
Hari itu, cuaca jadi sedikit lebih dingin. Langit yang awalnya cerah perlahan dari kejauhan mulai nampak gelap karena mendung.
Meski begitu, Tamara dan Lukas masih asik mengayuh sepeda mereka.
"Kita berhenti sejenak ya," pinta Tamara.
"Kenapa? Apa kau sudah lelah?" Lukas hampir saja mengejek Tamara karena belum jauh mereka pergi dari vila, Tamara sudah meminta berhenti.
"Bukan begitu, aku ingin mengambil foto dan mengirimnya ke kakek," ucap Tamara.
Ia lalu turun dari sepedanya, Tamara tau bahwa kakeknya pasti kini sangat merindukannya. Dua hari sudah mereka tidak bertemu.
Tamara memilih spot yang di belakangnya masih nampak langit yang cerah. Agar kakeknya bisa melihat dirinya yang tersenyum ceria.
Namun saat hendak mengambil foto, angin bertiup sangat kencang. Membuat Tamara sulit untuk mengambil gambar yang bagus.
"Sudahlah, mau kau ambil berapa kali lagi? Hasilnya pasti sama," Lukas sudah mulai bosan menunggu.
Tamara akhirnya menyerah, ia menyudahi aksi foto-fotonya itu. Tamara memilih satu foto yang dirasa sedikit lumayan, lalu ia mengirimnya pada Adrian.
"Sudahkan? Ayo kita lanjut lagi, kau lihat langit di sana sudah mulai gelap," ajak Lukas.
Tamara menurut, ia kembali menaiki sepeda dan bersama-sama menggowes sepeda mengelilingi pulau.
Selang beberapa menit, langit kini sudah benar-benar gelap dan sepertinya akan turun hujan.
"Waduh, bagaimana ini kalau sampai hujan?"
"Ya sudah kita hujan-hujanan saja," jawab Lukas asal.
Tamara hanya bisa pasrah jika memang itu mau Lukas.
Di sepanjang jalan yang mereka lalui hanya ada hamparan pasir, pohon-pohon rindang, dan batu karang. Tidak ada rumah di sana.
Tamara membayangkan jika hujan turun nanti, mereka tak akan menemukan tempat untuk berteduh. Jadi mungkin benar kata Lukas, mereka akan hujan-hujanan saja.
Setelah beberapa saat mengayuh sepeda, Lukas menghentikan sepedanya dan berhenti di suatu tempat. Di seberang pantai tempat ia berhenti saat ini ada sebuah pulau jaraknya lumayan dekat hingga dapat terlihat dengan jelas pulau kecil itu.
"Apa pulau itu juga milikmu?" Tanya Tamara.
"Milikku?" Lukas tak mengerti dengan pertanyaan Tamara.
"Iya, pulau ini kan milikmu. Apa yang itu juga milikmu?"
Lukas tertawa mendengar pertanyaan dari Tamara.
"Hei, pulau ini milik kakekku. Bukan milikku," Lukas meralat ucapan Tamara.
__ADS_1
"Tapi milik kakekmu kan milikmu juga."
"Belum tentu," Lukas memandangi pulau kecil yang di hadapannya itu.
"Jadi pulau itu milik kakekmu atau bukan?" Tamara mengulang pertanyaannya.
"Yang itu milik nenekku," jawab Lukas.
Tamara terdiam, ia ikut memandangi pulau kecil itu.
"Dulu, saat nenek masih hidup, pulau itu sangat bersih terawat. Namun setelah nenek pergi, rasanya seperti pulau tak berpenghuni," ucap Lukas.
Tamara melihat ekspresi wajah Lukas yang serius, Tamara mengira saat ini Lukas pasti rindu dengan neneknya.
"Memangnya pulau itu sudah tak terurus lagi?"
Lukas menggelengkan kepalanya.
"Menurut rumor yang beredar, di pulau itu ada banyak sekali ular."
"Oh ya? Kalau begitu apa ular-ular itu tidak akan menyebrang ke sini?"
Lukas tertawa mendengar tanggapan dari Tamara.
"Tentu saja tidak, karena di sana tidak ada ular," ucap Lukas.
"Maksudmu?"
Lukas mendengarkan dengan seksama cerita Lukas itu.
"Rumor mengenai pulau itu cepat beredar, meski sampai saat ini belum pernah ada yang melihat ular-ular itu. Kau tau? Semua peristiwa itu terjadi saat nenek sudah tiada. Entahlah, saat itu aku pertama kalinya merasa bersyukur karena nenek sudah tidak ada. Jika nenek masih ada, nenek pasti akan merasa sedih karena tempat yang sangat suka ia kunjungi menjadi tempat terlarang."
"Sepertinya kau sangat menyayangi nenekmu," Tamara tersenyum melihat Lukas yang begitu serius bercerita tentang neneknya.
"Tentu saja," Lukas tersenyum getir. Ia sangat rindu dengan sosok neneknya yang selalu memanjakannya.
Tamara membiarkan Lukas menikmati waktunya memandangi pulau milik neneknya itu. Ia perlahan berjalan menjauh dan kembali ke tempat mereka meletakkan sepeda.
Meski ada perasaan was-was karena langit yang terus menjadi gelap, namun Tamara tak ingin mengganggu Lukas yang kini tengah melepas rindu dengan neneknya.
Tamara ingin mengabadikan momen itu, ia menyiapkan ponselnya untuk memotret Lukas. Namun belum sempat ia memotret, Lukas sudah membalikkan badan. Dan...
Klik...
Tamara kepergok diam-diam mengambil foto Lukas.
Lukas perlahan berjalan menghampiri Tamara yang gugup karena tak menyangka Lukas akan berbalik dan memergokinya.
__ADS_1
"Kau memotret ku?" Tanya Lukas.
Tamara mengangguk perlahan, ia lalu menundukkan wajahnya karena merasa bersalah.
"Coba ku lihat," Lukas mengambil ponsel Tamara.
Lukas melihat dirinya di layar ponsel Tamara.
"Aku masih menggunakan masker, jadi wajahku tak terlihat. Apa kau mau mengambil ulang fotoku?"
Tamara menggeleng, meski dalam hati ia sangat ingin. Namun ia juga takut Lukas malah akan marah padanya.
"Ya sudah kalau tidak mau, kesempatan tidak datang dua kali," Lukas lalu mengembalikan ponsel Tamara dan kembali menaiki sepeda mereka.
"Jadi, maksudmu aku boleh mengambil fotomu?" Tamara berdiri di samping Lukas.
"Sudah terlambat, sekarang sudah tidak boleh," jawab Lukas.
Tamara mendesah kesal.
"Kau marah?"
"Tidak, aku hanya kesal pada diriku sendiri," gerutu Tamara.
Lalu Tamara ikut naik sepeda di belakang Lukas.
"Ayo kembali ke vila, sebelum hujan turun," Lukas mengayuh sepedanya lebih cepat kali ini. Ia tak mau kalau sampai mereka kehujanan di jalan.
Beruntung, keduanya sampai di vila tepat saat hujan deras itu turun.
"Syukurlah, kita sudah sampai di vila," ucap Tamara yang merasa lega karena mereka sudah sampai di vila tepat saat hujan turun.
Lukas tak menanggapi ucapan Tamara, ia berjalan masuk ke dalam vila dan langsung menuju kamarnya.
"Aku dicuekin lagi," gerutu Tamara. Tapi setidaknya Tamara harus siap, ke depannya ia mungkin akan terus diperlakukan seperti ini oleh Lukas.
Tamara menyusul masuk ke dalam kamar, ia melihat Lukas yang sedang sibuk dengan ponselnya di atas tempat tidur.
Tamara lebih memilih duduk di sofa sambil memandangi Lukas.
"Apa dia masih merindukan neneknya? Sepertinya besok aku harus mengajaknya ke sana lagi," batin Tamara.
"Kenapa kau memandangiku?" Tanya Lukas tanpa menoleh ke arah Tamara.
"Kau tau aku memandangimu?"
"Tentu saja, tatapan matamu itu mencurigakan. Kau seperti harimau buas yang ingin memangsa hewan kecil sepertiku," jawab Lukas masih belum menoleh ke arah Tamara.
"Apanya yang kecil? Kau itu seperti tiang listrik yang tinggi menjulang," protes Tamara.
__ADS_1
"Dan kau tetap hewan buas yang mau memangsaku," Lukas menoleh ke arah Tamara dengan tatapan tajam.