Terjerat Cinta Tuan Muda

Terjerat Cinta Tuan Muda
Bab 125


__ADS_3

Di kediaman Lukas.


"Kau tak jadi pergi ke kantor polisi?" Tanya Tamara pada Lukas. Setelah mereka sarapan pagi, keduanya enggan beranjak dari ruang makan.Mereka memilih untuk berbincang sejenak.


"Aku malas sekali, sudahlah, tebakanku paman mu itu tak akan mau mengakui perbuatannya," jawab Lukas.


Tamara tersenyum menatap Lukas.


"Sepertinya kita memikirkan hal yang sama, lagi pula kakek Dom juga pasti sudah ada di sana kan?"


Lukas mengangguk, ia yakin kakeknya itu juga pasti sudah berada di kantor polisi.


Tentu saja apa yang Tamara dan Lukas pikirkan memang benar. Bahkan Dominic sudah siap sedia sejak Richard masih berada di rumah sakit.


Dominic dan Jake menunggu di luar rumah sakit hingga Richard keluar. Katika Richard keluar, barulah mereka membuntuti mobil polisi itu hingga ke kantor polisi.


"Sepertinya kau masih ragu pada ayahmu," ucap Dominic pada Jake.


"Yaa, aku takut ayahku akan kabur dan kembali mencari masalah," jawab Jake.


Jake yang mengendarai mobil Dominic, memilih untuk menjaga jarak aman. Ia tak mau berada terlalu dekat dengan mobil polisi yang membawa Richard.


Mereka tiba di kantor polis, dari kejauhan Jake dapat melihat dengan jelas Richard turun dari mobil bersama Sandra. Mereka berdua dikawal oleh polisi karena ternyata ada banyak wartawan di kantor polisi.


"Kau mau masuk?" Tanya Dominic.


"Tidak, aku akan mengawasi dari sini. Kakek saja yang masuk ke dalam," jawab Jake.


"Baiklah, kalau begitu aku akan masuk." Dominic turun dari mobil dan berjalan perlahan memasuki kantor polisi. Dominic memilih jalan memutar dan masuk lewat pintu belakang, karena wartawan masih memenuhi pintu bagian depan kantor polisi.


Sementara Dominic, masuk ke kantor polisi. Jake tetap berada di dalam mobil mengawasi jikalau Richard merencanakan sesuatu untuk kabur. Sambil mengawasi Jake mencoba menghubungi Tamara, namun tak berhasil.


Jake tak tau, jika nomornya masih di blokir oleh Tamara.


"Kenapa aku tak bisa menghubunginya? Apa dia akan datang ke tempat ini atau tidak?" Gumamnya.


Setelah berkali-kali mencoba menghubungi Tamara dan tak kunjung berhasil, Jake akhirnya menyerah.


"Sudahlah, aku yakin dia tak akan datang ke sini," entah apa yang membuat Jake yakin. Tapi memang benar Tamara tak berniat untuk datang ke kantor polisi untuk menyaksikan secara langsung proses interogasi Richard.


Saat ini Tamara dan Lukas kembali berdebat, kali ini keduanya memperdebatkan rencana bulan madu kedua mereka. Sebelumnya mereka memang sudah merencanakan untuk pergi berlibur setelah perjalanan bisnis Lukas selesai. Namun karena kasus penculikan Tamara, dan lagi masalah pelaporan kejahatan Richard dulu. Terpaksa rencana itu jadi tertunda.


"Ayolah, kita sudah menundanya terlalu lama. Lagi pula aku juga sudah lama cuti, aku harus segera kembali ke kantor," rengek Lukas.


"Ya sudah kalau begitu kenapa kamu tidak segera masuk kerja saja? Kita bisa pergi nanti setelah kamu sudah tidak sibuk," Tamara memberi alasan.

__ADS_1


Sebenarnya, Tamara bukannya tak menuruti keingina Lukas pergi berbulan madu. Hanya saja karena kasus Richard ini, Tamara jadi tidak bisa fokus. Karena ia terus saja memikirkan tentang kasus pamannya.


"Kau masih marah padaku?" Tanya Lukas dengan raut wajah tak enak.


"Tidak," jawab Tamara pelan.


Sejak kemarin, keduanya memang sering bersitegang karena Richard. Kasus penipuan yang dilakukan oleh Richard terhadap kedua orang tuanya. Tamara sama sekali tak ingin mengungkit kisah yang sudah lama itu, baginya itu hanya akan membuka luka lama yang sudah berhasil ia sembuhkan dengan sendirinya.


Tapi Lukas tak setuju, baginya kejahatan tetaplah kejahatan. Karena ulah Richard, Tamara jadi hidup menderita tanpa adanya kasih sayang dari kedua orang tuanya. Menurut Lukas, jika memang Richard kesal terhadap Adrian, kenapa tidak langsung saja membalasnya pada Adrian? Kenapa Tamara yang tak tau menau harus ikut terseret juga?


"Lalu kenapa kau tak mau ku ajak pergi? Kau masih mengkhawatirkan pamanmu itu?"


"Bukan begitu, Ayolah aku tak mau berdebat lagi denganmu karena masalah itu."


"Kalau begitu katakan alasanmu kenapa kau tak ingin pergi berbulan madu denganku sekarang?"


"Karena situasi tidak pas," jawab Tamara akhirnya.


"Justru menurutku saat iniadalah saat yang paling pas. Selagi pamanmu dihukum atas tindakannya, Kau seharusnya bersenang-senang. Sama seperti apa yang pamanmu lakukan selama ini."


Tamara diam sejenak, ia tau seharusnya ia tak berbelas kasih pada Richard, namun dalam hati kecilnya ia tetap merasa tak tega.


Tamara menghela nafas panjang sebelum mengutarakan isi hatinya.


"Untuk apa? Kau berharap aku mengizinkanmu?"


Tamara menggeleng perlahan.


"Kau sudah tau itu, itu sama saja seperti aku menyerahkan mu padanya lagi. Aku tak mau kamu dalam bahaya lagi Tamara. Sudah cukup kemarin kau buat aku tak berdaya mencemaskan keselamatanmu."


"Iya, aku tau," Tamara memotong ucapan Lukas.


"Jika kau tau, maka sudahlah. Kita tak perlu membahasnya."


Tamara menunduk terdiam.


Lukas memperhatikan warna wajah Tamara yang nampak sangat sedih.


"Memangnya apa yang mau kau katakan padanya?"


Tamara mengangkat wajahnya dan menatap Lukas penuh harap.


"Aku ingin bertanya padanya, kenapa ia melakukan semua itu padaku? Apa salahku?" Tamara akhirnya mengutarakan apa yang ingin ia katakan pada Richard nanti.


"Kau masih tak tau alsannya?"

__ADS_1


"Memangnya kamu tau?"


"Itu mudah sekali, terlihat dengan jelas."


"Apa itu?"


"Keserakahannya, ketamakannya, pamanmu itu merasa tidak cukup puas dengan apa yang sudah dia dapat."


Jawaban dari Lukas membuat pikiran Tamara terbuka lebar. Selama ini ia tak pernah menganggapnya demikian. Tamara hanya berpikir jika ada yang salah pada dirinya ataupun orang tuanya dulu hingga membuatnya harus membalas bahkan dengan nyawanya juga.


"Bagaimana? Benarkan apa kataku?" Tanya Lukas.


"Tapi... Aku masih ingin mendengarnya langsung dari mulut om Richard," jawab Tamara dengan suara pelan. Ia takut untuk menjawabnya namun ia juga tak ingin merahasiakan keinginannya itu.


Lukas mendesah kesal, ia memijat keningnya yang tidak pusing itu.


"Jika kamu merasa khawatir, kenapa kamu tidak ikut saja bersamaku?" Tamara menawarkan solusi.


Lukas menatapnya tajam.


"Kau pikir aku mau?"


Tamara menggeleng.


"Kau tau itu, lalu kenapa?"


Tamara kembali menundukkan wajahnya. Tamara kembali murung dan terlihat tidak bersemangat.


Melihat itu tentu saja Lukas jadi tak tega. Lukas mengambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Baiklah, aku akan menemanimu. Tapi sebagai gantinya, kau harus mau ku ajak berbulan madu, dan jangan mengkhawatirkan apapun lagi," Lukas akhirnya menyerah.


Perlahan senyum mengembang di wajah Tamara.


"Benarkah? Kamu mau?"


Melihat Tamara yang langsung merubah ekspresi wajahnya tentu membuat Lukas kesal, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.


"Ya, kau senang?"


Tamara mengangguk-angguk riang seperti anak kecil yang akan diajak pergi berlibur oleh orang tuanya.


Bagaimanapun kesalnya Lukas, melihat senyum ceria istrinya itu tentu saja mampu meluruhkan semua kekesalan dihatinya.


"Terima kasih sayang," Tamara pun mengecup pipi Lukas membuat wajah Lukas seketika memerah. ^_^

__ADS_1


__ADS_2