara tak juga muncul. Lukas dari kejauhan mengamati rumah makan tadi, namun Tamara tak juga terlihat di sana.
"Kemana dia?" Gumam Lukas.
"Tuan muda, apa tidak sebaiknya kita cari saja? Saya takut, nona Tamara akan tersesat," usul penjaga vila.
"Kita tunggu lima belas menit lagi," jawab Lukas.
Dan setelah lima belas menit berlalu pun, sosok Tamara tak juga muncul si tempat itu. Lukas jadi merasa cemas tentunya.
__ADS_1
"Kemana sebenarnya dia pergi? Tidak mungkin dia tersesat, tempat ini kan tidak ada jalan berlika-likunya. Apa jangan-jangan dia di rampok?" Lukas sudah berpikiran yang tidak-tidak.
"Lalu bagaimana tuan muda? Apa kita tak sebaiknya mencari saja?" Si penjaga vila juga ikutan panik.
"Ya sudah, ayo kita cari. Kamu cari ke kiri dan aku cari ke kanan," perintah Lukas.
"Baik tuan muda!"
Lukas dan penjaga vila pun berpencar mencari Tamara.
Lukas memperhatikan satu per satu toko yang ia lalui, bahkan Lukas juga masuk ke dalam toko yang sulit untuk dilihat dari luar.
Hingga ke ujung jalan, Lukas tak menemukan Tamara.
"Kemana sih dia?" Lukas semakin gelisah karena dirinya tak juga menemukan Tamara.
"Lukas?" Tamara menatap Lukas tak percaya.
"Kamu dari mana saja? Kenapa tidak kembali juga padahal sudah hampir dua jam? Apa kamu baik-baik saja?" Lukas terlihat sangat cemas.
"Aku, baik-baik saja. Tapi kenapa kamu di sini?"
Lukas menghela nafas panjang.
"Kamu ini sebenarnya dari mana sih? Aku kan sudah bilang, pergi jangan jauh-jauh dan jangan lama-lama. Ku bilang kau harus kembali setelah satu jam, tapi ini hampir dua jam kau masih juga..." Lukas terdiam.
Tamara berjalan menghampiri Lukas, lalu ia memeluk Lukas karena Tamara merasa Lukas kini sedang sangat mencemaskan nya.
"Maaf, aku tadi hanya menolong seorang anak kecil yang kehilangan ibunya. Aku juga kesulitan mencari ibu dari anak itu. Maaf ya sudah membuatmu khawatir," ucap Tamara.
Lukas terdiam sejenak, seketika ia baru menyadari bahwa memang ia sangat mencemaskan Tamara. Tapi kenapa? Lukas tak merasa dirinya menyukai Tamara, tapi kenapa ia panik saat Tamara menghilang?
Lukas melepaskan pelukan Tamara.
"Siapa yang khawatir padamu? Aku cuma takut kena marah para kakek-kakek itu kalau kamu sampai hilang," Lukas masih saja berkelit.
Tamara menghela nafas, ia tau seharusnya ia tak perlu merasa dikhawatirkan oleh Lukas. Justru saat ini Tamara merasa Lukas bukan sedang khawatir padanya, melainkan sedang memarahinya.
Tadi saat ia mencari ibu si anak yang hilang, ia sendiri juga takut jika ia akan ditinggal Lukas karena tak kembali setelah satu jam. Tamara bahkan lupa dimana ia menaruh ponselnya tadi.
Dan saat Tamara melihat sosok Lukas, hatinya terasa begitu lega. Ia memeluk Lukas karena merasa lega, Lukas tidak meninggalkannya di sana seorang diri.
"Sudahlah, ayo kita kembali ke mobil," Lukas hendak menggandeng tangan Tamara. Namun sedetik kemudian, Lukas mengurungkan niatnya kembali.
Akhirnya Lukas berjalan lebih dulu, dan di susul oleh Tamara di belakangnya. Tamara berusaha menyamai langkah kaki Lukas yang panjang dan cepat.
__ADS_1
"Tunggu aku..." Tamara yang tak sanggup menyamai langkah kaki Lukas, akhirnya berjalan dengan sedikit berlari demi mengejar ketertinggalannya.